Monday, April 02, 2018

Selow di Masjid Fatimah Solo

Bila hati gelisah,
Tak tenang tak tentram..
Bila hatimu goyah,
Terluka merana..
Jauhkah hati ini, dari Tuhan, dari Allah?
Hilangkah dalam hati, dzikirku, imanku?
….

****

Allah Maha Mendengar, dimanapun kita berdoa. Ya, saya tidak meragukan itu. Akan tetapi kala kita ingin berlari, kita ingin mengadu, adakalanya tempat-tempat tertentu membawa kita pada suasana yang lebih. Kekhusyukan yang lebih kuat, kedekatan yang lebih akrab, rasanya lebih bisa kita dapat saat bermunajat di sana.

Hujan baru saja usai, meskipun sisa-sisa gerimis masih turun pelan. Beberapa hari lalu, untuk pertama kalinya di tahun 2018 saya mendatangi lagi Masjid Fatimah Solo.

masjid fatimah solo


Jika kamu bertanya kepada warga Solo, nama Masjid Fatimah tentu sudah tak asing lagi. Beberapa orang bahkan menamai masjid ini sebagai masjid pengantin. Bukan berarti kalau datang ke sini bakalan cepet jadi pengantin. Disebut demikian, lantaran Masjid Fatimah kerap dijadikan tempat ijab pasangan pengantin sekaligus mereka melangsungkan acara pernikahan.

Bagi saya pribadi, Masjid Fatimah adalah tempat paling tenang untuk berlari saat ingin mengadu padaNya lantaran ada yang mengganggu dalam benak dan ketika ketenangan hati tergerogoti seperti akhir-akhir ini.

Entah kenapa, saat menginjakkan kaki di Masjid Fatimah, saya merasai seperti sedang berada di Istiqlal. Suasananya lebih tenang, dingin, damai. Yeah, bagi saya Masjid Fatimah adalah Isqiqlalnya Solo.


“Dulu, aku pernah punya mimpi, suatu hari kalau aku menikah, aku ingin menikah di masjid ini,” ucapan seorang teman sekitar dua tahun lalu tiba-tiba berputar.

Masih terngiang di benak saya, sekitar  dua tahun lalu, seorang kawan baik nyaris menangis di tempat duduk Masjid Fatimah dimana orang-orang melepas alas kakinya.

Saya bisa merasakan sesak dan perih mendengar ucapannya.

“Masih belum terlambat. Siapa tahu, sudah ada laki-laki yang jauh lebih baik yang menunggumu di masa depan yang menerimamu apa adanya, yang akan mengajakmu menikah di tempat ini. Ayo solat sik wae, terus ndongo,” hibur saya berusaha menghindarkannya supaya tidak benar-benar menangis di sana.

Usai wudhu, teman saya berusaha tersenyum. Saya bergegas mendahuluinya. Melihatnya terlalu lama hanya akan ikut membuat saya berurai air mata. Padahal teman saya butuh dikuatkan bukan diyakinkan bahwa  perasaan saya ikut tercabik prihatin dengan kehidupannya yang berantakan.

Dosaku akehh,” ucapnya.

Wes gek ndongo,”ujar saya tanpa banyak berkata-kata. 

Beberapa bulan sebelumnya, saya sudah terlalu panjang lebar bicara banyak padanya saat ia membuat sebuah pengakuan mengejutkan. Saya sempat membodoh-bodohkannya dulu dan ia hanya tertunduk mengiyakan bahwa ucapan saya benar.

Saya merasa bersalah pernah berkata demikian. Karna dukungan moril dari orang-orang terdekatnya adalah satu-satunya hal yang ia butuhkan kini.

“Orang tua itu yang paling dikhawatirkan terhadap anak perempuannya bukan tentang ‘jadi apa anaknya nanti!’ yang paling dikhawatirkan mereka adalah ‘siapa laki-laki yang akan jadi pendamping anaknya’. Karena mereka bakalan lega, kalau melihat pengganti mereka dalam menjaga putrinya adalah laki-laki yang memang baik dan mampu membahagiakan”
Dulu saat mendapat nasihat demikian dari seorang senior di tempat kerja, saya belum bisa menerima nasihat itu. Ego masa muda yang masih besar dulu membuat saya begitu angkuh menerima kenyataan bahwa perempuan memang membutuhkan laki-laki untuk lebih tegak berdiri. Laki-laki baik yang bisa menuntunya ke jalan yang lebih baik.

Beriringnya waktu, sedikit banyak saya sadar, ucapan senior saya benar. Kisah kawan saya ini yang paling banyak menyadarkan saya.

Kawan saya adalah sosok perempuan baik-baik. Hanya pernah dua kali jatuh hati. Yang pertama hanyalah cinta monyet, sementara yang kedua adalah sebuah cinta yang salah yang menggiringnya pada kehidupan yang “entah”.

Laki-laki yang  menjadi ayah anaknya adalah laki-laki beristri, pembohong tak bertanggung jawab yang seolah datang untuk menaklukkan kemudian setelah kawan saya takluk ia pergi.

“Apa dia nggak punya ibu? Apa dia nggak punya adik perempuan?  Apa dia nggak bisa membayangkan bagaimana kalau hal semacam ini terjadi pada perempuan-perempuan dalam keluarganya?” seorang sahabat lain pernah uring-uringan gara-gara masalah ini. 

Laki-laki itu punya Ibu dan ia juga punya adik perempuan, tapi ia tak cukup punya akidah yang baik memperlakukan perempuan.

Masalah yang terjadi terlalu complicated lantaran dibiarkan terlalu lama saat kami semua tahu kebenaran. Jangankan kami, keluarga teman saya sendiri sudah tak tahu lagi harus berbuat apa. Pada akhirnya kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya serta menyemangatinya kala ia merasa putus asa.



Kursi dan meja ijab ditata di bagian tengah masjid saat saya datang kemarin. Saya mengedarkan pandang membaca suasana. Hanya ada beberapa orang yang tampaknya memang datang untuk tujuan solat. Saya menghela nafas, rupanya saya datang saat ijab sudah selesai. Hanya bersisa meja kursi yang belum dikembalikan pada tempatnya.

masjid solo fatimah
Add caption

Dulu beberapa kali saya mampir kemari, beberapa kali pula kedatangan saya bertepatan dengan acara Ijab Qabul hendak dilangsungkan. Biasanya, usai solat, meskipun saya tidak kenal dengan pengantin, saya menunggu sampai Ijab Qobul dimulai dan menyaksikannya sampai selesai. Tenang saja, bukan untuk mendapat snack. Saya hanya meyakini bahwa salah satu waktu paling mustajab untuk berdoa adalah saat Ijab Qobul terjadi. 

Lagipula, asik juga menjadi saksi cinta sepasang pasangan. Saya pernah menemui pasangan pengantin berbeda daerah. Satu minang, satu Jawa Barat. Namun uniknya mereka menikah di Solo karena di kota inilah mereka bertemu. Saya jadi bisa melihat pakaian topi khas Minang yang dipakai pihak perempuan. Saya sampai terheran-heran dengan keglamouran aksesoris pernikahannya waktu itu.


“Laki-laki yang tahu agama, Insya Allah jika ia khiaf ia tak akan menyakiti perempuan terlalu dalam. Laki-laki yang tau agama saja bisa khilaf, apalagi kalau ia tak mengerti agama,” kali ini ucapan ayah saya  terngiang kembali. Nasihat klise namun memang cukup masuk akal. 

Huhhh, Yahh, anakmu saja agamanya masih biasa-biasa aja. Batin saya dalam hati. Tapi saya mengaminkan saja kala kemudian ia mendoakan saya demikian.

Jam lonceng di Masjid Fatimah terus berdetak. Melipat kembali mukena, dan pandangan tertumbuk lagi pada meja kursi tempat ijab, membuat saya teringat dengan teman saya lagi. Yaa semoga, Allah benar-benar memberinya kesempatan sekali lagi untuk teman saya menikah di Masjid Fatimah suatu hari dengan laki-laki yang benar-benar bisa membahagiakannya dan menerimanya.

Keluar dari Masjid yang dibangun oleh juragan batik Danar Hadi ini, hujan rupanya deras kembali. Malas mengeluarkan mantol saya lebih memilih langsung memacu motor, menerjang hujan menuju Wonogiri



Related Posts

Selow di Masjid Fatimah Solo
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

6 comments

Tulis comments
avatar
03 April, 2018 06:26

Bangunan Masjidnya indah, rasanya adem kalau beribadah di Masjid ini karena desain langit-langitnya relatif tinggi

Reply
avatar
03 April, 2018 17:52

Pertama kali masuk masjid ini dulu langsung terkagum-kagum sama dekorasi dinding bagian depan yang berwarna merah sama emas itu. Meskipun baru bisa dihitung sama hitungan jari, tapi kalau pas mampir kesini memang rasane adem gitu yo mbak :D

Reply
avatar
04 April, 2018 12:08

Hoo. Adem. Bangunannya juga modern

Reply
avatar
05 April, 2018 11:22

Wew.. Aku malah gak ngerti enek masjid iki ning Solo.. haha

Reply
avatar
05 April, 2018 14:12

Heeeeee???
#shock
😂

Reply

Semoga yang tersaji, bisa bermakna.

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)