Sunday, April 15, 2018

Ragam Karya Seni Museum Tumurun Solo

Tak ada papan nama yang menyebut bahwa tempat yang akan saya datangi kemarin adalah Museum.

Memarkir kendaraan di Gor Sritex, saya dan seorang kawan hanya diberitahu, bahwasanya untuk menuju Museum Tumurun kami harus berjalan lurus, dan berhenti saja di kiri jalan di tempat bangunan yang depannya sedang dijaga oleh satpam.

Bangunan itu dari luar tak nampak sama sekali sebagai Museum. Yeah, mungkin lantaran kepala saya sudah termindset bahwa Museum seharusnya bagian luarnya memiliki sisi spesifik, entah dari gaya klasiknya, atau keunikan-keunikan lainnya. Bangunan Museum Tumurun biasa saja dari luar. Hanya saja, ketika saya masuk, pekikan kalimat “wow” langsung meluncur secara otomatis. 

Bagian transit tamu museum berupa bangunan yang dilengkapi meja kursi modern untuk bersantai dengan beragam interior kekinian yang berkesan “wah”. Itu baru bagian ruang transitnya. Memasuki ruang pameran beragam benda karya seni yang tentunya berharga mahal dipamerkan kepada pengunjung

museum tumurun

Monday, April 09, 2018

Airy Rooms, Solusi Cerdas Cari Hotel Murah Tanpa Murahan

Saya sebenarnya sedikit kerepotan kalau ada temen yang meminta mencarikan hotel dengan harga murah. Pasalnya, saya harus survey dulu. datengin hotelnya satu-satu buat memastikan bahwa biarpun hotel itu murah tapi memang beneran layak dan nyaman.

Memesan hotel low budget fasilitas yang didapat seringnya ikutan low. Karna itu, saya bela-belain survey lokasi dulu. Namun sejak saya menjajal menggunakan hotel Airy Rooms, rasanya ke depan kalau ada kawan atau saudara minta tolong dicarikan hotel berbudget rendah, saya sudah tidak perlu repot lagi.

Tinggal saya rekomendasikan saja mereka mendownload dan menggunakan aplikasi Airy Rooms. Pun saya, kalau pas traveling kemalaman di jalan, saya tinggal buka saja aplikasi Airy Rooms. Karena dengan Airy Rooms, #KapanAjaBisa menginap dengan nyaman.

Awalnya saya sempat mengira, Airy Rooms mirip dengan aplikasi-aplikasi pemesanan hotel pada umumnya, yangmana ia bertindak semacam “sebagai makelar”. Tapi ternyata, Airy Rooms berbeda.

"Airy Rooms bertindak bagaikan seorang teman, yang menyambut kedatangan sobat kentalnya dengan sebaik mungkin. "

Kalau sahabat baik nih, ketika sahabatnya datang dari jauh dan akan menginap, pastinya akan menyiapkan segalanya se-oke mungkin. Kamar yang oke, serta hal-hal lain yang kiranya diperlukan si sahabat ketika nanti tiba. Pokoknya nggak ingin bikin kecewa lah.

Nah, jadi sikap si Airy ini mirip-mirip seperti itu. 

Buat yang belum ngeh bagaimana cara kerja Airy Rooms kira-kira seperti ini:

Airy Rooms bukan sekedar jadi makelar yang menghubungkan pemilik hotel dengan calon customer. Tapi seperti yang saya bilang tadi “seperti sahabat yang menyambut kedatangan sahabat baiknya yang akan menginap”.

airy room kartun
edit by me

Monday, April 02, 2018

Selow di Masjid Fatimah Solo

Bila hati gelisah,
Tak tenang tak tentram..
Bila hatimu goyah,
Terluka merana..
Jauhkah hati ini, dari Tuhan, dari Allah?
Hilangkah dalam hati, dzikirku, imanku?
….

****

Allah Maha Mendengar, dimanapun kita berdoa. Ya, saya tidak meragukan itu. Akan tetapi kala kita ingin berlari, kita ingin mengadu, adakalanya tempat-tempat tertentu membawa kita pada suasana yang lebih. Kekhusyukan yang lebih kuat, kedekatan yang lebih akrab, rasanya lebih bisa kita dapat saat bermunajat di sana.

Hujan baru saja usai, meskipun sisa-sisa gerimis masih turun pelan. Beberapa hari lalu, untuk pertama kalinya di tahun 2018 saya mendatangi lagi Masjid Fatimah Solo.

masjid fatimah solo


Jika kamu bertanya kepada warga Solo, nama Masjid Fatimah tentu sudah tak asing lagi. Beberapa orang bahkan menamai masjid ini sebagai masjid pengantin. Bukan berarti kalau datang ke sini bakalan cepet jadi pengantin. Disebut demikian, lantaran Masjid Fatimah kerap dijadikan tempat ijab pasangan pengantin sekaligus mereka melangsungkan acara pernikahan.

Bagi saya pribadi, Masjid Fatimah adalah tempat paling tenang untuk berlari saat ingin mengadu padaNya lantaran ada yang mengganggu dalam benak dan ketika ketenangan hati tergerogoti seperti akhir-akhir ini.

Entah kenapa, saat menginjakkan kaki di Masjid Fatimah, saya merasai seperti sedang berada di Istiqlal. Suasananya lebih tenang, dingin, damai. Yeah, bagi saya Masjid Fatimah adalah Isqiqlalnya Solo.


“Dulu, aku pernah punya mimpi, suatu hari kalau aku menikah, aku ingin menikah di masjid ini,” ucapan seorang teman sekitar dua tahun lalu tiba-tiba berputar.

Masih terngiang di benak saya, sekitar  dua tahun lalu, seorang kawan baik nyaris menangis di tempat duduk Masjid Fatimah dimana orang-orang melepas alas kakinya.

Saya bisa merasakan sesak dan perih mendengar ucapannya.

“Masih belum terlambat. Siapa tahu, sudah ada laki-laki yang jauh lebih baik yang menunggumu di masa depan yang menerimamu apa adanya, yang akan mengajakmu menikah di tempat ini. Ayo solat sik wae, terus ndongo,” hibur saya berusaha menghindarkannya supaya tidak benar-benar menangis di sana.

Usai wudhu, teman saya berusaha tersenyum. Saya bergegas mendahuluinya. Melihatnya terlalu lama hanya akan ikut membuat saya berurai air mata. Padahal teman saya butuh dikuatkan bukan diyakinkan bahwa  perasaan saya ikut tercabik prihatin dengan kehidupannya yang berantakan.

Dosaku akehh,” ucapnya.

Wes gek ndongo,”ujar saya tanpa banyak berkata-kata. 

Beberapa bulan sebelumnya, saya sudah terlalu panjang lebar bicara banyak padanya saat ia membuat sebuah pengakuan mengejutkan. Saya sempat membodoh-bodohkannya dulu dan ia hanya tertunduk mengiyakan bahwa ucapan saya benar.

Saya merasa bersalah pernah berkata demikian. Karna dukungan moril dari orang-orang terdekatnya adalah satu-satunya hal yang ia butuhkan kini.

“Orang tua itu yang paling dikhawatirkan terhadap anak perempuannya bukan tentang ‘jadi apa anaknya nanti!’ yang paling dikhawatirkan mereka adalah ‘siapa laki-laki yang akan jadi pendamping anaknya’. Karena mereka bakalan lega, kalau melihat pengganti mereka dalam menjaga putrinya adalah laki-laki yang memang baik dan mampu membahagiakan”
Dulu saat mendapat nasihat demikian dari seorang senior di tempat kerja, saya belum bisa menerima nasihat itu. Ego masa muda yang masih besar dulu membuat saya begitu angkuh menerima kenyataan bahwa perempuan memang membutuhkan laki-laki untuk lebih tegak berdiri. Laki-laki baik yang bisa menuntunya ke jalan yang lebih baik.

Beriringnya waktu, sedikit banyak saya sadar, ucapan senior saya benar. Kisah kawan saya ini yang paling banyak menyadarkan saya.

Kawan saya adalah sosok perempuan baik-baik. Hanya pernah dua kali jatuh hati. Yang pertama hanyalah cinta monyet, sementara yang kedua adalah sebuah cinta yang salah yang menggiringnya pada kehidupan yang “entah”.

Laki-laki yang  menjadi ayah anaknya adalah laki-laki beristri, pembohong tak bertanggung jawab yang seolah datang untuk menaklukkan kemudian setelah kawan saya takluk ia pergi.

“Apa dia nggak punya ibu? Apa dia nggak punya adik perempuan?  Apa dia nggak bisa membayangkan bagaimana kalau hal semacam ini terjadi pada perempuan-perempuan dalam keluarganya?” seorang sahabat lain pernah uring-uringan gara-gara masalah ini. 

Laki-laki itu punya Ibu dan ia juga punya adik perempuan, tapi ia tak cukup punya akidah yang baik memperlakukan perempuan.

Masalah yang terjadi terlalu complicated lantaran dibiarkan terlalu lama saat kami semua tahu kebenaran. Jangankan kami, keluarga teman saya sendiri sudah tak tahu lagi harus berbuat apa. Pada akhirnya kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya serta menyemangatinya kala ia merasa putus asa.



Kursi dan meja ijab ditata di bagian tengah masjid saat saya datang kemarin. Saya mengedarkan pandang membaca suasana. Hanya ada beberapa orang yang tampaknya memang datang untuk tujuan solat. Saya menghela nafas, rupanya saya datang saat ijab sudah selesai. Hanya bersisa meja kursi yang belum dikembalikan pada tempatnya.

masjid solo fatimah
Add caption

Dulu beberapa kali saya mampir kemari, beberapa kali pula kedatangan saya bertepatan dengan acara Ijab Qabul hendak dilangsungkan. Biasanya, usai solat, meskipun saya tidak kenal dengan pengantin, saya menunggu sampai Ijab Qobul dimulai dan menyaksikannya sampai selesai. Tenang saja, bukan untuk mendapat snack. Saya hanya meyakini bahwa salah satu waktu paling mustajab untuk berdoa adalah saat Ijab Qobul terjadi. 

Lagipula, asik juga menjadi saksi cinta sepasang pasangan. Saya pernah menemui pasangan pengantin berbeda daerah. Satu minang, satu Jawa Barat. Namun uniknya mereka menikah di Solo karena di kota inilah mereka bertemu. Saya jadi bisa melihat pakaian topi khas Minang yang dipakai pihak perempuan. Saya sampai terheran-heran dengan keglamouran aksesoris pernikahannya waktu itu.


“Laki-laki yang tahu agama, Insya Allah jika ia khiaf ia tak akan menyakiti perempuan terlalu dalam. Laki-laki yang tau agama saja bisa khilaf, apalagi kalau ia tak mengerti agama,” kali ini ucapan ayah saya  terngiang kembali. Nasihat klise namun memang cukup masuk akal. 

Huhhh, Yahh, anakmu saja agamanya masih biasa-biasa aja. Batin saya dalam hati. Tapi saya mengaminkan saja kala kemudian ia mendoakan saya demikian.

Jam lonceng di Masjid Fatimah terus berdetak. Melipat kembali mukena, dan pandangan tertumbuk lagi pada meja kursi tempat ijab, membuat saya teringat dengan teman saya lagi. Yaa semoga, Allah benar-benar memberinya kesempatan sekali lagi untuk teman saya menikah di Masjid Fatimah suatu hari dengan laki-laki yang benar-benar bisa membahagiakannya dan menerimanya.

Keluar dari Masjid yang dibangun oleh juragan batik Danar Hadi ini, hujan rupanya deras kembali. Malas mengeluarkan mantol saya lebih memilih langsung memacu motor, menerjang hujan menuju Wonogiri



Thursday, March 29, 2018

Taman Satwa Taru Jurug (Solo Zoo) Riwayatmu Nanti

Hidup ini memunguti waktu, mengumpulkannya satu persatu dalam sebuah keranjang yang kita sebut dengan kenangan.

***

Sekian tahun yang lalu tepatnya November 2015 seorang sahabat baik menemani saya mendatangi Satwa Taru Jurug atau yang kini lebih dikenalkan dengan nama Solo Zoo. Berawal dari cerita saya yang seumur hidup belum pernah main ke Jurug padahal sudah bertahun-tahun mengadu nasib di Solo, ia lantas menawarkan diri menemani saya berkunjung ke sana. 

Taman Satwa Taru Jurug adalah sebuah kebun binatang di Solo yang dibangun sejak tahun 1878. Lokasi ini cukup terkenal di kalangan warga Solo dan sekitarnya, salah satunya karena kebun binatang ini merupakan kebun binatang satu-satunya di Solo dan merupakan kebun binatang terbesar di wilayah Surakarta.

Foto diambil November 2015

Tuesday, March 27, 2018

Watu Cenik Wonogiri, Spot Selfie Balon Udara Yang Instagramable

Kalau saja saya berani memacu motor melawan ketinggian, mungkin nyaris setiap hari saya mendatangi kawasan desa wisata Sendang Pinilih Wonogiri. Membuang pandang melihat luas bentangan alam dari ketinggian, bagi saya adalah hal yang bisa membuat pikiran tenang. Belum sepoi angin yang berhembus, sejuk membius. Mematikan saraf-saraf kepenatan, menerbangkannya jauh,  menggantikannya dengan buai-buai euforia yang selalu berhasil membuat saya merasa bersemangat lagi melalui hari.

Tapi yahhh, mengendarai motor menerjang ketinggian adalah salah satu ketakutan yang sampai detik ini belum bisa saya lampaui. Jangankan mengendarai motor sampai kawasan Desa Wisata Sendang (Watu Cenik, Bukit Joglo maupun Soko Gunung) melewati tanjakan dekat rumah saja saya masih sering keder. Jadi kalau mau ke tempat-tempat itu, saya pasti nunggu momen sampai ada yang bisa diajak ke sana.

Senja Di Watu Cenik

Beberapa waktu lalu, setelah sekian purnama terlampaui akhirnya saya kembali lagi menjamah desa wisata Sendang. Dan yang menjadi jujugan kali ini, adalah Watu Cenik.

Jaman dahulu, Watu Cenik lebih sering disebut dengan Bukit Susu ataupun Gantole 1 atau juga Bukit Prampelan. Tapi entah sejak kapan namanya menjadi watu Cenik.

Daya lebih Watu Cenik terletak pada viewnya berlatar Waduk Gajah Mungkur. Lihat saja, bagaimana perairan Waduk Gajah Mungkur terlihat luas dan barisan karamba yang terapung terlihat seperti barisan semut-semut kecil

watu cenik wonogiri

Kala Sore menjelang Watu Cenik makin memukau dengan semburat jingganya yang bersih. Sisi romantis langit Wonogiri tampil dari sini. Memancing decak pukau, siapapun yang menikmatinya kala senja mulai kentara

Tuesday, March 20, 2018

Menyapa Suku Samin, Cara Lain Melihat Blora

“Lari Dari Blora”, mungkin bagi banyak orang judul film ini terdengar asing di telinga. Pun dengan saya pada awalnya. 

Sedikit tidak paham pada mulanya, kenapa judulnya Lari dari Blora? Namun usai menonton film ini rupanya film Lari Dari Blora menceritakan tentang 2 orang buronan yang lari dari penjara Blora ke wilayah Suku Samin dengan alasan Suku Samin bebas dari aturan hukum.

Kenapa mesti mencuri?
Wong diminta saja diberikan kok
Kenapa mesti berlari?
Toh tidak akan dikejar

Kata-kata tersebut merupakan penggalan ucapan WS Rendra yang berperan sebagai tetua adat Suku Samin yang sedang mengingatkan para pencuri yang hendak mengambil pisang.

Meski menonjolkan beberapa kata-kata bijak suku Samin, dan menunjukkan bahwa di Jawa Tengah masih ada masyarakat yang begitu polosnya, namun di sisi lain, film ini sejatinya mengingatkan tentang apa saja yang bisa terjadi jika sebuah tempat, hidup tanpa adanya aturan hukum.

Seperti sebuah kondisi dimana Suku Samin menjadi tempat jujugan larinya penjahat, juga adanya “penggampangan” pada perempuan. Diceritakan dalam film tersebut orang dari luar desa menyukai berpacaran dengan perempuan Suku Samin karena Suku Samin tidak memiliki aturan pernikahan yang jelas. Sehingga cenderung mudah melakukan free sex dengan perempuan di sana.

Sebenarnya saya menyanyangkan, kenapa saya harus menemukan film ini usai kunjungan saya dari Suku Samin? Ada banyak pertanyaan mengendap di benak usai menonton film tersebut. Namun ya sudahlah. Lain kali saja jika ada kesempatan lagi saya berkunjung ke sana.

Mengunjungi Suku Samin Blora

samin blora sambong
Masyarakat Samin memukul lesung

Awal mendengar nama Suku Samin adalah dari cerita Ibu yang mengatakan bahwa sepupu jauh saya pernah mendapat penghargaan karena meneliti tentang Suku Samin. Kala itu saya hanya ber O saja. Dulu saya tidak begitu tertarik dengan hal-hal semacam ini. 

Sunday, March 11, 2018

Sebuah Mimpi: Itenary Singkat Solo-Raja Ampat

Kalau memang mempunyai mimpi pergi ke suatu tempat, kenapa kamu tidak lebih dulu mencicil mimpimu dengan membuat itenary?

***

Yeahh, catatan itenary ke Raja Ampat ini saya buat karena sebagai seorang yang biasa-biasa saja, saya memiliki mimpi sedikit mengada-ada bagi beberapa orang di sekitar saya. Mimpi itu adalah menapakan kaki di berbagai negara, serta mimpi untuk berkeliling dari Sabang hingga Merauke. Aihhh…

Indahnya View Raja Ampat
via liburmulu.com

Dan hari ini saya ingin membuat sebuah itenary menuju Raja Ampat. Tempat yang rasanya siapapun ingin mengunjunginya. Termasuk saya.

Monday, March 05, 2018

Ayam Geprek Mbah So, Rekomendasi Tempat Makan Enak Di Solo

ayam geprek solo
Menu Geprek Lada Hitam di Ayam Geprek Mbah So
docpri

“Kenapa ya warung geprek itu dimana-mana selalu laris? Padahal cuma ayam tepung sama sambal aja kan? Siapa aja bisa bikin kayak gini” tanya seorang teman suatu hari. Saya juga membatin sepakat. Tapi biarpun gitu, ketika cari makan, menu geprekan kerap kali tetap jadi pilihan saya.

Sunday, March 04, 2018

Balada Pejalan Bokek: Traveling Irit Ke Pulau Merak Tak Sampai 50 ribu? Mau?

Sudah lama kami punya rencana buat main bareng ke Pulau Seribu, jadi pikiran saya liburan kemarin itu, momen yang pas. Tapi ternyata setelah hitung-menghitung isi dompet dan ngeliat sederet anggaran kebutuhan selama sebulan ke depan, kami sadar: main ke Pulau Seribu sama saja memaksa mesin ATM buat jebol. Kuy, kami sedang miskin-miskinnya kemarin, dompet nggak memungkinkan banget buat kesana. Jadi mau gak mau, kami pasrah buat menunda lagi main bareng ke Pulau Seribu.

Wednesday, February 28, 2018

Balada Pejalan Bokek: Bermalam di Bakauheni Lampung

Travel - Usai dari Pulau Merak kami sempat bingung mau travelling Bakauheni atau tidak. Berhubung ke Pulau Merak cukup irit, kami akhirnya memutuskan untuk lanjut saja nyebrang ke Bakauheni 

Informasi mengenai kami bisa menyebrang ke Bakauheni ini kami dapat dari itenary tambahan Antin. Dia sempat tanya mau nyebrang ke Bakauheni sekalian atau tidak. Saya iyakan aja kalau memang deket.

Kesalahan kami adalah membiarkan kebiasaan kami tidak browsing terlalu banyak saat akan pergi ke suatu tempat. Biar ada kejutannya gitu maksudnya. Biasanya selain mencari info kendaraan dan biaya perjalanan, plus sekilas wujud objek yang akan saya kunjungi di pencarian gambar, saya tidak mencari detil info lain-lain.

Dan karena merasa itenary Antin sudah cukup jelas, plus semula Antin berencana ikut meskipun akhirnya nggak jadi, saya makin malas browsing dan malah santai-santai saja. Saya hanya sekedar mencari tau tentang Pulau Merak, sedangkan Bakauheni sendiri saya abaikan. Sama sekali saya tidak mencari tahu Bakauheni itu apa

Salah Paham Di Bakauheni

Hal paling parah yang terjadi adalah bisa-bisanya kami bertiga tidak tau kalau ternyata Bakauheni adalah Lampung. Alamak, digeguyu pitik kalau kata budhe saya. Ngisin-isini.

Jadi sepanjang perjalanan, pikiran kami Bakauheni itu adalah Pulau. Pulau kecil antara Jawa dan Sumatra. Pulau kecil macem Pulau Merak. Pulau kecil yang bisa sebentar saja kami singgahi, serta pulau yang saya pikir masih masuk wilayah Pulau Jawa.

Pembicaraan dengan orang-orang yang kami temui pun menjadi aneh. Yang sebetulnya sudah saya rasakan sejak bertanya kepada petugas loket.

“Mbak, nanti kalau di Bakauheni, beli tiket kapal dari Bakauheni ke Lampung berapa ya?” tanya saya iseng usai membayar tiket kapal Pelabuhan Merak-Bakauheni. Petugas loket itu diam berpikir, seperti mencerna pertanyaan saya. Dari ekspresi diam sesaatnya ini saya sudah merasa aneh. Namun saya abaikan saat ia kemudian menjawab

“Ya sama Rp. 15.000,”

Huhuy, mungkin si Mbak loket ngira pertanyaan yang saya maksud adalah ongkos nyebrang balik Bakauheni-Merak.Gegara jawaban si Mbak loket tadi, kami merasa santai-santai saja saat rupanya memasuki kapal berati kami sedang bersiap OTW menuju Lampung.

duta lampung


Kapal Duta Banten sudah berdiri di ujung jalan layang pelabuhan Merak. Memasukinya, kami sempat terpukau, kapal Feri satu ini begitu resik. Fasilitas di kapal inipun lumayan komplit, mulai dari restaurant, ruang tunggu di dalam kapal yang berupa kursi-kursi kayu berjajar yang bersih tertata, mushola, ruang tunggu AC, pokoknya ini kapal feri menyenangkan utamanya karena kebersihannya

Kapal Feri yang akan membawa kami ke Bakauheni ini juga memanjakan kami yang gila memandang laut. Tepian kapal yang resik, dan kebetulan sepi menjadi sasaran kami menikmati senja dari atas kapal.



Kami mulai panik saat hari kian petang tapi kapal tak kunjung sampai. Karena masih mengira menuju Pulau kecil, jadi kami kira perjalanan bakal hanya sekitar setengah sampai satu jam. Kereta terakhir balik ke Rangkas padahal kurang dari pukul 20.00, sementara sampai menjelang Isya pun kapal kami tak kunjung mendarat di Bakauheni.

“Buk, Bakauheni itu ada penduduknya Buk?” tanya saya kepada seorang Ibu-ibu usai kami selesai sholat maghrib.

Ibu-ibu di depan kami mengernyit aneh, tapi kemudian tetap memberikan jawaban. “Ya ada mbak. Ada penduduknya. Ada rumah di sana, ada toko, ada pasar,” ujarnya.

Saya ngakak kalau ingat ini. Ealah Da, Da. hla wong Bakauheni itu bukan nama Pulau tapi nama kecamatan ya jelas saja ada penghuninya to ya!!

Kami megangguk-angguk saja saat itu. Dalam hati membatin, syukurlah, itu berarti aman kalaupun kami kemalaman.

Menginap Di Pelabuhan Bakauheni

Ruang Tunggu Bakauheni

“Kita mau nginep?” pertanyaan Erin ini menjadi pembahasan kami selanjutnya. Kepalang tanggung kalau harus nekat balik malam-malam nanti.

“Inget Woy, anggaran kita nggak masuk buat sewa penginapan,” saya mengingatkan. Kami bertiga lantas terbahak-bahak. Menertawakan kondisi kami yang payah. Kemaleman di atas kapal menuju tempat antah berantah tanpa persiapan, dan parahnya dengan dana yang mepet. Bahkan kami tak membawa charger sementara kondisi baterai HP kami bertiga nyaris kerontang.

“Buk, kalau menginap di pelabuhan Bakauheni itu, bisa ya Buk?” tanya saya mencoba mencari alternatif.

“Bisa, Mbak. Menginap saja di pelabuhan Bakauheni. Ada ruang tunggunya,” ujar si Ibu membuat kami lega.

Sekitar 2,5 jam perjalanan, kapal akhirnya berlabuh di Bakauheni. Ketika keluar kapal dan menyusuri jalan layang pelabuhan, kami berjalan bersisian dengan seorang pemuda yang mengaku akan pulang ke Lampung Timur.

“Mas, kalau mau ke Lampung, dari Bakauheni naik kapal berapa lama?" tanya kami iseng sekedar pengen tahu.

“Kapal apa? Nggak ada kapal buat ke Lampung. Adanya bus. Mau ke Lampung mana?” tanyanya. Saya, Nana dan Erin saling pandang. Bingung.

"Kita cuma mau jalan-jalan saja sih, Mas. Besuk paling pulang lagi naik kapal."

Mas-mas yang lumayan ganteng itu ber O ria kemudian pamit berlalu. Jawaban mas-mas tadi membuat kami berpikir keras. Kenapa jawabannya berbeda dengan jawaban petugas loket?

"Kayaknya kita salah, deh," Nana memelankan laju jalannya.

"Salah gimana?"

"Bakauheni itu bukannya memang pelabuhan di Lampung ya?" Nana mencoba mengingat-ingat sesuatu.

"Heee??Masak?"

"Ahhh iya, aku inget ibuku pernah cerita ke Lampung turun di Bakauheni terus dijemput temennya," Nana berkata heboh. "Kita udah di Lampung," ujarnya yakin.

Saya dan Erin berjalan sambil bengong dengan keyakinan Nana. Tapi tak butuh waktu lama untuk kami bertiga buat ngakak bareng di tengah keterkejutan dan kepanikan baru yang timbul akibat kami mengetahui bahwa kami sudah berada di luar Pulau Jawa.

Tiba-tiba kejanggalan sepanjang perjalanan pun terjawab. Mbak-mbak loket diam sebentar sebelum menjawab pertanyaan, ibu-ibu yang mengernyit aneh. Lalu mas-mas yang bilang nggak ada kapal buat ke Lampung. Semua jadi jelas. Ke Lampung dari Bakauheni tentu saja menjangkaunya menggunakan bus dan bukannya kapal, hla wong Bakauheni dan wilayah Lampung yang lain itu satu daratan. Ngapain pula pakai kapal?

Dan yang harusnya saya sadari dari awal, jika memang Bakauheni hanyalah Pulau Kecil, Ngapain juga pakai Kapal feri? Ohh, hari itu saya benar-benar merasa oon.

Lampung, Saya Di Sini

Ruang tunggu Bakauheni adalah bagian bangunan yang terintegrasi antara pelabuhan dan terminal Bakauheni. Tempatnya luas, bersih, dan berkesan modern. Saat kami memasukinya, baru terlihat beberapa orang saja yang menggelar karpet di sana. Daripada menggelar karpet baru lagi, kami memilih bergabung saja dengan 2 orang perempuan yang sudah lebih dulu menggelar karpet.

"Kalau di Bakauheni, hati-hati, Mbak. Di sini rawan. Banyak calo, dan copet di sini," usai meletakkan barang-barang dan mencari posisi enak buat duduk kami mulai mengobrol dengan perempuan di samping saya.

"Ini kalau keluar dari sini, bakalan banyak calo yang yang nyamperin," tambahnya lagi membuat saya menelan ludah. Bayangan saya berlari ke pengalaman dikerubuti calo kala di Pulau Gadung beberapa tahun silam.

"Orang-orang di sini kan ya beda Mbak sama orang-orang di Jawa. Jadi ya lebih rawan kalau di banding dengan Calo Pulau Gadung. Saya saja yang Orang Lampung malas di sini kalau nggak karna terpaksa," lanjutnya lagi makin membuat saya ngeri.

"Iya Mbak hati-hati. Orang-orang pinter aja sering ketipu saat disini," di samping Mbak-mbak tadi, seorang Ibu-ibu ikut menyambung. Saya dan Erin maki ngeri.

Memberitahu orang rumah dan beberapa teman kalau kami sedang di Bakauheni, rupanya malah memperparah kengerian kami. Semua Whatsap yang masuk berujar bahwa Bakauheni rawan. Puncaknya, kami dimarahi orang rumah karena semua ketololan itu.

Saya jadi bertanya-tanya sebegitu terkenalkah Bakauheni dengan calonya? Dan parahnya, kami bahkan baru tahu apa itu Bakauheni. Duhh. Browsing tentang Bakauheni diantara baterai yang tersisa juga makin menambah rasa horor di benak.

Tak hanya terkenal sebagai tempat copet dan calo, bahkan Bakauheni sering dilakukan razia penyelundupan shabu-shabu. Dan saat itu saya juga baru tahu Bahwa Lampung bahkan terkenal dengan sebutan Tanah Begal.

Rasanya kami tadi tidak takut apa-apa kalau saja tidak diberitahu semua itu. Rasanya kami tadi masih bisa santai-santai menyadari berada di Lampung secara tak terduga. Ahh, andai kami tadi tidak tahu apa-apa. Malam itu pastilah saya bisa tidur nyenyak.

Berbekal charger pinjaman saya berjalan agak jauh ke dekat kamar mandi mencoba mencharger HP. Saat itulah seorang bapak-bapak yang ngakunya petugas kamar mandi mendekat memperingatkan saya untuk berhati-hati dengan Ibu-ibu yang tidur satu karpet dengan kita yang tadi ikut ngobrol. Saya menurut saja, karena pada dasarnya sejak awal saya sudah curiga sejak ia cerita kalau dia merupakan korban letusan gunung Merapi yang kemudian tinggal dengan saudaranya di Lampung. Saya makin curiga ketika dia tiba-tiba nyambung dan berujar 'orang pinter saja mudah dibohongi' dan makin merasa aneh dengan sosoknya ketika tiba-tiba bertanya kepada saya 'Mbak pernah naik pesawat?' saya hanya ngakak saat dia bertanya.

Si bapak penjaga kamar mandi itu menjelaskan kalau si Ibu sering menipu dengan modus pura-pura nggak punya uang untuk pulang. Namun saya lega ketika ia berujar kalau si Ibu nggak pernah nyopet. Yahh, setidaknya berhati-hati pada penipu dalam kondisi seperti ini lebih mudah daripada berhati-hati dari copet. Ya iyalah, kalau ditipu meminta uang sekian ratus ribu ya mana bisa? Duit kita aja seratus ribu kagak genep :-D Tapi kalau sampai dicopet: dompet, kamera, HP itu kan benda berharga kita hari itu. Bisa gawat kalau sampai ilang semua.

"Security hanya berjaga sampai pukul 12 saja, Mbak. Nanti kalau mau tidur di tengah aja Mbak. Pas dimana kamera CCTV bisa memantau," giliran kami mengobrol dengan security yang menjaga Pelabuan Bakauheni.

"Mbak, kalau memang besuk mau keliling sekitar Lampung sini bisa hubungi Mas ini, dia Ojek resmi di Bakauheni. Selama masih di dalam ruang tunggu, lebih aman Mbak. Kalau sudah di luar memang sedikit berbahaya apalagi kalian perempuan semua. Besuk biar dia yang sekalian ngejauhin kalian dari calo. Besuk kalau memang jadi, biar dia hubungi juga tukang ojek resmi yang lain," ujarnya.

"Simpan nomor saya saja, Mbak. dipikirkan dulu besuk mau kemana, mau balik atau mau keliling sekitar sini? Kalau jadi mau keliling bisa hubungi saya," si Tukang Ojek lantas menyebutkan nomornya.

Kami merasa beruntung bertemu dengan security Pelabuhan Bakauheni yang banyak memberikan kami saran sebagai seseorang yang baru pertama kalinya tiba di sana. Dia juga mengenalkan kami kepada tukang ojek resmi yang juga baik.

Malam itu, saya belum sepenuhnya tenang meskipun mendengar nasihat Pak Security dan tukang ojek yang terlihat baik. Yang kedua, kami juga masih bingung besuk mau gimana. Pasalnya si Tukang Ojek menawarkan keliling pantai sekitar Bakauheni dan ke Menara Siger dengan tarif Rp 70.000 per orang. Besok kami tidak mungkin menyetujuinya. Mepet broo, nggak cukup uang kita.

Tiap beberapa waktu kapal mengaum. Suaranya menggelegar masuk sampai di dalam ruang tunggu pelabuhan. Tiap auman itu selesai menyala, orang-orang riuh menuruni tangga. Beberapa terus melanjutkan berjalan keluar, namun beberapa tertinggal di ruang Tunggu. Maka tak heran, kala malam kian larut, Ruang tunggu Pelabuhan Bakauheni semakin banyak orang yang terbujur. Tidur melepas lelah di atas bentangan karpet biru.

Diantara kami bertiga, hanya Nana yang bisa tidur dengan tenang setenang-tenangnya. Bahkan rencana kita untuk tidur bergantian hanya tinggal uapnya doang. Pada akhirnya hanya saya dan Erin yang gantian. Itupun waktu saya mencari posisi tidur, saya tidak benar-benar bisa tidur. Sementara Nana, bocah itu tubuhnya digoyang-goyangkan berapa kalipun hanya bergeming.

Lepas tengah malam, mbak-mbak yang tidur di samping saya bangun. Dan diantara keheningan malam pelabuhan Bakauheni perempuan muda itu berbagi kisah tentang dirinya yang pernah menjadi TKI sejak lulus SD.
“Emang boleh, mbak?”
“Badan saya kan bongsor. Nggak ketahuan nuain umur,” ujarnya. Benar juga, tubuh perempuan itu memang lumayan gemuk.
“Saya dulu jadi TKI mbak, 3 tahun di Arab, 2,5 tahun di Dubai,” ujarnya lagi. Sementara saya geleng-geleng, mengingat kembali saat lulus SD saya tak lebih dari anak-anak yang masih cupu. Saya benar-benar tak bisa membayangkan diri saya sendiri lulus SD lalu jadi TKI ilegal. Pasti tiap hari nangis terus kerjaan saya.
“Sebenernya orang tua nglarang, tapi saya mau sendiri,” jelasnya lagi. Perempuan itu tak lebih tua dari saya, tapi pengalamannya jauh sekali di atas saya.
“Memang gaji TKI berapa, mbak?” tanya saya penasaran.
“Di Arab dikit, Mbak. Waktu itu 2,5-3 jutaan. Tapi kalau Dubai 3-5 jutaan,”
“Masak Cuma segitu, Mbak. Saya kira gaji TKI bisa sampai puluhan juta,”
“Itu kalau lama nggak pulang terus uangnya dikumpulin, Mbak!” Ia terkekeh.
Saya garuk-garuk jilbab, ikutan terkekeh.

Bakauheni, pada akhirnya berakumulasi menjadi jauh lebih ramah usai mbak-mbak ini berbagi cerita. Tiba-tiba ke khawatiran saya tentang Bakauheni terasa tak ada apa-apanya dibandingkan membayangkan si Mbaknya berada di Arab Saudi sebagai pembantu rumah tangga saat baru saja lulus kelas 6 SD. Aihhh…
“Waktu pertama kali di Arab, mbak nggak takut?”
“Majikan saya saat di Dubai maupun di Arab baik semua. Yakin saya Orang itu, kalau dia baik, dimanapun selalu dipertemukan dengan orang baik.”
Clesss. Ucapannya langsung menenangkan saya.
Menjelang pagi, hingga benar-benar pagi saya terus menenangkan diri dengan mengingat kalimat itu tiap kali ketakutan terbersit.

Benar juga, Alhamdulillah, kami benar-benar bertemu orang baik di Bakauheni mulai dari Mbaknya, security, hingga tukang ojek resmi yang melindugi kami dari rayuan para calo yang berusaha mendekat.

Yap, esok paginya saat kami hendak solat Subuh dan keluar dari ruang tunggu, segerombolan entah calo, entah tukang ojek mengerubungi kami dan terus mengikuti hingga mushola. Saat kami selesai solat, mas tukang ojek datang menyapa dan ia terus menjauhkan kami dari para calo dengan cara menjawabi pertanyan teman-temannya. Padahal kami tidak jadi menggunakan jasanya. Bahkan kami diberi banyak tips supaya nanti saat berjalan menuju Menara Siger kami tidak terus menerus disamperin orang.

“Nanti pasti banyak yang menghampiri kalian. Bilang saja mau ke desa Kenyanyan. Jangan bilang mau ke Siger,” ujarnya. Saya mencoba mengingat baik-baik pesan ini.

“Kalau ada yang tanya, dijawab saja. Jangan diam. Orang itu kalau bertanya terus nggak dijawab, pasti sebal,” pesannya lagi. Saya mengangguk angguk.

Jalan Menuju Siger

Tepat seperti yang diperkirakan Mas Ojek, kami benar-benar dihampiri orang saat berjalan menuju Menara Siger. Dan kami menggunakan tips yang disarankan oleh Mas Ojek. Alhamdulillah, akhirnya kami benar-benar sampai di Menara Siger pada akhirnya. Dan kami makin seneng ketika tahu bahwa Menara Siger merupakan titik 0 km nya Lampung. Ibukk, aku tekan Lampung

Saat kami menginjakkan kaki di Siger, sebuah tempat Wisata yang dekat dengan pelabuhan Bakauheni, kami benar-benar bersyukur karena Ia yang di atas sana memberi kejutan Lampung dengan cara yang tidak biasa. Meskipun kami bisa disebut bodoh, karena tidak lebih dulu mencari tahu tentang tempat yang kita tuju. Yang pasti saya percaya, semua yang terjadi adalah kehendakNya. Termasuk ketidaksengajaan ini.


Kita bertiga