Friday, September 14, 2018

Menyibak Semak, Menuju Air Terjun Tersembunyi Candi Muncar

“Kita, mau lanjut ini Na?” kaki saya terus melangkah, namun mulut saya mempertanyakan keraguan yang menyelimuti batin.

Baru beberapa langkah kami berjalan menembus rungkut semak tak jauh dari telaga muncar, saya sudah awang-awangen

“Kita coba ajak bokapmu sekali lagi aja, deh, suruh nemenin!” usul saya.

Yowes. Tapi kok ketoke tetep wegah, --Ya sudah, tapi kok sepertinya tetep nggak bakal mau--” Nana berkata ragu, seperti sudah hafal sifat ayahnya yang merupakan pakde saya itu. 

Pada akhirnya kami berputar balik, berjalan kembali ke warung yang ada di samping Candi Muncar.   Pakde saya tampak kelelahan, ia sedang tiduran di warung saat kami datang.

telaga muncar
Telaga Muncar

Saturday, September 08, 2018

Wisata Puncak Secokro, Keindahan Wonogiri Sisi Timur

Mendatangi puncak Secokro beberapa waktu lalu sebenarnya saya sedikit awang-awangen. Pasalnya, cedera pinggang saya sedang kambuh-kambuhnya. Tapi ya mumpung hari itu, pakde saya bersedia mengantar kami dengan mobilnya. Kenapa nggak? Toh di Mobil saya bisa sembari tiduran.


Sunday, August 12, 2018

Kolam Renang Soko Langit, Kolam Rooftop Rasa Ubud Di Wonogiri

Padepokan Soko Langit, akhir-akhir ini namanya cukup bergema sebagai kawasan wisata baru di Wonogiri. Saya dua kali berkunjung ke lokasi ini. Pertama, adalah saat pembangunan di Soko Langit baru ada kebun buahnya saja, dan beberapa waktu lalu saya kembali lagi ketika wisata di desa Conto Bulukerto tersebut sudah dilengkapi dengan kolam renang rooftop yang sering disebut kolam renang Soko Langit

kolam renang soko langit
Kolam Soko Langit
docpri

Tentu saja, saya tertarik mengunjungi Padepkan Soko Langit, lantaran kolam renang di sana terlihat memukau dilihat dari foto-foto akun-akun hits Wonogiri dan seputaran Surakarta.

Kolam renang Soko Langit berada di ketinggian, ia disebut-sebut sebagai kolam renang yang mirip kolam di Ubud sana. Yeahh, jadi istilahnya, ini swimming pool Wonogiri, rasa Ubud. Berlebihan memang, tapi tak apalah, pasalnya memang kolam renang Soko Langit merupakan kolam renang rooftop yang mungkin satu-satunya di Wonogiri yang memiliki view pegunungan layaknya di Ubud sana.

Daftar Isi
  1. Pemandangan Soko Langit
  2. Tarif Berenang dan Tiket Masuk Soko Langit
  3. Rute Menuju Lokasi Kolam Renang Soko Langit

Megahnya Pemandangan Kolam Renang Soko Langit


Kolam Renang Soko Langit Desa Conto Bulukerto Wonogiri terdiri dua bagian kolam renang. Kolam renang anak-anak dan Kolam renang dewasa. Kedalaman kolam renang dewasa Soko Langit adalah 1,5 meter sedangkan kolam anaknya 50 cm. Untuk kolam renang anak sisi-sisi pinggirnya diberi pagar-pagar besi, yeah mungkin maksudnya supaya anak-anak tidak ngglundung ke bawah, sementara di sampingnya adalah kolam renang dewasa tanpa pengaman di sisi pagar dan paling favorit dijadikan spot berfoto


Taken by @anggarawepe

Di kolam renang dewasa inilah, pengunjung bisa berfoto bagaikan berada di kolam renang Bali. Barisan perbukitan yang menghijau yang mengelilingi kawasan Bulukerto berdiri megah. Nampak asri, sekaligus memberikan hawa sejuk di kawasan ini.

Berapa Tarif Berenang Di Soko Langit?

Untuk tarif berenang di Soko Langit pengunjung diharuskan membayar Rp. 7.000. Namun untuk masuk ke kawasan Padepokan Soko Langit sendiri diharuskan membayar Rp. 5.000. Jadi untuk berenang kurang lebiih butuh biaya Rp. 12.000. Oh ya, tambah parkir Rp. 2.000

Selain menghadirkan kolam renang, Soko Langit juga memiliki beberapa wahana wisata yang lain. Seperti flying fox, kebun buah, gardu pandang, juga spot foto di atas kolam renangnya.



rumah Hobbit
docpri
Untuk kebun buah di Soko Langit, terdapat beberapa jenis buah seperti buah naga, pepaya, jambu dan jeruk. Meski begitu, tentu saja buah-buah tersebut tidak selalu ada, lantaran harus mengikuti masa panennya.

Kebun buah naga, diambil beberapa bulan sebelumnya
docpri
Sementara jika ingin menikmati flying fox, kita cukup mengeluarkan biaya Rp. 10.000, dan jika ingin menikmati bentangan ketinggian alam Bulukerto bisa naik ke atas Gardu pandangnya dengan membayar Rp. 2.000 saja.

view gardu pandang soko langit
View dari Gardu Pandang
Taken by @anggarawepe
Jika masih belum puas berfoto-foto maka bisa naik ke bangunan di atas kolam renang yang memiliki spot foto bunga-bunga bentuk love dengan merogoh kocek Rp. 2.000 lagi.

spot foto soko langit
Spot foto di atas kolam renang
docpri
Ada baiknya datang ke Soko Langit selain weekend, karena dijamin obyek wisata yang kabarnya milik orang Dinas Pendidikan ini selalu ramai kalau weekend ataupun hari libur tiba. Seperti kehadiran kami beberapa waktu lalu, yangmana kolam renangnya nyaris serupa cendol. Rame euy!

Di Obyek Wisata Desa Conto Bulukerto tersebut, selain menikmati wahana di atas, kamu juga bisa menikmati kebersamaan bareng keluarga atau teman-teman di gardu-gardu joglonya. Atau, kalau kamu suka keteduhan, bisa dicoba duduk-duduk di bawah ranting-ranting pohon cengkehnya yang ada di dekat mushola sembari mungkin cemal-cemil cengkeh, kalau doyan sih. Haha.

lesehan soko langit
Joglo-joglo untuk lesehan
docpri

Bagaimana Rute Menuju Padepokan Soko Langit?


Rute untuk menuju lokasi Kolam Renang Soko Langit cukup mudah. Rute lokasi Padepokan Soko Langit sendiri dari Wonogiri kota, pacu terus motor ke arah Slogohimo. Nantinya Pasar Slogoimo lurus terus sampai tiba di Pom Bensin Slogoimo. Nah, dari Pom Bensin Slogoimo ini ambil jalan ke kiri yang ada di sampingnya. Setelah itu lurus terus sampai ketemu tong di tengah jalan yang ada di pasar Bulukerto. Nah dari tong ini belok ke kiri, lantas lurus lagi sampai ketemu gerbang Desa Wisata Conto. Dari gerbang ini lantas lurus lagi melewati jalan menanjak, nantinya sebelah kiri ada lokasi parkir untuk ke Padepokan Soko Langit.

Sepanjang perjalanan menuju kolam renang Soko Langit, barisan perbukitan, dan persawahan yang menghijau nampak menentramkan. Sungguh saya tak henti-hentinya berdecak penuh syukur Wonogiri masih banyak memiliki pemandangan yang asri semacam ini.

Oh ya, selain Padepokan Soko Langit, Desa Wisata Conto juga memiliki beberapa obyek wisata yang lain, seperti hutan Sadiman dan Goa Resi. Untuk Goa Resi Insya Allah akan saya bahas di postingan terpisah. Untuk Obyek Wisata Wonogiri yang lain bisa dibaca di postingan tempo hari.

Terus kalau pengen alternatif kolam renang Wonogiri selain kolam renang Soko Langit Bulukerto mungkin bisa baca postingan saya tentang waterboom gajah mungkur. Jangan lupa untuk membaca postingan tentang Wonogiri yang lain juga.

Nah, kalau dari Soko Langit ingin sekalian mampir kulineran, bisa tuh, coba mampir datang ke Angkringan Tepi Sawah yang ada di Ngadirojo.

Baca Juga



Padepokan Soko Langit

Dusun Nglarangan, Conto, Bulukerto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah 57697

Friday, August 10, 2018

Agra Rooftop Alila, Tempat Terbaik Menikmati Sunset Di Kota Solo

“Bukankah senja, hanya akan membawa kita pada kegelapan?”
“Senja memang membawa kita menuju kegelapan. Tapi kalau kita tahu cara bersyukur, banyak bintang dalam gelap yang menunggu untuk kita nikmati”

--konspirasi alam semesta, fiersa bersari--

Yeahh, senja selalu indah dan salah satu tempat untuk melihat senja di kota Solo adalah Hotel Alila. Membayangkannya saja saya sudah merinding. Menikmati senja dari Hotel tertinggi di kota Solo, aihh, pastilah menakjubkan.

Di suatu hari yang cukup cerah, akhirnya saya kesampaian juga menikmati senja, menikmati mentari yang pelan-pelan berpulang dari lantai 29 Hotel Alila, tepatnya di Agra Rooftop. Pipi saya rasanya menghangat, senang karena saya bertemu dengan ketinggian sekaligus bertemu semburat jingga yang berpamitan.

sunset agra rooftop solo


Dari atas Agra, rumah-rumah berbaris, nampak kecil. Pun Gunung Merapi Merbabu nampak samar mengintip, seolah malu-malu melihat kehadiran saya yang kali ini ketinggiannya rasanya menjadi sejajar.

view hotel alila solo

Aneka rupa makanan dan minuman terhampar, siap untuk dipilih oleh saya dan tentunya rombongan Blogger Solo sore hari itu. Saya lebih memilih mencomot teh rosella, pertimbangannya karena jujur saja saya tertarik dengan penampilannya. Nampak segar  dengan embun es yang menyelimuti gelasnya, dan terlihat cantik dengan kayu manis yang diposisikan mirip sedotan, serta daun yang mungkin daun rashberi di atasnya. Pertimbangan yang lain karena ini minuman non alkohol, dan tentu saja manfaat rosella yang kaya akan antioksidan.



Usai mentari benar-benar pulang, momen nyunset di Agra Rooftop yang saya tunggu adalah momen bergantinya terang menjadi gelap. Kegelapan dari lantai atas Agra Rooftop Hotel Alila, tak lagi berarti lantaran gemerlap lampu dari rumah-rumah kota Solo di bawahnya memberikan nyala terang yang riang. Tak perlu saya memproklamirkan diri sebagai pecandu ketinggian, karena siapapun, saya rasa akan bahagia hatinya melihat meriahnya lampu dari ketinggian Hotel Alila seperti ini.

agra alila malam hari
Mulai gelap

Gelap

Sedikit Tentang Agra Rooftop Alila

suasana hotel alila

Agra Rooftop ini merupakan Bar & Lounge. Jadi di bagian dalam adalah Bar, dan di bagian luar adalah lounge. Untuk minuman kita tentu saja tidak harus memesan minuman beralkohol (cocktail), karena di sini juga menyediakan aneka rupa pilihan minuman non alkohol (mocktail).

Untuk makanan, ada begitu banyak pilihan makanan yang bisa dipesan. Makanan yang sudah pasti disajikan dengan bentuk yang menarik, hingga penampilannya bisa membuat perut saya seketika bergejolak meminta jatah.

menu hotel alila solo





Hotel Alila selain berfungsi sebagai hotel, memang menyediakan beberapa fasilitas yang bisa diakses secara publik tanpa harus menginap. Liberica Coffe, Kolam Renang Alila dan Agra Rooftop diantaranya. Untuk Agra Rooftop ini sendiri free entry. Kita bisa masuk dengan gratis, namun sebagai gantinya kita bisa memesan makanan maupun minuman ketika masuk ke dalamnya. 

Di waktu-waktu tertentu, Agra Rooftop juga menghadirkan acara-acara tertentu. Sehingga untuk informasi lebih jelasnya, bisa dipantau melalui akun Ignya @agrarooftop

Thursday, August 09, 2018

Angkringan Tepi Sawah, Menikmati Syahdu Kuliner Wonogiri

Dari sisi luar, bangunan Angkringan Tepi Sawah Wonogiri terlihat mencolok. Nyala lampu yang cukup kentara, gemerlap di sisi pagar, pohon, serta bentuk bangunan yang serupa rumah panggung, dimana bagian bawah berupa lokasi parkir, dan sisi atas merupakan lokasi rumah makan, saya rasa cukup bisa memancing siapapun untuk menoleh melihatnya sejenak. Termasuk saya dan para sepupu kala kami melewati jalanan Ngadirojo-Wonogiri.

angkringan tepi sawah wonogiri

Awalnya saya pikir, saya bakalan menemukan lokasi angkringan yang biasa saja. 
“Halah, palingan cuma angkringan anak muda yang menunya sok modern, dan harganya mahal tapi rasa biasa saja,” pikir saya.

Monday, August 06, 2018

Ketika Menulis Traveling Tak Hanya sekedar Traveling Tapi Juga Butuh SEO

Sebagai pengelola blog traveling, tentunya yang dibutuhkan bukan hanya traveling saja. Karena content traveling pun  butuh teknik optimasi yang nantinya akan membuat blog terindeks oleh google.

Yeahh, karena saya tidak mau tulisan saya tidak dibaca orang, karena rasanya percuma jika kita menulis tanpa ada pembaca, makanya kemarin saya menyempatkan diri datang Ke Jogjakara untuk mengikuti workshop dari pakar SEO Revolution, Didik Arwinsyah. Acara bermafaat ini bertajuk AT Caravan ( AccessTrade Caravan).

Mengenai  ACCESSTRADE sendiri adalah platform afiliasi asal Jepang yang sudah hadir di Indonesia sejak tahun 2013.

Fungsi ACCESSTRADE adalah sebagai penghubung antara pemasang iklan dengan pemilik website yang ingin memasang iklan di web/blog nya.



Saya bersyukur mengikuti acara ini karena saya seperti mendapatkan energi baru lagi agar menulis tak hanya sekedar menulis. Karena tulisan kita akan jauh lebih bermanfaat menjangkau banyak masyarakat, ketika tulisan kita disayang oleh google.

Beberapa teknik SEO yang diberikan oleh Didik Arwinsyah diantaranya adalah mengenai:
1. Survey Keyword
Membuat sebuah perencanaan keyword sangat dibutuhkan agar kita bisa meraih market untuk keyword yang kita bidik. Survey keyword yang sangat disarankan oleh Mas Didik adalah menggunakan fitur google sugest yang tersedia di pencarian google. Pertimbangannya, lantaran google sugest menurutnya akan selalu lebih update dibandingkan tools yang lain.

Yeah, sejauh ini jujur saja meskipun saya menargetkan keyword dalam setiap tulisan saya, tapi saya paling malas membuat perencanaan. Apa yang ingin saya tulis, saya tulis, apa yang saya pikir saya tuang. Namun saya hanya sekedar menargetkan satu keyword tanpa pertimbangan keyword turunan yang sekiranya dibutuhkan. Padahal hal ini mejadi penting lantaran keyword turunan adalah keyword yang bisa memancing pembaca terjebak dalam tulisan kita tanpa ia perlu merasa benar-benar terjebak. Tentu saja, karena kita keyword kita masih relevan dengan tulisan kita.

2. Backlink
Mas Didik Menegaskan bahwasanya backlink bisa membuat trafik kita naik. Karena tentu saja semakin banyak backlink yang mengarah ke blog kita, blog pun akan lebih dipercaya google. Untuk backlink, Mas didik pun menyarankan agar mencari backlink website dari web yang spam scorenya rendah

Nah, untuk perkara ini, sejatinya saya sudah memiliki beberapa backlink dari situs yang cukup terpercaya. Namun ya itu, nggak banyak. Haha. Yeahh, mungkin kapan-kapan kalau tak malas saya mau cari backlink lagi.

3. Inbound link dan external link
Saya sejatinya kurang paham penjelasan Mas Didik tentang bagian ini. Karena mungkin saya sudah sedikit teracuni denga beberapa pendapat mengenai Inbound link dan External link yang beraneka rupa pendapatya.

Yang pasti Mas Didik menyampaikan bagaimana keharusan Inboud link dan external link yang sebaiknya relevan

4. Submit URL yang sudah tidak berlaku
Nah, bagian ini sejatinya saya yang sedikit rancu. Entah pengertian saya salah atau gimana. Yang saya tangkap menurut Mas Didik submit Url sudah tidak bisa lagi digunakan. Akan tetapi saya mencoba submit url masih bisa, meskipun itu efektif atau tidak saya juga tidak paham. Atau, jangan-jangan yang ia maksud bukan bagian ini. Entahlah. Kapan-kapan saya tanyakan lagi saja.

5. Panjang karakter 5000 karakter
Untuk bagian ini sih, saya dong-dongan. Kalau lagi males sih ya nulis paling 300 kata. Bisa mencapai 5000 karakter kalau lagi semangat. Bahkan lebih dari itupun  bakalan sampai tanpa terasa. Tapi ya itu banyak malasnya plus ujungnya apa yang ingin saya tulis saya tulis tanpa mikir SEO yang bener

6. Menghindari banyaknya perulangan
Nah, ini yang saya masih jauh dari kata mampu. Mengulang kalimat rasanya masih sering saya lakukan. Tapi ya besuk-besuk coba saya kurangi

7. Memperhatikan kecepatan loading
Masalah kecepatan loading blog saya dari dulu sejatinya sudah saya ketahui, akan tetapi loading blog saya yang jauh dari optimal ini malas untuk saya perbaiki. La mau gimana, nguprek koding je karna template saya memang bermasalah. Padahal saya sedang dalam kondisi super malas urusan sama koding. Jadi ya sudah lah kapan-kapan saja, meskipun entah kapan.

8. Menurunkan Spam Score
Halah, ini apalagi, saya tahu spam score saya lumayan tinggi. Tapi pun saya belum menemukan penyebab sebenar-benarnya. Kalau yang ini sudah saya coba dari dulu beberapa kali, masih saja gagal. Jadi ya ini sama dengan poin no 7, kapan-kapan saja meskipun entah kapan.

Meskipun beberapa poin di atas masih aras-arasen saya optimalkan, namun setidaknya mengikuti acara kemarin saya lebih memiliki tenaga untuk segera bergegas memperbaiki blog ini. Yeahh, semoga sih tenaganya nggak menguap sebelum sempat melakukan upaya optimasi. Biar blog traveling saya terus bisa disayang google.



Sunday, August 05, 2018

Ketika Menpar Arief Yahya Dan Mendes PDTT Bicara Tentang Gunung Kidul

Ademe gunung merapi purba
melu krungu swaramu ngomongke opo
Ademe gunung merapi purba
sing neng Nglanggeran Wonosari Yogyakarta


Satu tembang tentang Gunung Api Purba Nglanggeran begitu syahdu dinyanyikan Didi Kempot 31 Juli 2018 kemarin di Acara Dialog Nasional Yogyakarta bersama Menpar Arief Yahya dan Mendes PDTT( Mentri Desa Pembangunan DaerahTertinggal) Eko Putro Sandjoyo.




Tembang pembuka acara ini mengulik lagi  ingatan saya tentang perjalanan saya ke kawasan Nglanggeran beberapa waktu silam. Ya, satu tempat yang membuat saya terpesona dengan Gunung Kidul adalah  Nglanggeran. Saya terpesona dengan bagaimana peengelolaan Desa Wisata ini hingga benar-benar menjadi sebuah kawasan  dimana pariwisata dirasakan benar manfaatnya oleh masyarakat hingga ia mampu mengurangi urbanisasi lantaran banyak pemudanya yang kemudian ikut nyengkuyung menggarap wisata Desa mereka. Pun, saya juga kagum tentang bagaimana Nglanggeran menjadi sebuah kawasan wisata, yang benar-benar dikelola tanpa mengabaikan kelestarian ke depannya. 

Baca Juga



Usai penampilan Didi Kempot, Dialog Nasional kemarin, diawali dengan sambutan yang dilakukan oleh Bupati Gunung Kidul, dimana ia menyebutkan bagaimana Gunung Kidul menjadi daerah yang luar biasa berpotensi dari sisi pariwisata. Seperti keberadaan garis-garis pantai yang membentang luas, geopark pegunungan sewu , serta adanya sejumlah gua di sana. Namun dalam kesempatan ini, sang Bupati Gunung Kidul menekankan mengenai masih dibutuhkannya perhatian pengembangan pariwisata dan pembangunan desa.

Beliau juga sempat menyebutkan mengenai bagaimana Kawasan Pantai perlu untuk ditata ulang, dan mengingatkan bapak Menpar bahwa momen porak porandanya beberapa kawasan Pantai Gunung Kidul adalah saat yang tepat untuk menata ulang semuanya.

Dalam kesempatan wawancara dengan beberapa wartawan pun, Menpar menanggapi bahwasanya Menpar menunggu adanya proposal yang nantinya akan di follow up dengan dibantunya pembuatan  master plan yang bisa segera jadi di tahun 2019.\

Menpar mengingatkan pula bahwasanya kawasan pantai sudah seharusnya menjadi beranda depan rumah kita dimana hanya ada pantai dan laut. Sementara sudah selayaknya para pedagang ditata  di jalan dan bukan di tepi pantainya, sehingga keamanan pun lebih terjaga jika sewaktu-waktu terjadi gelombang tinggi seperti akhir-akhir ini.

Yeahh, dalam hati saya hanya bisa membatin sepakat, karena selain masalah keamanan, estetika dan kepuasan bermain-main di pantai pun lebih bisa didapat oleh pengunjung. Pun, saya rasa ini bisa mengurangi sampah pantai meskipun mungkin dengan porsi yang tak terlalu besar.

Dalam kesempatannya berdialog di panggung Menpar Arief Yahya menyampaikan bahwasanya 2019 Indonesia untuk pertama kalinya kontribusi ekonomi dari sektor pariwisata akan mengalahkan sektor migas dan sektor berbasis Sumber Daya Alam. Ia juga sempat menyampaikan bahwasanya sektor pariwisata saat ini dan di masa mendatang adalah andalan ekonomi Indonesia

 “Pariwisata adalah industri paling mudah dan murah untuk meningkatkan pendapatan dan membuka lapangan kerja,” ujarnya.

Sementara Mendes PDTT mengingatkan mengenai pesan Presiden Jokowi tentang “pertumbuhan ekonomi yang baik akan dibarengi dengan pengurangan kemiskinan dan pengurangan kesenjangan yang akan akan menjadi sumbu efektif dalam mengurangi gejolak sosial”

Ia menjelaskan bahwasanya keberpihakan Pemerintah pada pembangunan ekonomi desa ditunjukkan dengan alokasi dana yang terus naik setiap tahun yangmana di tahun 2018 rata-rata per desa sudah mencapai Rp. 800 juta/bulan.

Secara garis besar kedua mentri menyampaikan mengenai Pemerintahan Jokowi mampu meninggalkan ketergantungan ekonomi dari SDA dengan membangun potensi ekonomi berbasis pariwisata  dan ekonomi pedesaan yang senada dengan Nawa Cita yang dicetuskan oleh presiden Joko Widodo.

Dan Kabupaten Gunung Kidul adalah contoh daerah yang minim SDA namun bisa bangkit perekonomian melalui sektor pariwisata dan pedesaannya

Dialog Nasional kemarin rasanya benar-benar mampu mempertemukan antara Warga, pejabat setempat dengan para Mentri. Terbukti momen ini dimanfaatkan benar oleh mereka untuk menyampaikan pesan dan uneg-uneg mengenai apa yang terjadi dan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat Gunung Kidul utamanya dalam bidang pariwisata serta Pembangunan Desa Tertinggal

Selain Bupati Bu Badingah sejumlah pengelola kawasan wisata sekitar Gunung Kidul pun turut menyampaikan pesannya, seperti yang disampaikan oleh pengelola wisata Pantai Baron dimana ia menyampaikan bahwasanya ia sangat mengharap adanya bantuan untuk pengadaan Mobil Ambulance mengingat ambulance sangat penting untuk membantu mempercepat pertolongan apabila terdapat kejadian yang tidak diinginkan di kawasan Pantai Baron, mengingat Pantai ini memiliki pengunjung yang cukup banyak setiap waktunya.


Peserta yang lain pun sempat mengutarakan keresahannya mengenai masih banyaknya kawasan Gunung Kidul yang dilanda kekeringan, sehingga ia mengharapkan kepada Mendes PPDT untuk menghijaukan kawasan Gunung Kidul salah satunya dengan dibangunnya banyak embung, serta penghijauan layaknya yang dilakukan pada lahan kosong yang berada di wilayah Sumba.
***
Sebagai tukang dolan yang cukup sering main ke Gunung kidul saya ikut berharap, semoga ke depan Gunung Kidul semakin baik dan maju. Namun semoga ke depan kemajuan Gunung Kidul, tidak mengurangi kenyamanannya sebagai lokasi huni, tidak macet tentu saja, serta budaya masyarakat yang masih terjaga. Dan tentu saja semoga segala aspek kemajuan pariwisata, pengelolaannya dibarengi pertimbangan-pertimbangan mengenai kelestarian alamnya, kenyamanan penduduknya, dan tidak semata-mata memaksa melulu mengejar untung. 



Monday, July 30, 2018

#CDJ 3 : Perbedaan

"Sudah mulai puasa ya? " Ibu kos saya di Jogja, membuka pembicaraan saat saya dimintanya mengantar ke tempat saudaranya ke sebuah daerah di sekitar Pogung Jogja. 

"Iya, Bu.  Hari pertama ini,"  terang saya kepada perempuan berusia lebih dari separuh abad bermata sipit persis keturunan China itu.

"Iya.  Adik laki-laki saya juga sudah sahur tadi, " ceritanya.

Saya mengernyit. Setau saya,  Ibu kos saya adalah non muslim.

"Adik saya muslim. Dari seluruh saudara saya.  Hanya dia yang Islam, " ceritanya lagi seperti paham ketidakmengertian saya.

“Oalah...” saya mengangguk-angguk.
sumber: google


Terjawab sudah pertanyaan yang saya batin selama beberapa waktu ini. Beberapa kali saat jam-jam solat saya kok kerap melihat adik laki-laki Bu Kos berada di pancuran seperti sedang berwudhlu.  

"Adik saya itu Islam, karena dulu ikut istrinya," jelasnya.  

Deg, dada saya mendadak berdesir. 

"Ooh. Berapa bersaudara Bu? " saya mencoba tetap fokus menanggapi pembicaraan.

"Enam.  Keluarga saya memang terbuka soal agama, "

"Ouh, " jawab saya datar. 

"Soalnya, ayah dan Ibu saya pun menikah beda agama"

"Owhhhh" ujar saya masih datar namun dengan perasaan yang kembali bergolak.

Entah kenapa, seperti ada yang dibangunkan dari dalam diri saya. Gejolak perasaan yang harus diiklaskan sekian tahun lalu. Perasaan yang bahkan masih kuncup namun sesegera mungkin harus dibuat layu sebelum ia berkembang.

Perasaan yang herannya, semakin ia ditekan, ia semakin menunjukkan gejala enggan tumbang. Perasaan yang membuat saya rasanya menjadi orang bodoh sedunia. Perasaan yang  saya sadari segalanya harus berhenti, dihentikan dan mau tidakmau dijauhi sejauh-jauhnya.



Ingatan saya seperti di lempar ke kota Solo sekian tahun yang lalu.  Di sebuah rumah Joglo tempat sebuah komunitas yang saya ikuti berkumpul. Hari itu, saya menjadi pendengar dari dua orang kenalan yang merupakan orang penting di komunitas tersebut. 

"Saya tidak pernah menargetkan suami saya kelak harus sama-sama muslim, " pernyataan kontroversial ini kontan memancing perhatian saya dan teman saya yang satu lagi.  Kami diam beberapa saat. Sedikit terkejut dengan pernyataannya.  Pembicaraan sore tentang program komunitas,  semakin lama menyeret kami dalam obrolan yang macam-macam. 

"Ya,  kalau saya nyaranin sih,  sebaiknya sama-sama muslim" teman saya menanggapi. 

"Nggak,  saya tidak pernah mensyaratkan itu " terangnya lagi. 

"Ouh. Ya tergantung masing-masing sih" teman saya menanggapi lagi.  Hening sesaat.  Tampaknya dua orang di depan saya juga sedang bergelut dengan pemikirannya. 

Saya pun larut dengan pikiran saya. Larut sejenak dalam perang batin yang mengganggu saya sejak beberapa waktu sebelum saat itu. 

"Saya pernah juga soalnya, Mbak.  Pernah pacaran dengan perempuan non muslim. Dan itu berat. Haha, " curhatan kawan saya kemudian. Kontan kini perhatian beralih padanya. 

"Dulu saya pernah dalam fase-fase meragukan agama saya sendiri," ceritanya lagi. 

Kami berdua langsung membenarkan posisi.  Menyimak dengan seksama. 

"Saya sampai pernah berdiskusi dengan tokoh-tokoh agama lain. Mencari kebenaran yang paling bisa saya terima.  Saya membaca kitab-kitab berbagai agama yang ada di Indonesia. Tapi beragam proses,  akhirnya saya kembali lagi pada keyakinan saya,

"Dan saat itu,  saya sadar bahwa saya tidak bisa meneruskan hubungan saya dengan pacar saya. Mana bisa satu kapal berjalan dengan dua nahkoda?” ujarnya mengutip kata-kata entah darimana.  Ia terlihat ngawang. Kenalan saya yang satu ini, sosoknya jauh dari religius.  Anak muda dengan penampilan kekinian, trendi, dan sedikit bengal.Sungguh tak akan saya duga bahwa ia pernah mengalami fase seperti itu. 

"Orang tua pacar saya sudah sangat cocok dengan saya sebetulnya. Awalnya mereka kira saya juga sama dengan mereka.  Beberapa kali saya diajak ke gereja. Saya ikuti. Pacar saya meminta saya untuk tidak mengatakan apa agama saya, karena kalau sampai ayahnya tahu sudah pasti kami diminta putus. Hingga akhirnya saya sampai pada keputusan 'saya tak bisa seperti itu terus'. Saya akhirnya meyakini Islam kembali. Dan saya putuskan, saya jujur pada ayahnya"

"Terus reaksi ayahnya? " saya penasaran 

"Saat itu saya datang pas mereka mau berangkat ke gereja.  Seperti biasa ayahnya mengajak saya.  Tapi hari itu,  saya menolak. Saya akhirnya mengaku bahwa saya muslim. Wajah ayahnya langsung memerah.  Ia diam,  tapi langsung berbalik masuk rumah.  Selang beberapa saat,  pacar saya ke luar sembari menangis.  Ia bilang ayahnya memintanya putus.  Saya jawab,  bahwa sebaiknya memang begitu.  Pacar saya menangis,  ia sampai berujar bahwa ia tak keberatan jika hubungan kami backstreet saja. Saya bilang tidak bisa.  Hubungan yang saya mau tidak hanya berakhir pada pacaran saja, makanya saya putuskan hari itu.  Daripada terus berlanjut.  Semakin lama, luka yang ditinggalkan nanti semakin berat," pemuda yang biasanya terlihat seperti lelaki yang hidup tanpa beban,  hari itu mendadak beraura suram.

Yeahh, hari itu saya seperti mendapatkan kekuatan untuk berpikir bahwa apa yang saya rasa: masih sangat sepele. Masih jinak untuk dioperasi dan dibuang. Dibanding cerita teman saya ini, perasaan saya hanya sebatas kuncup-kuncup yang bahkan  mungkin hanya saya yang merasakan.

Perempuan di hadapan saya menarik nafas sesaat, lantas menanggapi dengan cerita pula.

"Kenapa saya tidak mensyaratkan agama apapun pada pasangan saya,  itu karena otang tua saya hasil persilangan dua agama. Kata orang pernikahan beda agama itu rentan konflik,  rentan gini-gini,  tapi saya melihat mereka baik-baik saja.  Dan mereka juga membebaskan anak-anaknya memilih keyakinan. Keluarga kami baik-baik saja sampai hari ini.  Bahkan jarang sekali saya melihat orang tua saya beretengkar, " jelasnya. 

Saya mengangguk-angguk. Mewajarkan kenapa ia menjadi berpikiran demikian. Namun saya pribadi kurang sepaham, mengingat setahu saya keyakinan saya melarang ini. Yeahh, dan memang itulah yang meresahkan saya ketika itu. Keresahan yang bodoh, karena bahkan saya tidak tau apakah hanya saya yang merasakannya.

"Saya jadi inget film indie tentang pacaran beda agama yang mengambil latar gambar di depan Masjid Al Hikmah Solo" kawan saya berujar lagi

"Masjid yang bersebelahan sama gereja itu? " 

"Judulnya apaan" saya yang dari tadi hanya sebatas mendengar akhirnya memberi tanggapan. 

"Lupa aku Mbak. Pokoknya itu kan ceritanya pas mereka jalan bareng,  terus si cewek mau solat.  Terus si cowoknya kan liat gereja,  akhirnya si cowok juga mampir ke gereja.  Jadi gambarnya itu ngambilnya pas mereka habis gandengan tangan, terus melangkah ke tempat ibadah masing-masing" jelasnya

"Ihh sweet banget,”tanggapan kawan saya.

Pembicaraan sore itu berakhir pada seputaran cerita film beda agama, yang makin menyadarkan saya, ahh ya, perasaan saya tak ada apa-apanya. Masih bisa dioperasi, masih bisa dibuang.

Sekian tahun berlalu, rasa yang saya maknai sebagai rasa alay, siapa sangka tertahan di hati dalam kurun waktu paling lama diantara semua rasa yang pernah saya rasa. Halah. Yeahh, sebuah rasa yang sudah berusaha saya lupakan namun tiap kali ada pancingan seperti ini, perasaan saya kembali bergolak bahkan hembusan kerinduan seperti bernyanyi-nyanyi.

Tapi ya sudahlah, pada dasarnya rindu adalah hak hati, yang dirasakan setiap insan yang masih punya hati nurani. Namun rindu tak selayaknya dibiarkan mengembara pada ia yang memang tak seharusnya. Bukankah kerinduan hakiki seharusnya ditujukan pada Rabbi?

Dan cerita Ibu Kos mengingatkan saya pada sebuah hikmah, bahwa bahkan menikah tak hanya cukup degan menyamakan satu keyakinan. Jika berpindah keyakinan hanya karena alasan makhluk bukankah pertanyaan selnjutnya adalah 'tuhan saja ia khianati bagaimana dengan makhlukNya?'

Yeahh, jadi cintailah Tuhan dulu sebelum mencintai makhlukNya. Kenallah Ia lebih dulu. Mungkin adik Ibu Kos sudah benar-benar melalui tahap itu. Sehingga ketika ia dulu akhirnya bercerai pun, ia masih tetap berdiri dengan keyakinan barunya. Kalau hanya alasan pernikahan, mungkin saya tak akan mendapatinya tetap berwudhlu seperti biasanya, pun tak akan saya dapati cerita Ibu Kos, tentang adiknya  yang juga sahur di hari pertama puasa.

Yeahhh Jogja hari itu, seperti meyuruh saya untuk terus bergerak. Saya memacu motor dengan speed yang sedikit lebih cepat, menghalau, agar perasaan tidak penting itu tidak kembali bernyanyi-nyanyi lagi.


Sunday, July 29, 2018

Rekomendasi Warung Bakso & Mie Ayam Wonogiri Yang Enak dan Populer

Bakso dan Mie Ayam adalah makanan yang identik dengan Wonogiri. Kedua makanan ini banyak disebut-sebut sebagai makanan khasnya Wonogiri. Benar atau tidak saya tidak begitu yakin. Namun yang saya tahu masarakat Wonogiri memang terkenal banyak yang merantau ke berbagai tempat di Indonesia sebagai pedagang bakso ataupun mie ayam.

Jika catatan kemarin, saya membicarakan kuliner Wonogiri Sego tiwul, maka kini giliran baksonya.

Lantas, sebagai daerah yang disebut-sebut sebagai kota asalnya bakso dan mie ayam, mana saja warung yang bisa kamu jadikan pilihan tempat Makan Bakso dan Mie Ayam di Wonogiri? 

Di bawah saya mencoba memberikan rekomendasi warung Bakso dan Mie Ayam Wonogiri berdasarkan ‘yang menurut saya enak, populer dan terkenal’.

Catatan ini saya dedikasikan untuk kamu yang sedang mencari bakso enak di Wonogiri beserta harga. Kalau warung bakso favorit kamu nggak kecatet, mungkin kamu bisa tambahkan di kolom komentar.

Mana saja tempat makan bakso di Wonogiri dan Mie Ayam di Wonogiri yang saya rekomendasikan? Simak lantas pilih ya!

1. Makan Bakso di Wonogiri Yang Pertama adalah di Bakso & Mie Ayam Gajah Mungkur


bakso enak wonogiri


Warung bakso ini tentu sudah tak asing lagi bagi kebanyakan warga Wonogiri. Menukil nama waduk terbesar di Wonogiri, bakso dan mie ayam Gajah Mungkur  sudah sangat populer sejak saya masih kecil.  Rasanya enak. Bakso urat dengan rasa cukup yahud ini dulu lokasinya berada persis di sebelah kantor Pegadaian Wonogiri. Tapi semenjak muncul peraturan perapian PKL, Warung Bakso Mie Ayam Gajah Mungkur pindah ke salah satu bangunan di perempatan jalan depan Yasuka Motor.

Sunday, July 15, 2018

Pondok Degan, Rekomendasi Tempat Makan Tiwul di Wonogiri

Bagi banyak orang Wonogiri, kalau ditanya “Apa makanan khas Wonogiri?” Maka banyak orang Wonogiri yang akan menjawab “Tiwul”. Tapi coba lekas tanya mereka, “dimana kalau pengen makan nasi tiwul?” dijamin, mereka bakal garuk-garuk kepala. Mikir keras, karena mereka sendiri nggak tahu kemana musti nyari tiwul di Wonogiri. Pun saya awalnya, saya nggak tahu kemana harus mencari tiwul di Wonogiri. Kalau ditanya seperti itu, paling saya jawab “pasar”. Pun sebenarnya saya nggak ngerti, pasar bagian mana yang jual tiwul, karena saya muter-muter kok nggak ketemu. Pernah ketemu, tapi saya kehilangan jejak lagi.

Merasa miris?

Banget!

Sebuah makanan khas, tapi bahkan warga Wonogiri sendiri sekarang ini nyaris tidak pernah memakannya.

Namun sekarang  saya sudah punya jawaban, “Kemana kalau kepengen makan tiwul di Wonogiri?”

Adalah sebuah warung makan di jalan menuju Paranggupito. Di sebuah jalan baru arah pantai Nampu Wonogiri. Tepatnya dekat pertigaan jalan baru pertemuan antara jalur dari arah Praci, Batu dan menuju Paranggupito.Kalau dari arah Praci, tak jauh jaraknya dari RS. Maguan Husada. Lokasinya sangat strategis. Berada di tepian jalan dan cukup terlihat. Tengok saja sebelah kanan di dekat pertigaan ini, maka warung gede bertuliskan Pondok Degan bercokol di sana.

Menikmati Sajian Tiwul Wonogiri

sego tiwul wonogiri

Pondok Degan, meskipun namanya tidak ada kata-kata tiwulnya, namun di sini tiwul menjadi menu utama.