Friday, June 29, 2018

#CDJ 1: Tersesat di Jogja

"Tersesat adalah cara Tuhan ingin menunjukkan kita hal yang lain. Nikmati saja"
Itu prinsip yang senantiasa berusaha saya pegang.

Pasalnya, saya orang yang terlalu sering tersesat. Dan kalau nggak mikir seperti itu, mungkin mulut ini sudah keluar banyak sumpah serapah yang tak terhitung. Yeahh, daripada ketersesatan menjadi benar-benar kesialan yang berujung pada dosa, mendingan saya mikir positif.

Ini untuk kesekian kalinya saya tersesat. Berputar-putar di jalan hanya untuk mengunjungi perpusataakaan kota Jogja yang sebenarnya sudah saya kunjungi berkali-kali. Berkali-kali saya ke sana, tapi parahnya berkali-kali pula saya harus tersesat lupa arah.

Saya memang pelupa, apalagi soal jalan, dan jalanan Jogja adalah jalan yang paling susah buat saya untuk diingat. Ada banyak struktur perempatan yang mirip, bangunan yang mirip, juga bentuk jalan yang hampir sama, plus memiliki nuansa warna yang sama.

Jangan protes, karena ini dari sudut pandang mata dan pemikiran saya saja sepertinya. Buktinya, beberapa orang saya tanyai tidak berpikir demikian. 

Perpustakaan Kota Jogja
(sumber: http://yogyakarta.panduanwisata.id/daerah-istimewa-yogyakarta/tempat-nongkrong-asik-di-jantung-kota-pelajar/)


Kadang saya juga heran, entah bagaimana otak saya memproses informasi. Pokoknya begitu. Saya susah paham arah, dan jalan. Dan jalan Jogja sepertinya yang terparah. Saya bahkan sempat berfikir, jangan-jangan saya punya sedikit diseleksia?

Pemikiran ini tergiring karena suatu kali ketika mengkonsultasikan keponakan teman yang jadi murid les saya tentang kemungkinan bocah itu diseleksia , sang psikolog menerangkan panjang lebar tentang diseleksia. Dan ia menyebut, bahwa tidak paham arah dan jalan adalah salah satu bentuk diseleksia. 

Saat si psikolog menerangkan bagian itu, saya cuma menelan ludah, tersindir. 

Diseleksia atau bukan, yang pasti tersesat adalah hal yang seringnya membuat gondok. Dan tersesat di Jogja cukup menjengkelkan apalagi saat hawa terik memanggang atau macet menghadang. Saat seperti itu, satu-satunya motivasi saya biar tetep hati tenang dan adem hanya mengingat lagi kata-kata di atas.

"Allah hanya ingin kamu melihat hal yang lain!"

Aihh.

Tapi ya motivasi kalimat teduh itu seringnya dibabat habis-habisan dengan kelelahan saya yang nggak nyampai-nyampai. Dan sebagai manusia yang penuh keterbatasan adakalanya hikmah dari kemblasukan yang selalu menyita waktu itu tak kentara langsung nampak di mata saya.  Disitulah kadang nyanyian setan untuk merutuk, dan mengeluh sebal terlintas lagi.

Hohoi, untungnya Perpustakaan Kota Jogja yang sering disingkat perpuskot itu menyediakan wifi gratis yang bisa langsung menerbangkan saya ke awan-awan dunia maya sehingga cepat terbang pulalah kejengkelan saya selama proses perjalanan menuju ke sana.

Yeahh,  memang tujuan saya datang ke sana untuk nebeng wifi gratis daripada terus mendatangi coworking space separo resto yang banyak bertebaran di Jogja yang sudah pasti bikin 'pekewuh' kalau hanya numpang wifi, tapi bikin kantong bolong kalau nuruti 'pekewuh'.

Hla mbok ya tuku pulsa to Da!

Kalau pulsa sih ada. Tapi saya pengen memanfaatkan waktu selama di Jogja. Sedikit lebay, tapi saya ingin benar-benar merasai hawa-hawa Jogja.


Mencari-cari hikmah tentang keterbutaan arah selama di Jogja, saya menemukan salah satu hikmah tersesat paling berkesan. Hikmah itu, adalah saya jadi benar-benar melihat sendiri bagaimana ramahnya warga Jogja. Warga Jogja di sini yang saya maksud bukan berarti warga asli Jogja. Pokoknya warga Jogja ini adalah orang-orang yang saya temui yang entah mereka warga asli atau pendatang saya juga tidak tahu.

Beberapa kali saya tersesat, --sebut saja bingung arah--. Petunjuk saya adalah warga setempat. Warga Jogja yang saya temui ini, seringnya ketika mereka tahu tempat yang saya tuju, mereka akan dengan suka cita memberitahu. Menyimak pertanyaan saya dengan cermat, kemudian menjelaskan dengan detail. Dan ketika mereka tidak tahu, mereka tidak segan memanggil temannya, atau orang-orang yang kebetulan ada di dekat mereka untuk menanyakan apa yang saya tanyakan. 

Biasa wae Da! Gur ngono we, Wonogiri- Solo juga ramah.

Hemm, iya sih, tapi mungkin karena di jogja saya terlalu sering tersesat, dan terlalu sering bertanya. Makanya saya merasa mereka lebih perhatian. Xixixi..

Bahkan dua kali saya bingung jalan, tukang ojol Jogja sampai dibela-belain mengiring saya di depan. Menjadi petunjuk, sesuai arahan GPS HPnya. 

Saya tidak menyuruh lho ini, si Ojol sendiri yang meminta agar saya mengikuti dari belakang. 
Saya jadi terharu, habisnya, mereka yang sedang mangkal dengan sukarela mengantar tanpa dibayar. 

Jangan tanya, “kan HP mu enek GPS e to Da? Mbok ya ngurupne GPS!”

Iya, Hp saya memang smartphone dengan fitur GPS juga. Tapi seringnya posisi mati karena low bed. Ada saja kondisi dimana itu HP ngedrop. Seringnya tentu saja karena saya lupa ngecas

Saya sebenarnya nggak berniat memelihara kebiasaan menjadi pelupa. Tapi ya gimana. Kebiasaan lupa sepertinya memang sudah mendarah daging. Gegara kebiasaan ini, sampai-sampai suatu kali sahabat saya pernah berujar “Sekian tahun, masalahmu kok mesti HP ngedrop? Perasaan HP kamu juga udah ganti beberapa kali, tapi kok ya masih sama saja, ngedropan.”

Saya cuma bisa ngikik waktu itu. Ngikik-ngikik miris. 

Tapi ya sudahlah, syukuri saja, sambil teteplah berusaha dikurangi. 

Well, salah satu sisi baik manusia pelupa, kata anonym, ia cenderung lebih mudah memaafkan. Bisa jadi benar sih. Karena pelupa identik dengan ndableg. Dan orang-orang ndableg seperti saya itu, hal-hal biasa saja dilupakan, apalagi hal-hal yang bikin hati sakit. Kuy, ujung-ujungnya hakikat memaafkan bagi seorang pelupa adalah memaafkan karena sudah lupa. 

Tapi  yo terus jangan kamu ikutan ndableg kalau bikin masalah sama saya atau orang seperti saya. Karena mungkin saya memaafkan(lupa), tapi kan Allah SWT kan anti lupa. Apalagi soal utang. Kalau kamu hutang ke saya terus saya lupa bahkan saya akhirnya terpaksa melupakan yo terus jangan kamu ikutan lupa membayar. 

Apalagi nih, kalau kamu ngerasa saya pernah punya hutang ke kamu baik janji atau uang, saya benar-benar minta tolong agar saya ditagih.  Perkara hutang/janji ini, saya sebisa mungkin catat baik-baik dan saya garis merah dalam ingatan biar tidak lupa. Tapi kalau ternyata saya bener-bener masih bisa lupa, minta tolong sekali saya ditagih. Biar saya tidak ditagih di akhirat kelak. 

Hemm, jadi, ini postingan opo to Da?

Pokoknya ini postingan sesuai janji saya kemarin. Catatan berseri yang saya kasih tema #CDJ yang sebetulnya biar blog saya hidup saja sih. Jadi kalau kamu ngerasa ini postingan nggak penting ya besuk-besuk nggak usah baca post saya bertema #CDJ ini. Xixixi.

Akhir kata, semoga kita semua selalu dibebaskan dari hutang, apalagi riba, dan doakan saja biarpun saya sering tersesat, semoga saya tidak pernah tersesat dari jalanNya :-)


****
Noted: 
Perpustakaan Kota Jogjakarta, dalam definisi saya adalah coworking space gratis fasilitas pemerintah. Tersedia meja-meja yang lumayan nyaman buat laptopan sambil wifian di luar perpus. Kalau mau di dalem, perpusnya dua lantai, bisa ngenet di atas maupun di bawah.

Fasilitas selain wifi, tentu saja beragam buku, juga ada AC, mushola, juga HIK di lingkungan perpus yang harganya murah pakai banget. Asiknya, perpustakaan ini buka sampai pukul 9 malem. Huhui...




Related Posts

#CDJ 1: Tersesat di Jogja
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

2 comments

Tulis comments
avatar
30 June, 2018 12:54

Saiki nyambut gawe ning Jogja po mbak? 🤔

Kalo trik ku, buka maps (bukan gps) diapalin sekiranya jalan yg mudah diapalin, meski ada jalan yg lebih deket tp belok-beloknya angel diapalke wkwkwk.
Dijamin ga pernah nyasar, tp mung kebablasan sitik :D

Reply
avatar
15 July, 2018 04:31

Nggak Jo. cuma sebulan kemarin.

Haha, tetep saja Jo, aku bingung. Wong biasane aku gur manut suoro mbak google, tapi nggak liat peta

Reply

Semoga yang tersaji, bisa bermakna.

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)