Friday, September 14, 2018

Menyibak Semak, Menuju Air Terjun Tersembunyi Candi Muncar

“Kita, mau lanjut ini Na?” kaki saya terus melangkah, namun mulut saya mempertanyakan keraguan yang menyelimuti batin.

Baru beberapa langkah kami berjalan menembus rungkut semak tak jauh dari telaga muncar, saya sudah awang-awangen

“Kita coba ajak bokapmu sekali lagi aja, deh, suruh nemenin!” usul saya.

Yowes. Tapi kok ketoke tetep wegah, --Ya sudah, tapi kok sepertinya tetep nggak bakal mau--” Nana berkata ragu, seperti sudah hafal sifat ayahnya yang merupakan pakde saya itu. 

Pada akhirnya kami berputar balik, berjalan kembali ke warung yang ada di samping Candi Muncar.   Pakde saya tampak kelelahan, ia sedang tiduran di warung saat kami datang.

telaga muncar
Telaga Muncar


“Wegah!” begitu tolaknya saat saya coba merajuknya untuk bersedia mengantar kami. Kalau sudah begini, berarti ia tetap tak akan mau. 

Mboten tebih, Mbak! Namung lurus ngetutne dalan, --Tidak jauh, Mbak! Hanya tinggal lurus ngikutin jalan--” ujar Ibu-ibu pemilik warung menyemangati kami.


Daftar Isi
  1. Apa Itu Candi Muncar
  2. Rute Menuju Lokasi


“Aman Buk? Mboten enten macane? --Tidak ada macannya?--” tanya saya ragu. Semak-semak yang kami lewati tadi sangat rungkut. Pikiran saya sudah aneh-aneh, bagaimana kalau tiba-tiba di depan ada binatang buas mengintai, atau di bawah ada ular berbisa yang meliuk-liuk bersembunyi diantara rerumputan?

Si Ibu terkekeh.

“Aman, Mbak. Mboten enten nopo-nopo! Garangan men mboten enten mriku, --Tidak ada apa-apa! Garangan(sejenis luwak) saja tidak ada--” ujarnya berusaha meyakinkan.

Dan hari itu, andaikan saya tak pergi bersama Nana, maupun Erin, mungkin saya memilih mundur. Yeahh, seperti ketika kami ke Pulau Kalong dulu. Kalau bukan karena mereka yang memilih terus maju, tentu saya lebih memilih mundur, dan mencukupkan diri menikmati Candi Muncar hanya sekedar berada di tepian telaga saja.

Wes tekan kene lho! --Sudah sampai di sini, lho!--” begitu ujar Nana, seperti biasanya.
Akhirnya kami kembali. Melewati jalan setapak, menembus rungkut ilalang yang tak karuan banyaknya. Menjauhi telaga muncar guna menuju air terjunnya. 

Terus berjalan jauh, pemandangan akhirnya berganti. Dari rungkut semak, pemandangan berubah. Kali ini medan didominasi pepohonan tinggi. Sejuk, teduh, namun rimbunnya daun-daun pohon itu, memunculkan aura spooky.

Saya berusaha mengabaikan itu dengan terus menanggapi sendau gurau yang terus dikoarkan Nana, dan Erin sembari sesekali merapal dzikir, dan ayat kursi dalam hati. Pertanyaan tentang masih jauhkah jarak yang harus kami tempuh, sesekali keluar dari mulut. Namun ya siapa yang tau? Tak ada seorang pun dari kami yang pernah kemari, tak ada sedikitpun petunjuk jalan yang dipasang , dan tak ada satupun manusia terlihat yang bisa kami serbu dengan segudang pertanyaan atau sedikit keluh kesah kekhawatiran. Kami tetap berjalan, hanya dengan berpegang pada petunjuk Ibu-ibu pemilik warung bahwasanya menuju Air Terjun hanya tinggal mengikuti jalan setapak kurang lebih 1,2 km.

Kami yang semula berusaha berjalan cepat agar tidak terlalu sore nanti kalau pulang balik ke warung, menghentikan sejenak langkah saat dihadapan kami pohon-pohon dengan batang kokoh, dan dahan berselimut akar gantung berjajar, seperti membentuk gapura selamat datang.

Saya menelan ludah, daun-daun pohon ini lebih rindang dari pohon-pohon sebelumnya, pun juntaian akar-akar gantung ini tampak lebat. Mataharisemakin tipis saja menembus masuk, makin terlihat gelap, dan aura spooky kian terasa.

Kami tak banyak bersuara saat melewati ini meskipun kami tetap menghalau rasa-rasa takut dengan sesekali melempar canda Rapalan dzikir makin banyak saya batin. Kami juga makin mempercepat langkah lagi saat melewati sebuah pohon besar mirip pohon randu yang ternyata namanya adalah pohon Koncangan. Sebuah pohon yang dari beberapa literatur di internet, pohon koncangan di Candi Muncar ini sudah berusia sekitar 50 tahun dengan tinggi 40 meter dan lebar 2 meter.

Jika kalian pernah membaca serial Supernova, kalian tentu tidak asing dengan nama Hutan Bukit Jambul. Melewati pepohonan menuju Air Terjun Muncar ini, imajinasi saya justru terlempar ke novelnya Dee Lestari tersebut. Pokonya suasana di sini seperti deskripsi Dee dalam novelnya. Haha.

Usai melewati area pepohonan, nyali kami kembali diuji. Beberapa kali kami harus melewati bebatuan yang sedikit menanjak yang juga dialiri air. Kami kira kami sudah hampir sampai awalnya, namun rupanya, kami salah, kami masih harus berjalan lagi, dan sedikit shock, saat kami mendongakkan kepala kami melihat ujung bukit yang diatasnya dialiri air terjun. Kami hanya melihat ujungnya. Tentu saja, karna menuju ke sana kami jelas harus berjalan jauh lagi, berjalan nanjak, dan melewati banyak pohon lagi.

“Yakin?” tanya saya.

“Ayo!” Nana mendahului.

Baiklah, sudah tanggung kalau kami balik. Meskipun tampak mustahil, namun Ibu pemilik warung sudah berujar, bahwasanya air terjunnya bisa untuk keceh. Itu berarti bisa didekati.




Kami berjalan panjang lagi, dan akhirnya kami melintasi hutan paku. Saya menyebutnya demikian, karena di sisi jurang samping jalan utama, ada buanyak sekali tumbuhan paku tinggi-tinggi dan tampak rimbun.

Naik pinggiran bukit di dekat pohon paku ini, lantas melewati bebatuan yang dialiri air, akhirnya kami menemukan juga Air Terjun Muncar. Yeahh. Akhirnya. Namun jangan harap, ini sebenar-benarnya air terjun. Emm, maksud saya, ini memang air terjun tapi dari sini saya masih bisa mengintip ujung air terjun yang tadi. Terlihat sudah dekat, namun ini jadi batas kami. Yeahh, menuju ke sana kami tidak yakin dengan jalannya. Karena pilihannya, kami harus merambat tepian punggung bukit air terjun yang ada di depan kami sekarang. Atau kalau tidak, kami harus naik melewati tali di air terjun yang sudah disediakan?

Melewati Tepian Bukit
Atau Melewati tali?
Keduanya membuat kami ragu. Kami tidak yakin tali itu aman soalnya. Pun, hari sudah semakin sore, kami hanya perempuan bertiga, dan saat sedikit berusaha mengintip medan dari pinggiran bukit, kami hanya bisa melihat semak tak sedikitpun ada tanda-tanda di depan ada jalan.

Sudahlah, toh, sampai di sini saja kami sudah lumayan puas.

Kami tak melihat jalan, hanya semak dan semak

Apa Itu candi Muncar?

candi muncar
Nana berfoto dengan background kebun loncang

Awalnya saya bertanya-tanya, kenapa Telaga Muncar disebut sebagai Candi Muncar padahal tidak ada candinya? Rupanya, nama Candi Muncar ini lantara tak jauh dari telaga, tepatnya di atas dekat perkebunan loncang, ada petilasan yang diperkirakan sebagai candi yang entah ada di jaman kapan. Saya sendiri tidak sempat melihatnya kemarin karna sudah terlalu sore.

Telaga Muncar sendiri tempat yang cukup asyik. Datang ke telaga ini tanpa mencari air terjun pun sudah cukup memuaskan. Pasalnya, Telaga Muncar dipenuhi ikan-ikan koi yang banyak dan cantik-cantik. Di atas telaga, kita pun bisa naik gethek alias sampan sembari menikmati hawa sejuk dan dingin yang berhembus. Rungkut pepohonan yang menyelimuti bukit Telaga Muncar rasanya pantaslah kalau saya sebut sebagai Phucket ala Wonogiri. Haha.

gethek  muncar


Dari penuturan Ibu pemilik warung,  telaga ini memang sudah lama direncanakan untuk dibuat. Namun pembangunan mandeg lantaran terjadi banjir bandang yang mengakibatkan banyak batang-batang pohon yang rubuh dan menumpuk di area yang seharusnya jadi telaga. Baru sekitar setahun kemarin, akhirnya pembuatan telaga tersebut dilanjutkan dan dikelola seperti sekarang.

Bagaimana Menuju Lokasi Candi Muncar? 

lokasi muncar

Untuk menuju ke lokasi Candi Muncar dari Pasar Sidoarjo belok kiri lurus mentok sampai di pertigaan kecamatan Girimarto, ambil kanan, lalu langsung ada pertigaan lagi ambil kiri, baru setelahnya lurus terus ikuti jalan lurus terus. Nah, untuk lebih jelasnya, dari sini silahkan tanyakan pada penduduk setempat :-)

Hal menarik dari perjalanan menuju Telaga Muncar adalah pemandangan yang tak henti-hentinya membuat saya berdecak kagum. Meski mobil pakde terasa cukup ekstrim karena harus melintasi jalan cor sempit dengan tepian jurang, namun penampakan persawahan di sisi-sisi jurangnya seperti penampakan kala melintasi jalan-jalan di Tawangmangu. Hawanyapun sama dingin. Mungkin karena wilayah ini memang masih area Lawu selatan.

Soal biaya, untuk biaya masuk ke Candi Muncar, hanya cukup membayar parkir Rp. 3.000 saja. Dan untuk naik sampannya Rp. 15.000. Jangan tanya berapa biaya menuju Air Terjunnya, karena jelas air terjunnya merupakan air terjun tersembunyi yang tentu saja masih gratis sampai hari ini. 

Nah, jika kamu suka wisata petualangan dan ingin menikmati hawa sejuk di Wonogiri mungkin bisa mengunjungi Candi Muncar lantas berfoto-foto di telaganya yang lumayan instagramable atau menyibak rungkutnya semak lantas keceh di air terjun seperti yang kami lakukan. Tapi jika kamu ingin berkunjung ke tempat wisata lain di Wonogiri, mungkin bisa dibaca postingan lama saya tentang tempat-tempat wisata Wonogiri yang lain.



Candi Muncar

Alamat: Dusun, Petung, Bubakan, Girimarto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah 57683

Related Posts

Menyibak Semak, Menuju Air Terjun Tersembunyi Candi Muncar
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

22 comments

Tulis comments
avatar
15 September, 2018 09:05

Sangat inspiratif sekali, terimakasih sudah share ke dalam blognya :)

Reply
avatar
15 September, 2018 09:07

Wah indah sekali ya pemandangannya, terlihat sangat alami sekali.

Reply
avatar
15 September, 2018 09:09

Biaya masuk tidak habis 20.000 itu juga hanya untuk biaya parkir dan naik sampan saja, sangat terjangkau sekali ya untuk menikmati pemandangan seindah itu.

Reply
avatar
15 September, 2018 09:11

Oh jadi Candi Muncar itu Telaga, baru tau aku hehe :D

Reply
avatar
15 September, 2018 09:12

Akses jalannya benar-benar masih alami ya, kalau kesana berasa jadi petualang banget ini :D

Reply
avatar
15 September, 2018 09:14

Uda kayak di film-film petualangan gitu ya, pasti seru.

Reply
avatar
15 September, 2018 19:37

Owalah, iki to..

Koyone yen arep mrene kudu nganggo setelan sing pas ben penak obahe.. Terutama ng sing nganggo tali kuwi..

Reply
avatar
16 September, 2018 10:21

Kayaknya pakdhemu sering muncul sebagai tokoh di postingan-postinganmu ya mbak wkwkwk

Reply
avatar
16 September, 2018 17:20

Wah, ngeri ah Aida. Mending ke pantai aja, qeqeqe

Reply
avatar
17 September, 2018 10:17

Ikut ngakak boleh? Wakakakakakakak

Reply
avatar
19 September, 2018 04:16

inspiratif buat dolan mbaaa. haha

Reply
avatar
19 September, 2018 04:17

iyaaa.. murah kalau ke telaga muncar

Reply
avatar
19 September, 2018 04:19

wkwkwkw. bener. aku wingi nganggo rok, ra pas banget. menek-menek ndadak cincing

Reply
avatar
19 September, 2018 04:24

wkwkwkw. iyog. Hla sering keluar bareng Jo, terus yo dia konyolnya sering kebangetan

@nurratna hahaha

Reply
avatar
19 September, 2018 04:26

xixixi. Tapi seru mbaaa. Lagi ga pengen mantai je

Reply
avatar
19 September, 2018 06:58

uwaaaaa, naik sampannya itu aku pengen bangeeeet
pengen tau sensasinya naik sampan, hehe

duh, aku mana sanggup naik-naik pakai tali itu
bingung duluan mungkin. hahaha

Reply
avatar
19 September, 2018 10:42

Haha. Cuss main Wonogiri kak Ros. Ajakin si babangnya ke sana naik sampan, sekalian prewed bagus tuh 😂😂

Reply

Semoga yang tersaji, bisa bermakna.

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)