Monday, July 30, 2018

#CDJ 3 : Perbedaan

"Sudah mulai puasa ya? " Ibu kos saya di Jogja, membuka pembicaraan saat saya dimintanya mengantar ke tempat saudaranya ke sebuah daerah di sekitar Pogung Jogja. 

"Iya, Bu.  Hari pertama ini,"  terang saya kepada perempuan berusia lebih dari separuh abad bermata sipit persis keturunan China itu.

"Iya.  Adik laki-laki saya juga sudah sahur tadi, " ceritanya.

Saya mengernyit. Setau saya,  Ibu kos saya adalah non muslim.

"Adik saya muslim. Dari seluruh saudara saya.  Hanya dia yang Islam, " ceritanya lagi seperti paham ketidakmengertian saya.

“Oalah...” saya mengangguk-angguk.
sumber: google


Terjawab sudah pertanyaan yang saya batin selama beberapa waktu ini. Beberapa kali saat jam-jam solat saya kok kerap melihat adik laki-laki Bu Kos berada di pancuran seperti sedang berwudhlu.  

"Adik saya itu Islam, karena dulu ikut istrinya," jelasnya.  

Deg, dada saya mendadak berdesir. 

"Ooh. Berapa bersaudara Bu? " saya mencoba tetap fokus menanggapi pembicaraan.

"Enam.  Keluarga saya memang terbuka soal agama, "

"Ouh, " jawab saya datar. 

"Soalnya, ayah dan Ibu saya pun menikah beda agama"

"Owhhhh" ujar saya masih datar namun dengan perasaan yang kembali bergolak.

Entah kenapa, seperti ada yang dibangunkan dari dalam diri saya. Gejolak perasaan yang harus diiklaskan sekian tahun lalu. Perasaan yang bahkan masih kuncup namun sesegera mungkin harus dibuat layu sebelum ia berkembang.

Perasaan yang herannya, semakin ia ditekan, ia semakin menunjukkan gejala enggan tumbang. Perasaan yang membuat saya rasanya menjadi orang bodoh sedunia. Perasaan yang  saya sadari segalanya harus berhenti, dihentikan dan mau tidakmau dijauhi sejauh-jauhnya.



Ingatan saya seperti di lempar ke kota Solo sekian tahun yang lalu.  Di sebuah rumah Joglo tempat sebuah komunitas yang saya ikuti berkumpul. Hari itu, saya menjadi pendengar dari dua orang kenalan yang merupakan orang penting di komunitas tersebut. 

"Saya tidak pernah menargetkan suami saya kelak harus sama-sama muslim, " pernyataan kontroversial ini kontan memancing perhatian saya dan teman saya yang satu lagi.  Kami diam beberapa saat. Sedikit terkejut dengan pernyataannya.  Pembicaraan sore tentang program komunitas,  semakin lama menyeret kami dalam obrolan yang macam-macam. 

"Ya,  kalau saya nyaranin sih,  sebaiknya sama-sama muslim" teman saya menanggapi. 

"Nggak,  saya tidak pernah mensyaratkan itu " terangnya lagi. 

"Ouh. Ya tergantung masing-masing sih" teman saya menanggapi lagi.  Hening sesaat.  Tampaknya dua orang di depan saya juga sedang bergelut dengan pemikirannya. 

Saya pun larut dengan pikiran saya. Larut sejenak dalam perang batin yang mengganggu saya sejak beberapa waktu sebelum saat itu. 

"Saya pernah juga soalnya, Mbak.  Pernah pacaran dengan perempuan non muslim. Dan itu berat. Haha, " curhatan kawan saya kemudian. Kontan kini perhatian beralih padanya. 

"Dulu saya pernah dalam fase-fase meragukan agama saya sendiri," ceritanya lagi. 

Kami berdua langsung membenarkan posisi.  Menyimak dengan seksama. 

"Saya sampai pernah berdiskusi dengan tokoh-tokoh agama lain. Mencari kebenaran yang paling bisa saya terima.  Saya membaca kitab-kitab berbagai agama yang ada di Indonesia. Tapi beragam proses,  akhirnya saya kembali lagi pada keyakinan saya,

"Dan saat itu,  saya sadar bahwa saya tidak bisa meneruskan hubungan saya dengan pacar saya. Mana bisa satu kapal berjalan dengan dua nahkoda?” ujarnya mengutip kata-kata entah darimana.  Ia terlihat ngawang. Kenalan saya yang satu ini, sosoknya jauh dari religius.  Anak muda dengan penampilan kekinian, trendi, dan sedikit bengal.Sungguh tak akan saya duga bahwa ia pernah mengalami fase seperti itu. 

"Orang tua pacar saya sudah sangat cocok dengan saya sebetulnya. Awalnya mereka kira saya juga sama dengan mereka.  Beberapa kali saya diajak ke gereja. Saya ikuti. Pacar saya meminta saya untuk tidak mengatakan apa agama saya, karena kalau sampai ayahnya tahu sudah pasti kami diminta putus. Hingga akhirnya saya sampai pada keputusan 'saya tak bisa seperti itu terus'. Saya akhirnya meyakini Islam kembali. Dan saya putuskan, saya jujur pada ayahnya"

"Terus reaksi ayahnya? " saya penasaran 

"Saat itu saya datang pas mereka mau berangkat ke gereja.  Seperti biasa ayahnya mengajak saya.  Tapi hari itu,  saya menolak. Saya akhirnya mengaku bahwa saya muslim. Wajah ayahnya langsung memerah.  Ia diam,  tapi langsung berbalik masuk rumah.  Selang beberapa saat,  pacar saya ke luar sembari menangis.  Ia bilang ayahnya memintanya putus.  Saya jawab,  bahwa sebaiknya memang begitu.  Pacar saya menangis,  ia sampai berujar bahwa ia tak keberatan jika hubungan kami backstreet saja. Saya bilang tidak bisa.  Hubungan yang saya mau tidak hanya berakhir pada pacaran saja, makanya saya putuskan hari itu.  Daripada terus berlanjut.  Semakin lama, luka yang ditinggalkan nanti semakin berat," pemuda yang biasanya terlihat seperti lelaki yang hidup tanpa beban,  hari itu mendadak beraura suram.

Yeahh, hari itu saya seperti mendapatkan kekuatan untuk berpikir bahwa apa yang saya rasa: masih sangat sepele. Masih jinak untuk dioperasi dan dibuang. Dibanding cerita teman saya ini, perasaan saya hanya sebatas kuncup-kuncup yang bahkan  mungkin hanya saya yang merasakan.

Perempuan di hadapan saya menarik nafas sesaat, lantas menanggapi dengan cerita pula.

"Kenapa saya tidak mensyaratkan agama apapun pada pasangan saya,  itu karena otang tua saya hasil persilangan dua agama. Kata orang pernikahan beda agama itu rentan konflik,  rentan gini-gini,  tapi saya melihat mereka baik-baik saja.  Dan mereka juga membebaskan anak-anaknya memilih keyakinan. Keluarga kami baik-baik saja sampai hari ini.  Bahkan jarang sekali saya melihat orang tua saya beretengkar, " jelasnya. 

Saya mengangguk-angguk. Mewajarkan kenapa ia menjadi berpikiran demikian. Namun saya pribadi kurang sepaham, mengingat setahu saya keyakinan saya melarang ini. Yeahh, dan memang itulah yang meresahkan saya ketika itu. Keresahan yang bodoh, karena bahkan saya tidak tau apakah hanya saya yang merasakannya.

"Saya jadi inget film indie tentang pacaran beda agama yang mengambil latar gambar di depan Masjid Al Hikmah Solo" kawan saya berujar lagi

"Masjid yang bersebelahan sama gereja itu? " 

"Judulnya apaan" saya yang dari tadi hanya sebatas mendengar akhirnya memberi tanggapan. 

"Lupa aku Mbak. Pokoknya itu kan ceritanya pas mereka jalan bareng,  terus si cewek mau solat.  Terus si cowoknya kan liat gereja,  akhirnya si cowok juga mampir ke gereja.  Jadi gambarnya itu ngambilnya pas mereka habis gandengan tangan, terus melangkah ke tempat ibadah masing-masing" jelasnya

"Ihh sweet banget,”tanggapan kawan saya.

Pembicaraan sore itu berakhir pada seputaran cerita film beda agama, yang makin menyadarkan saya, ahh ya, perasaan saya tak ada apa-apanya. Masih bisa dioperasi, masih bisa dibuang.

Sekian tahun berlalu, rasa yang saya maknai sebagai rasa alay, siapa sangka tertahan di hati dalam kurun waktu paling lama diantara semua rasa yang pernah saya rasa. Halah. Yeahh, sebuah rasa yang sudah berusaha saya lupakan namun tiap kali ada pancingan seperti ini, perasaan saya kembali bergolak bahkan hembusan kerinduan seperti bernyanyi-nyanyi.

Tapi ya sudahlah, pada dasarnya rindu adalah hak hati, yang dirasakan setiap insan yang masih punya hati nurani. Namun rindu tak selayaknya dibiarkan mengembara pada ia yang memang tak seharusnya. Bukankah kerinduan hakiki seharusnya ditujukan pada Rabbi?

Dan cerita Ibu Kos mengingatkan saya pada sebuah hikmah, bahwa bahkan menikah tak hanya cukup degan menyamakan satu keyakinan. Jika berpindah keyakinan hanya karena alasan makhluk bukankah pertanyaan selnjutnya adalah 'tuhan saja ia khianati bagaimana dengan makhlukNya?'

Yeahh, jadi cintailah Tuhan dulu sebelum mencintai makhlukNya. Kenallah Ia lebih dulu. Mungkin adik Ibu Kos sudah benar-benar melalui tahap itu. Sehingga ketika ia dulu akhirnya bercerai pun, ia masih tetap berdiri dengan keyakinan barunya. Kalau hanya alasan pernikahan, mungkin saya tak akan mendapatinya tetap berwudhlu seperti biasanya, pun tak akan saya dapati cerita Ibu Kos, tentang adiknya  yang juga sahur di hari pertama puasa.

Yeahhh Jogja hari itu, seperti meyuruh saya untuk terus bergerak. Saya memacu motor dengan speed yang sedikit lebih cepat, menghalau, agar perasaan tidak penting itu tidak kembali bernyanyi-nyanyi lagi.


Related Posts

#CDJ 3 : Perbedaan
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Semoga yang tersaji, bisa bermakna.

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)