Monday, August 19, 2019

Pegipegi, OTA Pilihan Penentu Perjalanan



Beberapa hari terakhir ini, sepertinya saya sedikit stress akibat beberapa hal yang rasanya belum mampu saya kendalikan.

Kalau sudah seperti ini, liburan sepertinya adalah solusi untuk sejenak berlari merefresh kewarasan yang sepertinya belakangan ini mulai menurun. Yeah, tentunya biar siap kembali untuk menyelesaikan beberapa realitas yang mau nggak mau harus dihadapi.

Untuk urusan liburan, andalan saya adalah aplikasi Pegipegi.  Online Travel Agent (OTA) buat saya adalah kunci untuk kelancaran perjalanan.

Makanya saya nggak mau pilih OTA sembarangan. Maunya yang sering saya pakai dan tak pernah mengecewakan.

Pasalnya memilih OTA yang tepat akan melancarkan urusan arus keuangan yang secara otomatis akan sangat berpengaruh pada kelancaran segala urusan perjalanan.

Sebuah hal yang penting utamanya untuk saya yang sangat menjunjung tinggi asas penghematan.

Online Travel Agent Pegipegi, kerap memberikan promo diskon yang lumayan besar, sekaligus kemudahan dalam bertransaksi, makanya saya suka.

Pegipegi selama ini cukup memudahkan saya dalam merancang sebuah perjalanan. Melalui aplikasinya saya bisa mengkira-kira biaya yang nantinya akan saya habiskan untuk urusan tiket pesawat, tiket kereta, serta hotel sebelum memulai perjalanan.

Jika berencana naik pesawat misalnya. Dengan sangat lengkap pegipegi memberikan berbagai pilihan penerbangan yang tentunya pas dipilih.

Beragam pilihan berbagai maskapai tersedia, tiket pesawat garuda serta tiket pesawat maskapai lain dengan ragam rute bisa dengan mudah dipilih calon penumpang.

Kemurahan harga Pegipegi sudah beberapa kali saya buktikan. Makanya, kadang tanpa perlu membandingkan dengan yang lain, saya langsung percaya untuk memesan tiket perjalanan menggunakan aplikasi ini.

Apalagi, aplikasi pegipegi yang sekarang ini sangat mudah untuk diakses dan memiliki tampilan yang menyenangkan. Pesan tiket pesawat jadi makin mudah.

Seperti pakde saya, dalam waktu dekat berencana melakukan perjalanan menuju Jakarta. Ia yang seumur-umur belum pernah naik pesawat dalam hidupnya, berujar kepada saya kali ini dia ingin naik pesawat.

Saya tertawa menanggapinya. Namun tampaknya ia sangat serius kali ini, ingin beneran merasakan bagaimana itu naik pesawat.

Ia yang tidak tahu dan belum pernah naik pesawat, serta belum pernah menggunakan Online Travel Agent meminta pendapat saya mengenai bagaimana cara memesan tiket pesawat online.

Pegipegi jadi andalan saya untuk mensurveikan harga tiket pesawat penerbangannya nanti. Tak hanya jadi sekedar bahan survey, karna dengan Pegipegi beragam promo bisa didapatkan sehingga nantinya perjalanan pakde menjadi lebih hemat biaya.

Salah satu promo yang dimiliki Pegipegi kali ini adalah diskon memperingati 74 tahun Indonesia Merdeka.

Kali ini Pegipegi menyediakan diskon tiket pesawat dan hotel hingga 74 %. Sebuah penawaran yang sangat menarik tentunya.
Promo pegipegi

Promo ini mengusung tajuk “Bepergian terus pantang mundur, diskon tiket pesawat dan hotel sampai dengan 74 %”

Promo tersebut berlangsung mulai dari tanggal 7 Agustus hingga 24 Agustus 2019 ini.

Saya ingin sekali mengambil promo ini sebetulnya. Tapi yah, karena saya belum dapat jatah cuti kantor ya sudah lah keinginan ngikut pakde ke Jakarta buat liburan sepertinya saya ikhlaskan saja. Toh daripada ke Jakarta sepertinya lebih asyik kalau saya pergi ke tempat-tempat lain yang jauh lebih asyik.

Yeah, bagaimanapun mendatangi Jakarta sepertinya lebih tepat kalau disebut berwisata dengan keruwetan. Dan kali ini saya sepertinya nggak siap.

Belakangan ini urusan udah ruwet, ngapain saya harus datang menjemput keruwetan dengan datang ke Jakarta?

Mungkin saya rencanakan saja untuk berkunjung ke Danau Toba, menyebrang Samosir dan menikmati segala keindahan tempat itu selama yah paling tidak 3 harian lah.

Ngayal dulu. haha

Yang pasti segala hal terkait perjalanan nantinya saya gunakan Pegipegi agar segala urusan perjalanan lancar selalu





Wednesday, July 24, 2019

Sebuah Pelajaran Mengatasi Dingin Saat Mendatangi Embun Beku Dieng

Perjalanan kerap kali mendatangkan ilmu-ilmu baru.

Ketika suatu kali saya bertemu dengan pendiri Kampuz Jalanan, ia berujar

"Ilmu itu bisa didapat Mbak darimana saja. Bahkan dari jalanan. Disana siapapun bisa kita kita ambil pelajarannya," ujarnya.

Perkataan Mbak Aroh itu kembali terngiang manakala, saya ke Dieng beberapa waktu lalu.

Dari seorang penjual angkringan saya mendapatkan tips yang saya rasa pantas kalau saya sebut "menyelamatkan:" saya dari kedinginan suhu ekstrim Dieng.

***



Dieng terlalu gelap saat kami datang.

Sekujur tubuh saya ketika itu rasanya mengginggil kedinginan. Jaket tebal, sarung tangan, kaus kaki, semua rasanya percuma. Dingin tetap menusuk, menghunus ke tulang-tulang.

Jalanan gelap, turunan curam, tanjakan tajam, dan kelokan ekstrim hanya bisa teraba dari sorot motor yang tak terlalu kentara. Tipis kabut memang tak menghalangi, tapi parahnya tak ada sorot lampu merkuri  di kanan kiri.

Bukankah Dieng tempat wisata terkenal? Sorot lampu saja kenapa tak satupun ada? Rutuk saya dalam hati.

Di atas motor adik saya menanyai kembali rencana saya, yang sayapun belum yakin pasti.

“Mbak, yakin kita ngebasecamp? Sudahlah kita cari homestay saja. Takutnya kamu nggak kuat,”  ujarnya. Mungkin ia sedikit khawatir dengan kondisi saya yang meski sudah hampir sebulan usai sakit masih saja sering kambuhan.

“Ini weekend, homestay penuh. Kalaupun ada pasti mahal. Kita lihat basecamp dulu, kalau basecamp penuh baru kita nyari homestay,”

Saya tahu hari itu saya konyol. Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya fit, saya nekat mengajak adik ke Dieng motoran, dan parahnya kami kemalaman.

Bermodal informasi internet, dan dikuatkan info dari seorang kawan kampus yang pernah mendaki ke prau, serta info dari Anggara, saya menyusun rencana untuk tidur di basecamp dan keesokan paginya langsung cuss lihat embun es.

Hal yang paling konyol adalah kami tidak tahu pasti nama basecamp apa yang kami tuju. Saya hanya bermodal informasi, ada basecamp di Dieng dekat dengan Candi Arjuna.

Sampai di pertigaan Dieng dekat homestay Bu Djono kami masih harus celingak-celinguk tanya orang tentang posisi basecamp yang kami sendiri namanya saja tidak tahu.

Sampai pada keramaian pertigaan Dieng, saya baru sadar, basecamp Prau ada beberapa. Beberapa orang yang kami tanyai memberikan sarannya tentang basecamp yang harus kami datangi. Tapi tak satupun yang memberikan kepastian mana sebetulnya basecamp yang benar-benar tepat agar keesokan harinya kami bisa lebih dekat jalan ke Candi Arjuna.

Jangan tanya kenapa kami tak pakai google maps saja.  Kami saja bingung harus menitik lokasi dimana. Pun HP saya eror untuk membuka google map dan HP adik habis baterai.

Diantara segala ketidakpahaman kami akhirnya memacu motor menggunakan feeling. Langkah kami selanjutnya berhenti, pada sebuah nyala api di tepian jalan.

Kami menghangatkan diri di perapian tepian jalan tersebut, lantas berlanjut membeli susu jahe di seberang.

Malam itu, rasanya Allah menujukkan cintaNya kepada kami.

Saat dingin rasanya begitu sulit dikontrol, di tempat inilah saya bertemu Mas Rohmat, seorang penjual angkringan yang begitu baiknya memberikan tips panjang lebar mengenai bagaimana mengatasi hawa dingin Dieng yang malam itu sekitar pukul 23.00 WIB rasanya menjadi rasa dingin terparah yang saya rasakan selain dulu saat mendaki ke Merapi.

“Orang sini, apa nggak pada kedinginan, Mas?” tanya saya pada Mas Rohmat.

Ia terkekeh.

“Ya dingin. Tapi sudah biasa,” jawabnya sambil memberesi dagangan. Kami menjadi pembeli terakhir malam itu.

“Malam-malam gini, kira-kira masih ada homestay kosong nggak ya Mas? Yang harganya nggak terlalu mahal gitu? Jaga-jaga saja sih kalau ternyata basecamp penuh, atau kalau ternyata nggak kuat dingin,”

Mas Rohmat menghentikan aktivitasnya lantas menghampiri kami yang berdiri di dekat sepeda motor tak jauh dari gerobak angkringannya.

“Kalau menurut saya sih mendingan tetep tidur di basecamp sih mbak,” ujarnya.

“Hla gimana, Mas?”

“Kalian tidur di homestay pun sama saja. Sama dinginnya di dalam homestay itu.” tuturnya. "Lagipula udah pada penuh,"

Saya mikir sejenak, benar juga. Kalau seandainya hawa panas mungkin tidur homestay bisa nyalain kipas angin atau AC. Tapi kalau dingin seperti ini, apa yang mau dinyalain. Saya tak yakin ada penghangat ruangan di homestay, dan selimut tebal sepertinya juga tak akan ampuh melawan hawa dingin yang separah ini.

Tetiba saya teringat cerita kawan kampus yang sehari sebelum kedatangan kami ke Dieng ia juga kesana. Ia berujar, kalau dia datang ke Dieng membawa bed cover, namun menurutnya, percuma karna bed cover tak mempan melawan dingin suhu Dieng.

Keraguan tidur di basecamp pun lantas menghilang. Seketika saya makin mantap untuk segera datang menuju basecamp.

“Kalau biar nggak kedinginan itu ada caranya Mbak,” Mas Rohmat berujar lagi.

“Gimana Mas?” tanya kami antusias.

“Kalian bawa sleeping bag kan?”

Kami mengangguk.

“Bawa mantol?”

Kami mengangguk lagi.

“Jadi biar nggak dingin, nanti kalian pakai jas hujan dulu, baru pakai jaket,” sarannya.

“Bisa gitu, Mas?” saya langsung merasa bahagia mendapat satu tips ini. Jujur saja ada sedikit ketakutan tersendiri di hati. Saya pernah kedinginan parah saat pertama kali mendaki merapi dulu.

Saking parahnya rasanya sampai tak ada darah mengalir sampai ke otak.

Resiko hipotermi bagaimanapun bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.

“Iya.. Kalau ada plastic kecil,juga bisa dipakai di kaki, baru nanti pakai kaos kaki. Jadi nanti di basecamp, minta trash bag juga. Terus dipake di badan, baru pakai sleeping bag,” ujarnya.

Saya menyimak dengan suka cita. Ahh, saya benar-benar tak sabar mempraktekkannya. Rasanya saya benar-benar harus mengakhiri segala rasa dingin ini.

“Dengan cara seperti itu, nanti suhu tubuh nggak akan keluar. Jadi tetep hangat. Ini membantu kalau udara dingin seperti ini,” jelasnya. Saya mengangguk-angguk.

Mas Rahmat selanjutnya bercerita bahwa dirinya adalah salah satu warga yang juga sering ikut kepanitiaan DCF. Ia juga kerap membantu jika ada orang-orang yang hipotermi.

Ia juga menjelaskan panjang lebar tentang hipotermia dan bagaimana mengatasinya,
“Ciri-ciri orang hipotermi itu dia tiba-tiba kaku. Tubuhnya itu kaku mendadak. Yang paling bahaya itu kalau dia sedang tidur. Susah mendeteksinya. Jadi sebaiknya itu memang kalau tidur itu gentian.  Jadi bisa saling menjaga dan memastikan temannya tidur, dan bukan kaku karna hipotermi,” ujarnya.

“Lalu kalau hipotermia, gimana nolonginnya mas?” tanya saya selanjutnya.

“Kalau ada yang hipotermi, pertama korban dibuat sadar dulu. Dibau-bauin pakai minyak kayu putih biar sadar. Bagian-bagian lekukan badan juga diberi sesuatu yang hangat. Bisa pakai botol yang diberi air hangat, lalu diletakkan di telapak kaki, lipatan belakang dengkul, ketiak, serta belakang leher,

“Terus jangan mengoleskan balsam dan semacamnya, karna balsam itu hangatnya hanya sesaat, setelah itu justru dingin yang terasa. Nah setelah sadar itu korban diberi sesuatu yang hangat, seperti air putih hangat,” jelasnya.

“Pelukan juga bisa dilakukan untuk menghangatkan korban. Tapi ya itu, kalau cowok ya yang meluk sebaiknya cowok, cewek ya sebaiknya cewek. Biar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan,” tambahnya.

Saya mengangguk-angguk.

“Nanti pokoknya sampai sana, kalian minta trash bag. Setiap basecamp itu pasti sudah menyiapkan trash bag. Nanti dipake baru pake sleeping bag ya. Oh ya, saya kayaknya masih ada mantol,” ujarnya lantas berlari ke sebuah tempat tak jauh dari angkringan.

Kami hendak mencegahnya, tapi ia sudah terlanjur berlari lebih dahulu. Beberapa saat kemudian ia sudah kembali membawa dua mantol plastic.

“Ini buat kalian. Nanti dipakai sebelum memakai jaket ya,” ujarnya.

“Duhh mas, nggak usah. Kita udah bawa jas hujan. Malah jadi merepotkan,” kami sungkan.

“Nggak papa pakai saja. Masih banyak kok,” ujarnya.

Kami menurut. Dan berdasarkan sarannya akhirnya kami memilih basecamp Dworowati dengan pertimbangan jarak terdekat.

Sesampainya di basecamp Dworowati, ternyata kami harus dihadapkan pada kenyataan, basecamp berupa papan kayu yang memiliki jarak-jarak kecil membentuk selah lubang diantaranya.

Saya menelan ludah, perang dingin bakal terus berlanjut.

Untungnya ada anglo aka tungku yang bisa digunakan untuk sekedar membantu menghangatkan badan.

Saat menjajal air di kamar mandinya, ingatan saya dibawa pada jaman kecil ketika sering iseng mandi dengan air es batu. Persis dinginnya. Bahkan mungkin lebih dingin.

Jari-jari tangan saya rasanya kaku, dan bibir enggan juga berhenti bergetar. Akhirnya, kami memutuskan mencoba tips dari Mas Rahmat. saya ke bagian depan penjaga basecamp. Meminta plastik putih kecil untuk dimasukkan ke kaki dan tangan baru kemudian ditutup sarung tangan dan kaos kaki.

Bagian kaki juga saya pakaikan trash bag sebelum masuk sleeping bag.

Pun, mantol pemberian mas Rohmat juga saya kenakan sebelum menggunakan  jaket dan sleeping bag. Air hangat juga saya minum. Hasilnya?

Saya tetap kedinginan.

Iya, tetap dingin namun jauh lebih hangat. Setidaknya tak separah sebelumnya. Terbukti perbandingannya ketika saya mencoba melepas plastik saat hendak ke kamar mandi di sepertiga malam.

Cara pemberian Mas Rohmat mungkin terdengar asing dan belum terbukti secara ilmiah. Namun nyatanya menggunakan trash bag dan plastik berdasar apa yang saya coba cukup efektif.

Esok paginya saya bersyukur, saya bisa melalui malam Dieng yang teramat dingin. Yeah ilmu memang bisa didapat dari setiap perjalanan. Dan saya rasa ini sebuah bukti bagaimana Dieng begitu peduli dengan wisatawan.

Tak cuma Mas Rohmat, sepanjang perjalanan kemarin kami merasakan benar bagaimana keramahan mereka terhadap wisatawan.

Sunday, July 21, 2019

Safi, Treatment Merawat Kulit Wajah Usai Mendaki Gunung

review safi age defy


Orang-orang di sekitar saya sepertinya sudah sangat paham, bahwa selama ini saya agak ndableg masalah skincare dan makeup.

Beragam nasihat seperti harus pakai sunblock ber spf tinggi lah,  serta jenis-jenis perawatan serta kosmetik lain sebenarnya kerap saya terima.

Tapi ya, banyak malasnya saya itu. Emm.. lebih tepatnya, karna ngerasa belum butuh saja sih. Wkwkwk. La wong saya tampil cantik pun belum ada nilai pahalanya, ya buat apa? Toh sepertinya, saya dandan dan nggak dandan yo podo wae, wkwkwk.

Namun tak bisa dipungkiri, usia yang terus bertambah, nyatanya bagi perempuan adalah perkara yang memusingkan.

Kalau ada yang bilang perempuan itu seperti susu, semakin lama dia semakin basi, sementara laki-laki itu diibaratkan seperti tuak, semakin lama dia semakin lezat dan bernilai tinggi tampaknya bukan sekedar isapan jempol.

Menginjak usia 26 plus plus ini kerasa benar kulit saya jadi ringkih, dan mau tak mau saya jadi peduli.

Contohnya usai kunjugan saya ke Dieng, dan mendaki Gunung Prau beberapa waktu lalu. Wahh, saya benar-benar mikir usai hari itu.

Hla mau gimana, kulit kering parah. Dulu sepertinya kalau habis naik gunung kulit juga kering sih, tapi sepertinya tak separah kemarin. Kulit rasanya clekit-clekit, kasap, dan ngglodoki.

Sudah dioles dengan pelembab lidah buaya, tetep saja nggak berkurang.

Tapi untungnya beberapa hari usai mendaki Prau, saya ikut acara gathering produknya Safi. Pas hari itu saya berkesempatan menjajal rangkaian perawatan safi walau Cuma sekali.

Dan efeknya langsung kerasa.

Nyoba sekali langsung kerasa?

Iya e. Saya juga heran, ini produknya yang kebagusan, atau karna memang kulit saya  yang terlalu virgin?

Rangkaian perawatan kemarin yang saya coba sebetulnya perawatan untuk sehari-hari, yakni  pembersih, scrub, toner, dan juga pelembab.

Semuanya sepertinya memang dibutuhkan untuk kulit saya.

Meski sehari-hari sudah pakai pembersih muka, tapi menscrub wajah usai mendaki gunung sepertinya memang pas saya lakukan kemarin. Perjalanan Solo-Dieng dengan motor tampaknya menyebabkan wajah saya kusam parah yang tak cukup dibersihkan hanya dengan pembersih wajah biasa saja. Apalagi pada dasarnya wajah saya komedogenic.

Produk scrub yang saya gunakan kemarin Safi Age Defy Deep Exfoliator yang dari keterangannya sih mampu membantu membersihkan wajah secara lebih dalam hingga membantu mengurangi komedo. Produk ini sepertinya juga pas untuk kulit saya yang tampaknya memang butuh perawatan berbau “age defy” mengingat usia yang hiks terus bertambah.

Yang paling kerasa banget itu ketika  saya mengoleskan Safi Age Defy Gold Water Essence.  Cuman saya oles sekali lho, kelembababnnya langsung kerasa. Langsung kenyal rasanya.

Kalau dari penuturan mbaknya yang jadi pembicara Safi sih produk ini memang mengandung kelembaban 130%.

Kulit saya yang kering parah tampaknya memang butuh ini, makanya kemarin bisa langsung kerasa efeknya.

Dari acara kemarin kulit saya jadi jauh lebih enakan. Di rumah, saya lanjut perawatan kulit usai mendaki gunung dengan Safi Age Defy Concentrated Serum dan cleansernya yang lumayan lah diberikan secara gratis.

Untuk pelembabnya, karna kebutuhan saya bulan ini lumayan mencekik maka ya sudah saya nggak lanjut beli Safi Age Defy Gold Water Essence yang sayangnya tidak diberikan secara gratis kemarin, wkwkwk.

Saya melanjutkan dengan pelembab lidah buaya yang selama ini sudah kerap saya pakai ditambah dengan Serum Safi tadi.

Safi Age Defy Concentrated Serum dari keterangannya sih membantu perawatan kolagen kulit yang mulai menurun utamanya bagi perempuan berusai 26 plus plus seperti saya, Hiks.

Saya menggunakan produk ini tiap malam, awalnya tak rutin, tapi seorang teman mengingatkan saya bahwa bagi wanita, kulit wajah itu investasi. Nggak harus make up, yang penting dirawat. Jadinya, ya sudah lah saya pakai saja, toh ikhtiar biar kulit nggak kering lagi. Karna kering itu sakit.

Produk ini mengandung 18 jenis Amino Acid yang membantu menjaga kelembaban kulit agar selalu halus dan elastis.

Hasilnya, mungkin bagi yang biasa ketemu saya tak terlalu memperlihatkan perubahan. Tapi bagi saya, kerasa banget bedanya. Clekat-clekit usai mendaki gunung hilang, dan yang pasti kulit saya lebih halus dibandingkan sebelumnya.



Monday, June 17, 2019

Cerita Sore di Watu Lumbung

view dari Watu Lumbung

Dua minggu lebih sempat merasa tak berdaya karena sakit, akhirnya sedikit demi sedikit saya kembali pulih. Ya biarpun masih kambuhan, setidaknya saya sudah tak didera rasa pusing yang berkepanjangan.

Tepatnya 2 hari lalu, di tengah rasa bosan yang mendera karena kebanyakan glundang-glundung di kasur, saya secara tetiba terpikirkan untuk datang ke kawasan Sendang Pinilih.

Ibu berwajah masam saat mendengar saya pamitan “kumat neh, karepmu!” ujarnya. Saya cuman njegeges dan nekat memacu motor ke sana. Yeah, beberapa hal mengganggu pikiran saya kemarin, ditambah keharusan banyak-banyak bed rest rasanya justru membuat saya makin ingin kabur.

“Ini nggak ada jasa anter ke atas Mbak? Saya kok pengen ke Bukit Joglo. Tapi mau naik sendiri nggak berani. Tanjakannya ngeri e” tanya saya pada Mbak-mbak penjaga tiket.

“Wah, udah sore Mbak. Kalau agak siangan tadi, saya mau nganterin ,” sahut Mas-mas di sampingnya.

Saya mengintip jam HP. Benar juga sudah setengah 5 an. Sampai di Bukit Joglo tentunya sudah terlalu sore, dan bisa dipastikan balik bakalan Magrib.

“Minggu aja Mbak, saya anterin,” tawar Mas-mas tersebut. Saya menggeleng. Saya suntuknya hari itu, nunggu Minggu ya percuma lah.

“Kalau yang tempat wisata baru itu dimana, Mas?” saya mencoba mencari alternatif.

“Ohh, itu Watu Lumbung. Perempatan depan belok kiri lurus aja terus. Nanti untuk sampai ke Watu Lumbung, Mbak harus naik jalan kaki,” terangnya. Saya manggut-manggut. Meskipun sebenarnya saya sedikit khawatir naik ke Watu Lumbung bakal membuat tenaga terkuras. Mengingat, itu sesuatu yang sangat tidak disarankan untuk kondisi saya saat ini.

“Mau kesana Mbak? Sendiri aja?”

“Iya. Yang penting aman kan Mas? Tempatnya tinggi nggak?”

“Aman, Mbak. Nanjaknya Cuma pas jalan kaki aja ke sana,” giliran si Mbak-mbak menyahut.

Mendengar penjelasan ini, saya makin mantap untuk lanjut jalan. Usai berpamitan, sesuai arahan mereka saya berbelok di perempatan.

Jalur menuju Watu Lumbung merupakan jalur cor blok. Saya kira, motor saya bakal melaju cukup jauh. Ternyata, hanya sekiar 5 menit saya sudah sampai di penghujung jalan yang merupakan rumah warga.

Rumah-rumah di Sendang Pinilih buat saya cukup unik. Saya menyebut perkampungan di sini perkampungan di atas awan. Pasalnya, jalur ke kawasan ini tanjakannya lumayan. Saat pagi hari datang kemari, Desa Sendang Pinilih diselimuti kabut, membawa imaji saya bahwa tempat ini seperti sebuah negri dongeng, negri di atas awan.

Seorang perempuan muda muncul melihat kehadiran saya di depan rumahnya.

“Watu Lumbung itu di atas sana Dik?” saya memarkir motor lantas bertanya pada si gadis yang sayangnya saya lupa namanya.

“Iya Mbak. Mau saya anter?” tanyanya.

"Mau banget," sontak saya tak menolak. Bagaimanapun jalan di tempat yang belum pernah didatangi lebih terasa aman kalau ada yang menemani.


“Sendirian aja Mbak?” tiba-tiba suara laki-laki terdengar dari belakang saya.

“Iya,” jawab saya lantas memutar tubuh ke belakang. Namun saya kaget. Tak ada manusia satupun di sana.

Saya bengong, dan  hati mak tratap rasanya.  Pandangan di belakang hanya pepohonan yang tampak lebat, dengan suasana cukup gelap saking rimbunnya, ditambah hari memang sudah sore.

Mungkin, sekitar 10 detikan saya terpaku.

“Mbak,” suara itu terdengar lagi. Tapi tetap tak terlihat manusia.

“Mbakk…”

Jantung saya mendadak memburu. Sore-sore menjelang magrib, datang ke tempat yang masih agak rungkut dibanding spot-spot lain di kawasan Sendang Pinilih, tetiba menjadi sesuatu yang saya sesali saat itu. Bayangan saya sudah yang nggak-nggak. Bahkan sempat terlintas, jangan-jangan perempuan muda tadi bukan manusia. Tiba-tiba saya merasa khawatir,  menengok lagi ke arah semula.

“Mbakkk…”Suara itu memanggil lagi. Kali ini saya mendongak pelan-pelan ke atas pohon yang tepat ada di hadapan saya.

“Baaaa,” ujar seseorang di atas sana.

Reflek saya teriak dan tubuh berjengat ke belakang.

Wohladala, jebulannya di atas pohon yang entah apa namanya, ada bapak-bapak berkaos parpol sedang metangkring. Entah sedang apa.

“Kaget Mbak?” tanyanya tanpa rasa berdosa dan hanya tersenyum lebar

Meski gemes, saya ngekek. Dalam hati membatin, ahhh Alhamdulillah suoro uwong tenan tibake.

“Kalau mau naik ke atas jaraknya 5 km Mbak,” ujar si bapak.

Perkataan si Bapak tentu membuat saya awang-awangen seketika. Pengalaman saya bertanya ke penduduk setempat, kalau penduduk bilang 2 km itu berarti bisa sampe 8 km an. Hla ini dia bilang 5 km, bisa-bisa saya harus nanjak sejauh 10 km.

“Ayo Mbak,” si  perempuan muda tadi, menyadarkan saya untuk segera menentukan sikap.

Ia mengambil sandalnya lantas mendahului saya jalan di depan tanpa memberikan penjelasan apakah yang dikatakan si bapak tadi benar atau tidak.

Ragu saya mendadak teralihkan dengan semangat si gadis muda menemani saya.

Wes ditawani meh dikancani, mosok yo rasido Da? Batin saya dalam hati.

Saya menelan ludah sembari berdoa dalam hati, “duhh, mugo-mugo ra kumat. Mugo-mugo gur cedak,”

Saya bergegas menyusul si gadis yang mendahului saya melewati jalan semen setapak yang menanjak. Di sela-sela perjalanan saya mencoba menanyai perempuan muda itu untuk sekedar mencairkan suasana.

Saya kira, perjalanan bakalan sepanjang 5 km seperti yang dikatakan si bapak. Hla ternyata, mak jegagik, hanya berkisar 5 menit tak sampai, saya sudah tiba di tempat yang disebut Watu Lumbung.

Hemm, bapaknya, 2 kali sukses bikin saya deg-degan.

Sampai di atas, Watu Lumbung tampak belum selesai digarap. Menurut penuturan si gadis muda tempat ini direncanakan sebagai tempat landas ganthole seperti halnya Bukit Joglo. Beberapa waktu sebelumnya juga sudah ada beberapa atlit paralayang yang menjajal landasan Watu Lumbung.

Jika dibandingkan Watu Cenik, Soko Gunung maupun Bukit Joglo, menurut saya pemandangan Watu Lumbung masih kalah dari ketiga pendahulunya. Pasalnya pemandangan tidak selapang ketiga tempat tersebut. Namun kelebihan tempat ini adalah sudut pandang di tempat ini lansung pas ke Karamba, jadi karamba jadi lebih terlihat jelas. Pun bagi para atlit paralayang pemula, ketinggian yang lebih pendek tentunya cocok untuk berlatih

Hanya sebentar saya di Watu Lumbung. Lantaran mengejar waktu biar tidak kemalaman untuk lanjut ke Watu Cenik.

Saat kembali turun, si Bapak masih saja metangkring di atas pohon.

“Gimana Mbak, jauh?” tanyanya sambil ngekek.

“Nggak pak, deket itu. Haha,” ujar saya ikut tertawa. Si Bapak pun ngekek lagi. Entah ia memang salah memperkirakan jarak, atau pada dasarnya ia sedang bercanda, pokoknya saya ngekek saja. Buat saya, itu sebuah sambutan keramahannya sebagai warga. Pun, si perempuan muda, ia menunjukkan keramahannya sebagai warga setempat. Dengan baiknya ia bersedia menemani saya naik turun. Meski tak terlalu jauh, ya teteplah jalan nanjak itu bikin lelah, dan menemukan orang yang mau menemani nanjak seperti itu sesuatu yang berkesan buat saya.

Yeaahh sore kemarin, datang ke Sendang Pinilih sepertinya memang sesuatu yang tepat.

Ahh ya, cerita masih berlanjut sebetulnya di Watu Cenik. Pankapan saja lah saya lanjut lagi. Sudah 900 an kata. Saya rasa cukup tulisan ini jadi isian blog setelah sekian lama saya nggak nulis di sini. 





Wednesday, April 24, 2019

Bonanza, Bakso Kemasan Instan Yang Cocok Jadi Bekal Traveling

Masalah makan itu kalau diabaikan bisa mengganggu kesehatan. Tapi kalau pas traveling dan budget perjalanan terbatas, maka masalah makan mau tak mau harus diirit. Nah solusi terbaik menurut saya adalah membawa bekal sendiri atau membawa peralatan masak dan bahan masakan sendiri.

Beberapa makanan seperti abon, pop mie, roti kering, sarden, nugget dan Bakso kemasan instan seperti Bakso Bonanza   menurut saya praktis untuk dibawa saat traveling. Ini karena tentu saja makanan-makanan tersebut cenderung awet dan sangat praktis dalam pengolahannya.

Bakso Bonanza misalnya. Saya tahu produk ini ketika menghadiri acara demo masak Bakso Bonanza di Solo Square. Ketika itu Chef Brian menunjukkan bagaimana mudah, praktis dan cepatnya bakso ini dibuat olahan. Kita hanya perlu membuka kemasan dan bakso bisa langsung dimasak dicampur dengan beragam masakan. Yang lebih penting, rasa bakso kemasan instan ini enak.

olahan bakso kemasan

Bakso Bonanza, Bakso Kemasan Instan Yang Sapi Banget

Asupan gizi ketika traveling utamanya buat para pejuang irit seperti saya kerapkali di nomor duakan. Nah membawa bakso Bonanza saya rasa bisa sangat membantu perbaikan gizi saat traveling. Mengingat di dalam bakso ini terkandung 84% daging sapi asli. Eloknya lagi daging sapi yang diolah adalah dari sapi-sapi pilihan. Dimana sapi-sapi mendapat pakan bernutrisi serta diberi makanan hasil olahan limbah nanas. Nanas kerapkali digunakan sebagai bahan pengempuk saat memasak daging, tak heran kalau kemudian Bakso kemasan instan Bonanza sudah empuk meskipun dalam pembuatannya tanpa bahan pengempuk.

bakso kemasan instan
bakso bonanza

Belum lagi campuran bumbu dan tepung pada Bakso Bonanza dibuat sedemikian hingga tanpa menggunakan tambahan MSG, tanpa borax dan formalin. Ditambah pula Bakso Bonanza tidak memerlukan tambahan pengawet, karna proses pengawetan bakso menggunakan teknologi pendinginan yang tepat. So rasanya nggak salah kalau saya menyebut bakso kemasan instan ini rasanya enak dan sehat.

Soal kehalalan, juga tidak perlu dipertanyakan lagi. Bakso kemasan instan Bonanza sudah mengantongi sertifikat halal dari MUI. Sehingga bagi umat muslim yang mengutamakan kehalalan dalam setiap makanan tak perlu risau.




Ide Olahan Praktis Saat Traveling

Di acara kemarin Chef Brian mendemokan beberapa olahan masakan Bakso Bonanza. Seperti dibuat Bakso BBQ, serta Bakso Kuah kuning. Bakso BBQ kemarin cukup enak dimana bakso dibumbui lalu dibakar dan ditusuk dengan diselang-seling paprika.

kreasi bakso kemasan

bakso kemasan kuah


Saya jadi ingat dulu ketika kamping bareng temen-temen kampus, bikin bakso bakar itu adalah hal terpraktis yang bisa menambah keseruan saat traveling. Tapi dulu bakso yang kita masak hanyalah bakso-bakso yang dijual di pinggiran jalan yang kita tidak tahu bagaimana kualitasnya. Setelah ini, saya rasa membeli Bakso Bonanza bakalan saya lakukan kalau next ada lagi acara kamping. Biar badan tetep sehat dengan mendapat asupan makanan yang nggak abal-abal.

Mengolah Bakso kemasan instan untuk dijadikan makanan saat traveling sepertinya bisa dicoba dibuat bakso BBQ. Namun bisa juga diolah menjadi bakso kuah kuning atau mungkin campuran dalam sop. Tapi kalau mau lebih praktis lagi Bakso Bonanza bisa diolah dengan digoreng saja. Baksonya sudah enak dari sananya, jadi bisa langsung digoreng tanpa ditambah bumbu. Praktis dan awet untuk bekal traveling

Untuk mencari Bakso kemasan instan Bonanza caranya cukup mudah. Bakso instan ini bisa dicari di Superindo maupun Hypermart. Bakso yang dijual dengan ukuran kemasan 500 gr harganya kisaran Rp. 85.000. Isi bakso sekitar 33 biji. Tapi kalau mau kemasan kecil, bakso Bonanza juga menyediakan kemasan kecil.

Nah tunggu apalagi, kalau masih bingung bekal traveling mau bawa bahan makanan apa, bisa dicoba untuk membawa bakso kemasan instan dari Bakso Bonanza. Nggak ribet, nggak perlu nggiling daging sendiri, tapi gizi dan bahannya  kualitasnya terjamin.

Wednesday, April 10, 2019

#CDJ 4: Nasihat



“Jadi kapan?” Adik saya mengaduk es teh di gelasnya.

Saya terkekeh. Saya paham benar, sejatinya ia selalu mencari kesempatan setiap ngobrol untuk menanyakan ini.

“Doakan saja,” jawab saya pendek.

“Banyak yang nanya.”

Saya lagi-lagi terkekeh. Tapi ya, saya lebih memilih meneruskan melahap geprekan ‘preksu’ Jogja sampai habis daripada memperpanjang percakapan semacam itu dengannya.

“Jangan terlalu sering jalan sendiri, Mbak,” kali lain ia kembali mengingatkan saya.

Di Jogja sebulan membuat saya benar-benar merasai bahwa saya punya adik. Saya yang biasanya bertemu dengannya paling sebulan sekali, saat itu akhirnya selama sebulan penuh kami hampir setiap hari bisa ketemu. Dan hampir tiap ia longgar ia mengajak saya mengunjungi banyak tempat di Jogja. Bisa dibilang, ini waktu kebersamaan terlama kami.

“Aku nggak selalu bisa nemenin kemana-mana. Buruan cari mahram, biar ada yang nemenin kemana-mana,” ujarnya. Saya menanggapinya dengan sedikit senyum kecut.

“Kenapa? Kamu mau nikah duluan? Kalau nantinya mau nikah duluan, duluan aja,” ujar saya lantas buru-buru mengalihkan pandang ke piring geprekan.

Geprekan Jogja dimanapun tempatnya sepertinya jadi lokasi kami lebih sering membicarakan hal-hal sensitif semacam ini. Yeah, saya sepertinya juga lebih nyaman ngomong di warung geprek. 

Setidaknya kalau saya tiba-tiba menitikkan air mata bisa beralasan kepedesan, pun kalau lagi tak pengen menanggapi percakapan saya bisa pura-pura buru-buru fokus menghabiskan nasi.

“Bukan gitu. Hanya kadang khawatir kalau kamu jalan sendiri, Mbak,” ujarnya.

Dibandingkan ayah saya, sepertinya adik saya jauh lebih cerewet mengingatkan saya untuk secepat mungkin mengakhiri kelajangan. Ia juga kerap mengingatkan saya tentang hadis-hadis aturan safarnya seorang perempuan, serta megingatkan saya untuk sebisa mungkin tidak pergi hanya berdua dengan laki-laki.

“Kalau jodoh itu carinya tinggal kayak kita metik daun, aku udah metik dari dulu-dulu,” ujar saya suatu kali ketika ia lagi-lagi menyinggung masalah itu.

“Kalau mencari jodoh kita nyari yang sempurna, selamanya kita tidak akan pernah menikah,” katanya lagi.

“Saya tidak pernah menuntut kesempurnaan, hanya saja ya kalau belum ketemu ya belum,” tanggapan saya.

Saya menghela nafas dengan ucapannya. Bukannya saya menolak dengan perhatiannya. Saya seneng betul ketika ia mengingatkan beberapa hal yang memang tidak seharunya saya langgar. Tapi ya, soal jodoh kok ya gimana kalau terus diingatkan. Ahh, apakah mungkin ini karena ada bagian diri saya yang congkak? Sehingga kadang saya sedikit sensitif dengan bahasan seperti ini?

“Kita tidak pernah tahu, suatu tempat apakah benar-benar aman untuk didatangi. Makanya lebih aman kalau kemana-mana ada mahramnya.”

“Disitulah fungsi doa yang kenceng sama Allah. Doakan saja kakakmu ini yang baik-baik.” Jawab saya. “Sebisa mungkin kalau kemana-mana aku juga nyari temen kok biar nggak sendirian. Kalau pas ada, Kalau nggak, ya pokoknya doakan saja terus yang baik-baik.”

Obrolan selanjutnya ia kembali menunjukkan saya beberapa hadist   perihal safarnya seorang perempuan. Namun yaahhh, semoga Allah paham bahwa saya tidak sedang ingin menjadi hambaNya yang ingkar. Saya percaya bahwa setiap aturanNya selalu mengandung kebaikan. Namun beberapa hal memang belum bisa saya laksanakan. Kehidupan, rasanya selama ini menuntut saya untuk mandiri. Saya hanya bisa berharap, semoga Allah memaklumi, memaafkan dan senantiasa melindungi.










Wednesday, April 03, 2019

Pasar Dhoplang Wonogiri, Uniknya Pasar 'Boso Jawi' Yang No Plastic

Belakangan saya dibuat penasaran dengan berita bahwa Wonogiri memiliki Pasar Dhoplang, sebuah Pasar yang belakangan hits lantaran di sana tidak diperkenankan menggunakan plastik ketika berbelanja.

Pasar Doplang merupakan pasar yang ada murni atas inisiatif warga.

pasar dhoplang
Ramenya Pasar Dhoplang


Berangkat dari Wonogiri Kota sekitar pukul 6.00, kami baru tiba di Pasar Dhoplang sekitar satu jam kemudian. Pasar Doplang sudah penuh dengan manusia yang kebanyakan anak muda, serta rombongan keluarga. Deretan mobil terparkir di sepanjang jalan dekat Pasar membentuk ular-ularan panjang.

Iki kok do nggawani berkat? (Ini kok pada bawa berkat)?” tanya pakde sembari memperhatikan lalu-lalang pengunjung yang berjalan ke luar dari area pasar.

Ketika itu, saya dan Nana sedikit mengabaikan pertanyaan Pakde. Karna kami sendiri tidak begitu paham kenapanya. Kami terus saja berjalan masuk, mengalir bersama arus manusia yang datang bersamaan dengan kehadiran kami.

Tiba di pintu masuk, kami selanjutnya memasuki area antrian penukaran uang. Yap, salah satu keunikan Pasar Dhoplang adalah di sana kita bertransaksi menggunakan koin bambu yang sebelumnya telah ditukar menggunakan uang asli.

Usai mendapat koin, kami lantas diarahkan masuk area pasar oleh petugas yang menggunakan baju lurik khas Jawa. Keunikan lain dari Pasar Dhoplang selain “No plastic”, dan transaksi yang dijalankan menggunakan koin, Pasar Dhoplang berusaha mengangkat budaya Jawa di sini.

Setiap petugas, maupun pedagang dianjurkan menggunakan baju Jawa seperti lurik, batik, maupun kebaya. Pun dengan bahasa yang digunakan, sebisa mungkin dianjurkan untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa. Tulisan-tulisan yang ada di Pasar Doplang pun banyak menggunakan bahasa Jawa beberapa juga disertai aksara Jawa.

Murah Dan Nikmatnya Merasai Kuliner Khas Wonogiri

Buk, wonten besengek? (Buk ada besengek?)” tanya saya sumringah, membaca daftar menu dari kardus yang terpampang di depan lapak seorang penjual.

Besengek merupakan makanan tradisional khas Wonogiri, yang namanya baru saya dengar ketika saya mengunjungi Kampung Wayang Kepuhsari dulu. Saya girang, karena bisa dibilang ini makanan langka. Saya tidak pernah menemuinya di Wonogiri kota. Bahkan dulu saya disarankan untuk datang setiap hari pasaran Pasar Manyaran jika memang ingin mencoba mencicip makanan ini. 

Tapi di Pasar Dhoplang, akhirnya saya menemukan besengek.

Tigang ewu angsal to Buk? (tiga ribu boleh kan Bu?”

Angsal, Mbak, angsal, (boleh mbak boleh)” si Ibu dengan semangat menjumput daun jati lantas mewadahi besengek dalam porsi yang menurut saya cukup banyak untuk harga Rp. 3.000. Kenyatannya, ragam kuliner tradisional di Pasar Dhoplang seluruhnya memang murah meriah Alhamdulillah.

Penampakan besengek
Ini porsi pas udah dikurangi

Saya, Nana, dan Pakde sampai nyaris kalap menjajali beragam menu makanan tradisional yang ada di sana. Dimana lagi coba, kami bisa makan makanan ‘lawas’ yang pilihannya beragam selain di sini? Selain besengek, tiwul, gronthol, puthu mayang, pecel gendar, cabuk, sego bancakan, wedang uwuh, jamu jawa dan buanyak lagi pilihan kuliner yang lain di sediakan di Pasar Dhoplang.


Puthu mayang



Apem ndeso

Ini sepertinya satu-satunya makanan modern

Wedang Uwuh

Syahdunya lagi, guna menikmati ragam sajian kuliner, kita disediakan tikar-tikar yang digelar di bawah naungan pohon jati yang menjadi lokasi berdirinya Pasar Dhoplang. Pasar Doplang berlokasi di daerah Slogoimo. Slogoimo sendiri terkenal dengan banyaknya pohon jati di sana. Bahkan di Slogohimo terdapat salah satu hutan yang terkenal dengan habitat pohon jatinya yakni Hutan Donoloyo.

Tenang saja, untuk duduk di atas tikar kita tidak perlu membayar sewa layaknya berada di pinggiran pantai. Di sini kita bisa duduk di atas tikar bersama-sama dengan pengunjung lain. Jadi bisa sambil cerita-cerita dengan orang-orang baru. Pokoknya ini tempat membawa kita pada suasana pedesaan yang guyub.

Suasana yang syahdu juga bakalan pas untuk berfoto-foto dengan mengedepankan suasana tradisional yang ada sebagai latar.

Awal Terbentuknya Pasar Dhoplang

Kalau kamu nggak bisa baca tulisan ini berarti mungkin kamu buta warna

Menurut penuturan Ibu Lilis Endang selaku inisiator Pasar Dhoplang, pasar ini awalnya tercetus ketika sedang ada kegiatan dasa wisma. Dimaksudkan Pasar Dhoplang ada supaya para anggota dasa wisma memiliki kegiatan.

Awalnya hanya 11 pedagang, namun kemudian seiring meningkatnya animo masyarakat untuk berkunjung, para pedagang yang mayoritasnya merupakan warga dusun Kembar, Slogohimo, ikut bertambah, pun lokasi Pasar Doplang yang semula di depan halaman rumah kemudian dipindah ke area sekarang yang lebih luas.

Berdiri 11 September 2018, Pasar Dhoplang rutin hadir setiap hari Minggu mulai pukul 06.00-09.00. Selain menikmati ragam kuliner yang ada, kita bisa menikmati pula suguhan tarian-tarian tradisonal ataupun langgam-langgam gending yang dihadirkan.

Bagaimana Menuju Pasar Dhoplang?


Untuk menuju ke Pasar Dhoplang ikuti saja jalur utama Wonogiri-Slogohimo. Nantinya, sebelum pasar Slogohimo kanan jalan ada jalan masuk. Nah, ikuti jalan masuk itu terus. Nanti sekitar mungkin 10 menit kita akan sampai di lokasi Pasar Doplang.

Tips kalau datang kemari, jangan lupa beli tas bukan plastik khas Pasar Dhoplang seharga Rp. 5.000 biar kalau pulang dan bawa oleh-oleh banyak tak berasa seperti sedang nenteng berkat layaknya orang habis dateng ke hajatan.



Pasar Dhoplang No Plastic

Kami awalnya tak berniat membeli apapun untuk di bawa pulang. Tapi kami kemarin terlalu kalap mencoba kuliner yang bermacam-macam. Akibatnya, beberapa justru utuh tak termakan.

Sayang kalau ditinggal begitu saja, akhirnya kami menenteng makanan-makanan yang dibungkus daun jati tersebut dengan tangan.

Pertanyaan awal Pakde terjawab sudah. Kami pulang bagaikan orang dari acara kondangan. Bawa berkat bungkus daun jati. Hahaha.

Nah, berkunjung ke Wonogiri mau ke mana? Atau mungkin bingung mau dateng kemana kalau pengen mencari kuliner Wonogiri yang khas? mungkin Pasar Dhoplang bisa jadi pilihan.

Pasar Dhoplang
Kembar, Pandan, Slogohimo, Wonogiri
Jawa Tengah

Sunday, March 31, 2019

Mengintip Ragam Fasilitas Hotel Alana Solo

Berkesempatan mengunjungi Hotel Alana Solo beberapa waktu lalu, saya mencoba mengeksplorasi beberapa bagian dari hotel yang ber lokasi dekat dengan Bandara Solo ini. Hotel yang memiliki kapasitas 247 kamar ini ternyata dilengkapi beberapa fasilitas yang TOP bgt yang tidak hanya bisa dinikmati oleh tamu hotel yang menginap saja, namun juga bisa dinikmati oleh umum.

Kemarin saya mencoba mencari tahu tentang hotel Alana, tentang fasilitas apa saja yang dimiliki hotel bintang empat di Solo tersebut. Dan berikut beberapa fasilitas yang ada di Hotel Alana Solo:

1. Kolam Renang Hotel Alana Solo

Kolam renang Alana Solo

Kolam Renang Hotel Alana Solo yang berada di area Aquamarine Pool & Bar terdiri dari beberapa bagian, yakni Kolam renang dewasa dengan kedalaman sekitar 140 cm, kolam renang anak-anak dengan kedalaman 60 cm, dan kolam renang untuk berendam yang airnya merupakan air hangat.

Kolam renang Hotel Alana merupakan kolam renang rooftop yang cukup nyaman menyejukkan mata lantaran darisini kita bisa melihat gunung merapi yang terlihat mengintip. Juga view kota Solo dari atas.

Untuk berenang di area Kolam Renang Alana, harganya Rp. 75.000 untuk dewasa sedangkan untuk anak-anak Rp. 50.000. Kalau punya kartu kids club bisa gratis.

2. Sehat dengan Ngegym di area fitnes center Alana

fitness centerAlana Solo

Sebagai Hotel Solo bintang 4, tak heran kalau Hotel Alana Solo memiliki fasilitas tempat ngegym. Alat-alat fitnes yang tersedia pun cukup komplit. Lokasi untuk fitnes di Alana Solo berada di dekat area kolam renang Hotel. Untuk biaya fitnes di Alana, untuk sekali kunjungan Rp. 75.000 sedangkan untuk biaya member sekitar Rp. 400.000.

3. Pilihan Tempat Meeting Di Solo Yang Beragam


Hotel Alana Solo memiliki cukup banyak pilihan tempat meeting. Salah satunya adalah Aquamarine Meeting Room. Sebuah tempat meeting yang cukup nyaman yang berada tak jauh dari Kolam Renang Hotel Alana.

Selain aquamarine, di Alana juga ada ruang Arcadia untuk tempat meeting yang memiliki kapasitas tamu bahkan hingga 1000 orang. Ada juga beberapa ruang seminar hotel dengan kapasitas yang lebih kecil. Yang pasti, banyak pilihannya. 



4. Rilex di Rosemary Spa


Hotel Alana Solo memiliki area untuk santai yang bener-bener nyaman, yakni di Rosemary Spa. Ruangan Spanya ketika saya mengintip kemarin terlihat sangat nyaman dengan nuansa tradisional. Saat datang kemari, sejatinya saya pengen merebahkan diri di kasur spanya dan langsung pijet. Kuy, sepertinya enak banget.

5. Si Kecil Nyaman di Area Kids Club


Nah, seandainya ingin berenang, fitnez, spa atau makan di area pool barnya, tapi bingung lantaran bawa anak kecil, Hotel Alana Solo menyediakan area Kids Club. Satu sudut berisi aneka rupa mainan anak-anak. Jadi orang tua bisa bersantai, dan si anak-anak juga bisa happy bermain-main di area kids clubnya.

6. Cinnamon Restaurant


Hotel Alana Solo memiliki restaurant yang menyajikan beraneka rupa menu makanan yang dijamin enak-enak. Beragam promo disajikan di Cinnamon Restaurant dengan harga yang variatif dan yang penting lezat.

Asyiknya, Hotel Alana memiliki beragam program di restoran ini. Seperti program Mas Dilan 89. Yang mana Mas Dilan 89 ini merupakan singkatan dari Makan siang di Alana, sedangkan 89 merupakan harga menu all you can eat yang disediakan yakni Rp. 89.000. Dan hebatnya ini termasuk menu kambing guling yang disediakan. Jadi para penggemar kambing, bakalan bahagia kalau berada di sini.

Nah itu tadi, beberapa fasilitas yang ada di Hotel Alana Solo. Fasilitas komplit untuk hotel yang berlokasi di dekat bandara. Nah, kalau nantinya mau menginap di Alana Solo, bisa cobain main ke tempat wisata dekat hotel Alana Solo, yakni di PG. Colomadu

Thursday, March 28, 2019

Alana Hotel, Rekomendasi Tempat Meeting Di Kota Solo

Tempat meeting di Solo ada cukup banyak. Namun kali ini saya ingin membahas salah satu tempat meeting yang dimiliki salah satu hotel di kota Solo, Alana Hotel.

Aquamarine Pool & Bar


Kali pertama saya datang ke Hotel Alana Solo adalah saat saya mengikuti salah satu acara yang diadakan oleh KEB Solo bertajuk Grooming Your Personality dimana ketika itu kami menggunakan salah satu tempat meetingnya yakni di ruang Aquamarine Meeting Room.

Tempat meeting di Aquamarine ini lokasinya dekat dengan kolam renang Hotel Alana Solo. Berada di lantai dua, dengan kelebihan view pemandangan luar yang bisa kita intip dari jendela.

Acara KEB ini membahas “bagaimana kita agar tak ketinggalan dalam urusan fashion, tapi tanpa kehilangan jati diri kita”. Sebuah materi yang bisa dibilang penting. Karena bagaimanapun pepatah Jawa yang berujar, bahwa Ajining sliro kui jalaran soko busono memang sangat berlaku di kehidupan masyarakat.



Selain tentang fashion, saya juga mendapat materi mengenai bagaimana cara ‘macak’ yang benar dengan dipandu oleh seorang MUA terkenal, Mbak @deecintahhh. Dandan dan fashion, sepertinya adalah sebuah dunia yang sangat jauh dari saya biarpun saya seorang perempuan. Kebiasaan saya yang sangat menyukai hal-hal simple membuat saya sangat minim pengetahuan tentang ini. Jadi kemarin saya memutuskan untuk datang saja, mencari ilmu tentang dunia perempuan ‘yang seharusnya’. Biar saya sedikit lebih pintar lah, setidaknya ntar kalau dandan sudah punya ‘nilai pahala’, saya nggak zonk-zonk amat dan kelabakan nyari ilmunya.

Selama berjam-jam mengikuti acara saya mendapat suntikan beberapa energi positif dari pemateri. Mungkin lantaran materinya cukup masuk. Bahasa yang disampaikan cukup mudah dipahami, sekaligus sound ketika acara cukup nyaman di telinga. Hal yang mungkin kerap dipandang sepele oleh banyak orang, bahwasanya urusan sound dalam sebuah workshop itu sangat berpengaruh kepada nyantholnya materi di kepala. Sound sistem di ruang meeting Hotel Alana Solo kemarin cukup jernih, jadi bagi saya yang cukup peka dengan suara, ngerasa enjoy saat menyimak materi.

Aquamarine Meeting Room kalau diberi meja persegi

Aquamarine pas acara KEB kemarin

Berjam-jam menuntut ilmu saya sampai tak terasa dengan waktu yang berlalu. Tempat meeting di Solo yang dimiliki oleh Hotel Alana sepertinya memang dikonsep agar siapapun merasa betah di dalamnya. Ruangan yang tentunya ber AC, dengan meja kami yang saat itu ditata dengan terdiri dari beberapa meja bundar cukup nyaman untuk kami yang hadir dengan jumlah hadirin sekitar 75 orang.
Rehat dari seminar, kami menikmati coffe break yang disediakan. Tempat meeting di Solo jamak menghadirkan aneka rupa pilihan menu makanan. Pun dengan ruangan meeting di Hotel Alana Solo

Pas hadir di acara kemarin, saya juga mencicip menu-menu coffe breaknnya. Kuy, saya nyobain kuenya yang super lembut. Duhh, saya nggak tahu namanya apa. Tapi memang, Hotel Alana Solo cukup terkenal dengan menu-menu makanannya yang enak-enak.

Lantaran ruang Aquamarine Meeting Room Hotel Alana Solo adalah tempat meeting di Solo yang memiliki lokasi dekat dengan kolam renang, jadinya bisa sekalian melipir sebentar ke area kolam renang rooftopnya. Biar bisa refreshing sejenak usai kepala dijejali dengan materi.

Kolam renang Hotel Alana Solo memiliki tiga tipe kolam renang. Yakni kolam renang dewasa, anak-anak, dan kolam renang air hangat untuk berendam. Saya rasa Aquamarine Meeting Room milik Hotel Alana Solo merupakan tempat meeting di Solo yang nantinya bakal saya rekomendasikan ke banyak orang apalagi kalau nantinya meeting yang akan diadakan agak sedikit berat. Lokasi yang dekat dengan kolam renang gini kan bisa membuat rilex, yeahh, memandang jernihnya air saya pikir bisa merenggangkan saraf-saraf yang kaku ketika materi agak berat. Apalagi, ruang meetingnya sangat dekat dengan fasilitas kebutuhan jutaan umat aka kamar mandi.

Sebagai salah satu penyedia tempat meeting di Solo, Hotel Alana menawarkan beberapa pilihan tempat workshop dengan beragam kapasitas muatan yang ditawarkan. Saya rasa sangat cocok untuk beragam pilihan acara, termasuk acara seperti wedding party.

Ragam Pilihan Tempat Meeting Hotel Alana

Selain Aquamarine, Hotel Alana Solo, memiliki ruangan berjuluk Arcadia. Berupa ruangan ballroom yang mampu memuat sampai 1000 orang. Ruangan yang cocok digunakan untuk acara besar seperti acara pernikahan atau mungkin seminar berskala besar.

Arcadia

Arcadia Ballroom


Ruang Arcadia ini dilengkapi pula dengan ruang makeup. Sehingga jika ingin menikah di sini, pengantin yang butuh berdandan, tak perlu bingung-bingung mencari tempat dandannya nanti, lantaran lokasinya sangat dekat dengan ruang resepsinya.

Tempat menikah di Solo? Saya rasa, Alana Hotel pilihan tepat

Sebagai pilihan tempat seminar maupun tempat menikah di Solo saya rasa Arcadia cukup bisa masuk pertimbangan lantaran ia memiliki fasilitas ibadah, yakni mushola yang lokasinya berada satu lantai dan sangat dekat dengan ruang meeting. Pun musholanya memiliki sekat antara laki-laki dan perempuan, jadi lebih nyaman lah.

Kapasitas tempat meeting di Solo milik Arcadia Room ini juga bisa dipesan sesuai kebutuhan. Ruangan yang muat sampai lebih seribu orang ini, sejatinya merupakan tiga ruangan yang sekatnya bisa dibuka tutup menyesuaikan kebutuhan.

Arcadia bisa terbagi 3 ruang. Arcadia 1 memiliki ukuran sekitar 372 m2 yang muat sampai 600 orang. Arcadia 2 dan 3 memiliki ukuran masing-masing 186 m2 yang muat sampai 300 orang.

Board Room



Selain Arcadia, masih ada tempat meeting lain dengan kapasitas yang lebih kecil. Seperti Emerald Room, Safine Room, Opal Room, Crystal Room, atau Topaz Room. Dengan aneka rupa pilihan inilah rasanya tidak salah kalau saya kemudian merekomendasikan Hotel Alana sebagai pilihan tempat meeting di Solo.

Apalagi mengingat bahwa Hotel Alana Solo berada di lokasi strategis. Lokasinya yang berada di Jalan Adi Sucipto, membuatnya sangat mudah dijangkau jika dari bandara.

Hotel Alana Solo
Adi Sucipto, Blukukan, Blulukan, Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah 57174
Telepon:(0271) 7451555
Web: https://www.alanahotels.com

Sunday, March 17, 2019

Bertandang Ke Saloka Park, Wahana Wisata Baru Terbesar di Jawa Tengah

Beberapa waktu belakangan, saya cukup tergiur dengan wara-wiri gambar Kincir angin di Saloka Park yang bertebaran di lini masa instagram. Kincir anginnya kelihatan asyik, dan membuat saya berimajinasi, itu kincir mirip dengan kincir angin di drama-drama Korea. Tutupnya seperti kaca, hanya separo, dan sepertinya tempatnya sweet gitu kayak di drama.

Halah.

Yeahh, saya mungkin memang terlalu banyak nonton drama. Tapi, nyatanya Saloka Park adalah lokasi wisata baru di Semarang yang akan mengantar siapapun serasa memasuki negri dongeng, jadi tentunya sah-sah saja kalau kemudian saya jadi berimajinasi. Haha.

Dulu saya pernah membatin, wisata Jawa Tengah, kapan ya punya wahana wisata macam Dufan maupun Trans Studio? Pertanyaan saya terjawab sudah. Sekitar bulan Desember 2018 lalu, Saloka Park yang kini merupakan wahana wisata keluarga terbesar di Jawa Tengah resmi dibuka. 

Itu berarti provinsi saya nggak kalah sama provinsi-provinsi lain sekarang, asiikk.

Mengenal Saloka Park Trans Studionya Jawa Tengah

View Saloka Park dari atas Cakrawala
(docpri)

Nama Saloka Park awalnya buat saya terdengar aneh di telinga. Saya kira, nama Saloka ada sangkut pautnya dengan Salatiga, lantaran huruf depannya mengandung huruf S-A-L dan memang lokasi wisata Saloka Park berada di dekat kota Salatiga. Namun rupanya bukan karena itu.

Menurut penuturan pihak marketing Saloka Park, kata Saloka diambil dari nama ayah Baru Klinting yakni Ki Hajar Salokantara.

Ingatan saya langsung berputar tentang buku dongeng “Dancow” yang pernah saya baca jaman saya masih kecil. Legenda Baru Klinting kan dongeng dari Jawa Tengah tentang asal mula terjadinya Rawa Pening?

Dari penjelasan pihak marketing, memang Saloka Park berusaha untuk tidak melupakan unsur budaya lokal. Karena itulah nama Saloka dipilih lantaran lokasi Rawa Pening sangat dekat dengan Saloka Park, dan darisini viewnya memang terlihat jelas.

Ragam Wahana di Saloka Park

Cakrawala aka kincir angin Taman Saloka

Ada sejumlah 25 permainan di Saloka Park. Tiap-tiap wahana permainan ini memiliki nama khas Saloka. Sebagai contoh, kincir angin, namanya di sini cakrawala, seolah menggambarkan dengan naik kincir angin Saloka setinggi 33 meter kita bisa lebih luas melihat cakrawala. Setidaknya menonton Rawa Pening dan deretan 5 gunung yang seolah memagari tempat wisata baru di Semarang ini jadi lebih jelas.

Ada juga lika-liku, roller coasternya Saloka. Kereta yang akan melaju dengan cepat ini lumayan membuat saya deg-degan lantaran kecepatannya berpadu dengan rel keretanya yang berlika-liku. Terus ada lagi, Adu Nyali, wahana wisata yang menguji nyali lantaran pengunjung dibawa deg-degan saat memasuki ruangan yang isinya ‘para hantu’. Yeahh, saya dan beberapa rekan blogger lumayan senam jantung kemarin masuk ke rumah hantunya Saloka.

Rumah Hantu aka Adu Nyali
(docpri)



Lika liku Saloka
(docpri)

Masih buanyak permainan di Saloka Park yang tentunya bakal memenuhi postingan saya kalau saya tulis semua. Saran saya, kalau penasaran segera saja datangi tempat wisata di Semarang ini untuk membuktikan sendiri bahwa lokasi ini memang merupakan wahana wisata terbesar di Jawa Tengah.

Docpri
Docpri



Docpri


(docpri)

Tiket Masuk Saloka Park Semarang


Dibandingkan tiket masuk ke lokasi-lokasi permainan di provinsi-provinsi lain menurut saya memasuki Saloka Park tidaklah mahal. Guna menikmati ke 25 wahana permainannya, pengunjung hanya perlu membayar Rp. 120.000 di hari senin-jumat (weekday) dan Rp. 150.000 untuk Sabtu-Minggu (weekend).

Jam buka di Saloka Park pun cukup panjang. Saat weekday wisata Semarang ini buka dari pukul 10.00-18.00 sedangkan ketika weekend buka dari pukul 10.00-20.00.

Untuk wahana wisata Saloka Park, beberapa dibatasi berdasarkan usia dan berat badan. Seperti kalau ingin naik Paku Bumi tinggi minimal 120 cm berat max 80 kg dan untuk anak-anak harus didampingi. Atau untuk wahana ‘Bengak-bengok’ tinggi min 120 cm berat max 75 kg dan anak-anak harus didampingi.

Asiknya lagi kalau masuk Saloka Theme Park, untuk batasan usia anak-anak berlaku saat pembelian tiket. Anak-anak berusia kurang dari 2 tahun harga tiket tidak dihitung. Jadi lumayan ngirit kalau misal kemari bawa bayi.

Icip-icip Kuliner di Saloka Park

Andaikan kelaparan usai menjajal seluruh permainan di Saloka Park, tak perlu khawatir lantaran di Saloka tersedia cafe yang menjajakan aneka makanan dan minuman lezat. Ujar temen-temen sih, kopi di Saloka Park rasanya juara, sayang kemarin saya lagi tak berani minum kopi karena alasan kesehatan. Saya kemarin hanya nyoba beli es krimnya yang harganya Cuma Rp. 10.000 secontong. Asli uenak.

Pun kala kelaparan, food truck di dalam jualan Burger yang dagingnya ukurannya mantap dan rasanya joss. Biasanya saya itu nggak doyan burger, kemarin itu beda. Burgernya enak euy, mungkin lantaran dagingnya katanya merupakan daging asli import dari Australia.

Burger Saloka Park
(image from: Anggara W. Prasetya)

Kentang Jepang Rasa Coklat & BBQ
(Image from: Anggara W. Prasetya)


Selain nyobain burger, saya kemarin juga ngicipin kentang goreng Jepang yang super panjang. Camilan yang lumayan bikin kenyang. Rasanya pun mantap, kemarin sempat mencoba 3 varian rasa yakni BBQ, Coklat dan Keju. Enak semua, terutama yang varian rasa BBQ, rasanya pas di lidah.

Bagaimana Menuju Saloka Park?


Lokasi Saloka Park ini strategis. Dari Solo, lokasinya sangat mudah dicapai. Hanya tinggal mengikuti jalan utama Solo-Semarang nanti di kiri jalan wisata Saloka akan langsung terlihat.


Saloka Park

Jl. Fatmawati No.154, Gumuksari, Lopait, Tuntang, Semarang, Jawa Tengah 50773