Wednesday, April 24, 2019

Bonanza, Bakso Kemasan Instan Yang Cocok Jadi Bekal Traveling

Masalah makan itu kalau diabaikan bisa mengganggu kesehatan. Tapi kalau pas traveling dan budget perjalanan terbatas, maka masalah makan mau tak mau harus diirit. Nah solusi terbaik menurut saya adalah membawa bekal sendiri atau membawa peralatan masak dan bahan masakan sendiri.

Beberapa makanan seperti abon, pop mie, roti kering, sarden, nugget dan Bakso kemasan instan seperti Bakso Bonanza   menurut saya praktis untuk dibawa saat traveling. Ini karena tentu saja makanan-makanan tersebut cenderung awet dan sangat praktis dalam pengolahannya.

Bakso Bonanza misalnya. Saya tahu produk ini ketika menghadiri acara demo masak Bakso Bonanza di Solo Square. Ketika itu Chef Brian menunjukkan bagaimana mudah, praktis dan cepatnya bakso ini dibuat olahan. Kita hanya perlu membuka kemasan dan bakso bisa langsung dimasak dicampur dengan beragam masakan. Yang lebih penting, rasa bakso kemasan instan ini enak.

olahan bakso kemasan

Bakso Bonanza, Bakso Kemasan Instan Yang Sapi Banget

Asupan gizi ketika traveling utamanya buat para pejuang irit seperti saya kerapkali di nomor duakan. Nah membawa bakso Bonanza saya rasa bisa sangat membantu perbaikan gizi saat traveling. Mengingat di dalam bakso ini terkandung 84% daging sapi asli. Eloknya lagi daging sapi yang diolah adalah dari sapi-sapi pilihan. Dimana sapi-sapi mendapat pakan bernutrisi serta diberi makanan hasil olahan limbah nanas. Nanas kerapkali digunakan sebagai bahan pengempuk saat memasak daging, tak heran kalau kemudian Bakso kemasan instan Bonanza sudah empuk meskipun dalam pembuatannya tanpa bahan pengempuk.

bakso kemasan instan
bakso bonanza

Belum lagi campuran bumbu dan tepung pada Bakso Bonanza dibuat sedemikian hingga tanpa menggunakan tambahan MSG, tanpa borax dan formalin. Ditambah pula Bakso Bonanza tidak memerlukan tambahan pengawet, karna proses pengawetan bakso menggunakan teknologi pendinginan yang tepat. So rasanya nggak salah kalau saya menyebut bakso kemasan instan ini rasanya enak dan sehat.

Soal kehalalan, juga tidak perlu dipertanyakan lagi. Bakso kemasan instan Bonanza sudah mengantongi sertifikat halal dari MUI. Sehingga bagi umat muslim yang mengutamakan kehalalan dalam setiap makanan tak perlu risau.




Ide Olahan Praktis Saat Traveling

Di acara kemarin Chef Brian mendemokan beberapa olahan masakan Bakso Bonanza. Seperti dibuat Bakso BBQ, serta Bakso Kuah kuning. Bakso BBQ kemarin cukup enak dimana bakso dibumbui lalu dibakar dan ditusuk dengan diselang-seling paprika.

kreasi bakso kemasan

bakso kemasan kuah


Saya jadi ingat dulu ketika kamping bareng temen-temen kampus, bikin bakso bakar itu adalah hal terpraktis yang bisa menambah keseruan saat traveling. Tapi dulu bakso yang kita masak hanyalah bakso-bakso yang dijual di pinggiran jalan yang kita tidak tahu bagaimana kualitasnya. Setelah ini, saya rasa membeli Bakso Bonanza bakalan saya lakukan kalau next ada lagi acara kamping. Biar badan tetep sehat dengan mendapat asupan makanan yang nggak abal-abal.

Mengolah Bakso kemasan instan untuk dijadikan makanan saat traveling sepertinya bisa dicoba dibuat bakso BBQ. Namun bisa juga diolah menjadi bakso kuah kuning atau mungkin campuran dalam sop. Tapi kalau mau lebih praktis lagi Bakso Bonanza bisa diolah dengan digoreng saja. Baksonya sudah enak dari sananya, jadi bisa langsung digoreng tanpa ditambah bumbu. Praktis dan awet untuk bekal traveling

Untuk mencari Bakso kemasan instan Bonanza caranya cukup mudah. Bakso instan ini bisa dicari di Superindo maupun Hypermart. Bakso yang dijual dengan ukuran kemasan 500 gr harganya kisaran Rp. 85.000. Isi bakso sekitar 33 biji. Tapi kalau mau kemasan kecil, bakso Bonanza juga menyediakan kemasan kecil.

Nah tunggu apalagi, kalau masih bingung bekal traveling mau bawa bahan makanan apa, bisa dicoba untuk membawa bakso kemasan instan dari Bakso Bonanza. Nggak ribet, nggak perlu nggiling daging sendiri, tapi gizi dan bahannya  kualitasnya terjamin.

Wednesday, April 10, 2019

#CDJ 4: Nasihat



“Jadi kapan?” Adik saya mengaduk es teh di gelasnya.

Saya terkekeh. Saya paham benar, sejatinya ia selalu mencari kesempatan setiap ngobrol untuk menanyakan ini.

“Doakan saja,” jawab saya pendek.

“Banyak yang nanya.”

Saya lagi-lagi terkekeh. Tapi ya, saya lebih memilih meneruskan melahap geprekan ‘preksu’ Jogja sampai habis daripada memperpanjang percakapan semacam itu dengannya.

“Jangan terlalu sering jalan sendiri, Mbak,” kali lain ia kembali mengingatkan saya.

Di Jogja sebulan membuat saya benar-benar merasai bahwa saya punya adik. Saya yang biasanya bertemu dengannya paling sebulan sekali, saat itu akhirnya selama sebulan penuh kami hampir setiap hari bisa ketemu. Dan hampir tiap ia longgar ia mengajak saya mengunjungi banyak tempat di Jogja. Bisa dibilang, ini waktu kebersamaan terlama kami.

“Aku nggak selalu bisa nemenin kemana-mana. Buruan cari mahram, biar ada yang nemenin kemana-mana,” ujarnya. Saya menanggapinya dengan sedikit senyum kecut.

“Kenapa? Kamu mau nikah duluan? Kalau nantinya mau nikah duluan, duluan aja,” ujar saya lantas buru-buru mengalihkan pandang ke piring geprekan.

Geprekan Jogja dimanapun tempatnya sepertinya jadi lokasi kami lebih sering membicarakan hal-hal sensitif semacam ini. Yeah, saya sepertinya juga lebih nyaman ngomong di warung geprek. 

Setidaknya kalau saya tiba-tiba menitikkan air mata bisa beralasan kepedesan, pun kalau lagi tak pengen menanggapi percakapan saya bisa pura-pura buru-buru fokus menghabiskan nasi.

“Bukan gitu. Hanya kadang khawatir kalau kamu jalan sendiri, Mbak,” ujarnya.

Dibandingkan ayah saya, sepertinya adik saya jauh lebih cerewet mengingatkan saya untuk secepat mungkin mengakhiri kelajangan. Ia juga kerap mengingatkan saya tentang hadis-hadis aturan safarnya seorang perempuan, serta megingatkan saya untuk sebisa mungkin tidak pergi hanya berdua dengan laki-laki.

“Kalau jodoh itu carinya tinggal kayak kita metik daun, aku udah metik dari dulu-dulu,” ujar saya suatu kali ketika ia lagi-lagi menyinggung masalah itu.

“Kalau mencari jodoh kita nyari yang sempurna, selamanya kita tidak akan pernah menikah,” katanya lagi.

“Saya tidak pernah menuntut kesempurnaan, hanya saja ya kalau belum ketemu ya belum,” tanggapan saya.

Saya menghela nafas dengan ucapannya. Bukannya saya menolak dengan perhatiannya. Saya seneng betul ketika ia mengingatkan beberapa hal yang memang tidak seharunya saya langgar. Tapi ya, soal jodoh kok ya gimana kalau terus diingatkan. Ahh, apakah mungkin ini karena ada bagian diri saya yang congkak? Sehingga kadang saya sedikit sensitif dengan bahasan seperti ini?

“Kita tidak pernah tahu, suatu tempat apakah benar-benar aman untuk didatangi. Makanya lebih aman kalau kemana-mana ada mahramnya.”

“Disitulah fungsi doa yang kenceng sama Allah. Doakan saja kakakmu ini yang baik-baik.” Jawab saya. “Sebisa mungkin kalau kemana-mana aku juga nyari temen kok biar nggak sendirian. Kalau pas ada, Kalau nggak, ya pokoknya doakan saja terus yang baik-baik.”

Obrolan selanjutnya ia kembali menunjukkan saya beberapa hadist   perihal safarnya seorang perempuan. Namun yaahhh, semoga Allah paham bahwa saya tidak sedang ingin menjadi hambaNya yang ingkar. Saya percaya bahwa setiap aturanNya selalu mengandung kebaikan. Namun beberapa hal memang belum bisa saya laksanakan. Kehidupan, rasanya selama ini menuntut saya untuk mandiri. Saya hanya bisa berharap, semoga Allah memaklumi, memaafkan dan senantiasa melindungi.










Wednesday, April 03, 2019

Pasar Dhoplang Wonogiri, Uniknya Pasar 'Boso Jawi' Yang No Plastic

Belakangan saya dibuat penasaran dengan berita bahwa Wonogiri memiliki Pasar Dhoplang, sebuah Pasar yang belakangan hits lantaran di sana tidak diperkenankan menggunakan plastik ketika berbelanja.

Sempat berpikir, jangan-jangan pasar ini bagian dari pasar digital yang belakangan lagi digalakan anak buah Pak Mentri. Tapi setelah sampai di sana, baru saya tahu ternyata Pasar Doplang ada murni atas inisiatif warga.

pasar dhoplang
Ramenya Pasar Dhoplang


Berangkat dari Wonogiri Kota sekitar pukul 6.00, kami baru tiba di Pasar Dhoplang sekitar satu jam kemudian. Pasar Doplang sudah penuh dengan manusia, deretan mobil terparkir di sepanjang jalan dekat Pasar membentuk ular-ularan panjang.

Iki kok do nggawani berkat?” tanya pakde sembari memperhatikan lalu-lalang pengunjung yang berjalan ke luar dari area pasar.

Ketika itu, saya dan Nana sedikit mengabaikan pertanyaan Pakde. Karna kami sendiri tidak begitu paham kenapanya. Kami terus saja berjalan masuk, mengalir bersama arus manusia yang datang bersamaan dengan kehadiran kami.

Tiba di pintu masuk, kami selanjutnya memasuki area antrian penukaran uang. Yap, salah satu keunikan Pasar Dhoplang adalah di sana kita bertransaksi menggunakan koin bambu yang sebelumnya telah ditukar menggunakan uang asli.

Usai mendapat koin, kami lantas diarahkan masuk area pasar oleh petugas yang menggunakan baju lurik khas Jawa. Keunikan lain dari Pasar Dhoplang selain “No plastic”, dan transaksi yang dijalankan menggunakan koin, Pasar Dhoplang berusaha mengangkat budaya Jawa di sini. Setiap petugas, maupun pedagang dianjurkan menggunakan baju Jawa seperti lurik, batik, maupun kebaya. Pun dengan bahasa yang digunakan, sebisa mungkin dianjurkan untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa. Tulisan-tulisan yang ada di Pasar Doplang pun banyak menggunakan bahasa Jawa beberapa juga disertai aksara Jawa.

Murah Dan Nikmatnya Merasai Kuliner Khas Wonogiri

Buk, wonten besengek?” tanya saya sumringah, membaca daftar menu dari kardus yang terpampang di depan lapak seorang penjual.

Besengek merupakan makanan tradisional khas Wonogiri, yang namanya baru saya dengar ketika saya mengunjungi Kampung Wayang Kepuhsari dulu. Saya girang, karena bisa dibilang ini makanan langka. Saya tidak pernah menemuinya di Wonogiri kota. Bahkan dulu saya disarankan untuk datang setiap hari pasaran Pasar Manyaran jika ingin mencoba mencicip makanan ini. 

Akhirnyaaa, di Pasar Dhoplang saya menemukan besengek.

Tigang ewu angsal to Buk?”

Angsal, Mbak, angsal,” si Ibu dengan semangat menjumput daun jati lantas mewadahi besengek dalam porsi yang menurut saya cukup banyak untuk harga Rp. 3.000. Kenyatannya, ragam kuliner tradisional di Pasar Dhoplang seluruhnya memang murah meriah Alhamdulillah.

Penampakan besengek
Ini porsi pas udah dikurangi

Saya, Nana, dan Pakde sampai nyaris kalap menjajali beragam menu makanan tradisional yang ada di sana. Dimana lagi coba, kami bisa makan makanan ‘lawas’ yang pilihannya beragam selain di sini? Selain besengek, tiwul, gronthol, puthu mayang, pecel gendar, cabuk, sego bancakan, wedang uwuh, jamu jawa dan buanyak lagi pilihan kuliner yang lain di sediakan di Pasar Dhoplang.


Puthu mayang



Apem ndeso

Ini sepertinya satu-satunya makanan modern

Wedang Uwuh

Syahdunya lagi, guna menikmati ragam sajian kuliner, kita disediakan tikar-tikar yang digelar di bawah naungan pohon jati yang menjadi lokasi berdirinya Pasar Dhoplang. Pasar Doplang berlokasi di daerah Slogoimo. Slogoimo sendiri terkenal dengan banyaknya pohon jati di sana. Bahkan di Slogohimo terdapat salah satu hutan yang terkenal dengan habitat pohon jatinya yakni Hutan Donoloyo.

Tenang saja, untuk duduk di atas tikar kita tidak perlu membayar sewa layaknya berada di pinggiran pantai Gunung Kidulan. Di sini kita bisa duduk di atas tikar bersama-sama dengan pengunjung lain. Jadi bisa sambil cerita-cerita dengan orang-orang baru. Pokoknya ini tempat membawa kita pada suasana pedesaan yang guyub.

Awal Terbentuknya Pasar Dhoplang

Kalau kamu nggak bisa baca tulisan ini berarti mungkin kamu buta warna

Menurut penuturan Ibu Lilis Endang selaku inisiator Pasar Dhoplang, pasar ini awalnya tercetus ketika sedang ada kegiatan dasa wisma. Dimaksudkan Pasar Dhoplang ada supaya para anggota dasa wisma memiliki kegiatan.

Awalnya hanya 11 pedagang, namun kemudian seiring meningkatnya animo masyarakat untuk berkunjung, para pedagang yang mayoritasnya merupakan warga dusun Kembar, Slogohimo, ikut bertambah, pun lokasi Pasar Doplang yang semula di depan halaman rumah kemudian dipindah ke area sekarang yang lebih luas.

Berdiri 11 September 2018, Pasar Dhoplang rutin hadir setiap hari Minggu mulai pukul 06.00-09.00. Selain menikmati ragam kuliner yang ada, kita bisa menikmati pula suguhan tarian-tarian tradisonal ataupun langgam-langgam gending yang dihadirkan.

Bagaimana Menuju Pasar Dhoplang?


Untuk menuju ke Pasar Dhoplang ikuti saja jalur utama Wonogiri-Slogohimo. Nantinya, sebelum pasar Slogohimo kanan jalan ada jalan masuk. Nah, ikuti jalan masuk itu terus. Nanti sekitar mungkin 10 menit kita akan sampai di lokasi Pasar Doplang.

Tips kalau datang kemari, jangan lupa beli tas bukan plastik khas Pasar Dhoplang seharga Rp. 5.000 biar kalau pulang dan bawa oleh-oleh banyak nggak berasa nenteng berkat kayak orang habis dateng ke hajatan.



Pasar Dhoplang No Plastic

Kami awalnya nggak berniat beli apapun untuk di bawa pulang. Tapi kami kemarin terlalu kalap nyobain kuliner macem-macem. Sampai akhirnya beberapa tidak kemakan, sayang kan kalau nggak dibawa pulang. Dan karena nanggung mau beli tas, akhirnya kami menenteng makanan-makanan yang dibungkus daun jati di tangan.

Pertanyaan awal Pakde terjawab sudah. Karna akhirnya kami pulang bagaikan orang dari acara kondangan. Bawa berkat bungkus daun jati. Hahaha.

Nah, berkunjung ke Wonogiri mau ke mana? Atau mungkin bingung mau dateng kemana kalau pengen mencari kuliner Wonogiri yang khas? mungkin Pasar Dhoplang bisa jadi pilihan.

Pasar Dhoplang
Kembar, Pandan, Slogohimo, Wonogiri
Jawa Tengah

Sunday, March 31, 2019

Mengintip Ragam Fasilitas Hotel Alana Solo

Berkesempatan mengunjungi Hotel Alana Solo beberapa waktu lalu, saya mencoba mengeksplorasi beberapa bagian dari hotel yang ber lokasi dekat dengan Bandara Solo ini. Hotel yang memiliki kapasitas 247 kamar ini ternyata dilengkapi beberapa fasilitas yang TOP bgt yang tidak hanya bisa dinikmati oleh tamu hotel yang menginap saja, namun juga bisa dinikmati oleh umum.

Kemarin saya mencoba mencari tahu tentang hotel Alana, tentang fasilitas apa saja yang dimiliki hotel bintang empat di Solo tersebut. Dan berikut beberapa fasilitas yang ada di Hotel Alana Solo:

1. Kolam Renang Hotel Alana Solo

Kolam renang Alana Solo

Kolam Renang Hotel Alana Solo yang berada di area Aquamarine Pool & Bar terdiri dari beberapa bagian, yakni Kolam renang dewasa dengan kedalaman sekitar 140 cm, kolam renang anak-anak dengan kedalaman 60 cm, dan kolam renang untuk berendam yang airnya merupakan air hangat.

Kolam renang Hotel Alana merupakan kolam renang rooftop yang cukup nyaman menyejukkan mata lantaran darisini kita bisa melihat gunung merapi yang terlihat mengintip. Juga view kota Solo dari atas.

Untuk berenang di area Kolam Renang Alana, harganya Rp. 75.000 untuk dewasa sedangkan untuk anak-anak Rp. 50.000. Kalau punya kartu kids club bisa gratis.

2. Sehat dengan Ngegym di area fitnes center Alana

fitness centerAlana Solo

Sebagai Hotel Solo bintang 4, tak heran kalau Hotel Alana Solo memiliki fasilitas tempat ngegym. Alat-alat fitnes yang tersedia pun cukup komplit. Lokasi untuk fitnes di Alana Solo berada di dekat area kolam renang Hotel. Untuk biaya fitnes di Alana, untuk sekali kunjungan Rp. 75.000 sedangkan untuk biaya member sekitar Rp. 400.000.

3. Pilihan Tempat Meeting Di Solo Yang Beragam


Hotel Alana Solo memiliki cukup banyak pilihan tempat meeting. Salah satunya adalah Aquamarine Meeting Room. Sebuah tempat meeting yang cukup nyaman yang berada tak jauh dari Kolam Renang Hotel Alana.

Selain aquamarine, di Alana juga ada ruang Arcadia untuk tempat meeting yang memiliki kapasitas tamu bahkan hingga 1000 orang. Ada juga beberapa ruang seminar hotel dengan kapasitas yang lebih kecil. Yang pasti, banyak pilihannya. 



4. Rilex di Rosemary Spa


Hotel Alana Solo memiliki area untuk santai yang bener-bener nyaman, yakni di Rosemary Spa. Ruangan Spanya ketika saya mengintip kemarin terlihat sangat nyaman dengan nuansa tradisional. Saat datang kemari, sejatinya saya pengen merebahkan diri di kasur spanya dan langsung pijet. Kuy, sepertinya enak banget.

5. Si Kecil Nyaman di Area Kids Club


Nah, seandainya ingin berenang, fitnez, spa atau makan di area pool barnya, tapi bingung lantaran bawa anak kecil, Hotel Alana Solo menyediakan area Kids Club. Satu sudut berisi aneka rupa mainan anak-anak. Jadi orang tua bisa bersantai, dan si anak-anak juga bisa happy bermain-main di area kids clubnya.

6. Cinnamon Restaurant


Hotel Alana Solo memiliki restaurant yang menyajikan beraneka rupa menu makanan yang dijamin enak-enak. Beragam promo disajikan di Cinnamon Restaurant dengan harga yang variatif dan yang penting lezat.

Asyiknya, Hotel Alana memiliki beragam program di restoran ini. Seperti program Mas Dilan 89. Yang mana Mas Dilan 89 ini merupakan singkatan dari Makan siang di Alana, sedangkan 89 merupakan harga menu all you can eat yang disediakan yakni Rp. 89.000. Dan hebatnya ini termasuk menu kambing guling yang disediakan. Jadi para penggemar kambing, bakalan bahagia kalau berada di sini.

Nah itu tadi, beberapa fasilitas yang ada di Hotel Alana Solo. Fasilitas komplit untuk hotel yang berlokasi di dekat bandara. Nah, kalau nantinya mau menginap di Alana Solo, bisa cobain main ke tempat wisata dekat hotel Alana Solo, yakni di PG. Colomadu

Thursday, March 28, 2019

Alana Hotel, Rekomendasi Tempat Meeting Di Kota Solo

Tempat meeting di Solo ada cukup banyak. Namun kali ini saya ingin membahas salah satu tempat meeting yang dimiliki salah satu hotel di kota Solo, Alana Hotel.

Aquamarine Pool & Bar


Kali pertama saya datang ke Hotel Alana Solo adalah saat saya mengikuti salah satu acara yang diadakan oleh KEB Solo bertajuk Grooming Your Personality dimana ketika itu kami menggunakan salah satu tempat meetingnya yakni di ruang Aquamarine Meeting Room.

Tempat meeting di Aquamarine ini lokasinya dekat dengan kolam renang Hotel Alana Solo. Berada di lantai dua, dengan kelebihan view pemandangan luar yang bisa kita intip dari jendela.

Acara KEB ini membahas “bagaimana kita agar tak ketinggalan dalam urusan fashion, tapi tanpa kehilangan jati diri kita”. Sebuah materi yang bisa dibilang penting. Karena bagaimanapun pepatah Jawa yang berujar, bahwa Ajining sliro kui jalaran soko busono memang sangat berlaku di kehidupan masyarakat.



Selain tentang fashion, saya juga mendapat materi mengenai bagaimana cara ‘macak’ yang benar dengan dipandu oleh seorang MUA terkenal, Mbak @deecintahhh. Dandan dan fashion, sepertinya adalah sebuah dunia yang sangat jauh dari saya biarpun saya seorang perempuan. Kebiasaan saya yang sangat menyukai hal-hal simple membuat saya sangat minim pengetahuan tentang ini. Jadi kemarin saya memutuskan untuk datang saja, mencari ilmu tentang dunia perempuan ‘yang seharusnya’. Biar saya sedikit lebih pintar lah, setidaknya ntar kalau dandan sudah punya ‘nilai pahala’, saya nggak zonk-zonk amat dan kelabakan nyari ilmunya.

Selama berjam-jam mengikuti acara saya mendapat suntikan beberapa energi positif dari pemateri. Mungkin lantaran materinya cukup masuk. Bahasa yang disampaikan cukup mudah dipahami, sekaligus sound ketika acara cukup nyaman di telinga. Hal yang mungkin kerap dipandang sepele oleh banyak orang, bahwasanya urusan sound dalam sebuah workshop itu sangat berpengaruh kepada nyantholnya materi di kepala. Sound sistem di ruang meeting Hotel Alana Solo kemarin cukup jernih, jadi bagi saya yang cukup peka dengan suara, ngerasa enjoy saat menyimak materi.

Aquamarine Meeting Room kalau diberi meja persegi

Aquamarine pas acara KEB kemarin

Berjam-jam menuntut ilmu saya sampai tak terasa dengan waktu yang berlalu. Tempat meeting di Solo yang dimiliki oleh Hotel Alana sepertinya memang dikonsep agar siapapun merasa betah di dalamnya. Ruangan yang tentunya ber AC, dengan meja kami yang saat itu ditata dengan terdiri dari beberapa meja bundar cukup nyaman untuk kami yang hadir dengan jumlah hadirin sekitar 75 orang.
Rehat dari seminar, kami menikmati coffe break yang disediakan. Tempat meeting di Solo jamak menghadirkan aneka rupa pilihan menu makanan. Pun dengan ruangan meeting di Hotel Alana Solo

Pas hadir di acara kemarin, saya juga mencicip menu-menu coffe breaknnya. Kuy, saya nyobain kuenya yang super lembut. Duhh, saya nggak tahu namanya apa. Tapi memang, Hotel Alana Solo cukup terkenal dengan menu-menu makanannya yang enak-enak.

Lantaran ruang Aquamarine Meeting Room Hotel Alana Solo adalah tempat meeting di Solo yang memiliki lokasi dekat dengan kolam renang, jadinya bisa sekalian melipir sebentar ke area kolam renang rooftopnya. Biar bisa refreshing sejenak usai kepala dijejali dengan materi.

Kolam renang Hotel Alana Solo memiliki tiga tipe kolam renang. Yakni kolam renang dewasa, anak-anak, dan kolam renang air hangat untuk berendam. Saya rasa Aquamarine Meeting Room milik Hotel Alana Solo merupakan tempat meeting di Solo yang nantinya bakal saya rekomendasikan ke banyak orang apalagi kalau nantinya meeting yang akan diadakan agak sedikit berat. Lokasi yang dekat dengan kolam renang gini kan bisa membuat rilex, yeahh, memandang jernihnya air saya pikir bisa merenggangkan saraf-saraf yang kaku ketika materi agak berat. Apalagi, ruang meetingnya sangat dekat dengan fasilitas kebutuhan jutaan umat aka kamar mandi.

Sebagai salah satu penyedia tempat meeting di Solo, Hotel Alana menawarkan beberapa pilihan tempat workshop dengan beragam kapasitas muatan yang ditawarkan. Saya rasa sangat cocok untuk beragam pilihan acara, termasuk acara seperti wedding party.

Ragam Pilihan Tempat Meeting Hotel Alana

Selain Aquamarine, Hotel Alana Solo, memiliki ruangan berjuluk Arcadia. Berupa ruangan ballroom yang mampu memuat sampai 1000 orang. Ruangan yang cocok digunakan untuk acara besar seperti acara pernikahan atau mungkin seminar berskala besar.

Arcadia

Arcadia Ballroom


Ruang Arcadia ini dilengkapi pula dengan ruang makeup. Sehingga jika ingin menikah di sini, pengantin yang butuh berdandan, tak perlu bingung-bingung mencari tempat dandannya nanti, lantaran lokasinya sangat dekat dengan ruang resepsinya.

Tempat menikah di Solo? Saya rasa, Alana Hotel pilihan tepat

Sebagai pilihan tempat seminar maupun tempat menikah di Solo saya rasa Arcadia cukup bisa masuk pertimbangan lantaran ia memiliki fasilitas ibadah, yakni mushola yang lokasinya berada satu lantai dan sangat dekat dengan ruang meeting. Pun musholanya memiliki sekat antara laki-laki dan perempuan, jadi lebih nyaman lah.

Kapasitas tempat meeting di Solo milik Arcadia Room ini juga bisa dipesan sesuai kebutuhan. Ruangan yang muat sampai lebih seribu orang ini, sejatinya merupakan tiga ruangan yang sekatnya bisa dibuka tutup menyesuaikan kebutuhan.

Arcadia bisa terbagi 3 ruang. Arcadia 1 memiliki ukuran sekitar 372 m2 yang muat sampai 600 orang. Arcadia 2 dan 3 memiliki ukuran masing-masing 186 m2 yang muat sampai 300 orang.

Board Room



Selain Arcadia, masih ada tempat meeting lain dengan kapasitas yang lebih kecil. Seperti Emerald Room, Safine Room, Opal Room, Crystal Room, atau Topaz Room. Dengan aneka rupa pilihan inilah rasanya tidak salah kalau saya kemudian merekomendasikan Hotel Alana sebagai pilihan tempat meeting di Solo.

Apalagi mengingat bahwa Hotel Alana Solo berada di lokasi strategis. Lokasinya yang berada di Jalan Adi Sucipto, membuatnya sangat mudah dijangkau jika dari bandara.

Hotel Alana Solo
Adi Sucipto, Blukukan, Blulukan, Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah 57174
Telepon:(0271) 7451555
Web: https://www.alanahotels.com

Sunday, March 17, 2019

Bertandang Ke Saloka Park, Wahana Wisata Baru Terbesar di Jawa Tengah

Beberapa waktu belakangan, saya cukup tergiur dengan wara-wiri gambar Kincir angin di Saloka Park yang bertebaran di lini masa instagram. Kincir anginnya kelihatan asyik, dan membuat saya berimajinasi, itu kincir mirip dengan kincir angin di drama-drama Korea. Tutupnya seperti kaca, hanya separo, dan sepertinya tempatnya sweet gitu kayak di drama.

Halah.

Yeahh, saya mungkin memang terlalu banyak nonton drama. Tapi, nyatanya Saloka Park adalah lokasi wisata baru di Semarang yang akan mengantar siapapun serasa memasuki negri dongeng, jadi tentunya sah-sah saja kalau kemudian saya jadi berimajinasi. Haha.

Dulu saya pernah membatin, wisata Jawa Tengah, kapan ya punya wahana wisata macam Dufan maupun Trans Studio? Pertanyaan saya terjawab sudah. Sekitar bulan Desember 2018 lalu, Saloka Park yang kini merupakan wahana wisata keluarga terbesar di Jawa Tengah resmi dibuka. 

Itu berarti provinsi saya nggak kalah sama provinsi-provinsi lain sekarang, asiikk.

Mengenal Saloka Park Trans Studionya Jawa Tengah

View Saloka Park dari atas Cakrawala
(docpri)

Nama Saloka Park awalnya buat saya terdengar aneh di telinga. Saya kira, nama Saloka ada sangkut pautnya dengan Salatiga, lantaran huruf depannya mengandung huruf S-A-L dan memang lokasi wisata Saloka Park berada di dekat kota Salatiga. Namun rupanya bukan karena itu.

Menurut penuturan pihak marketing Saloka Park, kata Saloka diambil dari nama ayah Baru Klinting yakni Ki Hajar Salokantara.

Ingatan saya langsung berputar tentang buku dongeng “Dancow” yang pernah saya baca jaman saya masih kecil. Legenda Baru Klinting kan dongeng dari Jawa Tengah tentang asal mula terjadinya Rawa Pening?

Dari penjelasan pihak marketing, memang Saloka Park berusaha untuk tidak melupakan unsur budaya lokal. Karena itulah nama Saloka dipilih lantaran lokasi Rawa Pening sangat dekat dengan Saloka Park, dan darisini viewnya memang terlihat jelas.

Ragam Wahana di Saloka Park

Cakrawala aka kincir angin Taman Saloka

Ada sejumlah 25 permainan di Saloka Park. Tiap-tiap wahana permainan ini memiliki nama khas Saloka. Sebagai contoh, kincir angin, namanya di sini cakrawala, seolah menggambarkan dengan naik kincir angin Saloka setinggi 33 meter kita bisa lebih luas melihat cakrawala. Setidaknya menonton Rawa Pening dan deretan 5 gunung yang seolah memagari tempat wisata baru di Semarang ini jadi lebih jelas.

Ada juga lika-liku, roller coasternya Saloka. Kereta yang akan melaju dengan cepat ini lumayan membuat saya deg-degan lantaran kecepatannya berpadu dengan rel keretanya yang berlika-liku. Terus ada lagi, Adu Nyali, wahana wisata yang menguji nyali lantaran pengunjung dibawa deg-degan saat memasuki ruangan yang isinya ‘para hantu’. Yeahh, saya dan beberapa rekan blogger lumayan senam jantung kemarin masuk ke rumah hantunya Saloka.

Rumah Hantu aka Adu Nyali
(docpri)



Lika liku Saloka
(docpri)

Masih buanyak permainan di Saloka Park yang tentunya bakal memenuhi postingan saya kalau saya tulis semua. Saran saya, kalau penasaran segera saja datangi tempat wisata di Semarang ini untuk membuktikan sendiri bahwa lokasi ini memang merupakan wahana wisata terbesar di Jawa Tengah.

Docpri
Docpri



Docpri


(docpri)

Tiket Masuk Saloka Park Semarang


Dibandingkan tiket masuk ke lokasi-lokasi permainan di provinsi-provinsi lain menurut saya memasuki Saloka Park tidaklah mahal. Guna menikmati ke 25 wahana permainannya, pengunjung hanya perlu membayar Rp. 120.000 di hari senin-jumat (weekday) dan Rp. 150.000 untuk Sabtu-Minggu (weekend).

Jam buka di Saloka Park pun cukup panjang. Saat weekday wisata Semarang ini buka dari pukul 10.00-18.00 sedangkan ketika weekend buka dari pukul 10.00-20.00.

Untuk wahana wisata Saloka Park, beberapa dibatasi berdasarkan usia dan berat badan. Seperti kalau ingin naik Paku Bumi tinggi minimal 120 cm berat max 80 kg dan untuk anak-anak harus didampingi. Atau untuk wahana ‘Bengak-bengok’ tinggi min 120 cm berat max 75 kg dan anak-anak harus didampingi.

Asiknya lagi kalau masuk Saloka Theme Park, untuk batasan usia anak-anak berlaku saat pembelian tiket. Anak-anak berusia kurang dari 2 tahun harga tiket tidak dihitung. Jadi lumayan ngirit kalau misal kemari bawa bayi.

Icip-icip Kuliner di Saloka Park

Andaikan kelaparan usai menjajal seluruh permainan di Saloka Park, tak perlu khawatir lantaran di Saloka tersedia cafe yang menjajakan aneka makanan dan minuman lezat. Ujar temen-temen sih, kopi di Saloka Park rasanya juara, sayang kemarin saya lagi tak berani minum kopi karena alasan kesehatan. Saya kemarin hanya nyoba beli es krimnya yang harganya Cuma Rp. 10.000 secontong. Asli uenak.

Pun kala kelaparan, food truck di dalam jualan Burger yang dagingnya ukurannya mantap dan rasanya joss. Biasanya saya itu nggak doyan burger, kemarin itu beda. Burgernya enak euy, mungkin lantaran dagingnya katanya merupakan daging asli import dari Australia.

Burger Saloka Park
(image from: Anggara W. Prasetya)

Kentang Jepang Rasa Coklat & BBQ
(Image from: Anggara W. Prasetya)


Selain nyobain burger, saya kemarin juga ngicipin kentang goreng Jepang yang super panjang. Camilan yang lumayan bikin kenyang. Rasanya pun mantap, kemarin sempat mencoba 3 varian rasa yakni BBQ, Coklat dan Keju. Enak semua, terutama yang varian rasa BBQ, rasanya pas di lidah.

Bagaimana Menuju Saloka Park?


Lokasi Saloka Park ini strategis. Dari Solo, lokasinya sangat mudah dicapai. Hanya tinggal mengikuti jalan utama Solo-Semarang nanti di kiri jalan wisata Saloka akan langsung terlihat.


Saloka Park

Jl. Fatmawati No.154, Gumuksari, Lopait, Tuntang, Semarang, Jawa Tengah 50773

Sunday, February 10, 2019

Menelisik Legenda Umbul Nogo Wonogiri

Kala mendatangi Kampung Wayang beberapa bulan yang lalu, saya mendapat cerita dari seorang penjual HIK bahwasanya kawasan Manyaran memiliki objek wisata lain selain Kampung Wayang, Gunung Watu Kotak, maupun Air Terjun Banyu Nibo. Kawasan yang masih masuk ke dalam wilayah Wonogiri ini ternyata juga memiliki tempat pembuatan Gong, serta tempat yang disebut dengan Umbul Naga.

***

Seperti biasanya, kali ini Nana dan beberapa orang saudara mengajak saya dengan cara mendadak. Sejam sebelum keberangkatan, saya baru diworo-woro kalau mereka mau ke Umbul Nogo.

Lantaran hari itu saya sedang dalam kondisi perasaan mode ambyar, saya nggak perlu pikir panjang untuk berangkat meskipun disaat bersamaan beberapa pekerjaan masih menumpuk belum tersentuh sama sekali. Ahh, toh pada akhirnya, kalau pikiran saya kemana-mana kerjaan itu juga bakalan lambat untuk selesai. Jadi saya memutuskan saja untuk bersenang-senang.

umbul naga

Kami berenam, memacu motor melintasi pasar Wuryantoro, kemudian lurus ke arah Manyaran. Jika dibandingkan ke Kampung Wayang, jarak menuju Umbul Nogo masih lebih jauh. Butuh sekitar lebih dari 15 an menit jika ditempuh dari Pasar Wuryantoro.

Nila niki Mbak, (Ini Nila Mbak)seorang ibu-ibu menjawab pertanyaan saya yang terbengong-bengong memandangi kerumunan ikan-ikan raksasa berukuran mungkin sekitar 50 an cm.

Kami baru saja tiba di kawasan Umbul Naga, dan kolam ikan besar langsung menarik perhatian kami.

“Masa Nila Bu? Gede banget?” saya masih menatap takjub.

Sori, ssah sekali mengambil gambar ikannya


“Nggih Mbak, nila ireng niki,” ujarnya yakin sambil terus mempreteli jagung rebusnya untuk kemudian disebarkan ke dalam kolam.

Ikan-ikan itu saling berebut tiap kali ada makanan dilemparkan masuk. Bahkan potongan bonggol jagung berukuran besar pun mereka serbu, membuat saya ngeri membayangkan keganasan mereka. Tulisan di kain sablon yang memperingatkan untuk tidak memasukan anggota badan ke kolam lantaran ada ikan galak, rasanya makin membuat saya menelan ludah, merinding.



Ahh, mana mungkin ada yang berani memasukkan anggota badan kemari kalau udah liat ikan besar-besar begini?

Baru saya membatin demikian, seorang bapak-bapak rupanya melakukan hal yang saya rasa tidak mungkin. Ia dengan santainya memasukkan tangan ke kolam, dan berusaha membelai ikan-ikan tersebut. Glek,,, saya hanya bisa menelan ludah. Ngeri, sembari membatin Kewanen tenan sampeyan, Pak!

Saat Hari Minggu tiba, Umbul Nogo menjadi lokasi wisata yang cukup ramai. Selain adanya kolam ikan, pengunjung bisa melakukan terapi ikan di kolam kecil yang ada di sisi-sisi pinggir dekat kolam. Pun, juga ada waterboom mini yang makin menarik minat para wisatawan. Namun gegara pas kami kemari kolam renang waterboomnya sedang ramai, kami pada akhirnya hanya bermain-main di sekitaran Umbul saja.

terapi ikan umbul naga
para pengunjung melakukan terapi ikan

Kolam Umbul Nogo

Kulo niku menawi ten mriki mboten wantun Mbak sanjang nopo-nopo (saya itu kalau di sini nggak berani bilang apa-apa),” ujar seorang Ibu-ibu yang sedang menjajakan panganan.

Saya langsung salah tingkah. Waduh Buk, saya ngajak ngobrol njenengan itu biar dapet cerita, hla kok malah langsung dibilangin begitu. Lak yo saya berasa mati kutu.

“Hla kenapa Buk? Maksudnya sanjang ingkang elek-elek ngoten (bilang yang jelek-jelek), Buk?”

Nggih sanjang macem-macem, (Ya bilang macam-macam) Mbak,”

“Ohh. Kulo namung penasaran mawon sih Buk, kok namine Umbul Nogo? (cuma penasaran aja kenapa namanya mbul Nogo)” saya masih berusaha memancing pembicaraan.

Kulo nggih mboten patek paham Mbak, (saya juga tidak begitu paham)” jawabnya dengan wajah agak takut.

Lohh, Ibu baru jualan di sini?”

“Nggak sih Mbak,”

“Bukan orang asli sini?”

“Ya, asli sini sih Mbak.”

“Ohh, hanya saja kurang begitu tahu gitu Buk cerita tentang tempat ini?”

Si Ibu tampak mikir sejenak. “Emm, kalau dari cerita orang-orang itu, kepala naga yang di pancuran itu asli Mbak. Asli kepala naga yang kemudian berubah jadi patung,” ceritanya akhirnya.

“kepala naga? yang mana sih Buk?” saya celingak-celinguk.



“Yang di situ. Itu patungnya pernah ada yang mau nyuri, tapi mboten saged. Soalnya di sini itu daerah gawat Mbak,”

“Maksudnya angker?”

Nggih pokoke enten sing nunggu. Ten mriki, mboten pareng ngucap sing aneh-aneh,” ujarnya dengan ekspresi kawatir kalau-kalau ucapannya ada yang salah.

Saya mengangguk-angguk dan langsung undur diri lantaran si Ibu sepertinya benar-benar terlihat sedikit takut-takut saya ajak bercerita lebih jauh perihal cerita Umbul Nogo.

Lokasi Umbul Nogo konon memang dikeramatkan. Hawa-hawa spooky pun muncul. Ya, wajar sih, Umbul Nogo merupakan area sumber air yang mata airnya mengalir bahkan sampai ke daerah Kelir Wonogiri. Sebagai area sumber mata air, lokasi sekitaran Umbul Naga dikelilingi oleh pohon-pohon berakar besar, yang daun-daunnya rimbun menaungi.

Legenda Umbul Nogo



Saya akhirnya bertemu Pak Katmin, pengelola Umbul Nogo. Darinya, akhirnya saya mendapat cerita tentang tempat ini secara lebih komplit.

Legenda Umbul Naga dimulai pada masa jaman kerajaan Mataram. Ketika itu, ada seorang keturunan kerajaan bernama Raden Rangga yang sedang menderita sakit mata. Oleh ayahnya, ia disarankan untuk bertapa ke daerah Dlepih Kahyangan.

Ketika berada di sana dan sakit matanya sembuh , beliau kemudian melihat cahaya yang bersinar. Ia lantas mengikuti cahaya itu dan sampailah di tempat cahaya tersebut berasal yang lokasinya tak jauh dari lokasi Umbul Nogo berada. Raden Rangga lantas bertapa di tempat tersebut, karena itulah ia kemudian disebut dengan Pangeran Cahyo yang artinya cahaya.

Raden Rangga mendapat mimpi untuk bertapa selama 40 hari. Ia juga berpesan kepada para pengawalnya untuk menyediakan air kelapa yang akan ia minum usai bertapa.

Sejak dalam pengembaraanya  dari Keraton Jogja, Raden Rangga dikawal oleh Kiai Merkak dan Kiai Jebres.Kedua pengawal tersebut menggunakan tunggangan berupa gajah.

Namun ketika bertapa, Raden Rangga terus digoda oleh Putri alam lain penunggu Gunung Tumpak. Putri tersebut terus memanggil-manggil Raden Rangga dan terus muncul di mimpinya. Sampai akhirnya Raden Rangga penasaran, dan tergoda. Belum genap 40 hari ia bertapa, ia sudah mendatangi Gunung Tumpak dan memasuki Lawang Gapit. Usai memasuki lawang (pintu) tersebut ia melihat sang putri. Saat ia makin mendekat, pintu itupun akhirnya tertutup dan tidak bisa terbuka lagi.

Kiai Merkak dan Kiai Jebres pun pergi mencari Raden Ronggo. Saat mengetahui bahwa Raden Rangga terkurung di dalam Lawang Gapit, mereka kemudian bertempur dengan para pengawal putri. Kiai Merkak dan Kiai Jebres yang menggunakan gajah sebagai tunggangan, bertempur dengan pengawal putri yang menggunakan naga sebagai tunggangan. Saking sama-sama saktinya, pertempuran itu secara tidak sengaja mengenai gundukan yang digunakan untuk memendam kelapa muda yang sejatinya akan diminum oleh Raden Ronggo. Kelapa muda di dalam gundukan itu pecah, namun yang ajaib, airya tidak kunjung berhenti dan malah menjadi sumber mata air yang terus mengalir hingga hari ini. Karena itulah tempat tersebut dinamakan Umbul Nogo karena merupakan bekas pertempuran dengan Naga.

“Terus katanya, ada hewan yang dikeramatkan di Umbul ini, itu beneran Pak,?” tanya saya usai Pak Katmin bercerita panjang lebar. Pertanyaan ini saya lontarkan lantaran penjual HIK yang pernah saya temui dulu menceritakan hal ini.

“Ohh, itu Gateng Mbak,”

“Ahh, iya Gateng namanya. Katanya hewan itu sudah ada sejak jaman keraton Pak? Dan hanya boleh diambil oleh kalangan orang keraton?”

“Ya kalau dari cerita gitu Mbak. Tapi mungkin sebenarnya karna ikan gateng itu mahal Mbak, dan keberadaannya sudah jarang ditemui,” Saya mengangguk-angguk. Adakalanya mitos memang berfungsi untuk melindungi. Saya teringat lagi prediksi penjual HIK yang berpendapat serupa, sejatinya itu hanya karena Ikan Gateng merupakan ikan yang memiliki gizi tinggi, dan rasanya enak. Makanya jaman dahulu masyarakat biasa tidak boleh memakan ikan ini, dan hanya orang kalangan kerajaan yang diperbolehkan dengan upacara tertentu. Konon kalau orang biasa yang mengambilnya akan terjadi sebuah musibah besar. Hingga kemudian sampai hari ini muncul beragam mitos mengenai ikan gateng yang tidak boleh diambil sembarangan. 

Habis Berapa Ke Umbul Nogo?


Seperti biasanya, kalau datang ke lokasi wisata Wonogiri. Datang Ke Umbul Nogo, tidak akan membuat dompet kering. Pasalnya untuk masuk kawasan Umbul Naga hanya dikenai biaya Masuk Rp. 3.000 / orang, dan Parkir Rp. 2.000.

Nah, kalau ingin berenang, tiket mask ke area kolam renangnya Rp. 7.000 per orang.







Umbul Nogo
Karang Lor, Karanglor, Manyaran, Wonogiri Regency, Central Java 57662