Wednesday, April 10, 2019

#CDJ 4: Nasihat



“Jadi kapan?” Adik saya mengaduk es teh di gelasnya.

Saya terkekeh. Saya paham benar, sejatinya ia selalu mencari kesempatan setiap ngobrol untuk menanyakan ini.

“Doakan saja,” jawab saya pendek.

“Banyak yang nanya.”

Saya lagi-lagi terkekeh. Tapi ya, saya lebih memilih meneruskan melahap geprekan ‘preksu’ Jogja sampai habis daripada memperpanjang percakapan semacam itu dengannya.

“Jangan terlalu sering jalan sendiri, Mbak,” kali lain ia kembali mengingatkan saya.

Di Jogja sebulan membuat saya benar-benar merasai bahwa saya punya adik. Saya yang biasanya bertemu dengannya paling sebulan sekali, saat itu akhirnya selama sebulan penuh kami hampir setiap hari bisa ketemu. Dan hampir tiap ia longgar ia mengajak saya mengunjungi banyak tempat di Jogja. Bisa dibilang, ini waktu kebersamaan terlama kami.

“Aku nggak selalu bisa nemenin kemana-mana. Buruan cari mahram, biar ada yang nemenin kemana-mana,” ujarnya. Saya menanggapinya dengan sedikit senyum kecut.

“Kenapa? Kamu mau nikah duluan? Kalau nantinya mau nikah duluan, duluan aja,” ujar saya lantas buru-buru mengalihkan pandang ke piring geprekan.

Geprekan Jogja dimanapun tempatnya sepertinya jadi lokasi kami lebih sering membicarakan hal-hal sensitif semacam ini. Yeah, saya sepertinya juga lebih nyaman ngomong di warung geprek. 

Setidaknya kalau saya tiba-tiba menitikkan air mata bisa beralasan kepedesan, pun kalau lagi tak pengen menanggapi percakapan saya bisa pura-pura buru-buru fokus menghabiskan nasi.

“Bukan gitu. Hanya kadang khawatir kalau kamu jalan sendiri, Mbak,” ujarnya.

Dibandingkan ayah saya, sepertinya adik saya jauh lebih cerewet mengingatkan saya untuk secepat mungkin mengakhiri kelajangan. Ia juga kerap mengingatkan saya tentang hadis-hadis aturan safarnya seorang perempuan, serta megingatkan saya untuk sebisa mungkin tidak pergi hanya berdua dengan laki-laki.

“Kalau jodoh itu carinya tinggal kayak kita metik daun, aku udah metik dari dulu-dulu,” ujar saya suatu kali ketika ia lagi-lagi menyinggung masalah itu.

“Kalau mencari jodoh kita nyari yang sempurna, selamanya kita tidak akan pernah menikah,” katanya lagi.

“Saya tidak pernah menuntut kesempurnaan, hanya saja ya kalau belum ketemu ya belum,” tanggapan saya.

Saya menghela nafas dengan ucapannya. Bukannya saya menolak dengan perhatiannya. Saya seneng betul ketika ia mengingatkan beberapa hal yang memang tidak seharunya saya langgar. Tapi ya, soal jodoh kok ya gimana kalau terus diingatkan. Ahh, apakah mungkin ini karena ada bagian diri saya yang congkak? Sehingga kadang saya sedikit sensitif dengan bahasan seperti ini?

“Kita tidak pernah tahu, suatu tempat apakah benar-benar aman untuk didatangi. Makanya lebih aman kalau kemana-mana ada mahramnya.”

“Disitulah fungsi doa yang kenceng sama Allah. Doakan saja kakakmu ini yang baik-baik.” Jawab saya. “Sebisa mungkin kalau kemana-mana aku juga nyari temen kok biar nggak sendirian. Kalau pas ada, Kalau nggak, ya pokoknya doakan saja terus yang baik-baik.”

Obrolan selanjutnya ia kembali menunjukkan saya beberapa hadist   perihal safarnya seorang perempuan. Namun yaahhh, semoga Allah paham bahwa saya tidak sedang ingin menjadi hambaNya yang ingkar. Saya percaya bahwa setiap aturanNya selalu mengandung kebaikan. Namun beberapa hal memang belum bisa saya laksanakan. Kehidupan, rasanya selama ini menuntut saya untuk mandiri. Saya hanya bisa berharap, semoga Allah memaklumi, memaafkan dan senantiasa melindungi.










Related Posts

#CDJ 4: Nasihat
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

7 comments

Tulis comments
avatar
11 April, 2019 11:06

Adiknya perhatian banget tuh kak. Tapi yah memang memilih jodoh gak semudah petik daun kelor. Soalnya saya juga merasakan hal yang sama. Bukan soal tidak ingin tapi menemukan yang sfrekuensi itu tidak mudah. Sebaiknya dalam penantian juga, tetaplah memperbaiki diri sebaik mungkin.

Reply
avatar
11 April, 2019 14:42

Buruan deh nikah upss hehe. Emang terkadang kezal juga ya kalau ditanya kapan nikah mulu

Reply
avatar
11 April, 2019 14:44

Hmm bener banget tuh ya, kalau mau nikah nikah saja dulu hehe

Reply
avatar
11 April, 2019 14:56

Aku baru dong, sama pertanyaan kapan mengaduk teh itu maksudnya itu :D

Reply
avatar
11 April, 2019 14:56

Kezel ya Mbak selalu ditanya kapan nikah, kapan nikah aja?

Reply
avatar
11 April, 2019 15:02

Sabar Mbak sabar, jangan emosi :)

Reply
avatar
20 April, 2019 11:03

Perasaan kalau baca tulisan jalan-jalanmu, kayak e juga jarang yang jalan sendiri mbak? Selalu ada temen e, bukan e, ya? *Sok tau banget iki*

Reply

Semoga yang tersaji, bisa bermakna.

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)