Sunday, July 15, 2018

Pondok Degan, Rekomendasi Tempat Makan Tiwul di Wonogiri

Bagi banyak orang Wonogiri, kalau ditanya “Apa makanan khas Wonogiri?” Maka banyak orang Wonogiri yang akan menjawab “Tiwul”. Tapi coba lekas tanya mereka, “dimana kalau pengen makan nasi tiwul?” dijamin, mereka bakal garuk-garuk kepala. Mikir keras, karena mereka sendiri nggak tahu kemana musti nyari tiwul di Wonogiri. Pun saya awalnya, saya nggak tahu kemana harus mencari tiwul di Wonogiri. Kalau ditanya seperti itu, paling saya jawab “pasar”. Pun sebenarnya saya nggak ngerti, pasar bagian mana yang jual tiwul, karena saya muter-muter kok nggak ketemu. Pernah ketemu, tapi saya kehilangan jejak lagi.

Merasa miris?

Banget!

Sebuah makanan khas, tapi bahkan warga Wonogiri sendiri sekarang ini nyaris tidak pernah memakannya.

Namun sekarang  saya sudah punya jawaban, “Kemana kalau kepengen makan tiwul di Wonogiri?”

Adalah sebuah warung makan di jalan menuju Paranggupito. Di sebuah jalan baru arah pantai Nampu Wonogiri. Tepatnya dekat pertigaan jalan baru pertemuan antara jalur dari arah Praci, Batu dan menuju Paranggupito.Kalau dari arah Praci, tak jauh jaraknya dari RS. Maguan Husada. Lokasinya sangat strategis. Berada di tepian jalan dan cukup terlihat. Tengok saja sebelah kanan di dekat pertigaan ini, maka warung gede bertuliskan Pondok Degan bercokol di sana.

Menikmati Sajian Tiwul Wonogiri

sego tiwul wonogiri

Pondok Degan, meskipun namanya tidak ada kata-kata tiwulnya, namun di sini tiwul menjadi menu utama.

Sego tiwul di Pondok Degan, disajikan dengan piring tampah, mungkin maksudnya biar kerasa ndesonya. Menu nasi tiwul sendiri terbagi menjadi dua, tiwul campur dan tiwul original. Tiwul campur maksudnya tiwul yang dicampur dengan nasi putih.

Setampah nasi tiwul, disajikan dengan sambal bawang, urap dan menu beberapa pilihan lauk seperti nila, gerih, mapun ayam. Perkara rasa, rasanya, joss lah. Ini kenapa saya menuliskan lokasi ini sebagai rekomendasi tempat makan tiwul di Wonogiri. Maklum pula kalau rasanya enak, menurut penuturan pemiliknya, beliau sangat memperhatikan kualitas tepung maupun lauknya



Warung pondok degan berupa warung lesehan berdinding tembok, serta saung-saung bambu. Soal harga, karena saya kemarin datang pas momen lebaran, jadi harga pas naik. “Opo-opo mundak mbak,” begitu aku si pemilik. Hehe.

Well, pun pas lebaran kemarin, biarpun harga naik menurut saya kenaikannya masih wajar. 

Kalau pas hari biasa datang ke Pondok Degan, harga yang ditawarkan untuk seporsi nasi tiwul beserta lauknya ini kisaran 8-20 an ribu.




Biarpun ini adalah makanan khasnya kota Wonogiri, tapi ada yang lebih menarik. Pemilik warung nasi tiwul ini justru bukanlah orang asli Wonogiri, melainkan orang asli Aceh yang kemudian bersuamikan orang Wonogiri. Berangkat dari keinginannya mencari nasi tiwul yang katanya makanan khasnya Wonogiri tapi tak bisa dia temukan, ia kemudian berinisiatif mendirikan warung makan yang menjual nasi tiwul ini. Yeahh, harusnya ini menjadi motivasi tersendiri untuk putra daerah biar nggak mau kalah melestarikan makanan tradisional sekaligus menjadikannya lahan mendulang pendapatan. #LantasMenengokDiriSendiri. 

Lebih Dekat Dengan Tiwul

Bukannya tiwul itu makanan khasnya Gunung Kidul ya? Saya pernah mendapat pertanyaan seperti ini.

Ini nggak salah saya rasa. Letak Wonogiri dan Gunung Kidul yang bersebelahan membuat beberapa makanan antara ke dua wilayah mirip. Namun biarpun ke duanya sama-sama tiwul berbahan singkong, tiwul Wonogiri dan Gunung Kidul memiliki beberapa perbedaan. 

Tiwul daerah Gunung Kidul lebih berfungsi sebagai snack, camilan yang memiliki rasa manis. Karena memiliki kandungan gula yang cukup banyak, sehingga bentuknya pun cenderung lebih lengket. Tiwul Gunung Kidul juga ditaburi dengan parutan kelapa. Beda dengan tiwul Wonogiri. Kalau makanan khas Wonogiri satu ini memiliki tekstur seperti nasi, hablur, makanya sering disebut dengan sego tiwul alias Nasi Tiwul. Karena memang fungsinya sebagai pengganti atau campuran nasi. Konon katanya, karena dahulu orang Wonogiri banyak yang “ora iso mangan”. Makanya mereka menjadikan singkong sebagai pengganti beras, lantaran singkong di daerah Wonogiri tumbuh subur. Hingga kabupaten Wonogiri disebut sebagai kota gaplek (kota singkong).

Baca Juga


Kenapa nasi tiwul kini menjadi langka? Mungkin karena sekarang orang ogah makan nasi tiwul, karena kehidupan warga Wonogiri bisa dibilang lebih baik. Banyak warganya yang sukses menjadi perantau di kota orang. Mungkin juga karena kebon singkong sudah tak sebanyak dulu, bisa jadi pula karena tidak semua orang perutnya cocok makan nasi tiwul. Itu analisa saya, masalah tepat nggaknya, silahkan diteliti sendiri! Haha.

Jaman dulu, saya masih ingat betul, ketika Pasar Wonogiri belum mengalami kebakaran, sebelum membuka lapak dagangannya di salah satu kios pakaian, nenek mengajak saya muterin pasar dulu. Belanja kebutuhan pokok sehari-hari, termasuk sesekali membeli tepung gaplek alias tepung singkong. Dulu masih banyak pedagang-pedagang yang menjual gaplek: singkong utuh yang sudah dikupas kulitnya dan dijemur. Tapi kini pemandangan seperti itu sudah tidak pernah lagi saya lihat. Saya masih melihat singkong-singkong yang sudah dikupas dan siap dibikin tepung itu kalau lagi jalan ke daerah Wonogiri bagian timur seperti Jatiroto, atau Purwantoro. Di kota, jarang saya ketemu.

Yeahh, menikmati nasi tiwul adalah momen yang membuat saya merindukan nenek. Nenek dulu adalah penggemar tiwul. Kalau dia sedang membuat tiwul, dulu saya kerap menungguinya saat nginterin tepung dengan air.

Sayangnya saya dulu tidak pernah memperhatikannya bener-bener. Jadi ya kalau sekarang saya disuruh gawe tiwul, yo aku ora iso. Tapi kapan-kapan, tetep, saya kepengen belajar bikin tiwul. Biar sebagai warga Wonogiri enek gregete. Hehe.
Rating Untuk Pondok Degan, bintang 5 lahh
★ ★ ★ ★ ★

Pondok Dega Wonogiri
Dungklepu Kulon, Giritontro, Wonogiri Regency, Central Java 57678


Wednesday, July 04, 2018

#CDJ 2: Tempat Ngopi

“Da, kamu mau minum apa?” Pertanyaan teman menyadarkan saya dari aktivitas beberapa detik melamun saat melihat sekilas penyajian kopi Joss Tugu. 

“Ahh ya. teh saja” sahut saya kemudian.  

Saya sedang mendatangi sebuah kedai kopi Joss Tugu Jogja dengan seorang kawan,  mantan rekan kerja saya dulu, hari itu. 

Friday, June 29, 2018

#CDJ 1: Tersesat di Jogja

"Tersesat adalah cara Tuhan ingin menunjukkan kita hal yang lain. Nikmati saja"
Itu prinsip yang senantiasa berusaha saya pegang.

Pasalnya, saya orang yang terlalu sering tersesat. Dan kalau nggak mikir seperti itu, mungkin mulut ini sudah keluar banyak sumpah serapah yang tak terhitung. Yeahh, daripada ketersesatan menjadi benar-benar kesialan yang berujung pada dosa, mendingan saya mikir positif.

Ini untuk kesekian kalinya saya tersesat. Berputar-putar di jalan hanya untuk mengunjungi perpusataakaan kota Jogja yang sebenarnya sudah saya kunjungi berkali-kali. Berkali-kali saya ke sana, tapi parahnya berkali-kali pula saya harus tersesat lupa arah.

Saya memang pelupa, apalagi soal jalan, dan jalanan Jogja adalah jalan yang paling susah buat saya untuk diingat. Ada banyak struktur perempatan yang mirip, bangunan yang mirip, juga bentuk jalan yang hampir sama, plus memiliki nuansa warna yang sama.

Jangan protes, karena ini dari sudut pandang mata dan pemikiran saya saja sepertinya. Buktinya, beberapa orang saya tanyai tidak berpikir demikian. 

Perpustakaan Kota Jogja
(sumber: http://yogyakarta.panduanwisata.id/daerah-istimewa-yogyakarta/tempat-nongkrong-asik-di-jantung-kota-pelajar/)

Tuesday, June 26, 2018

The Heritage Palace dan De Tjolomadoe, Pabrik Gula Yang Bangkit Dari Kubur

Kalau bukan karena beberapa kali mengikuti jejaknya Halim Santosa di blognya jejakbocailang, mungkin saya tidak akan pernah tahu, bahwa gula pernah begitu memberi rasa bagi sejarah bangsa ini. Yeahh, kalau bukan karena catatannya, mungkin selamanya saya hanya akan melihat bahwa Sondokoro hanya tempat bermain anak-anak, Museum De tjolomadoe hanya tempat selfie, dan The Heritage Palace hanya bangunan lawas yang berkonsep macem museum Angkut.

Jika saat bersekolah, istilah culturstelseel atau tanam paksa sering saya dengar, maka usai membaca catatan Halim, saya tahu bahwa pabrik gula adalah salah satu contoh jejak culturstelseel yang pernah ada. Dan eloknya, ternyata di Indonesia ada begitu banyak pabrik gula. Bahkan bekas stasiun Mojang, yang diangkut ke Mesastila Resort yang pernah saya datangi dulu, rupanya juga masih ada sangkut pautnya dengan urusan culturstelseel.

Baca Juga



Yeahh, di catatan ini, saya ingin membahas tentang dua Pabrik Gula yang sebut saja bangkit dari masa lalu. Dua pabrik gula yang kini dihidupkan lagi, meski dalam wujud lain. Wujud tempat wisata kekinian yang makin melengkapi wahana wisata Kota Solo,  meskipun secara administratif keduanya sudah tidak masuk wilayah Solo. Batas administratif wilayah Surakarta pancene ‘rodo embuh’.

Dua Pabrik Gula itu adalah PG. Gembongan di Kartasuro, Sukoharjo yang kini bernama The Heritage Palace, dan PG. Colomadu yang kini bernama De Tjolomadoe di Colomadu, Karanganyar. Saya tidak akan membahas sejarahnya, karena bagian masa lalu, sudah dibahas di blognya Mas Halim, silahkan tengok catatannya. Kali ini, saya ingin membahas saja tentang bagaimana kondisi kebangkitan dua pabrik gula tersebut usai terbengkalai cukup lama.

Museum The Heritage Palace

Kalau bukan karena pabrik ini dihidupkan lagi sebagai tempat wisata, saya mungkin awang-awangen mau datang kemari. Melihat kemegahan bangunan The Heritage Palace saat masih bernama PG Gembongan dari blog dan IG Mas Halim tidak serta merta membuat saya langsung tertarik datang kemari. Saya dulu aras-arasen, meskipun megah dan membuat penasaran, pabrik yang terbengkalai pasti bakalan serem buat dikunjungi. 

pg gembongan kini


Thursday, June 14, 2018

Catatan Dari Jogja: Pembuka

docpri
Poto diambil dari atas parkiran Malioboro Jogja


Memutuskan mengambil kos sebulan di Jogja, ada banyak hal yang saya pikirkan, dan ada beberapa hal yang terjadi.

Beberapa hari ke depan di blog ini mungkin saya akan sering-sering mengupdate tulisan tentang Catatan dari Jogja ini.

Thursday, May 24, 2018

Pantai Nampu Dan Pantai Pringjono Melongok Pesona Pantai Kebanggan Wonogiri

Kalau kamu mau lihat bagaimana waktu bekerja, maka lihatlah anak-anak

---Fubuki Aida---

Nggaya sekali postingan kali ini: saya bikin quote lalu dikasih nama. Haha, biarlah. Saya sedang dalam kondisi yang embuh. Perasaan yang tak karuan dan rasanya ingin lekas lari ke pantai. Yeahh, lari dari waktu yang rasa-rasanya belakangan ini serasa terus mengejar.

Daripada saya gabut, lebih baik saya jadikan saja kegabutan saya ini sesuatu yang bermakna. Satu post untuk malam ini sebagi pemenuhan janji atas postingan kemarin saat membahas tentang wisata Wonogiri Saya ingin berbagi tentang Pantai Nampu Wonogiri serta Pantai Pringjono

Atas dasar keinginan luhur ingin mencerdaskan kehidupan traveler yang mungkin sedang bingung cari pantai di wilayah Solo Raya, ataupun wilayah Wonogiri, maka disusunlah kata demi kata dalam sebuah postingan blog  yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan tanpa: adanya sponsor. 

Halah.

Menyapa Pantai Nampu Wonogiri

bukit pantai nampu

Jadi pada intinya, beberapa paragraf pembuka di atas adalah pengantar yang, yahh anggap saja tidak penting. Langsung saja ke pembahasan mengenai Pantai Nampu. 

Sunday, May 20, 2018

26 Rekomendasi Tempat Wisata Wonogiri Yang Bikin Mudikmu Makin Seru!

Baiklah, pumpung hari ini, 19 Mei 2018 bertepatan dengan ulang tahun Wongiri yang ke 277, maka saya sengaja membuat postingan khusus, seperti kala Ulang Tahun Wonogiri sebelum-sebelumnya. Karena ultah Wonogiri kali ini bertepatan dengan bulan spesial yakni bulan Ramadhan, maka postingan kali ini pun spesial. Spesial membahas rekomendasi tempat wisata Wonogiri yang lama maupun baru. 

Harapannya, pembaca yang sebentar lagi mau mudik bisa menikmati sederet Wisata Wonogiri yang akhir-akhir ini kian menarik. Nah, mana saja  tempat wisata Wonogiri yang nantinya bikin mudikmu makin seru? Simak sampai akhir yak!

1. Bergaya Ala Capadochia di Watu Cenik

Watu Cenik masuk dalam kawasan Objek Wisata desa Sendang Pinilih. Spot-spot selfie seperti balon udara, ditawarkan di Watu Cenik. Jadi kamu bisa narsis ala-ala di Capadochia Turki sana. 

docpri
Saat poto, pura-pura saja balon udaranya terbang. Jadi ngambil fotonya jangan samapai kelihatan bawahnya ya ^^Haha

Saturday, May 05, 2018

Berbagi Dengan Hati Lewat Bolu Susu Merapi

“Harapan kita, kita bisa menjadi pilihan orang-orang yang akan mengadakan arisan atau acara semacamnya,” jelas Andi Sevenova di acara Pers Confrence peluncuran Bolu Susu Merapi beberapa waktu lalu.

Harapan yang senada dengan konsep tagline yang tertera di kemasan Bolu Susu Merapi: “Berbagi dengan Hati”.

Irisan-irisan Bolu Susu Merapi rasanya memang pas dijadikan hidangan di berbagai acara. Pun ketika menjadikan  Bolu Susu Merapi penganan oleh-oleh untuk orang-orang terkasih, sekotak Bolu Susu Merapi tentunya cukup membuat hati siapapun takluk karena senang.



Pertama kali menggigit kue ini saat di acara kemarin, saya menemukan sensasi rasa bolu yang amat lembut. Bolu anti seret, dengan rasa manisnya yang pas. Biarpun Jogja identik dengan rasa manis yang kadang berlebihan, tapi tidak dengan kue ini. Manisnya jauh dari kata eneg, sangat pas di lidah.

Tuesday, May 01, 2018

Wayang Village Kampung Wayang Kepuhsari, Dan Cerita Tentang Persebaran Islam di Tanah Jawa (Bagian 2)

Ketenaran Kampung Wayang Kepuhsari sebenarnya sudah lama saya dengar. Akan tetapi, baru beberapa waktu lalu saya sebagai warga Wonogiri berkunjung ke sana.

Sosok itu sedang duduk di depan rumah. Sebuah rumah kayu berlantai keramik di Wayang Village Kampung Wayang Kepuhsari Wonogiri. Dari balik kacamata hitamnya, pria yang mungkin seusia ayah saya itu melirik ke arah saya dan adik. Tangannya masih memegang pukul, namun gerakan tatahannya ia hentikan sesaat.

pembuatan wayang


Wayang Village Kampung Wayang Kepuhsari, Dan Cerita Tentang Persebaran Islam di Tanah Jawa (Bagian 1)

Saya baru saja berpamitan hendak pulang sebelum saya memberitahu pakde bahwa beberapa waktu sebelumnya saya baru saja berkunjung ke Wayang Village, Kampung Wayang Kepuhsari yang ada di Manyaran Wonogiri.

Siapa sangka, pemberitahuan singkat tersebut justru membuat saya kembali duduk, dan berbincang lagi dengan pakde dalam perbincangan yang pada akhirnya mengulur kepulangan saya nyaris satu jam kemudian.

wayang village
docpri

Tanah Jawa iku jaman bien Jalma mara, Jalma mati, [1]” ujar pakde sembari menyilakan kakinya.