Monday, December 31, 2018

Kampung Wayang Desa Butuh Klaten, Semangat Berseri Menolak Punah

Selama ini saya mengira, faktor utama yang mempengaruhi kelanggengan ‘pengrajin budaya’ adalah masalah pasar (peminat) yang berkurang dari jaman ke jaman. Namun usai mendatangi Kampung Wayang di Desa Butuh Sidowarno, Klaten, baru saya paham, permasalahan kelanggengan pengrajin budaya itu terlalu sambung-sinambung dan kenyataannya masalah pasar justru bukanlah masalah yang paling krusial

***

Mengikuti petunjuk google map, saya membelah persawahan jalanan Sukoharjo yang mulai menghijau seiring datangnya musim penghujan bulan Desember. Jarak Sidowarno yang meskipun berada di wilayah Klaten, rupanya tak sampai sejam jika ditempuh dari lokasi saya di Wonogiri Kota. Lokasi kampung ini berdekatan dengan wilayah Kabupaten Sukoharjo, sehingga hanya dengan melewati jalur Wonogiri-Sukoharjo, kemudian berbelok di sebuah gang yang tak jauh dari lokasi Kabupaten Sukoharjo lantas dilanjutkan menerabas persawahan, saya sudah bisa mencapai kawasan Sidowarno dengan total perjalanan berkisar 45 menit saja.

Penanda memasuki Desa Sidowarno (docpri)



Selama ini, yang saya tahu mengenai Klaten hanyalah seputar umbul dan umbul. Klaten sebagai wilayah yang masih asri memang terkenal dengan keberadaan umbul atau sumber mata airnya yang tersebar di berbagai wilayah. Namun informasi bahwa kabupaten yang terapit dua kota besar Jogja dan Solo ini memiliki Kampung Wayang seperti halnya Wonogiri, baru saya ketahui kemarin.

“Tempat pembuatan wayang di sini dimana ya, bu?”

Memasuki Kawasan Sidowarno, Klaten, saya kebingungan hendak menuju kemana. Mencoba bertanya pada seorang Ibu-Ibu yang sedang lewat justru menambah kebingungan saya. Pasalnya, saya kembali diberi pertanyaan.

Hla mau ke tempat siapa Mbak?”

“Ke tempat pembuatan wayang Bu,”

Hla iya, siapa?”

Saya bengong. Benar juga, saya datang ke Kampung Wayang, dengan pengrajin wayang yang jumlahnya sekitar 70 orang, wajar tentunya jika saya ditanya demikian.

Seperti paham kebingungan saya, si Ibu kemudian melanjutkan ucapannya. “Kalau mau ke tempat pembuat wayang, Mbak ke desa Butuh. Jalan ke sana. Nanti sampai sana cari saja pengrajin wayang. Ada banyak. Tinggal Mbak mau ke tempat siapa,” jelasnya. Saya hanya mengangguk, mengucapkan terima kasih lantas memacu motor kembali.

Usai berputar-putar mencari pengrajin, langkah saya berhenti ke tempat Pak Mamik. Salah satu pengrajin wayang di Desa Butuh sekaligus pegiat masyarakat setempat.

Hari itu, kedatangan saya sayangnya saat Pak Mamik sedang tidak membuat wayang. Namun hikmahnya, saya justru bisa mendapat cerita beliau seputar Kampung Wayang Desa Butuh, kampung yang kini juga tengah dicanangkan sebagai Kampung Berseri Astra.

“Dari dulu Mbak, sejak muda saya sudah bikin wayang,” ceritanya. Ia lantas berjalan ke ruangan tempatnya menyimpan wayang. Saya mengekor. Wayang-wayang yang belum selesai ditatah dan disungging terlihat dijajar di lantai. Pak Mamik lantas mengeluarkan beberapa wayang yang belum difinishing, juga mengambil beberapa wayang yang sudah jadi.

wayang kulit
Saya meminta Pak Mamik mempraktekkan seperti apa beliau ketika menatah (docpri)

“Ya wayang-wayang ini yang saya buat. Kadang saya juga menerima pengerjaan bentuk wayang untuk figura seperti itu,” ceritanya sambil menuding satu gambar wayang dalam figura di tembok.

Saya mengangguk-angguk lantas kembali melihat wayang yang baru saja dikeluarkan Pak Mamik dan ditatanya di luar agar saya bisa memfoto dengan lebih jelas.

tatah sungging wayang
Beberapa wayag yag tengah dikerjakan Pak Mamik (docpri)

Saya dengan seksama memperhatikan tatahan-tatahan yang ada pada wayang-wayang yang selesai ditatah namun belum melewati proses sungging (pewarnaan) tersebut. Konon tatah wayang ini adalah adalah tahapan pembuatan wayang yang paling rumit.

“Natahnya itu Mbak lama. Makanya banyak yang nggak sabar,” terangnya. “Anak-anak muda itu, cari yang cepet. Makanya sekarang pada males bikin wayang.”

Hla kalau pembelinya sendiri gimana Pak? Masih banyak peminatnya?” saya bertanya penasaran.  Saya kira selama ini permasalahan justru terletak pada peminat, mengingat jaman semakin modern dan makin jarangnya pertunjukan wayang diadakan.

Wayang yang belum disungging (docpri)


“Ada, mbak. Pembeli itu ada. Kalau masalah pembeli, bisa dibilang di desa ini itu tidak ada persaingan sama sekali. Masing-masing sudah punya pasar.  Dalang dari luar kota,  atau sekolah dalang itu kalau nyari wayang pada kemari,

"Cuman ya itu, masalahnya anak mudanya. Mereka itu banyak yang nggak mau bikin wayang. Mereka cari cepet dan gampang. Pada pilih kerja di pabrik,” terangnya.

Kawasan Sidowarno lokasinya memang tak begitu jauh dari deretan pabrik-pabrik yang belakangan marak berdiri di kawasan Sukoharjo. Generasi muda yang identik dengan hal instan, rasanya lumrah jika kemudian memilih jalur yang mudah dengan bekerja di pabrik yang tak jauh dari rumah.

“Padahal, kerja di pabrik sama bikin wayang, duitnya itu banyak wayangnya lho Mbak. Wayang satu biji harganya bisa jutaan, bayangkan kalau pesanan satu set. Satu kotak yang dipakai dalang buat pentas itu padahal isinya dua ratus,” ujarnya. Saya mengangguk-angguk sembari kepala mengkalkulasi duit berjuta-juta yang bisa didapat sekali mengerjakan pesanan satu set wayang.

“Cuma ya itu tadi, memang lama bikinnya. Dan ya memang nggak semua orang bisa,” tambahnya. Saya tiba-tiba membayangkan diri saya sendiri, andai saya sebagai generasi muda keturunan Desa Butuh, saya juga tidak yakin saya akan menjadi penerus pembuat wayang. Membuat wayang dibutuhkan seni dan kesabaran yang tinggi. Pada pembuatan tatahan misalnya, jenis tatahan saja ada bermacam-macam. Pak Mamik kemarin menunjukkan kepada saya beberapa jenis tatah seperti kawatan, mas-masan, intan-intan dan patran. Itu belum jenis tatahan yang lain. Saya pernah membaca sebuah catatan di internet, bahwasanya jenis tatahan ada sekitar 16.

Detil tatahan wayang (docpri)


Kepala saya langsung pening, membayangkan bergelut dengan tatahan rumit seperti patran misalnya. Ia berupa ukiran berbentuk daun yang berkelok-kelok dan berderet, dimana membuatnya tidak boleh terputus. Padahal ukurannya saja kecil-kecil.

“Ini juga yang jadi salah satu pertimbangan Astra memilih Kampung Wayang Desa Butuh sebagai Kampung Berseri Astra kemarin, Mbak,” ceritanya lagi. “Harapannya kan dengan adanya Kampung Berseri nantinya generasi muda bisa berminat lagi untuk membuat wayang.”

salah satu wayang jadi (docpri)

Saya memang sudah mendengar bahwasanya Kampung Wayang Desa Butuh beberapa waktu lalu dicanangkan sebagai Kampung Berseri Astra wilayah Solo Raya. Kampung Berseri Astra merupakan salah satu kontribusi sosial Astra kepada masyarakat. Melalui kampung berseri, Astra memberikan sumbangsihnya dalam membantu pengembangan kampung yang terpilih utamanya dalam 4 pilar yakni pendidikan, kewirausahaan, lingkungan dan kesehatan.

Getting Commitment Kick Off KBA Solo (docpri)


Membangkitkan Kampung Wayang termasuk ke dalam upaya pilar kewirausahaan. Adapun pilar lain seperti pendidikan, Astra berencana untuk memberikan beasiswa kepada beberapa anak berprestasi di wilayah setempat.

“Ya mungkin nanti salah satu upayanya memasukkan pembuatan wayang nanti ke dalam kurikulum, Mbak. Anak-anak sekarang kan susah juga disuruh belajar. Kalau dimasukan pelajaran kan mungkin jadi mau” ceritanya kembali.

“Banyak godaannya anak sekarang itu, Pak. Mainan gadget,” sambung saya.

Nahh, itu. ” Pak Mamik membenarkan.

“Kalau dimasukkan ke dalam mulok (muatan lokal) saya rasa bisa itu, Pak,” ujar saya sepakat. Saya selanjutnya berbagi cerita kepada Pak Mamik, tentang Kampung Wayang yang ada di kabupaten saya, Wonogiri. Yang saya ketahui, di sana juga melakukan hal demikian. Anak-anak muda di sana masih bersedia membuat wayang dan bahkan menjadikan keahlian menatah wayang sebagai salah satu upaya untuk mencari uang. Banyak diantara mereka yang bahkan masih SMA sudah bisa membeli motor sendiri dari hasil sampingan membantu menatah wayang.

“Saya dulu waktu muda juga gitu Mbak. Ikut-ikut bantu natah wayang,” kenangnya. Namun ia kembali menyayangkan, bagaimana sekarang ini sudah sangat jarang anak muda yang demikian. Saya ikutan trenyuh, tak tega membayangkan kalau ke depan Kampung Wayang Desa Butuh hanya tinggal cerita lantaran keahlian membuat wayang tak lagi diteruskan oleh generasi mudanya.

Namun Kampung Wayang Desa Butuh masih memiliki harapan. Pencanangan Kampung Berseri Astra tentunya memberikan semangat tersendiri kepada orang-orang seperti Pak Mamik maupun warga desa lain yang mengkhawatirkan kelanggengan Kampung Wayang Desa Butuh. Pun saya, sebagai orang luar daerah. Saya ikutan lega setidaknya ada perhatian dari pihak non pemerintah dalam hal ini Astra. Saya percaya nantinya Astra akan mampu memberikan doping semangat agar Kampung Wayang desa Butuh kembali berseri seterusnya. Sudah sangat banyak Kampung Berseri Astra yang hadir di berbagai wilayah di Indonesia. Hasilnya, kampung-kampung itu memang lebih hidup dengan adanya Kampung Berseri.

Yeah semoga, ke depan penetapan sebagai Kampung Berseri Astra juga benar-benar mampu memberikan semangat bangkit kepada generasi muda untuk kembali melestarikan Kampung Wayang Desa Butuh. Pun sektor-sektor lain utamanya 4 pilar yang menjadi prioritas Kampung Berseri Astra benar-benar mampu terlaksana dan menjadikan Kampung Wayang Desa Butuh mengalami perkembangan ke arah lebih baik.



Related Posts

Kampung Wayang Desa Butuh Klaten, Semangat Berseri Menolak Punah
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

6 comments

Tulis comments
avatar
03 January, 2019 09:12

kalau yang di klaten ini ane belum pernah da..
tapi yang di wonogiri pernah..

Reply
avatar
03 January, 2019 17:53

“Hla iya, siapa?”

kok aku ngakak bagian ini ya da. wkwkwkwk

btw aku tdnya mau ke Pak Mamik ini jg sebagai ketua paguyuban. Tapi nda jadi. huffff

Reply
avatar
07 January, 2019 19:21

@pak Dhanang musti cobain juga pak yang di klaten


@aji hahaha... tapi kamu dapet videonya ji. aku ga dapet. huhu

Reply
avatar
08 January, 2019 12:02

"Hla, siapa?"

Bisa kubayangkan wajahnya Mba Aida. Qiqqiqi...

Reply
avatar
18 January, 2019 22:46

xixixi. iya mba zaa. konyol rasanya

Reply
avatar
01 March, 2019 08:40

Kalau di Jawa Barat ada wayang Golek tuh namanya

Reply

Semoga yang tersaji, bisa bermakna.

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)