Sunday, March 04, 2018

Balada Pejalan Bokek: Traveling Irit Ke Pulau Merak Tak Sampai 50 ribu? Mau?

Sudah lama kami punya rencana buat main bareng ke Pulau Seribu, jadi pikiran saya liburan kemarin itu, momen yang pas. Tapi ternyata setelah hitung-menghitung isi dompet dan ngeliat sederet anggaran kebutuhan selama sebulan ke depan, kami sadar: main ke Pulau Seribu sama saja memaksa mesin ATM buat jebol. Kuy, kami sedang miskin-miskinnya kemarin, dompet nggak memungkinkan banget buat kesana. Jadi mau gak mau, kami pasrah buat menunda lagi main bareng ke Pulau Seribu.

Berhubung saya mau nagih Antin bendera doa oleh-olehnya dari Nepal, segera saja saya memberitahu Antin rencana kedatangan saya ke Jakarta, sekalian saya mau nanya alternatif traveling di Jakarta selain Pulau Seribu. Bertanya pada Antin rupanya sebuah tindakan tepat. Travel Blogger satu ini memberi saya rekomendasi Pulau Merak plus menuliskan sederet itenary serta perkiraan budget buat kesana. Huhuy, saya girang banget waktu ngeliat total perkiraan budgetnya yang nggak sampai Rp. 50.000 kecuali bila sekalian main ke Bakauheni, yang harus tambah Rp. 30.000. Kuy, budgetnya pas banget. Pulau Merak bener-bener pilihan tepat buat liburan hemat di Jakarta

Ngeteng di Pulau Merak

pulau merak kecil

Bangku-bangku di dekat kami nyaris sepenuhnya kosong. Meskipun kondisi kereta Rangkasbitung- Merak tak sebagus KRL yang sebelumnya membawa kami dari stasiun Tanah Abang ke Rangkasbitung, tapi kereta ini lebih menyenangkan. Lebih sepi. Pun posisi kursinya berhadapan. Kami yang bertiga ,jadi bisa duduk dalam satu kelompok. Lebih bisa santai bersendau gurau, sembari menontoni pemandangan yang ada di luar jendela kereta.

Melewati beberapa stasiun yang namanya terdengar asing di telinga, kereta akhirnya benar-benar berhenti. Kami sempat bingung ketika kereta tak kunjung bergerak kembali, dan orang-orang yang bersisa di gerbong kami mulai berisik menyeret kaki beralih ke gerbong depan, lantas turun satu persatu. Tak ada speaker yang memberitahu kami sampai dimana waktu itu. Tapi karena merasa aneh karena kereta makin sepi, kamipun ikut turun. Dan ternyata: rupanya kami sudah sampai di stasiun Merak, stasiun terakhir di ujung pulau Jawa bagian barat.


Stasiun Merak tak seperti stasiun yang lainnya. Keluar dari stasiun kami tidak melewati pintu, tapi menyusuri rel kereta sekitar 400 an meter. Baru kemudian kami berjumpa jalan raya dimana beberapa angkot sudah banyak berjejer.

kereta stasiun merak
Jalur rel kereta yang kami lalui saat akan keluar stasiun


Menggunakan angkot, kami lantas menuju dermaga kecil untuk menyebrang ke Pulau Merak. Jarak Stasiun Merak dengan dermaga tak terlalu jauh sebenarnya. Tapi kalau harus jalan kaki ya lumayan bikin pegel.

“Mbak sawer, mbak. Mbak sawer, Mbak,”  Kami hendak naik ke atas perahu saat 2 anak kecil menghampiri. Sekitar 5 anak kecil yang sedang berenang-renang di bawah dermaga penyebrangan ke Pulau Merak ikut pula menyembulkan kepalanya mengucapkan hal serupa. 

Semula saya kira anak-anak ini hanya anak-anak sekitar yang sedang bermain-main disana. ternyata, mereka anak-anak yang meminta saweran. Seramah mungkin kami berusaha menolak.

“Ikut ya, Mbak?” mengerti kami tetap tak akan memberi, seorang anak kemudian mengajukan diri. Meminta ijin untuk naik kapal barengan kami. 

Kami tidak ingin menyawer mereka, tapi kalau mengijinkan mereka sekedar ikut naik kapal barengan, sepertinya tak masalah

“Ikut aja, yuk!”

7 orang anak langsung sumringah. Mereka bergegas mencari posisi berkerumun di sekitar ujung kapal. Mereka tak banyak berisik, justru asik memandang ke arah laut sambil sesekali melempar ide untuk menceburkan diri berenang di tengah-tengah. Sebagai orang dewasa, kami jelas melarangnya. Tapi yah, tampaknya anak-anak itu memang hanya bercanda. Mereka tidak benar-benar berani dan malah terkikik-kikik kemudian asik kembali memandangi laut. Tampak bahagia naik di atas kapal.

“Mbak sawer ya, Mbak,”

“Iya mbak, sawer ya?” ujar mereka lagi begitu kami turun di Pulau Merak Kecil.

“Nggak ah Dik. Kalian turun aja. Ikutan main aja sama kita disini.” Kami memang sedang berhemat, namun tidak memberi uang ke mereka bukan karena faktor ini. Kami hanya berpikir memberi mereka bukankah sama saja mendidik mereka untuk terus menjadi peminta?

“Yahhh, nggak ahh mbak,” ujar mereka kecewa.

“Nanti kalau sudah sampai sana lagi, sawer ya Mbak!” bujuk mereka masih tak menyerah.

“Nggak dik. Kakak nggak mau nyawer. Ayo ikut main sini aja!”

“Nggak ahh, Mbak” tolak mereka lagi dan tetap berada di atas kapal. Pelan-pelan perahu mulai bergerak meninggalkan kami di Pulau Merak Kecil. Sebelum perahu benar-benar pergi, setidaknya saya lega bocah-bocah itu masih bersedia melambaikan tangannya dan tersenyum meski kami menolak untuk memberi.


perahu pulau merak
Foto Bocah-bocah yang ikut perahu kami saat perahu mulai menjauh
Pulau Merak kecil cukup sepi. Hanya ada kami dan sepasang muda-mudi yang asik berduaan. Pulau ini berpasir putih, bagian tengahya semacam daratan dengan tanah dan rimbun ilalang serta pepohonan. Sayangnya beberapa sampah terlihat menumpuk di tepian pasir putihnya. Bisa jadi itu sampah yang terbawa arus laut.  Tapi bisa jadi juga pengunjung Pulau Merak kurang peduli lingkungan karena di bagian tengah pulau yang merupakan daratan juga terlihat beberapa sampah yang berserak meskipun lebih sedikit.

Tapi lepas dari masalah sampah, Pulau Merak Kecil tetap asyik untuk jadi tempat liburan dekat Jakarta yang murah meriah. Cukup lama kami berada di sini. Sekedar foto-foto, bersendau gurau juga asik  main ayunan. Untuk sampai ke Pulau Merak Kecil dari Jakarta Pusat kami benar-benar tak perlu merogoh kocek lebih dari Rp. 50.000. Saya menghela nafas lega, karena itenary yang sudah disusunkan Antin, nyaris tak meleset. Dan ini penting karena pengeluaran kami sampai di Pulau Merak, menentukan juga apakah kami akan lanjut ke Bakauheni ataukah tidak.

Apa Itu Pulau Merak ?

pulau merak kecil dermaga
Masih lumayan cantik biarpun banyak sampah

Pada awalnya saya mengira Pulau Merak adalah sebuah lokasi yang masih masuk wilayah Jakarta meskipun saya tahu ia bukan bagian dari wilayah Pulau Seribu. Hla wong saya nggak ngerti Merak itu mana, Rangkasbitung itu mana, maka ketika membaca itenary saya masih saja mengira itu daerah Jakartanan. Saya baru ngeh setelah lama ngobrol ma Nana membahas jalur kereta yang dilewati yang ternyata sudah masuk Banten. 

Jadi Pulau Merak ini merupakan Pulau di desa Mekarsari kecamatan Pulomerak, Cilegon Banten. Terdapat dua pulau yang disebut Pulau Merak yaitu Merak Besar dan Merak Kecil. Pulau Merak yang kami kunjungi adalah Merak Kecil. Menurut petugas, Pulau Merak kecil lebih sering dijadikan jujugan kunjungan, sedangkan Pulau Merak Besar cenderung lebih sepi dibandingkan Merak Kecil dan banyak keranya. Maklum saja, karna ternyata Pulau Merak Besar merupakan kawasan hutan lindung Badan Konservasi Sumber Daya Alam Penprov Banten.

pulau merak kecilsuasana pulau merak

Itenary Dan Biaya Ke Pulau Merak Dari Jakarta

Untuk menuju ke Pulau Merak kalau dari Jakarta bisa naik KRL dari Tanah Abang menuju Rangkasbitung. Perjalanan kereta dari Tanah Abang - Rangkas Bitung ditempuh selama sekitar 2 jam perjalanan. Selanjutnya dari Rangkas Bitung - Merak juga sekitar 2 jam perjalanan. Dari Merak oper angkot merah bilang saja ke dermaga tempat menyebrang ke Pulau Merak. Transportasi ke Pulau Merak yang kami gunakan keseluruhan adalah: Taxi Online, Kereta, Angkot

Buat kamu yang belum butuh informasi itenary dan biaya nyebrang ke Pulau Merak dari Jakarta, bisa lanjut postingan ke dua tentang perjalanan oon kami ke Lampung yang 'tidak sengaja'. Tapi kalau memang lagi butuh rincian biaya traveling irit sekitar Jakarta bisa lanjut baca postingan di bawah

Itenary dan biaya Jakarta-Pulau Merak

Tujuan Transportasi Lama Perjalanan Biaya
KeTanah Abang Grab 1 jam 24.000 per mobil
Tanah Abang - Rangkasbitung KRL 2 jam 8.000
Rangkasbitung - Merak Kereta Api 2 jam 3.000
Stasiun Merak - Dermaga Penyebrangan Angkuta merah 5 menit 3.000
Ke Pulau Merak Kecil PP Perahu 5 menit15.000
Ke Pulau Merak Besar PP Perahu 5 menit25.000

Karna kemarin itu kami bertiga, jadilah biaya taxi dibagi bertiga. Terus karena kami mengejar waktu buat ke Bakauheni jadi kami tidak main ke Pulau Merak Besar.

Jadi total biaya per orang kemarin hanya:
Taxi Online : 8.000
KRL : 8.000
KA Rangkas-Merak : 3.000
Angkuta : 3.000
Nyebrang Merak Kecil : 15.000
Total 37.000

Untuk jadwal kereta dari Rangkasbitung ke Pulau Merak bisa dilihat di bawah. Sementara kalau untuk waktu penyebrangan ke Pulau Merak sepertinya cuma sampai sore saja. Perahu tidak menunggu saat sampai di Pulau Merak, jadi jangan lupa minta nomor telepon mas-mas di dermaga supaya sewaktu-waktu minta dijemput, perahu bisa segera datang.

jadwal kereta merak-rangkas
Jadwal kedatangan kereta merak-Rangkasbitung & Rangkas-Merak


Sebenarnya kami bisa saja langsung pulang waktu itu, biar bener-bener irit. Tapi kok rasanya sayang kalau hanya satu objek wisata. Pada akhirnya setelah hitung menghitung, kami memutuskan untuk tetap lanjut ke Bakauheni. Sekalian jalan lah. Nanggung rasanya.

Seperti Apa perjalanan kami sebagai pejalan bokek saat ke Bakauheni, bisa dibaca di postingan kemarin, atau bisa pula dibaca bagaimana kami harus terus berhitung buat menuju Lampung.







Related Posts

Balada Pejalan Bokek: Traveling Irit Ke Pulau Merak Tak Sampai 50 ribu? Mau?
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

5 comments

Tulis comments
avatar
05 March, 2018 07:34

Sampahnya memang banyak, dan itu dari kiriman. Miris sih melihat sampah laut segitu banyaknya

Reply
avatar
21 March, 2018 21:43

Udah pernah kesini dulu, waktu baru beberapa bulan pindah ke Jakarta, terus kangen pantai. jadilah main ke merak kecil. tapi dulu naik bus, bukan naik kereta :D

Reply
avatar
25 March, 2018 22:49

betul mas, miris. Asik ya sebenernya kalau bener-bener bersih

Reply
avatar
25 March, 2018 22:50

oalah, sekarang cobain mampir sana lagi aja cobain naik kereta. hehe

Reply
avatar
27 March, 2018 09:37

Sampahnya sangat merusak pemandangan banget..

Reply

Semoga yang tersaji, bisa bermakna.

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)