Friday, November 30, 2018

Paxel Kirim Oleh-Oleh Traveling Bisa Di Hari yang sama

Yang nyebelin dari traveling, terkadang adalah saat kita dimintai oleh-oleh. Pasalnya, seringnya itu pas saya kagak punya duit  yang minta oleh-oleh minta oleh-olehnya dianterin. Ini yang kadang bikin males. Masalahnya, sesudah dari perjalanan saja badan rasanya capek luar biasa. Ini, masih harus diminta untuk nganter. Kalau barang berupa benda yang awet sih bisa dianter kapan-kapan. Tapi kalau barang berupa makanan yang jangka waktunya cuma beberapa hari, ini yang susah.

Paxel, Kirim Oleh-oleh Cuma Sehari

Sewaktu menghadiri acara pengenalan product Paxel tempo hari, saya seneng. Pasalnya, saya jadi tahu bahwa kini perkara nganter barang seperti oleh-oleh jadi lebih ringkas lantaran ada Paxel yang bisa ngirim paketan cuma dalam waktu satu hari.


Mungkin yang baru mendengar namanya akan bertanya-tanya, Apa sih Paxel itu?

Jadi begini, Paxel merupakan startup ekspedisi jasa pengiriman yang mengusung tagline utama “same day”. Ya, inilah kelebihan dari Paxel. Delivery paket barang logistik apapun cukup dalam waktu satu hari saja. Kelebihannya lagi, adalah dengan Paxel, kita bisa minta barang kita dibantu paking oleh para hero (petugas Paxel) sebelum dilakukan pengiriman.

Perkara profesionalitas, Insya Allah saya sih nggak perlu ragu lagi, soalnya Paxel ini CEO nya merupakan CEO dari JNE. Di acara kemarin, CEO Paxel, Bapak Djauhari Zein datang langsung diacara kunjungan Paxel ke kota Solo. Dari acara tersebut, Bapak ini banyak bercerita tentang Paxel yang senantiasa berusaha untuk selalu mengantarkan kebaikan. Berusaha melayani pelanggan sebaik mungkin, dan tentu saja tak lupa menyisihkan keuntungan Paxel untuk berbagai kegiatan amal. Salah satunya adalah sebagai sponsor utama di Rumah Harapan Indonesia yang bergerak untuk kegiatan amal bagi anak-anak penyandang disabilitas.

Cara Menggunakan Paxel Untuk Kirim Barang Di Hari Yang Sama


Lantas bagaimana cara menggunakan Paxel untuk kirim paket? Nah, buat kamu yang akan kirim barang untuk oleh-oleh misalnya, cara menggunakan paxel nya adalah kamu harus bikin akun Paxel dulu. Cara bikin akunnya

1. Download aplikasi Paxel via PlayStore, kemudian instal
2. Usai didownload, pilih Creaate Account buat yang belum punya akun. Kalau udah punya akun Paxel sih tinggal login aja

3. Masukkan nomor telepun, lalu klik continue.
4. Masukkan token

5. Isi nama kamu, klik continue
6. Buat username, set pasword
7. Masukkan Referal Code. Dalam hal ini bisa menggunakan code referal ‘fubukiaida’ biar dapet saldo Paxel langsung Rp. 100.000, klik reedem now

8. Kalau sudah bikin akun sudah siap untuk kirim barang dengan Paxel.


Cara Mengirim Barang Dengan Paxel

Kalau sudah punya akun Paxel, maka sekarang siapapun sudah bisa langsung kirim barang dengan Paxel. Lantas, bagaimana Cara Kirim Barang dengan Paxel?
1. Klik Create Shipment
2. Isi alamat Pickup Location. Ini maksudnya adalah alamat untuk penjemputan barang ya! Kalau mau menambahkan keterangan, ataupun alamat lain klik pada simbol tambah di sebelah kanan. Jadi nanti kamu tidak perlu datang ke counter Paxel, karena hero yang akan datang menjemput barang
3. Selanjutnya isi destination location untuk mengeset alamat lokasi. Lalu klik continue.
4. Nah sekarang tinggal tunggu saja petugas akan datang untuk mengambil barangmu.

Usai dikirim kamu bisa langsung cek record pengiriman barang. Bisa dipantau barang sampai dimana. Terus nantinya juga bakalan ada keterangan foto dari hero untuk penerima barang. Jadi kita bisa tahu, siapa sih yang menerima barang kita.

Bagaimana Sih Cara Kerja Paxel?


Nah untuk cara kerja Paxel sendiri, adalah Paxel memiliki smart locker. Jadi nantinya barang akan diambil, selanjutnya didistribusikan oleh hero ke smart loker untuk transit untuk barang yang di luar areanya. Selanjutnya hero berikutnya yang akan mengambil dan mendistriusikan ke tujuan.

Smart Loker ini memiliki teknologi yang kekinian. Memanfaatkan fungsi teknologi berbasis artificial inelegent dan internet of things, Jadi nantinya smart loker ini akan terbuka dengan barcode sesuai dengan pesanan. Jadi tidak perlu khawatir keliru. Lantaran teknologinya sudah maju.

Untu pengiriman ke luar kota, nantinya barang akan dikirim lewat pesawat, sehingga barang tetap bisa sampai hingga ke tujuan dalam waktu yang sama meskipun beda kota.

Yah, sekarang sih saya sudah tak perlu bingung lagi kalau mau kirim barang biar bisa sampai dalam waktu satu hari baik kiriman Frozen Food atau kiriman biasa. Cukup order lewat paxel, semua bisa langsung terkirim.

Thursday, November 22, 2018

Bertandang ke Desa Sade Lombok Usai Gempa

Selama ini yang saya tahu, Lombok hanya molek dengan pantainya, dan gagah dengan Gunung Rinjaninya. Kemana saja saya selama ini? Baru saya tahu, bahwasanya Lombok memiliki tempat wisata berupa desa adat.

desa sade


Sebuah desa yang berkesan masih murni dan seolah waktu berhenti menggerakkan jarum jamnya hingga arus modernnitas seolah tak berlaku di sini. Tempat itu adalah Desa Sade. Sebuah wisata Indonesia yang menarik, yang berlokasi di Rembitan, Lombok Tengah.

Setelah bertahun-tahun memupuk mimpi, saya akhirnya sampai di Pulau Lombok. Meskipun kali ini terwujud bukan sebagai pelancong. Sebuah agenda tak terduga, menjadi relawan gempa Lombok akhirnya justru membawa saya benar-benar menginjak Lombok. Di awal keberangkatan, saya mewanti-wanti diri saya sendiri untuk setulusnya meniatkan diri demi kemanusiaan dan bukan untuk traveling. Jadinya saya sangat bersyukur: saat akhirnya selesai masa tugas, saya bersama teman-teman satu tim ternyata berkesempatan mengunjungi beberapa tempat wisata di sana. Termasuk Desa Wisata Sade.

Memasuki gerbang Desa Sade, pandangan kami tertuju pada atap gerbang berbentuk melengkung khas atap rumah milik suku Sasak. Tentu saja, karena Desa Wisata Sade adalah rumah para keturunan suku Sasak Lombok yang sampai hari ini masih kental dengan budayanya.

gerbang desa sade

Amak Rio, salah satu Warga Desa Sade menjadi tur guide kami hari itu. Dibawanya kami berkeliling melewati jalanan sempit Desa Wisata Sade. Melihat-lihat sisi lain sebuah Desa yang berbeda dengan desa-desa lain yang pernah saya lihat sebelumnya

"Gempa yang kemarin mengguncang itu, terasa juga sampai di sini. Kencang. Tapi bangunan di sini bangunan yang masih bisa goyang. Jadi tidak ada rumah yang rusak," terang Amak Rio, menjawab rasa penasaran saya tentang bagaimana gempa memberikan efek ke Desa Sade. Tidak seperti desa Jeringo tempat kami menjadi relawan, yangmana nyaris 90% rumah di sana rusak, rumah-rumah bambu Desa Sade terlihat dalam kondisi yang baik.

Rumah-rumah di Desa Sade terdiri dari 150 rumah, rumah-rumah ini masih sangat sederhana. Berdinding anyaman bambu, dengan lantai yang terbuat dari tanah liat bercampur sekam padi, plus sebuah kenyataan unik yangmana ternyata lantai rumah Desa Sade dilumuri kotoran kerbau dicampur sedikit air, lalu digosok dengan batu

atap desa sade

Yeah, kenyataan unik yang membuat saya menelan ludah saking kaget. Heran, lantai yang saya injak pernah dipel dengan kotoran kerbau/sapi setiap beberapa waktu ternyata. Tidak berbau sih, terlihat bersih malah. Katanya, memang fungsi penggunaan kotoran kerbau itu untuk membersihkan lantai dari debu, menguatkan lantai, sebagai anti nyamuk dan memang sudah menjadi tradisi masyarakat di sana.

pintu rumah sade

Selain masalah lantai, keunikan yang lain rumah di Desa Sade adalah masing-masing rumah memiliki ruangan tersendiri untuk melahirkan. Ruangan itu berupa sebuah ruangan dibalik sebuah pintu agak bulat yangmana untuk menaikinya perlu menaiki beberapa anak tangga.

"Nanti ada dukun bayi yang datang ke rumah kalau ada yang akan melahirkan," jelas Amak Rio sebelum saya mempertanyakan keheranan saya.

Melempar pandang ke sisi atap. Rumah-rumah di desa Sade, atap rumahnya terbuat dari alang-alang kering yang menurut Amak Rio bisa tahan 7-8 tahun. Jenis rumah di sini selain berfungsi sebagai tempat tinggal, juga terdapat tiga jenis rumah dengan fungsi yang lain, yakni Bale Bonter, Bale Kodong dan Bale Tani.

Dari ketiga jenis rumah ini, Bale Kodong adalah yang paling unik. Sebuah rumah berukuran kecil, yang digunakan sebagai tempat tinggal pasangan yang baru saja menikah. Mungkin istilahnya, semacam gubug asmara.

Teman di Depan Pohon Cinta

Dari kunjungan kemarin, saya jadi tahu bahwasanya ada tradisi berbeda perihal pernikahan di Desa Sade. Sebuah pohon yang dijuluki sebagai pohon cinta di sana, dijadikan semacam pohon yang menjadi saksi bisu dua orang yang saling mencintai. Pohon tersebut saat saya ke sana tak berdaun. Namun bentuk dahan-dahannya terlihat eksentrik berdiri diantara rumah-rumah warga. Jika ada pasangan yang akan menikah, maka si perempuan harus dibawa kabur oleh si lelaki terlebih dahulu.

Pohon Cinta menjadi tempat janjiannya si lelaki dan si perempuan sebelum si perempuan dibawa lari. Usai dibawa lari, maka kerabat si lelaki akan mengirim utusan yang memberitahu bahwasanya anaknya telah diculik oleh si lelaki. Setelah itu baru proses pernikahan dilangsungkan. Usai menikah, maka pasangan tersebut akan tinggal sehari di Bale Kodong.

Namun selain berfungsi sebagai tempat pasangan yang baru menikah, Bale Kodong juga menjadi tempat tinggal orang yang sudah lanjut usia.

Rombongan kami sempat dikenalkan kepada Nenek Ramlan. Seorang nenek-nenek yang paling tua di desa Sade dengan usia yang diperkirakan sudah 102 tahun. Ia duduk di depan rumah Bale Kodong, memperdagangkan beberapa kain songket, serta beberapa gelang benang yang berwarna-warni saat saya menghampirinya.

tertua di desa sade
Nenek Ramlan

Warga Desa Sade banyak yang tidak bisa berbahasa Indonesia, apalagi bagi mereka yang berusia lanjut seperti Nenek Ramlan. Amak Rio bahkan harus mentranslatekan omongan saya dalam bahasa Sasak saat saya hendak membeli gelang tersebut.

"Gelang ini gelang yang dipercaya sebagai gelang anti gempa," saat transaksi jual-beli gelang, perhatian saya justru tak sengaja tertuju pada tangan nenek Ramlan. Berbeda dengan gelang yang saya beli, nenek Ramlan juga mengenakan gelang, namun yang ia pakai adalah gelang benang yang mirip tali kenur.

Menurut penuturan Amak Rio, gelang benang tersebut terbuat dari kapas yang dipintal atau istilahnya gelang tikian.

"Gelang ini dipakai tua, muda, besar kecil semua pakai," ujar Amak Rio lagi. Menurutnya, gelang tersebut diperoleh dari orang pintar yang ada di desa.

Saat kembali berjalan saya mengamati orang-orang di sana. Dan benar saja, dari pedagang kain songket, bapak-bapak bersarung, ibu-ibu yang sedang menggendong anaknya, semua menggunakannya.


"Saya juga pakai" pamer dua orang anak kecil saat ia tahu saya menjepretkan kamera ke gelang yang dipakai beberapa penduduk desa. Saya tersenyum lantas menghampiri kedua bocah itu yang ekspresinya langsung berubah malu-malu dan takut-takut saat saya beneran menghampiri dan menjepretkan kamera ke arah mereka.

"Paska gempa ini, pengunjung berkurang sekali, Mbak," cerita Amak Rio saat kami usai berkeliling di Desa Wisata Sade. Saya hanya mengangguk-angguk prihatin. Sebelum ke Sade, kami sempat berkunjung ke beberapa Pantai Lombok dan memang Pantai juga terlihat sepi saat itu. Yeah bagaimanapun kawasan yang baru saja terjadi bencana tentunya wajar jika pengunjungnya berkurang.

Gempa yang melanda Lombok yang seolah belum juga berhenti bahkan hingga hari ini, cukup membawa dampak tersendiri bagi sektor pariwisata Lombok. Meskipun Desa Sade tidak sampai luluh lantak seperti halnya di beberapa wilayah Lombok yang lain, seperti kawasan Lombok Utara maupun Lombok Barat, namun tak terpungkiri kunjungan turis dirasa benar berkurang oleh warga Desa Wisata Sade.

Lombok banyak memberi pelajaran kepada saya kemarin. Salah satunya adalah mengenai ketidakpastian dalam hidup. Kita tidak pernah tahu, kapan bencana itu akan datang. Namun apapun yang terjadi hidup harus berlanjut. Tak peduli seberapa jauh kita terseok-seok, kita harus tetap berjalan dan tidak terpaku pada kesedihan atas semua yang hilang.

Usai dari Lombok, saya membatin dalam hati, suatu hari saya akan kembali lagi ke pulau itu. Menengok kembali anak-anak tempat kami menjadi relawan, mengunjungi kawasan pantai, mendaki rinjani, dan tentunya kembali ke Desa Sade. Yeah karena saya berharap ke depan, saya datang sebagai pelancong. Semoga ke depan Lombok sudah pulih dan tak ada lagi bencana menghampiri.


**tulisan ini saya pindah dari tulisan saya di blog berplatform inisial "K". Saking saya lagi sebel sama portal tersebut lantaran hadiah saya nggak cair-cair. Yeah, moga habis ini cepetan cair lah

Friday, October 19, 2018

Menyapa Misteri Omah Tiban Bubakan Girimarto

“Nanti kita lewat di Omah Tiban,” terang pakde saat mobil yang ia sopiri sampai di daerah Girimarto.
Hari itu, perjalanan kami adalah menuju Candi Muncar, sebuah wisata telaga yang catatanya bisa dibaca di tulisan saya sebelumnya.

“Masjid Tiban?” tanya saya yang semula mengira Masjid Tiban dan Omah Tiban itu dua hal yang sama.

“Bukan, Masjid Tiban itu yang di daerah Baturetno. Nanti kita lewat di Omah Tiban. Petilasannya Pangeran Sambernyowo,” terangnya lagi. Saya hanya ber o ria. Pun dengan sepupu.

Tiba di sebuah perempatan jalan, sebuah rumah berwarna kuning kehijauan berdiri. Di depannya terdapat pohon beringin tinggi dengan dedaunan yang lumayan rindang, teduh menaungi. Memberikan kesan gelap, dan sedikit spooky ketika kami melewatinya.

omah tiban


Saat berangkat, kami hanya sekedar lewat. Kami baru mampir di Omah Tiban ketika kami pulang dari Candi Muncar. Hari sudah lumayan sore waktu itu. Entah biasanya memang sepi seperti itu atau gimana, yang jelas ketika kami mampir sebentar, kami tak melihat siapapun. Rumah tertutup, tampak tak berpenghuni.

“Itu memang tidak berpenghuni. Nggak boleh masuk kalau nggak sama juru kuncinya,” terang pakde saat saya kembali ke mobil. Dengan alasan sudah pernah ke sana, Pakde enggan menemani kami turun.

Saya hanya sekitar 5 menitan berada di Omah Tiban. Sekedar menjeprat-jepret bagian luar rumah dan berharap ada seseorang yang bisa saya gali ceritanya. Sayang, tak ada siapapun.

Pada akhirnya Rumah Tiban hanya berakhir misteri yang hanya terjawab dari cerita pakde, literatur internet, dan selembar cerita sejarah dalam bahasa Jawa Krama yang terpasang di dindingnya.

“Ceritanya, itu rumah yang tiba-tiba ada dalam waktu semalam. Kayak Masjid Tiban,” cerita pakde lagi.

Tiban artinya jatuh. Di kalangan orang Wonogiri, cerita Masjid Tiban banyak beredar di masyarakat. Disebutkan, bahwasanya masjid tersebut jatuh dari langit. Dan tiba-tiba sudah ada hanya dalam waktu semalam.

“Tapi kalau dari bangunanannya, itu rumah dibangun De. Masak iya, jatuh dari langit?” ujar saya tak percaya. Dari segi bentuk, rumah tersebut terlihat biasa saja. Layaknya rumah kayu yang ada di daerah Wonogiri pada umumnya. Hanya saja memang atapnya unik, dengan rumput mmirip ijuk.

“Itu udah direnovasi,” jawabnya lagi. “Di dalam sana ada pusaka-pusaka, sama batu tempat bertapa Pangeran Sambernyawa dulu.” Pakde mengingat-ingat lagi apa yang dilihatnya saat ke sana entah tahun berapa. Ia bilang, dirinya mengunjungi Omah Tiban ketika ada acara Napak tilas Pangeran Sambernyowo.

Pangeran Sambernyawa, adalah tokoh yang cukup punya kharisma di Wonogiri. Beliau adalah Mangkunegaran I yang kehidupannya berkaitan erat dengan berdirinya pemerintahan Wonogiri. Tak heran jika kemudian petilasannya banyak tersebar di Wilayah Wonogiri, salah satunya Rumah Tiban ini serta kolam Ki Truno Lele yang pernah saya singgung dulu.

“sak bibaripun payudan ing simo ing dinten seloso kliwon 28 dulkaidah wawu tahun 1681 , ingkang ing payudan punika wadya bala mangkunegaran kinarubut dineng kumpeni wadya kasultanan ngayogyakarta tuwin kasunan surakarta , pangeran adipati lajeng angoncati paperangan sak sampunipun campuh sak watawis wekdal, hamargi pancen karoban ing mengsah paperangan lajeng wangsul dados perang wewelutan ( gerilya ) maleh, ubeng ubengan wonten ing tlatah surakarta, perang wewelutan mekaten punika ngatos 2 wulan laminipun saking wulan besar 1681 dumugi sura 1682 , Pn adipati sawadyabala lajeng lerem wonten ing bubakan, pihak kumpeni lajeng ndatengaken bala bantuan malih, saking jawi wetan , saha lajeng mbagun pabitingan ing pundi pundi...” untuk cerita lengkapnya silahkan dibaca sendiri di foto di bawah. Saya puyeng kalau suruh nulis ulang.

omah tiban sejarah

omah tiban sejarah


Saya tidak terlalu paham translatenya. Maafkan ya, karena krama inggilnya terlalu inggil (tinggi) dan krama alusnya terlalu alus (halus). Tapi translatenya kurang lebih: desa Bubakan Girimarto merupakan tempat singgah usai perang.  Ketika akan menyerang ke keraton Jogjakarta. Selama perjalanan dari Desa Bubakan lalu melewati desa Cendani, perjalanan seperti dituntun oleh kekuatan gaib. Burung-burung dandang yang jumlahnya ratusan berdiri di tepian selokan yang ada di sepanjang jalan yang dilewati Pangeran Sambernyowo. Burung-burung tersebut berdiri tanpa suara di depan barisan Pangeran Sambernyowo, dan setiap kali pangeran dan pasukannya selesai melewati mereka, burung-burung itu akan terbang mendahului dan berdiri lagi di depan barisan. Begitu seterusnya sampai tiga kali.

Kehadiran burung-burung itu dianggap oleh Ki Kudanawarsa sebagai pertanda buruk. Beliau menyarankan kepada Pangeran Sambernyowo untuk membatalkan rencananya menyerang Jogja. Tapi bukannya menyerah justru Pangeran Sambernyowo malah memerintahkan untuk mempercepat penyerangan.

Tak ada yang mengira bahwa Pangeran Sambernyawa akan seberani itu menyerang Jogjakarta. Hal tak terduga inilah yang justru menguntungkan Pangeran Sambernyowo. Sehingga banyak korban dari sisi Keraton Jogja dan kompeni.

Tapi Jogja lantas mendapat bala bantuan dan akhirnya Pangeran Sambernyawa menarik mundur pasukan dan berada di Ngadirejo. Singkat cerita, Sunan selanjutnya membujuk Pangeran Sambernyawa untuk kembali ke Solo mengajak Pangeran Sambernyowo berunding dengan menjemputnya di Pesanggrahan Tunggon yang ada di dekat Bengawan tanggal 4 Jumadilakir 1682. Perundingan inilah yang kemudian melahirkan kerajaan Mangkunegaran.

Pangkalan di desa Bubakan yang sudah dianggap berjasa memberangkatkan pasukan Pangeran Sambernyowo untuk menyerang Jogja selanjutnya ditandai oleh pihak Mangunegaran lantaran dianggap sudah ikut berjasa atas berdirinya Istana Mangkunegaran.

Saya bingung awalnya. Bertanya-tanya kenapa RM Said harus menyerang Jogja? Karena pengetahuan sejarah saya melompat-lompat dan tidak genap. Namun intinya, mengurutkan cerita dari banyak sumber, RM Said memberontak lantaran tidak setuju dengan perjanjian Giyanti yang membelah Jogja dan Surakarta. Ia menyerang Jogja karena Jogja bersatu dengan kompeni.
Serangan RM Said ini membuat pihak kompeni mengalami kerugian cukup banyak. Karena itulah Belanda kemudian mendesak Sultan Jogja untuk menangkap RM. Said. Belanda juga meminta kepada pihak Kasunanan untuk membujuk agar RM Said mengadakan perjanjian damai. Dari perjanjian itu lahirlah kadipaten Mangkunegaran dengan wilayah kekuasaanya meliputi beberapa wilayah milik Jogja, dan beberapa wilayah milik Surakarta.

Kalau dari cerita di kertas yang tertempel di dinding tidak disebut sebagai Rumah Tiban. Namun memang cerita yang beredar, menyebut tempat ini sebagai Rumah Tiban yang kemudian digunakan oleh Pangeran Sambernyowo atau RM Said untuk semedi. Entahlah. Apapun ceritanya, yang pasti melewati rumah ini tentunya akan mengundang rasa penasaran siapapun ketika melewatinya. Jadi jika ingin menapaki jejak Pangeran Sambernyowo di Wonogiri mungkin bisa berkunjung ke Omah Tiban yang berada di daerah Bubakan Girimarto.

Petunjuk lokasinya, dari Wonogiri lurus terus, nanti belok kiri di pasar Sidoarjo. Lurus terus sampai pentok, lalu belok kanan, dan langsung belok kiri pas sampai di kecamatan. Habis itu lurus saja terus. Pokoknya nanti rumah tiban di sebuah perempatan sebelum sampai ke Candi Muncar.



Wednesday, October 17, 2018

Warung Gongso, Pilihan Kuliner Serba Gongso Di Kota Solo

Ragam pilihan kuliner Kota Solo ada sebegitu banyaknya. Bahkan belakangan kota ini rasanya tumbuh menjadi kota kuliner. Dimana-mana, dengan mudahnya bisa kita jumpai tempat makan, dari yang bentuknya warung biasa, hik, kaki lima, sampai restoran dan cafe. Buanyak pilihan memang. Tapi dari sekian banyak pilihan ada satu tempat makan di Solo yang lumayan punya nama dan bakalan memanjakan kamu pecinta masakan gongso utamanya buat kalian yang gemar makan iga, iso, babat dan kikil. Nama warung tersebut adalah “Warung Gongso”.

Nama warungnya sebenarnya ya cuma “Warung Gongso” begitu saja. Banyak juga yang menyebutnya Warung Gongso belakang Solo Square. Tapi saya sendiri lebih suka memanggilnya dengan sebutan “Warung Gongso WG”. Sesuai dengan simbol yang nangkring di logo warung.

Sejatinya saya sudah pengen cobain makan berbagai gongsonan di sini sejak dari dulu-dulu. Warung Gongso WG cukup tenar, makanya saya ikutan penasaran untuk menjajal apakah ini warung beneran enak atau nggak.

Mencicip 17 Menu Gongso di Warung Gongso Solo

menu warung gongso

Kursi-kursi terlihat penuh saat saya datang . Hanya tersisa 2 bagian tempat yang masih kosong. Satu bagian kursi grup yang muat sekitar 6 orangan. Satu lagi kursi untuk 2 orang. Hemm, beneran, ramai ternyata.

Saya memandangi papan menu dengan expresi bingung sejenak. Iyalah, hla jebul pilihan menunya ada banyak. Saya hitung ada sekitar 17 varian menu yang bisa dipilih. Semua dari jenis ayam, sapi dan bebek.

Dari 17 menu tersebut, paling menjadi menu andalan Warung Gongso adalah menu Iga, Iso, babat, dan kikil. Kalau saya kemarin menjajal Iga gongso, babat gongso serta dada gongso.

Rasanya, weleh-weleh… bener kata orang-orang “uenak”

gongso solo
Dada Gongso
iga gongso solo
Iga Gongso


Saya itu biasanya nggak doyan makan babat-iso, tapi kemarin itu hla kok diantara 3 menu ini paling favorit banget. Babatnya itu masaknya tidak terlihat nggilani. Biasanya kalau babat dimasak wujudnya itu keliatan gimana gitu menurut saya. Tapi kemarin itu, nggak. Babat diiris kecil-kecil , gongsonannya nggak terlalu memperlihatkan wujudnya, jadi saya doyan untuk mencoba. Pun pas dijajal, rasanya duhh… kenyil, empuk sekaligus bumbunya itu merasuk sampai ke dalam-dalam.
Pun dengan menu iga gongso serta dada gongsonya. Uenak dan merasuk semua bumbunya.

Yang lebih yahut, saya kemarin memakan berbagai jenis gongso dipadukan dengan nasi kuning. Kalau biasanya gongsonan itu hanya ada nasi putih, di sini ada nasi kuning yang menjadi menu baru , sekaligus kekhasan baru buat Warung Gongso WG.

Menurut salah satu kokinya, selain cita rasa yang khas, kelebihan Warung Gongso terletak pada penyajiannya dimana gongsonan di warung gongso ini tidak memblek-memblek banyak kuah, seperti di tempat lain. Pun dengan menunya yang penuh. Misal pesan daging atau iso, maka ya hanya daging atau iso yang diberikan, tidak dicampur dengan yang lain-lain. Jadi jujur. Porsinya juga tidak pelit.

Soal harga, menu makanan di Warung Gongso murah meriah. Harga dimulai dari kisaran Rp. 8.000 sampai 15 ribuan. Dan Rp. 35.000 untuk menu campur. Harga yang sangat terjangkau di kantong. Pantas saja rame, pembeli datang hilir mudik. Hla wong sudah enak, murah pula.

PIlihan menu Warung Gongso

Sekilas Tentang Warung Gongso

warung gongso

Berdiri sejak kurang lebih 4 tahun yang lalu, Warung Gongso WG sekarang sudah memiliki beberapa cabang warung yakni di Klaten, Karanganyar, dan Honggowongso. Warung yang ternyata milik teman SMF saya ini, bisa disebut sebagai warung yang berawal dari modal nekat. Suami dan teman saya mengawali berdirinya warung ketika sang suami resign dari pekerjaannya di Timur Leste. Teman saya yang ketika itu anaknya masih bayi, tidak memungkinkan membawa bayi ke sana. Maka dari itulah, mereka kemudian mikir “mau ngapain di Solo?” Mereka akhirnya mendirikan Warung Gongso dengan mengerahkan seluruh tabungan yang tersisa.

Proses Memasak
Menu gongsonan sendiri dipilih lantaran menu ini merupakan menu masakan andalan keluarga. Seiring berjalannya waktu, warung ini semakin laris hingga hari ini. Ahh, selalu senang kalau mendengar cerita-cerita teman-teman yang sukses merintis karir sebagai pengusaha seperti ini. Keteguhan menghadapi ujian usaha, dan konsistensi menjaga kualitas produk adalah kunci sukses mereka, termasuk dengan Warung Gongso.

“Alhamdulillah banget Da, dulu aku mimpiin warungku dikenal orang. Pengen iklan ke sana kemari nggak ada dana. Tapi suamiku bilang ‘sabar, suatu saat Allah pasti kasih kejutan’ dan bener aja semua itu terkabul. Kalau mbayangin dulu itu aku masih kayak mimpi,” ujar teman saya menceritakan tentang perjalanannya.

Mengawali promosi hanya dari sosmed facebook dan twitter saja kala itu, semakin lama Warung Gongso semakin dikenal orang. Promosi dari mulut ke mulut tentang kualitas masakan tidak terpungkiri menjadi andalan hingga kemudian warung semakin dikenal ketika mulai ada beberapa media yang datang meliput. Yeahh, kata orang rejeki usaha suami istri itu berkahnya selalu mengiringi mungkin ya semacam ini. Usaha yang dirintis bersama akhirnya menunjukkan hasilnya. Warung Gongso, eksis hingga hari ini.

Nah, jika kamu penasaran ingin mencoba menu masakan gongso kalau datang ke Solo, cobain aja dateng ke Warung Gongso belakang Solo Square. Inget ya, Warung Gongso dengan logo gambar topi koki plus tulisan WG di atasnya.

Warung Gongso juga melayani delivery order wilayah Solo Raya. Kalau pengen, bisa menghubungi ke: 0813-2594-1922

Box porsi Delivery Order



Warung Gongso
Jl. Blimbing No.67, Pajang, Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57146
Buka jam: 10.30
Ig : @warunggongso

Sunday, October 14, 2018

Menara Eiffel, Patung Liberty Hingga Patung Susu Tumpah, Kebanggan Baru Kota Boyolali

Bermula dari njagong ke Boyolali, siapa sangka saya dan seorang teman akhirnya malah piknik ke Perancis, Amerika, bahkkan Italia. 3 negara 2 benua dalam satu waktu. Asiknya lagi tanpa paspor. Kurang keren apa coba saya ini?

Lohh, kok bisa?

Haha. Iyalah. Karena saya datang ke Eropa dan Amerika versi KW-KW an. Jadi ya yang saya lihat hanya Paris-parisan, Italia-italianan, dan Liberty-libertynan. Yap, tempat yang tidak sengaja saya kunjungi ini adalah Menara Eiffel, Menara Pisa serta Patung Liberty KW yang ada di Boyolali. Nama dari ketiga keajaiban dunia tersebut adalah Taman Tiga Menara

Taman Tiga Menara, 7 Keajaiban Dunia Versi Boyolali

Awalnya nggak sedikitpun ada niatan datang kemari karna sejatinya saya nggak terlalu suka wisata KW-KW an. Tapi berhubung tempat njagong saya hanya beberapa meter dari Menara Eiffel versi Boyolali, ya sudahlah sekalian aja mampir. Siapa tau, habis liat yang KW, terus dua bulan kemudian bisa beneran dateng ke sana kan ya siapa tau. Wekekek

patung liberty boyolali

Saturday, October 13, 2018

Hanya Sebuah Pemikiran Usai Pulang Dari Lombok

“Barangkali di sana ada jawabnya,
mengapa di dusunku terjadi gempa?
Mungkin Tuhan mulai enggan
melihat tingkah anak muda
yang selalu salah dan bangga,
kepada dosa-dosa...”

Sebuah video hasil rekaman salah satu anggota tim kami yang menshoot salah seorang ibu-ibu korban gempa Lombok yang bernyanyi menggubah lirik lagu Bang Ebbiet di dalam tenda entah kenapa mengaduk perasaan saya. Trenyuh. Wajah yang polos, pasrah, sekaligus prihatin terpancar di wajahnya.


Sebuah pertanyaan mengapa, wajar tentunya ditanyakan olehnya. Wajar pula tentunya ketika kemudian saya atau anda ikut bertanya-tanya mengapa gempa terjadi? Mengapa bencana terjadi di tanah air?

mainan bego diantara puing reruntuhan gempa lombok
docpri

Wednesday, October 10, 2018

Rekomendasi Tempat Belajar Memanah Di Jogjakarta

Mengisi waktu luang dengan berolahraga, rasanya sangat jarang sekali saya lakukan belakangan ini. Masalahnya satu, malas. Bahkan kebiasaan menyempatkan diri berenang paling tidak dua minggu sekali yang dulu saya terapkan, sudah tak pernah lagi saya lakukan. Meski saya sudah mewanti-wanti diri “ayolah Da, inget umur! Kamu harus rajin olahraga biar tetep muda dan fit!” tetap saja tak berhasil menggerakkan saya untuk berolah raga lagi. Malas euy, habisnya dulu banyak teman-teman yang bisa saya ajak. Sekarang, langka T.T

Untungnya, beberapa waktu lalu ada seorang teman baru yang mengajak saya mendatangi sebuah tempat memanah di Jogjakarta. Yeahh walau hanya memanah, paling tidak tubuh ini olah raga barang beberapa menit.


tempat memanah di jogja


Friday, September 14, 2018

Menyibak Semak, Menuju Air Terjun Tersembunyi Candi Muncar

“Kita, mau lanjut ini Na?” kaki saya terus melangkah, namun mulut saya mempertanyakan keraguan yang menyelimuti batin.

Baru beberapa langkah kami berjalan menembus rungkut semak tak jauh dari telaga muncar, saya sudah awang-awangen

“Kita coba ajak bokapmu sekali lagi aja, deh, suruh nemenin!” usul saya.

Yowes. Tapi kok ketoke tetep wegah, --Ya sudah, tapi kok sepertinya tetep nggak bakal mau--” Nana berkata ragu, seperti sudah hafal sifat ayahnya yang merupakan pakde saya itu. 

Pada akhirnya kami berputar balik, berjalan kembali ke warung yang ada di samping Candi Muncar.   Pakde saya tampak kelelahan, ia sedang tiduran di warung saat kami datang.

telaga muncar
Telaga Muncar

Saturday, September 08, 2018

Wisata Puncak Secokro, Keindahan Wonogiri Sisi Timur

Mendatangi puncak Secokro beberapa waktu lalu sebenarnya saya sedikit awang-awangen. Pasalnya, cedera pinggang saya sedang kambuh-kambuhnya. Tapi ya mumpung hari itu, pakde saya bersedia mengantar kami dengan mobilnya. Kenapa nggak? Toh di Mobil saya bisa sembari tiduran.


Sunday, August 12, 2018

Kolam Renang Soko Langit, Kolam Rooftop Rasa Ubud Di Wonogiri

Padepokan Soko Langit, akhir-akhir ini namanya cukup bergema sebagai kawasan wisata baru di Wonogiri. Saya dua kali berkunjung ke lokasi ini. Pertama, adalah saat pembangunan di Soko Langit baru ada kebun buahnya saja, dan beberapa waktu lalu saya kembali lagi ketika wisata di desa Conto Bulukerto tersebut sudah dilengkapi dengan kolam renang rooftop yang sering disebut kolam renang Soko Langit

kolam renang soko langit
Kolam Soko Langit
docpri

Tentu saja, saya tertarik mengunjungi Padepkan Soko Langit, lantaran kolam renang di sana terlihat memukau dilihat dari foto-foto akun-akun hits Wonogiri dan seputaran Surakarta.

Kolam renang Soko Langit berada di ketinggian, ia disebut-sebut sebagai kolam renang yang mirip kolam di Ubud sana. Yeahh, jadi istilahnya, ini swimming pool Wonogiri, rasa Ubud. Berlebihan memang, tapi tak apalah, pasalnya memang kolam renang Soko Langit merupakan kolam renang rooftop yang mungkin satu-satunya di Wonogiri yang memiliki view pegunungan layaknya di Ubud sana.

Daftar Isi
  1. Pemandangan Soko Langit
  2. Tarif Berenang dan Tiket Masuk Soko Langit
  3. Rute Menuju Lokasi Kolam Renang Soko Langit

Megahnya Pemandangan Kolam Renang Soko Langit


Kolam Renang Soko Langit Desa Conto Bulukerto Wonogiri terdiri dua bagian kolam renang. Kolam renang anak-anak dan Kolam renang dewasa. Kedalaman kolam renang dewasa Soko Langit adalah 1,5 meter sedangkan kolam anaknya 50 cm. Untuk kolam renang anak sisi-sisi pinggirnya diberi pagar-pagar besi, yeah mungkin maksudnya supaya anak-anak tidak ngglundung ke bawah, sementara di sampingnya adalah kolam renang dewasa tanpa pengaman di sisi pagar dan paling favorit dijadikan spot berfoto


Taken by @anggarawepe

Di kolam renang dewasa inilah, pengunjung bisa berfoto bagaikan berada di kolam renang Bali. Barisan perbukitan yang menghijau yang mengelilingi kawasan Bulukerto berdiri megah. Nampak asri, sekaligus memberikan hawa sejuk di kawasan ini.

Berapa Tarif Berenang Di Soko Langit?

Untuk tarif berenang di Soko Langit pengunjung diharuskan membayar Rp. 7.000. Namun untuk masuk ke kawasan Padepokan Soko Langit sendiri diharuskan membayar Rp. 5.000. Jadi untuk berenang kurang lebiih butuh biaya Rp. 12.000. Oh ya, tambah parkir Rp. 2.000

Selain menghadirkan kolam renang, Soko Langit juga memiliki beberapa wahana wisata yang lain. Seperti flying fox, kebun buah, gardu pandang, juga spot foto di atas kolam renangnya.



rumah Hobbit
docpri
Untuk kebun buah di Soko Langit, terdapat beberapa jenis buah seperti buah naga, pepaya, jambu dan jeruk. Meski begitu, tentu saja buah-buah tersebut tidak selalu ada, lantaran harus mengikuti masa panennya.

Kebun buah naga, diambil beberapa bulan sebelumnya
docpri
Sementara jika ingin menikmati flying fox, kita cukup mengeluarkan biaya Rp. 10.000, dan jika ingin menikmati bentangan ketinggian alam Bulukerto bisa naik ke atas Gardu pandangnya dengan membayar Rp. 2.000 saja.

view gardu pandang soko langit
View dari Gardu Pandang
Taken by @anggarawepe
Jika masih belum puas berfoto-foto maka bisa naik ke bangunan di atas kolam renang yang memiliki spot foto bunga-bunga bentuk love dengan merogoh kocek Rp. 2.000 lagi.

spot foto soko langit
Spot foto di atas kolam renang
docpri
Ada baiknya datang ke Soko Langit selain weekend, karena dijamin obyek wisata yang kabarnya milik orang Dinas Pendidikan ini selalu ramai kalau weekend ataupun hari libur tiba. Seperti kehadiran kami beberapa waktu lalu, yangmana kolam renangnya nyaris serupa cendol. Rame euy!

Di Obyek Wisata Desa Conto Bulukerto tersebut, selain menikmati wahana di atas, kamu juga bisa menikmati kebersamaan bareng keluarga atau teman-teman di gardu-gardu joglonya. Atau, kalau kamu suka keteduhan, bisa dicoba duduk-duduk di bawah ranting-ranting pohon cengkehnya yang ada di dekat mushola sembari mungkin cemal-cemil cengkeh, kalau doyan sih. Haha.

lesehan soko langit
Joglo-joglo untuk lesehan
docpri

Bagaimana Rute Menuju Padepokan Soko Langit?


Rute untuk menuju lokasi Kolam Renang Soko Langit cukup mudah. Rute lokasi Padepokan Soko Langit sendiri dari Wonogiri kota, pacu terus motor ke arah Slogohimo. Nantinya Pasar Slogoimo lurus terus sampai tiba di Pom Bensin Slogoimo. Nah, dari Pom Bensin Slogoimo ini ambil jalan ke kiri yang ada di sampingnya. Setelah itu lurus terus sampai ketemu tong di tengah jalan yang ada di pasar Bulukerto. Nah dari tong ini belok ke kiri, lantas lurus lagi sampai ketemu gerbang Desa Wisata Conto. Dari gerbang ini lantas lurus lagi melewati jalan menanjak, nantinya sebelah kiri ada lokasi parkir untuk ke Padepokan Soko Langit.

PERINGATAN
Jangan gunakan google map karna buanyak yang tersesat dan diarahkan ke jalan yang susah dilalui motor ataupun mobil. Ikuti saja rute yang saya jelaskan di atas. Dan lebih baik andalkan penduduk sekitar untuk sampai ke lokasi Soko Langit

Sepanjang perjalanan menuju kolam renang Soko Langit, barisan perbukitan, dan persawahan yang menghijau nampak menentramkan. Sungguh saya tak henti-hentinya berdecak penuh syukur Wonogiri masih banyak memiliki pemandangan yang asri semacam ini.

Oh ya, selain Padepokan Soko Langit, Desa Wisata Conto juga memiliki beberapa obyek wisata yang lain, seperti hutan Sadiman dan Goa Resi. Untuk Goa Resi Insya Allah akan saya bahas di postingan terpisah. Untuk Obyek Wisata Wonogiri yang lain bisa dibaca di postingan tempo hari.

Terus kalau pengen alternatif kolam renang Wonogiri selain kolam renang Soko Langit Bulukerto mungkin bisa baca postingan saya tentang waterboom gajah mungkur. Jangan lupa untuk membaca postingan tentang Wonogiri yang lain juga.

Nah, kalau dari Soko Langit ingin sekalian mampir kulineran, bisa tuh, coba mampir datang ke Angkringan Tepi Sawah yang ada di Ngadirojo.

Baca Juga



Padepokan Soko Langit

Dusun Nglarangan, Conto, Bulukerto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah 57697