Thursday, April 26, 2018

6 Buku Tentang Traveling Yang Bikin Saya Pengen Segera 'jalan'

Kamu adalah apa yang kamu baca.

Saya cukup sepakat dengan kata-kata ini. Sebagai penggemar buku, saya merasai sendiri buku banyak mempengaruhi diri saya. Terkadang, saya sudah lupa bagaimana cerita sebuah buku, namun nilai, atau kalimat-kalimat berkesan dalam buku tersebut bisa sangat saya ingat dan terus mempengaruhi hidup  hingga waktu yang lama. Karena itulah, sejak menyadari hal ini, saya berusaha seselektif mungkin memilih bacaan. Jika dulu buku apapun saya lahap, sekarang-sekarang ini saya berusaha tidak asal comot. Dan berusaha memastikan dulu, kemana kira-kira arah pemikiran pembaca nantinya akan digiring.

ilustrated by: focus-wtv.be

Buku-buku yang banyak mempengaruhi saya salah satunya adalah buku-buku bergenre traveling. Bermula dari pakde yang pernah menyodori saya majalah traveling bergambar, jadilah sejak kecil saya punya mimpi datang ke berbagai tempat. Meski sempat terlupakan, menginjak remaja, buku-buku bergenre traveling serta sisipan rubrik traveling di beberapa surat kabar mulai kembali meracuni saya yang ketika itu tidak pernah kemana-mana sama sekali. 

Paling menjadi racun, adalah buku-buku traveling bernada cerita dimana saya bisa seolah-olah masuk dan menjadi salah satu tokoh di dalamnya. Buku-buku tersebut berupa novel, kumpulan cerita dan semacam itu.

Nah, di bawah ini adalah beberapa buku dan novel berbau  kisah perjalanan yang buat saya, ini sukses membuat  pengen cepet-cepet mengepak ransel. Buat kamu para penggemar buku berat, mungkin buku-buku ini terlalu receh. Tapi buat saya buku-buku ini mudah dimengerti isinya, nggak mubeng penuturannya. Dan buku-buku ini termasuk buku populer, yang saya yakin kalian pasti juga mengenalnya.

1. Balada Si Roy

Generasi awal 90 an atau 80an pasti kenal sama buku Balada Si Roy. Buku Gola Gong ini saya baca saat SMA dan sukses membuat saya ngiler ingin menjelajah. Meskipun tokoh utama dalam buku ini adalah Roy, yang merupakan sosok laki-laki, tapi buku ini tetap menerbitkan hasrat petualangan dalam hati saya.


Bagaimana Roy mengenal orang-orang baru di banyak tempat, bagaimana Roy menemukan banyak kisah di tempat-tempat yang ia singgahi, bagaimana ia selalu bisa menjadi bagian dari tempat tersebut, semua petualangan-petualngan seru Roy terangkum dalam 10 seri buku yang menggugah saya sebagai pembaca untuk pengen mengikuti jejaknya melakukan penjelajahan. Terlepas dari saya pribadi yang sebenarnya benci-benci gemas dengan tokoh Roy. 

Iyalah, sebagai perempuan saya gemas dengan lelaki seflamboyan Roy, yang begitu mudahnya jatuh hati pada perempuan yang ia temui di nyaris tiap tempat yang ia singgahi. Roy, saya memahamimu sebagai pengelana, tapi saya tidak bisa menerimamu yang hatinya juga ikut kemana-mana.

Paling menyebalkan adalah buku seri terakhir Roy. Saya sudah berharap banyak, akhir cerita Balada Si Roy adalah Roy yang akhirnya menemukan satu-satunya hati untuknya berpulang. Aihh, tapi saya harus terima, Balada Si Roy bukan novel roman. Ini novel petualangan. Akhir cerita asmara Roy pun sama seperti perjalanannya yang enggan berhenti.

Roy, yang sudah berselingkuh terlalu jauh dengan perempuan bule yang ditemuinya saat berkelana ke luar negri, pada akhirnya pulang karena ibunya meninggal. Saat ia membuat pengakuan pada Suci bahwa ia telah berkhianat, ia rupanya juga mendapat pengakuan serupa dari Suci. Pacarnya itu juga mengaku sedang dekat dengan lelaki lain.

Tapi, iyuhh banget, karna Roy masih merasa harga dirinya terinjak. Woyyy Roy, kamu saja selingkuhnya tahapnya sudah kejauhan, masih saja merasa seperti itu! Saya pas baca rasanya geregetan.

Well, terlepas dari seluruh romansa yang dimasukkan Gola Gong ke dalam cerita Roy, ini novel adalah novel traveling pertama saya yang benar-benar membuat saya ingin mendaki gunung, dan berjalan kemana-mana.

Sedikit banyak, cerita Balada Si Roy didasari dari pengalaman perjalanan Gola Gong sendiri sebagai traveler. Jadi tak heran kalau gambaran seting latar serta penokohan terasa begitu hidup. Belum lagi, Gola Gong begitu piawai merangkai kata-kata. Diksinya begitu menyenangkan dan kata-katanya menghanyutkan. Yang juga bikin menarik, Gola Gong selalu menyisipkan pembuka di tiap babnya dengan cuplikan kata-kata manis yang jadi ciri khas tersendiri bagi novel Balada si Roy.

2. Perjalanan Ke Atap Dunia

Novel yang ditulis oleh Daniel Mahendra ini memiliki tutur yang mirip dengan Balada Si Roy. Karena itulah saya langsung suka ketika baru selembar membaca bab awalnya. Tak mengherankan karena Daniel memang penggemar Roy dan terinspirasi olehnya. 

Perjalanan Ke Atap Dunia, sukses meracuni saya yang tidak pernah terbayang Tibet itu seperti apa. Saya sebelumnya sudah menuliskan seperti apa buku Perjalanan Ke Atap Dunia ini lewat review serta penggalan tipsnya yang menarik.

Berbeda dengan Roy, mungkin karena ini jurnal pribadi, jadi saya tidak menemukan sosok bad boys di novel ini. Singkat saja penjelasan saya tentang novel ini, karena tulisan sebelumnya sudah pernah mereview tentang novel Daniel Mahendra 'Perjalanan Ke Atap Dunia'.

3. 99 Cahaya Di Langit Eropa

Dari beberapa sumber banyak yang mengatakan ini cerita gabungan fiksi Non fiksi. Beberapa ceritanya nyata tapi dengan beberapa tambahan. Yang pasti membaca 99 Cahaya Di Langit Eropa membuka cakrawala baru. Beragam pengetahuan dimasukkan tanpa saya merasa digurui. Ragam cerita  seputar Islam di Barat banyak ditunjukkan pula lewat buku ini.

Sumber: kompas

Bahasa apik dengan diksi yang keren dihadirkan Hanum dengan sangat rapi. Membaca buku ini menginspirasi saya tentang makna menulis, bukan hanya tentang bercerita, tapi bagaimana cerita itu bisa memberi banyak hikmah buat orang lain. Meski buku ini sudah difilmkan, tapi filmnya bagi saya tak bisa mengalahkan bukunya.

Banyak cerita-cerita penting, pengetahuan-pengetahuan tak terduga terungkap dalam buku, tapi tidak diangkat dalam film. Ada yang diangkat, tapi buat saya, ketika diangkat maknanya jadi hilang.
99 Cahaya di Langit Eropa, membuat saya termotivasi, meskipun masih jadi PR banget, untuk melakukan semacam perjalanan rohani layaknya apa yang dilakukan Hanum dan suaminya. Yeahh, moga-moga suatu kali kesampaian.

4. Love Sparks In Korea

Buku satu ini mirip-mirip buku Asma Nadia sebelumnya Assalamu'alaikum Beijing. Konsepnya pun masih sama. Mengangkat sosok “jilbab traveller”

Yang membuat saya suka karena buku ini menunjukkan bahwa perempuan yang dulunya lemah pun bisa menjadi tangguh. Secara garis besar dari sisi cerita dan bahasa, sebenarnya saya lebih suka Assalamu'alaikum Beijing, lantaran beberapa bagian dari novel ini terasa garing dan membosankan. 

Tapi yahhh, saya bisa kembali suka ketika meneruskan membacanya hingga selesai. Asma Nadia seperti biasanya membawakan cerita dengan bahasa penuturan yang lembut. Mengingatkan tentang nilai-nilai Islam yang tak selayaknya dilupakan meski sedang melakukan perjalanan.


Love Sparks in Korea, bercerita tentang roman perjalanan yang dialami Rania. Seorang gadis berhijab yang datang ke Korea kemudian jatuh cinta dengan pemuda Korea. Konflik batin rasanya lebih banyak menjadi inti dari keseluruhan cerita. Kegalauan Rania akan Hyun Geun yang semula dikiranya tidak seiman, hingga ketika tahu bahwa Hyun Geun sudah menjadi mualaf sejak dulu, tapi kembali galau karena Hyun Geun sepertinya bukan calon imam yang baik. 

Tapi pada akhirnya, cerita ditutup dengan kesungguhan Hyeun Gun memperjuangkan Rania. Seperti ditunjukkan dari keputusannya memotong rambut  panjangnya meski Rania sebenarnya tidak pernah meminta itu. Atau saat mengajak menikah Rania. Meskipun awalnya ia ingin menikah ketika usianya menginjak 30 an, tapi ia paham konsep bersama dengan Rania adalah dengan menikah, karena Rania tidak mengenal kata pacaran.

jangan bicara cinta pada burung-burung
sebelum kau yakin tumbuh sayap
yang menerbangkan hasratmu
pada cinta-Nya


Dari sisi seting bagi saya sebenarnya kurang bisa membuat saya membayangkan tempat-tempat di Korea sana. Tapi karena ceritanya romantis, saya jadi pengen packing terus terbang ke Korea ketemu oppa-oppa cute macem Hyun Geun. Wkwkwk.

5. The Journeys

Sumber: googlerad

Ini buku merupakan kumpulan cerita perjalanan dari banyak travel blogger dan travel writers. Seluruh seri The Journeys buat saya keren. Menggugah naluri menjelajah dari sudut-sudut negri hingga luar negri.

Kisah-kisah seru para penulis, petualangan selama perjalanan, atau perjuangan biar bisa terus ‘berjalan’ ada dalam buku ini. Saya sih menyemogakan semoga ke depan, ada seri lanjutan lagi, dan moga saja saya bisa jadi salah satu penulisnya. Wkwkwk. ngarep.com

Lewat buku ini pulalah saya jadi tahu sosok Windy Ariestanty yang dulu juga pernah saya ikuti pelatihan jurnalis travelingnya. Rangkuman catatannya saya tulis di sini

Sosok-sosok travel blogger dan penulis beken lain ada pula Alexander Thian, Valiant Budi, Raditya Dika, Fahmi Anhar serta Travel Junkie yang ikut serta menyumbangkan kisahnya di buku ini.

6. Trinity The Naked Traveler

Siapa yang tak kenal buku ini. Meskipun di beberapa hal saya kurang sreg dengan Trinity, tapi saya akui, buku ini menarik. Gokil luar biasa, dan yang paling penting saya mupeng berat pengen lekas traveling kalau sudah usai baca bukunya.
sumber: naked-traveler.com

Ini buku fenomenal, yang memang pantas fenomenal, soalnya emang keren. Salah satu cerita gokil yang saya ingat adalah ketika si Trinity jalan ke Puerto Rico kemudian tur guidenya menyuruh para peserta tur untuk melihat pohon pisang. Semua orang terkagum-kagum kecuali Trinity. Yaelah, tentu saja, pohon pisang kan ada banyak di Indonesia. Hihihi.

Tiap selesai membaca Trinity The Naked Traveler saya pasti merasa terhibur. Selalu sukses membuat ngakak sejadi-jadinya. Hehe


Nah, itu tadi beberapa Buku berbau traveling yang menurut saya menarik dan bikin pengen segera 'jalan'. Kamu mau menambahi? Share di kolom komen boleh-boleh aja :-)

Saturday, April 21, 2018

Memetik Semangat Kartini Di Antologi Collaboractive Space, Hingga Pentingnya Susu Kolostrum

Pertama kali mendatangi Antologi Collaboractive Space, saya langsung berdecak senang. Dari luar gedung, saya sudah terbayang, bagaimana nyamannya lokasi Coworking Space satu ini.

Lokasinya didesain kekinian. Bangunannya dikelilingi kaca-kaca serta di dalamnya, meja, kursi, serta sofa bisa ditemukan di berbagai sudut. Di ujung, deretan tempat lesehan dilengkapi rak dengan berbagai isian buku semakin menambah kesan nyaman bagi Antologi Collaboractive Space. Berbagai fasilitas komplit ini, kenyataannya memang membuat saya betah berlama-lama semenjak pagi.

Tempat Coworking Space yang baru saya tahu itu, hari ini terasa spesial. Bukan karena apa-apa. Hanya saja, hari ini saya mendapat  suntikan semangat dari dua perempuan hebat.


Hari ini, 21 April 2018, tepat dimana Indonesia memperingati hari Kartini yang identik dengan hari perempuan, hari ini pula saya bertemu dengan 2 perempuan yang cukup menginspirasi.

Yang pertama adalah kawan saya. Semenjak pagi menjelang, kepada seorang kawan perempuan saya menimba ilmu tentang logika sebuah program.

Sembari belajar, saya memesan minuman dari kulit coklat di kedai Wiki Kopi yang merupakan bagian dari Antologi Collaboractive Space. Pertimbangannya, karna saya percaya coklat bisa membuat kita lebih merasa rilex. Selain itu, ini memang kedai kopi, tapi sejak terakhir kali merasa lemas usai minum kopi di sebuah kedai kopi dulu, saya tak mau mengulanginya. Setidaknya, hari ini saya harus terus fit agar bisa menyerap ilmu sebanyak-banyaknya, jadi meski saya berada di kedai kopi saya memilih menjauhi kopi.




Duduk di salah satu meja Antologi Collaboractive Space, saya dipandu teman saya. Mencoba  belajar memecahkan persoalan-persoalan logika yang coba ia berikan. Menit-menit yang belalu, semakin lama saya rasakan semakin membuat kepala panas.

Ia memberikan beberapa soal usai menjelaskan tentang berbagai logika sebuah script. Saya dimintanya menganalisa dan mencoba memecahkan beberapa masalah menggunakan logika yang sudah ia jelaskan. Meskipun saya paham, tapi kenyataannya pemahaman saya ketika diaplikasikan kerap menimbulkan eror.

“Coba saja terus! Salah nggak papa, lihat tulisan itu!” ujar kawan saya menunjuk sebuah pesan di dinding, saat saya berulang kali melakukan eror lantas melenguh kesal ingin menyerah.

Anyone who has never made a mistake has never tried anything new
---Albert Einstein---”


Benar juga, dari seluruh kesalahan soal-soal itu, setidaknya saya mendapat pengetahuan baru.

Saya tersenyum, aihhh, Antologi Co Space ini, tau saja apa yang dibutuhkan pengunjungnya. Hanya dari sebuah tulisan motivasi dinding yang memang ada cukup banyak, menit itu saya langsung kembali bersemangat. 

Kawan saya lantas menunjukkan bagaimana cara solved atas kesalahan-kesalahan yang saya lakukan. Sebagai perempuan yang lebih muda dari saya, ia begitu lanyah mengerjakan pemecahan logika-logika yang umumnya lebih banyak dikuasai laki-laki. Ketekunannya dalam bidang ini selama setahun rupanya membawanya menjadi sosok yang tak perlu diragukan lagi keprofesionalannya sebagai senior developer. Fiuuhhh, buat saya ini motivasi tersendiri. Sama-sama makan nasi, kamu pasti bisa Aida! Meskipun di sudut batin yang lain ada juga teriakan nyinyir, yaelahh, nasi mah karbohidrat, nggak ngaruh! Dia mah dasarannya pinter. Pinter mah ya pinter aja! 

Hemm, saya mencoba menghalau pikiran buruk itu.

Perempuan hebat yang ke dua yang saya temui di Antologi Collaboractive Space adalah Alanda Kariza.

Saat waktu yang terus beranjak, pada akhirnya tiba juga waktu untuk kawan saya bergegas pulang. Usai kepergiannya, saya masih harus mengulas lagi apa-apa yang baru saja ia ajarkan. 

Yang tidak saya sadari, rupanya di lantai bawah Antologi Collaboractive Space, sedari tadi sedang ada bedah buku dari sesosok perempuan yang juga  cukup menginspirasi.

Saat acaranya menjelang selesai, baru saya sadar, rupanya penulis buku itu adalah Alanda Kariza. Saya sempat nggak ngeh pada awalnya siapa dia. Tapi saat sore menjelang, iseng saya browsing-browsing, dan menemukan bahwa ia adalah penulis buku “Dream Catcher”.

Haihh, itu mah, salah satu buku yang saya kenal. Saya pernah membacanya dulu. 

“Ini, buku-bukunya kak Alanda?” tanya saya pada salah satu peserta. Lelaki muda itu mengangguk. Saya bisa memastikan bahwa ia salah satu penggemar beratnya berdasarkan senyum sumringahnya usai mendapat tanda tangan di seluruh buku Alanda yang ia miliki.



Meskipun saat duduk di atas tadi saya fokus dengan laptop, tapi keberadaan saya yang pindah di lantai atas tepat di atas Alanda berdiri, membuat saya mendengar beberapa materi inspiratif yang ia sampaikan.

Pada intinya, Alanda bercerita tentang bagaimana ia sukses menulis dalam 30 hari. Ia menceritakan nasihat inspiratif dalam berkarya: ketika ingin menulis novel, maka biarkan diri kita menulis bebas dulu. Menuangkan seluruh pikiran dan ide, menunda dulu untuk melakukan editing, menekan backspace dan tidak membacanya berkali-kali. Tuliskan saja dulu semua, baru setelah semua tertulis, editing dilakukan. Kurang lebih intinya seperti itu.

Alanda juga menceritakan, bahwa menemukan seorang teman untuk diajak menulis bersama itu bisa membuat cerita kita lebih kaya. Seperti ketika novelnya dikolaborasi dengan temannya yang merupakan sosok laki-laki. Menulis dari dua sudut pandang laki-laki dan perempuan membuat tulisannya menjadi lebih berkesan pas dan masuk akal.



Alanda adalah sosok perempuan produktif bahkan sejak usianya 17 tahun. Sekilas-sekilas saat saya membaca buku milik peserta tadi, saya menemukan detil siapa sosok Alanda. Lahir pada Februari 1991 ia sudah menorehkan beragam prestasi, seperti pernah mewakili Indonesia dalam Global Changemakers di London saat berusia 17 tahun, serta masih banyak segudang prestasi lainnya.

Sosoknya cukup ramah kepada para peserta yang hadir. Beberapa kali ia menanggapi pertanyaan-pertaanyaan dari para peserta yang memang ingin menjadi novelis saat tengah melakukan aktivitasnya berfoto. Ia terus menanggapi peserta  meskipun waktunya untuk mengejar pesawat mepet.

“Perempuan-perempuan di Indonesia harus maju bersama apapun latar belakangnya,” ujarnya saat saya pada akhirnya ngikut berfoto dan iseng bertanya: pesan apa yang ingin ia sampaikan pada perempuan di Indonesia agar selalu menjadi perempuan produktif.

Saya mengernyit, mencoba mencerna ucapan spontannya.

“Maksudnya, sekarang ini nih, kan lagi heboh tuh perempuan yang mencela pilihan perempuan lain. Maksud saya, tiap perempuan itu kan punya pilihannya masing-masing. Mau menikah dulu, mau berkarir dulu, mau menikah muda, atau gimana ya sudah. Apapun latar belakangnya harus menghargai. Misal, ada yang menikah muda terus dikomentarin macem-macem. Janganlah! Apapun pilihannya tiap perempuan itu harus selalu bahu-membahu untuk maju bersama,” ujarnya kemudian. 

Saya mengangguk-angguk.

Aiiihhh ini nasihat yang tepat sekali untuk para perempuan di hari Kartini . Seperti kita semua tahu, perempuan adalah sosok yang sensitif dengan “komentar” entah dikomentarin atau mengomentarin. Padahal sebuah komentar seringkali mempengaruhi kehidupan seseorang. Bahkan saat yang berkomentar sudah melupakan komentarnya. 

Hemm, setiap orang punya latar belakang dalam menentukan pilihan bukan? Jadi daripada nyinyir lebih baik produktif, dan saling mendukung untuk maju bersama.

Jaga Produktivitas Dengan Susu MyBio Colostrum

Menjadi perempuan produktif, tentunya kita butuh asupan gizi yang lebih. Salah satu asupan gizi yang bisa digunakan adalah Susu MyBio Colostrum.

susu mybio colostrum


Dulu saya pernah mendapat nasihat dari seorang sepupupu untuk minum Susu Colostrum agar badan saya selalu fit meski aktivitas sedang padat merayap. Saya dulu acuh, tapi sekarang ini, saya rasa ia benar. Seringkali aktivitas yang padat membuat badan mudah sakit, dan kalau sudah sakit, produktivitas menurun. Yang paling buruk, saya jadi tak bisa traveling kemana-mana. Karena itulah, konsumsi Susu Colostrum sekarang ini rasanya penting.

Untungnya Susu MyBio Colostrum hadir dengan cara penyajian yang mudah dan kemasannya yang praktis. Hanya tinggal dituang dalam segelas air hangat dan diaduk dengan sendok plastik, segelas susu colostrum sudah bisa dinikmati.

Susu Kolostrum rupanya merupakan cairan pra-susu yang dihasilkan oleh kelenjar mamalia pada 16 jam pertama setelah melahirkan yang mengandung zat besi 10-17 kali lebih banyak, Vitamin D 3 kali lebih banyak, dan Vitamin A 10 kali lebih banyak dibandingkan susu biasa. Inilah yang menjadikan Susu Kolostrum menjaga para perempuan untuk lebih sehat meski terus produktif. Melalui asupan nutrisi yang cukup, daya tahan akan meningkat, imbasnya tubuh tak mudah sakit sehingga kita bisa terus produktif.

Sore Di Antologi Collaboractive Space

Hingga menjelang Magrib, usai bertemu dengan teman yang lain lagi,  saya masih berada di Antologi Collaboractive Space. Ini sebuah tempat yang tampaknya memang didesain untuk para anak-anak muda berbagi ruang bersama agar bisa berkolaborasi menciptakan karya lantas menjadi produktif dengan berdaya bersama. Tentunya bukan ruang gosip, dan nyinyir bersama ya!

Nah, buat kamu yang butuh tempat ngerjain kerjaan atau belajar bareng di Jogja yang full fasilitas  dan ruang yang asik, bisa datang saja ke Antologi Collaboractive Space yang ada di Jogja!

Selamat hari Kartini buat seluruh Wanita di Indonesia, dan Jangan lupa, jaga produktivitasmu selalu dengan konsumsi Susu MyBio Colostrum biar daya tahan tubuh selalu oke.


Antologi Collaborative Space
Alamat: Gang Gayamsari II No. 9C, Caturtunggal, Kecamatan Depok, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Sunday, April 15, 2018

Ragam Karya Seni Museum Tumurun Solo

Tak ada papan nama yang menyebut bahwa tempat yang akan saya datangi kemarin adalah Museum.

Memarkir kendaraan di Gor Sritex, saya dan seorang kawan hanya diberitahu, bahwasanya untuk menuju Museum Tumurun kami harus berjalan lurus, dan berhenti saja di kiri jalan di tempat bangunan yang depannya sedang dijaga oleh satpam.

Bangunan itu dari luar tak nampak sama sekali sebagai Museum. Yeah, mungkin lantaran kepala saya sudah termindset bahwa Museum seharusnya bagian luarnya memiliki sisi spesifik, entah dari gaya klasiknya, atau keunikan-keunikan lainnya. Bangunan Museum Tumurun biasa saja dari luar. Hanya saja, ketika saya masuk, pekikan kalimat “wow” langsung meluncur secara otomatis. 

Bagian transit tamu museum berupa bangunan yang dilengkapi meja kursi modern untuk bersantai dengan beragam interior kekinian yang berkesan “wah”. Itu baru bagian ruang transitnya. Memasuki ruang pameran beragam benda karya seni yang tentunya berharga mahal dipamerkan kepada pengunjung

museum tumurun

Monday, April 09, 2018

Airy Rooms, Solusi Cerdas Cari Hotel Murah Tanpa Murahan

Saya sebenarnya sedikit kerepotan kalau ada temen yang meminta mencarikan hotel dengan harga murah. Pasalnya, saya harus survey dulu. datengin hotelnya satu-satu buat memastikan bahwa biarpun hotel itu murah tapi memang beneran layak dan nyaman.

Memesan hotel low budget fasilitas yang didapat seringnya ikutan low. Karna itu, saya bela-belain survey lokasi dulu. Namun sejak saya menjajal menggunakan hotel Airy Rooms, rasanya ke depan kalau ada kawan atau saudara minta tolong dicarikan hotel berbudget rendah, saya sudah tidak perlu repot lagi.

Tinggal saya rekomendasikan saja mereka mendownload dan menggunakan aplikasi Airy Rooms. Pun saya, kalau pas traveling kemalaman di jalan, saya tinggal buka saja aplikasi Airy Rooms. Karena dengan Airy Rooms, #KapanAjaBisa menginap dengan nyaman.

Awalnya saya sempat mengira, Airy Rooms mirip dengan aplikasi-aplikasi pemesanan hotel pada umumnya, yangmana ia bertindak semacam “sebagai makelar”. Tapi ternyata, Airy Rooms berbeda.

"Airy Rooms bertindak bagaikan seorang teman, yang menyambut kedatangan sobat kentalnya dengan sebaik mungkin. "

Kalau sahabat baik nih, ketika sahabatnya datang dari jauh dan akan menginap, pastinya akan menyiapkan segalanya se-oke mungkin. Kamar yang oke, serta hal-hal lain yang kiranya diperlukan si sahabat ketika nanti tiba. Pokoknya nggak ingin bikin kecewa lah.

Nah, jadi sikap si Airy ini mirip-mirip seperti itu. 

Buat yang belum ngeh bagaimana cara kerja Airy Rooms kira-kira seperti ini:

Airy Rooms bukan sekedar jadi makelar yang menghubungkan pemilik hotel dengan calon customer. Tapi seperti yang saya bilang tadi “seperti sahabat yang menyambut kedatangan sahabat baiknya yang akan menginap”.

airy room kartun
edit by me

Monday, April 02, 2018

Selow di Masjid Fatimah Solo

Bila hati gelisah,
Tak tenang tak tentram..
Bila hatimu goyah,
Terluka merana..
Jauhkah hati ini, dari Tuhan, dari Allah?
Hilangkah dalam hati, dzikirku, imanku?
….

****

Allah Maha Mendengar, dimanapun kita berdoa. Ya, saya tidak meragukan itu. Akan tetapi kala kita ingin berlari, kita ingin mengadu, adakalanya tempat-tempat tertentu membawa kita pada suasana yang lebih. Kekhusyukan yang lebih kuat, kedekatan yang lebih akrab, rasanya lebih bisa kita dapat saat bermunajat di sana.

Hujan baru saja usai, meskipun sisa-sisa gerimis masih turun pelan. Beberapa hari lalu, untuk pertama kalinya di tahun 2018 saya mendatangi lagi Masjid Fatimah Solo.

masjid fatimah solo


Jika kamu bertanya kepada warga Solo, nama Masjid Fatimah tentu sudah tak asing lagi. Beberapa orang bahkan menamai masjid ini sebagai masjid pengantin. Bukan berarti kalau datang ke sini bakalan cepet jadi pengantin. Disebut demikian, lantaran Masjid Fatimah kerap dijadikan tempat ijab pasangan pengantin sekaligus mereka melangsungkan acara pernikahan.

Bagi saya pribadi, Masjid Fatimah adalah tempat paling tenang untuk berlari saat ingin mengadu padaNya lantaran ada yang mengganggu dalam benak dan ketika ketenangan hati tergerogoti seperti akhir-akhir ini.

Entah kenapa, saat menginjakkan kaki di Masjid Fatimah, saya merasai seperti sedang berada di Istiqlal. Suasananya lebih tenang, dingin, damai. Yeah, bagi saya Masjid Fatimah adalah Isqiqlalnya Solo.


“Dulu, aku pernah punya mimpi, suatu hari kalau aku menikah, aku ingin menikah di masjid ini,” ucapan seorang teman sekitar dua tahun lalu tiba-tiba berputar.

Masih terngiang di benak saya, sekitar  dua tahun lalu, seorang kawan baik nyaris menangis di tempat duduk Masjid Fatimah dimana orang-orang melepas alas kakinya.

Saya bisa merasakan sesak dan perih mendengar ucapannya.

“Masih belum terlambat. Siapa tahu, sudah ada laki-laki yang jauh lebih baik yang menunggumu di masa depan yang menerimamu apa adanya, yang akan mengajakmu menikah di tempat ini. Ayo solat sik wae, terus ndongo,” hibur saya berusaha menghindarkannya supaya tidak benar-benar menangis di sana.

Usai wudhu, teman saya berusaha tersenyum. Saya bergegas mendahuluinya. Melihatnya terlalu lama hanya akan ikut membuat saya berurai air mata. Padahal teman saya butuh dikuatkan bukan diyakinkan bahwa  perasaan saya ikut tercabik prihatin dengan kehidupannya yang berantakan.

Dosaku akehh,” ucapnya.

Wes gek ndongo,”ujar saya tanpa banyak berkata-kata. 

Beberapa bulan sebelumnya, saya sudah terlalu panjang lebar bicara banyak padanya saat ia membuat sebuah pengakuan mengejutkan. Saya sempat membodoh-bodohkannya dulu dan ia hanya tertunduk mengiyakan bahwa ucapan saya benar.

Saya merasa bersalah pernah berkata demikian. Karna dukungan moril dari orang-orang terdekatnya adalah satu-satunya hal yang ia butuhkan kini.

“Orang tua itu yang paling dikhawatirkan terhadap anak perempuannya bukan tentang ‘jadi apa anaknya nanti!’ yang paling dikhawatirkan mereka adalah ‘siapa laki-laki yang akan jadi pendamping anaknya’. Karena mereka bakalan lega, kalau melihat pengganti mereka dalam menjaga putrinya adalah laki-laki yang memang baik dan mampu membahagiakan”
Dulu saat mendapat nasihat demikian dari seorang senior di tempat kerja, saya belum bisa menerima nasihat itu. Ego masa muda yang masih besar dulu membuat saya begitu angkuh menerima kenyataan bahwa perempuan memang membutuhkan laki-laki untuk lebih tegak berdiri. Laki-laki baik yang bisa menuntunya ke jalan yang lebih baik.

Beriringnya waktu, sedikit banyak saya sadar, ucapan senior saya benar. Kisah kawan saya ini yang paling banyak menyadarkan saya.

Kawan saya adalah sosok perempuan baik-baik. Hanya pernah dua kali jatuh hati. Yang pertama hanyalah cinta monyet, sementara yang kedua adalah sebuah cinta yang salah yang menggiringnya pada kehidupan yang “entah”.

Laki-laki yang  menjadi ayah anaknya adalah laki-laki beristri, pembohong tak bertanggung jawab yang seolah datang untuk menaklukkan kemudian setelah kawan saya takluk ia pergi.

“Apa dia nggak punya ibu? Apa dia nggak punya adik perempuan?  Apa dia nggak bisa membayangkan bagaimana kalau hal semacam ini terjadi pada perempuan-perempuan dalam keluarganya?” seorang sahabat lain pernah uring-uringan gara-gara masalah ini. 

Laki-laki itu punya Ibu dan ia juga punya adik perempuan, tapi ia tak cukup punya akidah yang baik memperlakukan perempuan.

Masalah yang terjadi terlalu complicated lantaran dibiarkan terlalu lama saat kami semua tahu kebenaran. Jangankan kami, keluarga teman saya sendiri sudah tak tahu lagi harus berbuat apa. Pada akhirnya kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya serta menyemangatinya kala ia merasa putus asa.



Kursi dan meja ijab ditata di bagian tengah masjid saat saya datang kemarin. Saya mengedarkan pandang membaca suasana. Hanya ada beberapa orang yang tampaknya memang datang untuk tujuan solat. Saya menghela nafas, rupanya saya datang saat ijab sudah selesai. Hanya bersisa meja kursi yang belum dikembalikan pada tempatnya.

masjid solo fatimah
Add caption

Dulu beberapa kali saya mampir kemari, beberapa kali pula kedatangan saya bertepatan dengan acara Ijab Qabul hendak dilangsungkan. Biasanya, usai solat, meskipun saya tidak kenal dengan pengantin, saya menunggu sampai Ijab Qobul dimulai dan menyaksikannya sampai selesai. Tenang saja, bukan untuk mendapat snack. Saya hanya meyakini bahwa salah satu waktu paling mustajab untuk berdoa adalah saat Ijab Qobul terjadi. 

Lagipula, asik juga menjadi saksi cinta sepasang pasangan. Saya pernah menemui pasangan pengantin berbeda daerah. Satu minang, satu Jawa Barat. Namun uniknya mereka menikah di Solo karena di kota inilah mereka bertemu. Saya jadi bisa melihat pakaian topi khas Minang yang dipakai pihak perempuan. Saya sampai terheran-heran dengan keglamouran aksesoris pernikahannya waktu itu.


“Laki-laki yang tahu agama, Insya Allah jika ia khiaf ia tak akan menyakiti perempuan terlalu dalam. Laki-laki yang tau agama saja bisa khilaf, apalagi kalau ia tak mengerti agama,” kali ini ucapan ayah saya  terngiang kembali. Nasihat klise namun memang cukup masuk akal. 

Huhhh, Yahh, anakmu saja agamanya masih biasa-biasa aja. Batin saya dalam hati. Tapi saya mengaminkan saja kala kemudian ia mendoakan saya demikian.

Jam lonceng di Masjid Fatimah terus berdetak. Melipat kembali mukena, dan pandangan tertumbuk lagi pada meja kursi tempat ijab, membuat saya teringat dengan teman saya lagi. Yaa semoga, Allah benar-benar memberinya kesempatan sekali lagi untuk teman saya menikah di Masjid Fatimah suatu hari dengan laki-laki yang benar-benar bisa membahagiakannya dan menerimanya.

Keluar dari Masjid yang dibangun oleh juragan batik Danar Hadi ini, hujan rupanya deras kembali. Malas mengeluarkan mantol saya lebih memilih langsung memacu motor, menerjang hujan menuju Wonogiri



Thursday, March 29, 2018

Taman Satwa Taru Jurug (Solo Zoo) Riwayatmu Nanti

Hidup ini memunguti waktu, mengumpulkannya satu persatu dalam sebuah keranjang yang kita sebut dengan kenangan.

***

Sekian tahun yang lalu tepatnya November 2015 seorang sahabat baik menemani saya mendatangi Satwa Taru Jurug atau yang kini lebih dikenalkan dengan nama Solo Zoo. Berawal dari cerita saya yang seumur hidup belum pernah main ke Jurug padahal sudah bertahun-tahun mengadu nasib di Solo, ia lantas menawarkan diri menemani saya berkunjung ke sana. 

Taman Satwa Taru Jurug adalah sebuah kebun binatang di Solo yang dibangun sejak tahun 1878. Lokasi ini cukup terkenal di kalangan warga Solo dan sekitarnya, salah satunya karena kebun binatang ini merupakan kebun binatang satu-satunya di Solo dan merupakan kebun binatang terbesar di wilayah Surakarta.

Foto diambil November 2015

Tuesday, March 27, 2018

Watu Cenik Wonogiri, Spot Selfie Balon Udara Yang Instagramable

Kalau saja saya berani memacu motor melawan ketinggian, mungkin nyaris setiap hari saya mendatangi kawasan desa wisata Sendang Pinilih Wonogiri. Membuang pandang melihat luas bentangan alam dari ketinggian, bagi saya adalah hal yang bisa membuat pikiran tenang. Belum sepoi angin yang berhembus, sejuk membius. Mematikan saraf-saraf kepenatan, menerbangkannya jauh,  menggantikannya dengan buai-buai euforia yang selalu berhasil membuat saya merasa bersemangat lagi melalui hari.

Tapi yahhh, mengendarai motor menerjang ketinggian adalah salah satu ketakutan yang sampai detik ini belum bisa saya lampaui. Jangankan mengendarai motor sampai kawasan Desa Wisata Sendang (Watu Cenik, Bukit Joglo maupun Soko Gunung) melewati tanjakan dekat rumah saja saya masih sering keder. Jadi kalau mau ke tempat-tempat itu, saya pasti nunggu momen sampai ada yang bisa diajak ke sana.

Senja Di Watu Cenik

Beberapa waktu lalu, setelah sekian purnama terlampaui akhirnya saya kembali lagi menjamah desa wisata Sendang. Dan yang menjadi jujugan kali ini, adalah Watu Cenik.

Jaman dahulu, Watu Cenik lebih sering disebut dengan Bukit Susu ataupun Gantole 1 atau juga Bukit Prampelan. Tapi entah sejak kapan namanya menjadi watu Cenik.

Daya lebih Watu Cenik terletak pada viewnya berlatar Waduk Gajah Mungkur. Lihat saja, bagaimana perairan Waduk Gajah Mungkur terlihat luas dan barisan karamba yang terapung terlihat seperti barisan semut-semut kecil

watu cenik wonogiri

Kala Sore menjelang Watu Cenik makin memukau dengan semburat jingganya yang bersih. Sisi romantis langit Wonogiri tampil dari sini. Memancing decak pukau, siapapun yang menikmatinya kala senja mulai kentara

Tuesday, March 20, 2018

Menyapa Suku Samin, Cara Lain Melihat Blora

“Lari Dari Blora”, mungkin bagi banyak orang judul film ini terdengar asing di telinga. Pun dengan saya pada awalnya. 

Sedikit tidak paham pada mulanya, kenapa judulnya Lari dari Blora? Namun usai menonton film ini rupanya film Lari Dari Blora menceritakan tentang 2 orang buronan yang lari dari penjara Blora ke wilayah Suku Samin dengan alasan Suku Samin bebas dari aturan hukum.

Kenapa mesti mencuri?
Wong diminta saja diberikan kok
Kenapa mesti berlari?
Toh tidak akan dikejar

Kata-kata tersebut merupakan penggalan ucapan WS Rendra yang berperan sebagai tetua adat Suku Samin yang sedang mengingatkan para pencuri yang hendak mengambil pisang.

Meski menonjolkan beberapa kata-kata bijak suku Samin, dan menunjukkan bahwa di Jawa Tengah masih ada masyarakat yang begitu polosnya, namun di sisi lain, film ini sejatinya mengingatkan tentang apa saja yang bisa terjadi jika sebuah tempat, hidup tanpa adanya aturan hukum.

Seperti sebuah kondisi dimana Suku Samin menjadi tempat jujugan larinya penjahat, juga adanya “penggampangan” pada perempuan. Diceritakan dalam film tersebut orang dari luar desa menyukai berpacaran dengan perempuan Suku Samin karena Suku Samin tidak memiliki aturan pernikahan yang jelas. Sehingga cenderung mudah melakukan free sex dengan perempuan di sana.

Sebenarnya saya menyanyangkan, kenapa saya harus menemukan film ini usai kunjungan saya dari Suku Samin? Ada banyak pertanyaan mengendap di benak usai menonton film tersebut. Namun ya sudahlah. Lain kali saja jika ada kesempatan lagi saya berkunjung ke sana.

Mengunjungi Suku Samin Blora

samin blora sambong
Masyarakat Samin memukul lesung

Awal mendengar nama Suku Samin adalah dari cerita Ibu yang mengatakan bahwa sepupu jauh saya pernah mendapat penghargaan karena meneliti tentang Suku Samin. Kala itu saya hanya ber O saja. Dulu saya tidak begitu tertarik dengan hal-hal semacam ini. 

Sunday, March 11, 2018

Sebuah Mimpi: Itenary Singkat Solo-Raja Ampat

Kalau memang mempunyai mimpi pergi ke suatu tempat, kenapa kamu tidak lebih dulu mencicil mimpimu dengan membuat itenary?

***

Yeahh, catatan itenary ke Raja Ampat ini saya buat karena sebagai seorang yang biasa-biasa saja, saya memiliki mimpi sedikit mengada-ada bagi beberapa orang di sekitar saya. Mimpi itu adalah menapakan kaki di berbagai negara, serta mimpi untuk berkeliling dari Sabang hingga Merauke. Aihhh…

Indahnya View Raja Ampat
via liburmulu.com

Dan hari ini saya ingin membuat sebuah itenary menuju Raja Ampat. Tempat yang rasanya siapapun ingin mengunjunginya. Termasuk saya.

Monday, March 05, 2018

Ayam Geprek Mbah So, Rekomendasi Tempat Makan Enak Di Solo

ayam geprek solo
Menu Geprek Lada Hitam di Ayam Geprek Mbah So
docpri

“Kenapa ya warung geprek itu dimana-mana selalu laris? Padahal cuma ayam tepung sama sambal aja kan? Siapa aja bisa bikin kayak gini” tanya seorang teman suatu hari. Saya juga membatin sepakat. Tapi biarpun gitu, ketika cari makan, menu geprekan kerap kali tetap jadi pilihan saya.