Sunday, March 17, 2019

Bertandang Ke Saloka Park, Wahana Wisata Baru Terbesar di Jawa Tengah

Beberapa waktu belakangan, saya cukup tergiur dengan wara-wiri gambar Kincir angin di Saloka Park yang bertebaran di lini masa instagram. Kincir anginnya kelihatan asyik, dan membuat saya berimajinasi, itu kincir mirip dengan kincir angin di drama-drama Korea. Tutupnya seperti kaca, hanya separo, dan sepertinya tempatnya sweet gitu kayak di drama.

Halah.

Yeahh, saya mungkin memang terlalu banyak nonton drama. Tapi, nyatanya Saloka Park adalah lokasi wisata baru di Semarang yang akan mengantar siapapun serasa memasuki negri dongeng, jadi tentunya sah-sah saja kalau kemudian saya jadi berimajinasi. Haha.

Dulu saya pernah membatin, wisata Jawa Tengah, kapan ya punya wahana wisata macam Dufan maupun Trans Studio? Pertanyaan saya terjawab sudah. Sekitar bulan Desember 2018 lalu, Saloka Park yang kini merupakan wahana wisata keluarga terbesar di Jawa Tengah resmi dibuka. 

Itu berarti provinsi saya nggak kalah sama provinsi-provinsi lain sekarang, asiikk.

Mengenal Saloka Park Trans Studionya Jawa Tengah

View Saloka Park dari atas Cakrawala
(docpri)

Nama Saloka Park awalnya buat saya terdengar aneh di telinga. Saya kira, nama Saloka ada sangkut pautnya dengan Salatiga, lantaran huruf depannya mengandung huruf S-A-L dan memang lokasi wisata Saloka Park berada di dekat kota Salatiga. Namun rupanya bukan karena itu.

Menurut penuturan pihak marketing Saloka Park, kata Saloka diambil dari nama ayah Baru Klinting yakni Ki Hajar Salokantara.

Ingatan saya langsung berputar tentang buku dongeng “Dancow” yang pernah saya baca jaman saya masih kecil. Legenda Baru Klinting kan dongeng dari Jawa Tengah tentang asal mula terjadinya Rawa Pening?

Dari penjelasan pihak marketing, memang Saloka Park berusaha untuk tidak melupakan unsur budaya lokal. Karena itulah nama Saloka dipilih lantaran lokasi Rawa Pening sangat dekat dengan Saloka Park, dan darisini viewnya memang terlihat jelas.

Ragam Wahana di Saloka Park

Cakrawala aka kincir angin Taman Saloka

Ada sejumlah 25 permainan di Saloka Park. Tiap-tiap wahana permainan ini memiliki nama khas Saloka. Sebagai contoh, kincir angin, namanya di sini cakrawala, seolah menggambarkan dengan naik kincir angin Saloka setinggi 33 meter kita bisa lebih luas melihat cakrawala. Setidaknya menonton Rawa Pening dan deretan 5 gunung yang seolah memagari tempat wisata baru di Semarang ini jadi lebih jelas.

Ada juga lika-liku, roller coasternya Saloka. Kereta yang akan melaju dengan cepat ini lumayan membuat saya deg-degan lantaran kecepatannya berpadu dengan rel keretanya yang berlika-liku. Terus ada lagi, Adu Nyali, wahana wisata yang menguji nyali lantaran pengunjung dibawa deg-degan saat memasuki ruangan yang isinya ‘para hantu’. Yeahh, saya dan beberapa rekan blogger lumayan senam jantung kemarin masuk ke rumah hantunya Saloka.

Rumah Hantu aka Adu Nyali
(docpri)



Lika liku Saloka
(docpri)

Masih buanyak permainan di Saloka Park yang tentunya bakal memenuhi postingan saya kalau saya tulis semua. Saran saya, kalau penasaran segera saja datangi tempat wisata di Semarang ini untuk membuktikan sendiri bahwa lokasi ini memang merupakan wahana wisata terbesar di Jawa Tengah.

Docpri
Docpri



Docpri


(docpri)

Tiket Masuk Saloka Park Semarang


Dibandingkan tiket masuk ke lokasi-lokasi permainan di provinsi-provinsi lain menurut saya memasuki Saloka Park tidaklah mahal. Guna menikmati ke 25 wahana permainannya, pengunjung hanya perlu membayar Rp. 120.000 di hari senin-jumat (weekday) dan Rp. 150.000 untuk Sabtu-Minggu (weekend).

Jam buka di Saloka Park pun cukup panjang. Saat weekday wisata Semarang ini buka dari pukul 10.00-18.00 sedangkan ketika weekend buka dari pukul 10.00-20.00.

Untuk wahana wisata Saloka Park, beberapa dibatasi berdasarkan usia dan berat badan. Seperti kalau ingin naik Paku Bumi tinggi minimal 120 cm berat max 80 kg dan untuk anak-anak harus didampingi. Atau untuk wahana ‘Bengak-bengok’ tinggi min 120 cm berat max 75 kg dan anak-anak harus didampingi.

Asiknya lagi kalau masuk Saloka Theme Park, untuk batasan usia anak-anak berlaku saat pembelian tiket. Anak-anak berusia kurang dari 2 tahun harga tiket tidak dihitung. Jadi lumayan ngirit kalau misal kemari bawa bayi.

Icip-icip Kuliner di Saloka Park

Andaikan kelaparan usai menjajal seluruh permainan di Saloka Park, tak perlu khawatir lantaran di Saloka tersedia cafe yang menjajakan aneka makanan dan minuman lezat. Ujar temen-temen sih, kopi di Saloka Park rasanya juara, sayang kemarin saya lagi tak berani minum kopi karena alasan kesehatan. Saya kemarin hanya nyoba beli es krimnya yang harganya Cuma Rp. 10.000 secontong. Asli uenak.

Pun kala kelaparan, food truck di dalam jualan Burger yang dagingnya ukurannya mantap dan rasanya joss. Biasanya saya itu nggak doyan burger, kemarin itu beda. Burgernya enak euy, mungkin lantaran dagingnya katanya merupakan daging asli import dari Australia.

Burger Saloka Park
(image from: Anggara W. Prasetya)

Kentang Jepang Rasa Coklat & BBQ
(Image from: Anggara W. Prasetya)


Selain nyobain burger, saya kemarin juga ngicipin kentang goreng Jepang yang super panjang. Camilan yang lumayan bikin kenyang. Rasanya pun mantap, kemarin sempat mencoba 3 varian rasa yakni BBQ, Coklat dan Keju. Enak semua, terutama yang varian rasa BBQ, rasanya pas di lidah.

Bagaimana Menuju Saloka Park?


Lokasi Saloka Park ini strategis. Dari Solo, lokasinya sangat mudah dicapai. Hanya tinggal mengikuti jalan utama Solo-Semarang nanti di kiri jalan wisata Saloka akan langsung terlihat.


Saloka Park

Jl. Fatmawati No.154, Gumuksari, Lopait, Tuntang, Semarang, Jawa Tengah 50773

Sunday, February 10, 2019

Menelisik Legenda Umbul Nogo Wonogiri

Kala mendatangi Kampung Wayang beberapa bulan yang lalu, saya mendapat cerita dari seorang penjual HIK bahwasanya kawasan Manyaran memiliki objek wisata lain selain Kampung Wayang, Gunung Watu Kotak, maupun Air Terjun Banyu Nibo. Kawasan yang masih masuk ke dalam wilayah Wonogiri ini ternyata juga memiliki tempat pembuatan Gong, serta tempat yang disebut dengan Umbul Naga.

***

Seperti biasanya, kali ini Nana dan beberapa orang saudara mengajak saya dengan cara mendadak. Sejam sebelum keberangkatan, saya baru diworo-woro kalau mereka mau ke Umbul Nogo.

Lantaran hari itu saya sedang dalam kondisi perasaan mode ambyar, saya nggak perlu pikir panjang untuk berangkat meskipun disaat bersamaan beberapa pekerjaan masih menumpuk belum tersentuh sama sekali. Ahh, toh pada akhirnya, kalau pikiran saya kemana-mana kerjaan itu juga bakalan lambat untuk selesai. Jadi saya memutuskan saja untuk bersenang-senang.

umbul naga

Kami berenam, memacu motor melintasi pasar Wuryantoro, kemudian lurus ke arah Manyaran. Jika dibandingkan ke Kampung Wayang, jarak menuju Umbul Nogo masih lebih jauh. Butuh sekitar lebih dari 15 an menit jika ditempuh dari Pasar Wuryantoro.

Nila niki Mbak, (Ini Nila Mbak)seorang ibu-ibu menjawab pertanyaan saya yang terbengong-bengong memandangi kerumunan ikan-ikan raksasa berukuran mungkin sekitar 50 an cm.

Kami baru saja tiba di kawasan Umbul Naga, dan kolam ikan besar langsung menarik perhatian kami.

“Masa Nila Bu? Gede banget?” saya masih menatap takjub.

Sori, ssah sekali mengambil gambar ikannya


“Nggih Mbak, nila ireng niki,” ujarnya yakin sambil terus mempreteli jagung rebusnya untuk kemudian disebarkan ke dalam kolam.

Ikan-ikan itu saling berebut tiap kali ada makanan dilemparkan masuk. Bahkan potongan bonggol jagung berukuran besar pun mereka serbu, membuat saya ngeri membayangkan keganasan mereka. Tulisan di kain sablon yang memperingatkan untuk tidak memasukan anggota badan ke kolam lantaran ada ikan galak, rasanya makin membuat saya menelan ludah, merinding.



Ahh, mana mungkin ada yang berani memasukkan anggota badan kemari kalau udah liat ikan besar-besar begini?

Baru saya membatin demikian, seorang bapak-bapak rupanya melakukan hal yang saya rasa tidak mungkin. Ia dengan santainya memasukkan tangan ke kolam, dan berusaha membelai ikan-ikan tersebut. Glek,,, saya hanya bisa menelan ludah. Ngeri, sembari membatin Kewanen tenan sampeyan, Pak!

Saat Hari Minggu tiba, Umbul Nogo menjadi lokasi wisata yang cukup ramai. Selain adanya kolam ikan, pengunjung bisa melakukan terapi ikan di kolam kecil yang ada di sisi-sisi pinggir dekat kolam. Pun, juga ada waterboom mini yang makin menarik minat para wisatawan. Namun gegara pas kami kemari kolam renang waterboomnya sedang ramai, kami pada akhirnya hanya bermain-main di sekitaran Umbul saja.

terapi ikan umbul naga
para pengunjung melakukan terapi ikan

Kolam Umbul Nogo

Kulo niku menawi ten mriki mboten wantun Mbak sanjang nopo-nopo (saya itu kalau di sini nggak berani bilang apa-apa),” ujar seorang Ibu-ibu yang sedang menjajakan panganan.

Saya langsung salah tingkah. Waduh Buk, saya ngajak ngobrol njenengan itu biar dapet cerita, hla kok malah langsung dibilangin begitu. Lak yo saya berasa mati kutu.

“Hla kenapa Buk? Maksudnya sanjang ingkang elek-elek ngoten (bilang yang jelek-jelek), Buk?”

Nggih sanjang macem-macem, (Ya bilang macam-macam) Mbak,”

“Ohh. Kulo namung penasaran mawon sih Buk, kok namine Umbul Nogo? (cuma penasaran aja kenapa namanya mbul Nogo)” saya masih berusaha memancing pembicaraan.

Kulo nggih mboten patek paham Mbak, (saya juga tidak begitu paham)” jawabnya dengan wajah agak takut.

Lohh, Ibu baru jualan di sini?”

“Nggak sih Mbak,”

“Bukan orang asli sini?”

“Ya, asli sini sih Mbak.”

“Ohh, hanya saja kurang begitu tahu gitu Buk cerita tentang tempat ini?”

Si Ibu tampak mikir sejenak. “Emm, kalau dari cerita orang-orang itu, kepala naga yang di pancuran itu asli Mbak. Asli kepala naga yang kemudian berubah jadi patung,” ceritanya akhirnya.

“kepala naga? yang mana sih Buk?” saya celingak-celinguk.



“Yang di situ. Itu patungnya pernah ada yang mau nyuri, tapi mboten saged. Soalnya di sini itu daerah gawat Mbak,”

“Maksudnya angker?”

Nggih pokoke enten sing nunggu. Ten mriki, mboten pareng ngucap sing aneh-aneh,” ujarnya dengan ekspresi kawatir kalau-kalau ucapannya ada yang salah.

Saya mengangguk-angguk dan langsung undur diri lantaran si Ibu sepertinya benar-benar terlihat sedikit takut-takut saya ajak bercerita lebih jauh perihal cerita Umbul Nogo.

Lokasi Umbul Nogo konon memang dikeramatkan. Hawa-hawa spooky pun muncul. Ya, wajar sih, Umbul Nogo merupakan area sumber air yang mata airnya mengalir bahkan sampai ke daerah Kelir Wonogiri. Sebagai area sumber mata air, lokasi sekitaran Umbul Naga dikelilingi oleh pohon-pohon berakar besar, yang daun-daunnya rimbun menaungi.

Legenda Umbul Nogo



Saya akhirnya bertemu Pak Katmin, pengelola Umbul Nogo. Darinya, akhirnya saya mendapat cerita tentang tempat ini secara lebih komplit.

Legenda Umbul Naga dimulai pada masa jaman kerajaan Mataram. Ketika itu, ada seorang keturunan kerajaan bernama Raden Rangga yang sedang menderita sakit mata. Oleh ayahnya, ia disarankan untuk bertapa ke daerah Dlepih Kahyangan.

Ketika berada di sana dan sakit matanya sembuh , beliau kemudian melihat cahaya yang bersinar. Ia lantas mengikuti cahaya itu dan sampailah di tempat cahaya tersebut berasal yang lokasinya tak jauh dari lokasi Umbul Nogo berada. Raden Rangga lantas bertapa di tempat tersebut, karena itulah ia kemudian disebut dengan Pangeran Cahyo yang artinya cahaya.

Raden Rangga mendapat mimpi untuk bertapa selama 40 hari. Ia juga berpesan kepada para pengawalnya untuk menyediakan air kelapa yang akan ia minum usai bertapa.

Sejak dalam pengembaraanya  dari Keraton Jogja, Raden Rangga dikawal oleh Kiai Merkak dan Kiai Jebres.Kedua pengawal tersebut menggunakan tunggangan berupa gajah.

Namun ketika bertapa, Raden Rangga terus digoda oleh Putri alam lain penunggu Gunung Tumpak. Putri tersebut terus memanggil-manggil Raden Rangga dan terus muncul di mimpinya. Sampai akhirnya Raden Rangga penasaran, dan tergoda. Belum genap 40 hari ia bertapa, ia sudah mendatangi Gunung Tumpak dan memasuki Lawang Gapit. Usai memasuki lawang (pintu) tersebut ia melihat sang putri. Saat ia makin mendekat, pintu itupun akhirnya tertutup dan tidak bisa terbuka lagi.

Kiai Merkak dan Kiai Jebres pun pergi mencari Raden Ronggo. Saat mengetahui bahwa Raden Rangga terkurung di dalam Lawang Gapit, mereka kemudian bertempur dengan para pengawal putri. Kiai Merkak dan Kiai Jebres yang menggunakan gajah sebagai tunggangan, bertempur dengan pengawal putri yang menggunakan naga sebagai tunggangan. Saking sama-sama saktinya, pertempuran itu secara tidak sengaja mengenai gundukan yang digunakan untuk memendam kelapa muda yang sejatinya akan diminum oleh Raden Ronggo. Kelapa muda di dalam gundukan itu pecah, namun yang ajaib, airya tidak kunjung berhenti dan malah menjadi sumber mata air yang terus mengalir hingga hari ini. Karena itulah tempat tersebut dinamakan Umbul Nogo karena merupakan bekas pertempuran dengan Naga.

“Terus katanya, ada hewan yang dikeramatkan di Umbul ini, itu beneran Pak,?” tanya saya usai Pak Katmin bercerita panjang lebar. Pertanyaan ini saya lontarkan lantaran penjual HIK yang pernah saya temui dulu menceritakan hal ini.

“Ohh, itu Gateng Mbak,”

“Ahh, iya Gateng namanya. Katanya hewan itu sudah ada sejak jaman keraton Pak? Dan hanya boleh diambil oleh kalangan orang keraton?”

“Ya kalau dari cerita gitu Mbak. Tapi mungkin sebenarnya karna ikan gateng itu mahal Mbak, dan keberadaannya sudah jarang ditemui,” Saya mengangguk-angguk. Adakalanya mitos memang berfungsi untuk melindungi. Saya teringat lagi prediksi penjual HIK yang berpendapat serupa, sejatinya itu hanya karena Ikan Gateng merupakan ikan yang memiliki gizi tinggi, dan rasanya enak. Makanya jaman dahulu masyarakat biasa tidak boleh memakan ikan ini, dan hanya orang kalangan kerajaan yang diperbolehkan dengan upacara tertentu. Konon kalau orang biasa yang mengambilnya akan terjadi sebuah musibah besar. Hingga kemudian sampai hari ini muncul beragam mitos mengenai ikan gateng yang tidak boleh diambil sembarangan. 

Habis Berapa Ke Umbul Nogo?


Seperti biasanya, kalau datang ke lokasi wisata Wonogiri. Datang Ke Umbul Nogo, tidak akan membuat dompet kering. Pasalnya untuk masuk kawasan Umbul Naga hanya dikenai biaya Masuk Rp. 3.000 / orang, dan Parkir Rp. 2.000.

Nah, kalau ingin berenang, tiket mask ke area kolam renangnya Rp. 7.000 per orang.







Umbul Nogo
Karang Lor, Karanglor, Manyaran, Wonogiri Regency, Central Java 57662


Perlunya Kejelian Mengatur Keuangan Saat Traveling

Traveling adalah hobi yang sangat realistis. Yap, saya rasa traveling benar-benar mengajarkan para pelakunya untuk bersikap realistis. Realistis pada kenyataan bahwa hidup itu butuh duit. Karena bahkan kita butuh membayar uang jasa tunggu kamar mandi ketika bepergian dan mampir ke toilet.

Nah, supaya saya bisa terus traveling tanpa harus kelabakan masalah keuangan, mengatur keuangan harus dilakukan dengan sangat jeli. Belakangan ini, usai mengikuti acara KEB Intimate, saya mendapatkan sebuah inspirasi bagaimana caranya mengatur keuangan agar kita makin bisa traveling ke berbagai tempat kemanapun yang kita inginkan. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan aplikasi akun.biz.

ilustrated: docpri


Akun.biz solusi membantu kita tertib Mencatat Keuangan

Kerapkali kendala terbesar saat mengatur keuangan adalah masalah pencatatan. Nah, disinilah akun.biz bisa kita manfaatkan. Dengan fitur-fiturnya yang mudah dan teknologi penyimpanan data cloud, maka kita bisa melakukan pencatatan laporan keuangan dimanapun dan kapanpun.

Mencatat keuangan dengan cermat membuat kita mampu mengontrol diri sendiri benarkah kita sudah membelanjakan uang dengan tepat? Kerapkali, saat traveling kita dihadapkan pada kondisi-kondisi yang menuntut untuk mengeluarkan uang secara mendadak, disinilah saya rasa kemampuan seseorang untuk mengatur keuangannya terlatih.

Kebutuhan tak terduga ketika traveling seperti: membayar ongkos angkot yang mendadak dihargai tidak wajar karena kita terlihat sebagai turis, uang tiket masuk ke tempat wisata yang ternyata naik, salah jalan sehingga harus menambah ongkos kendaraan/ bensin, mendadak harus menginap di suatu tempat lantaran kondisi jalan macet hingga harus ketinggalan kereta terakhir, adalah beberapa contoh kasus yang menghampiri para traveler yang menuntutnya mengeluarkan uang berlebih.

Dengan kita mencatatnya, kita bisa setiap saat memantaunya, agar kita tidak sembarangan membeli hal-hal tidak perlu selama perjalanan serta membantu kita untuk pintar-pintar mencari alternatif agar pengeluaran tidak membengkak namun tujuan perjalanan tetap benar-benar bisa tercapai. Jangan sampai traveling yang seharusnya menjadi ajang senang-senang malah membuat kita stres lantaran kantong habis-habisan dan utang dimana-mana.

Manfaat Menggunakan akun.biz


Menggunakan akun.biz sebagai aplikasi pencatatan laporan keuangan ketika kita traveling adalah hal yang tidak akan mengganggu kegiatan traveling kita. Masalahnya ia sangat mudah digunakan dan tidak ribet.

Lawong kita tinggal memasukkan data saja. Kan gampang? Untuk menggunakan aplikasi ini, kita terlebih dahulu harus mendownloadnya di Play Store. Nah setelahnya kita bisa dengan mudah melaukan catatan transaksi pengeluaran, pendapatan atau utang-piutang.

Melalui akun.biz ini kita bisa membuat laporan keuangan secara lebih profesional meskipun kita melakukan pencatatan laporan keuangan untuk diri sendiri. Dengan menggunakan aplikasi ini kita dengan mudah membuat laporan keuangan ala akuntan profesional tanpa harus membawa buku kas yang besar. Dengan akun biz, kita juga bisa melihat grafik keuangan kita.

Hebatnya akun.biz ia juga sangat cocok digunakan untuk laporan keuangan bersama. Jadi nih, semisal kita punya usaha, kita bisa dengan mudah mengontrol keuangan tempat usaha kita saat kita tidak berada di tempat. Karena melalui akun.biz kita bisa memanfaatkannya dengan beberapa pengguna yang kita tunjuk. Yap, akun.biz bisa digunakan secara multiuser. Dengan menggunakan akun.biz keuangan jadi lebih terorganisir meskipun kita sedang traveling. 

Beragam manfaat dari akun.biz ini rasanya tidak mengherankan, mengingat aplikasi ini sudah memenangi beberapa penghargaan. diantaranya seperti:

- Pemenang pertama, Digital Financial Technology Category, Wirausaha Muda Mandiri 2016
- Accelerated by FbStart, From Facebook
- “Penyelamat Puluhan Ribu UMKM”, Penghargaan Alumni Berprestasi Universitas Sebelas Maret



Bagi saya kontrol keuangan  adalah kunci agar kehidupan kita menjadi lebih baik. Bagaimanapun uang bukanlah segalanya namun kenyataanya hampir segalanya membutuhkan uang. Jadi ya, urusan uang harus disikapi sebijak mungkin dan diatur sedemikian hingga, termasuk ketika akan atau sedang traveling.






Sponsored

Sunday, January 20, 2019

Masa Lalu Waduk Gajah Mungkur Yang Datang Kembali

Pikiran saya mengudara, ketika mengajak Nana mendatangi area perkuburan di Wuryantoro yang biasanya tergenang air waduk Gajah Mungkur. Mengudara, dengan segudang imaji, membayangkan perasaan orang-orang jaman dulu. Mereka yang berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman untuk melakukan transmigrasi ke sebuah tempat baru nun jauh di seberang pulau. Meninggalkan semua kenangan kampung halaman yang tak bisa lagi dikunjungi lantaran semuanya ditenggelamkan.


Monday, December 31, 2018

Kampung Wayang Desa Butuh Klaten, Semangat Berseri Menolak Punah

Selama ini saya mengira, faktor utama yang mempengaruhi kelanggengan ‘pengrajin budaya’ adalah masalah pasar (peminat) yang berkurang dari jaman ke jaman. Namun usai mendatangi Kampung Wayang di Desa Butuh Sidowarno, Klaten, baru saya paham, permasalahan kelanggengan pengrajin budaya itu terlalu sambung-sinambung dan kenyataannya masalah pasar justru bukanlah masalah yang paling krusial

***

Mengikuti petunjuk google map, saya membelah persawahan jalanan Sukoharjo yang mulai menghijau seiring datangnya musim penghujan bulan Desember. Jarak Sidowarno yang meskipun berada di wilayah Klaten, rupanya tak sampai sejam jika ditempuh dari lokasi saya di Wonogiri Kota. Lokasi kampung ini berdekatan dengan wilayah Kabupaten Sukoharjo, sehingga hanya dengan melewati jalur Wonogiri-Sukoharjo, kemudian berbelok di sebuah gang yang tak jauh dari lokasi Kabupaten Sukoharjo lantas dilanjutkan menerabas persawahan, saya sudah bisa mencapai kawasan Sidowarno dengan total perjalanan berkisar 45 menit saja.

Penanda memasuki Desa Sidowarno (docpri)


Tuesday, December 25, 2018

Tamasya ke Floating Market Lembang Makin Mudah dengan Traveloka

Saatnya bikin wisata di Floating Market makin mudah dan menyenangkan dengan layanan pemesanan tiket masuk dari Traveloka.


Bandung hadir menawarkan beragam atraksi dan destinasi bertema alam yang dijamin akan membuat liburan makin berkesan. Saatnya manfaatkan libur panjang yang sebentar lagi tiba dengan wisata ke Bandung guna menghabiskan momen istimewa bersama keluarga ataupun sahabat terdekat.



Lembang, tentu menjadi tempat pertama yang terlintas dalam pikiran saat bicara mengenai liburan di Bandung. Kawasan yang terkenal sejuk ini punya deretan atraksi wisata yang tak pernah ada kata habis dan membosankan untuk dijelajahi. Salah satu objek wisata terpopuler di Bandung adalah Floating Market Lembang.

Sunday, December 23, 2018

Abrakadabra Hostel, Penginapan Murah Solusi 'Nggembel' Di Jogjakarta

Sejatinya saya itu bukan ingin ke Jogja, saya maunya itu ke Singapura, Jepang, Australi, pokoke yang saya pengen itu sejatinya backpacker ke luar negri. Sayang, kantongan kok dari dulu cekak-cekak aja. Tabungan juga segitu-gitu aja, nggak nambah, nyusut malah iya. Kalau ada istilah saldo lima koma, yang berarti setiap tanggal lima pasti koma. Kalau saldo ATM saya, nggak kenal istilah-istilah begituan. Hla wong nggak usah nunggu tanggal lima, itu saldo koma terus nggak ada bangun-bangunnya. Kalau dibahasakan pakai bahasa medis sih sebutannya NDE (Near Death Experience). Yeahh, kondisi ATM saya cen lagi setara sama istilah Mati Suri. Fiuhh,,,

Tapi saya itu anaknya positif. Jadi biar kata saya belum sanggup ke luar negri, saya coba berpikir “Ohh, mungkin maksudnya Allah, saya disuruh ke Jogja dulu.”

Lohh, kok Jogja ??

Iya, soalnya ini kota yang paling terjangkau di kantongan. Saya kan pengen banget backpackeran ke luar negri terus njajal nginep di dormitory gitu. Nah karna belum sanggup, bahkan untuk sekedar jadi ‘gembel’ aka backpacker, jadilah saya beberapa waktu lalu nyoba jadi backpacker terus nginep  di Jogjakarta saja.

Nggembel kok di Jogja to Daaa??? Nggak ada keren-kerennya, blas! 

Haha, biar.

Abrakadabra Hostel, Solusi Menginap Murah Di Jogjakarta

Abrakadabra Hostel

Friday, November 30, 2018

Paxel Kirim Oleh-Oleh Traveling Bisa Di Hari yang sama

Yang nyebelin dari traveling, terkadang adalah saat kita dimintai oleh-oleh. Pasalnya, seringnya itu pas saya kagak punya duit  yang minta oleh-oleh minta oleh-olehnya dianterin. Ini yang kadang bikin males. Masalahnya, sesudah dari perjalanan saja badan rasanya capek luar biasa. Ini, masih harus diminta untuk nganter. Kalau barang berupa benda yang awet sih bisa dianter kapan-kapan. Tapi kalau barang berupa makanan yang jangka waktunya cuma beberapa hari, ini yang susah.

Paxel, Kirim Oleh-oleh Cuma Sehari

Sewaktu menghadiri acara pengenalan product Paxel tempo hari, saya seneng. Pasalnya, saya jadi tahu bahwa kini perkara nganter barang seperti oleh-oleh jadi lebih ringkas lantaran ada Paxel yang bisa ngirim paketan cuma dalam waktu satu hari.


Mungkin yang baru mendengar namanya akan bertanya-tanya, Apa sih Paxel itu?

Thursday, November 22, 2018

Bertandang ke Desa Sade Lombok Usai Gempa

Selama ini yang saya tahu, Lombok hanya molek dengan pantainya, dan gagah dengan Gunung Rinjaninya. Kemana saja saya selama ini? Baru saya tahu, bahwasanya Lombok memiliki tempat wisata berupa desa adat.

desa sade


Friday, October 19, 2018

Menyapa Misteri Omah Tiban Bubakan Girimarto

“Nanti kita lewat di Omah Tiban,” terang pakde saat mobil yang ia sopiri sampai di daerah Girimarto.
Hari itu, perjalanan kami adalah menuju Candi Muncar, sebuah wisata telaga yang catatanya bisa dibaca di tulisan saya sebelumnya.

“Masjid Tiban?” tanya saya yang semula mengira Masjid Tiban dan Omah Tiban itu dua hal yang sama.

“Bukan, Masjid Tiban itu yang di daerah Baturetno. Nanti kita lewat di Omah Tiban. Petilasannya Pangeran Sambernyowo,” terangnya lagi. Saya hanya ber o ria. Pun dengan sepupu.

Tiba di sebuah perempatan jalan, sebuah rumah berwarna kuning kehijauan berdiri. Di depannya terdapat pohon beringin tinggi dengan dedaunan yang lumayan rindang, teduh menaungi. Memberikan kesan gelap, dan sedikit spooky ketika kami melewatinya.

omah tiban