Wednesday, December 04, 2019

Mencicip Lumat Tahok Pak Citro dan Segarnya Dawet Telasih Bu Dermi Pasar Gedhe

Tahok


Kalau datang ke Pasar Gedhe Solo sempatkanlah untuk mencicip kuliner khas nya pasar Gedhe yang juga sekaligus kuliner khasnya Solo, Tahok dan Dawet telasih.

Makanan satu ini mungkin tak banyak dikenal oleh orang yang bahkan tinggal di Solo. Namun Tahok menjadi salah satu makanan yang banyak direkomendasikan di beberapa literatur kuliner solo.

Sekian lama saya mendamba bisa ngicip seperti apa sih rasa tahok. Baru beberapa bulan lalu akhirnya kesampaian juga.

Mengenal Tahok

Beberapa sumber menyebut, Tahok ini makanan akulturasi dari negara Cina. Ia diperkenalkan oleh orang-orang Cina yang tinggal di Pasar Gedhe.

Kawasan Pasar Gedhe, merupakan Pacinannya Kota Solo. Disinilah lokasi pusatnya pesta lampion kota Solo yang rutin diadakan pas hari imlek berlangsung.

Tahok  konon berasal dari kata Tao atau teu artinya kacang kedelai sedangkan hoa atau hu berarti lumat.

Yap, struktur tahok ini memang lumat seperti jenang sumsum. Namun ia bukan jenang sumsum.

Tahok pak citro


Tahok berasal dari sari kedelai teksturnya lembut dan memang  persis jenang. Kuahnya pun berwarna coklat, namun itu bukan gula jawa. Melainkan air jahe yang diberi gula merah.

Ada dua penjual tahok yang saya tahu. Yakni yang di Pasar Gedhe, dan yang satu berada di dekat Kali Pepe.

Penjual yang saya datangi waktu itu adalah penjual Tahok Pak Citro. Lokasinya persis berada di samping bangunan Pasar Gedhe bagian buah. Tepatnya di gang dekat Mie Gajah Mas.

Bersama Mbak Ira, salah seorang teman kerja yang doyan banget kulineran saya datang ke sana.

Kami harus datang pagi-pagi sekitar pukul 08.00 WIB supaya nggak kehabisan.  Karena penjual Tahok ini hanya ada pagi hari, kapok saya dua kali datang ke sana kehabisan terus.

“Bapak saya yang awalnya jual,” begitu si penjual yang saya lupa namanya bercerita (haha, tolong dimaafkan soalnya sekedar makan saja waktu itu) .

Jadi ia berkisah bahwa Tahok yang ia jual sudah ada sejak tahun 1968. Ketika itu ayahnya yang bernama Pak Citro yang menjual.

Namun kini usaha tersebut ia teruskan.

Soal rasa, si Tahok ini memiliki rasa yang mirip jenang sih buat saya.

Jenang yang dikasih kuah wedang ronde plus ada sedikit rasa-rasa susu kedelai. Nah tu gimana?

Jadi ya perpaduan kedelai, jahe dan gula merahnya kerasa. Enak lah pokoknya.

Soal harga, Tahok Pasar Gedhe Pak Citro kalau nggak salah ingat harganya sekitar Rp 8.000.

Soal kehalalan nggak perlu ragu. Bapaknya bertutur tahok buatannya halal, no babi-babinan

Baca Juga : Sekitar Alun-Alun Utara Solo Suatu Ketika

Dawet Telasih Bu Dermi

Dawet telasih

Usai melahap habis tahok. Kami lantas memasuki pasar, mencari dawet telasih Bu Dermi yang terkenal itu.

Pas saya dan Mbak Ira datang, di sana sedang ada turis asing yang sedang ngevlog.

Lokasi dawet Bu Dermi ini memang sudah terkenal di mata para turis.

Padahal, lokasi Dawet Telasih Bu Dermi ini di dalem banget. Tempat duduknya pun Cuma sak cuplek, alias sempit.

Kemarin saja saya mau ngicip dawetnya musti nunggu itu turis pergi.

Tapi memang sih soal rasa, dawetnya mantep.

Jadi dawet Bu Dermi Pasar Gedhe ini terdiri dari cendol, santan, ketan hitam yang kemudian diberi es dan gula. Ya kayak dawet-dawet biasa itu.

Tapi rasanya tuh seger gitu lho. Nggak tahu apa yang ngebuatnya beda. Pokoknya, seger aja.

Mungkin juga karena saya terhibur dengan cara ibu nya menyajikan. Jadi beliau tiap kali menyajikan itu terlihat cekatan dan profesional. Di situ mungkin saya  tersugesti positif duluan. Makanya minum dawet jadi makin seger.

Oh ya, mungkin juga karena telasih yang ia berikan cukup banyak kali ya? Kebetulan saya ini penggemar telasih. Tahu kan telasih? Jadi itu adalah biji dari bunga kemangi yang warnanya item-item.

Nah buat kamu yang ada rencana ke Solo, jangan lupakan untuk mampir ke tahok dan Dawet Bu Dermi Pasar Gedhe

Baca Juga : Melongok Wajah Pasar Klewer Solo Yang Baru

Wednesday, October 16, 2019

Review Omah Heritage, Penginapan Dormitory Jogjakarta di bawah 100 ribu

Omah Heritage depan

Menginap di Jogja menjadi pilihan saya saat kemalaman pulang dari Dieng usai melihat embun beku dan naik Gunung Prau beberapa waktu lalu.

Jujugan saya ketika sampai di Jogja adalah Omah Heritage. Sebuah penginapan yang dari luar tampak seperti bangunan ala-ala keraton.

Lebih mirip istana sih tepatnya. Nuansanya yang putih, mengingatkan saya dengan bangunan istana kepresidenan jogjakarta yang ada di dekat Malioboro.

Meski seorang sumber menyebut, bangunan ini memang masih ada hubungannya dengan keraton, tapi kali ini saya tidak mau bahas sejarah Omah Heritage.

Pasalnya, saya sudah tanya ke resepsionis, tapi dianya seperti tidak paham dan seperti tidak ingin bercerita banyak. Dan karena saya tidak sedang ingin menelusur lebih jauh, ya sudah saya tidak melanjutkan penelusuran.

Tapi kalau pembaca penasaran, silahkan cari tahu sendiri, dan kalau sudah tau, mungkin bisa diceritakan di kolom komentar.

Bagian Lobi Omah Heritage
(Sumber: booking.com)
kemarin kamera mati, jadi nggak poto sendiri. haha


Kembali lagi, jadi pembahasan saya kali ini lebih berfokus ke review Omah Heritage sebagai penginapan.

Oke, buat saya, Omah Heritage adalah penginapan solutif buat para traveler mental ngirit semacam saya ini.

Pasalnya, menginap di tempat ini saya hanya perlu membayar Rp 60.000 saja. Murah bingit bukan?

Jadi, saya booking tempat ini menggunakan aplikasi booking.com. Saya tidak sedang diendorse ya. 

Tapi booking.com memang selalu jadi pilihan saya ketika saya mencari penginapan murah, low budget di bawah 100 ribu.

Lantas, apa menariknya Omah Heritage?

kamar dormitory Omah Heritage
(sumber: booking.com)

Apa menariknya Omah Heritage??
Tentu saja, Murah. 
Haha. 

Iya, murah, tapi nggak murahan.

Dengan harga Rp 60.000 saya mendapatkan kamar dormitory yang layak huni nggak kayak kos-kosan. 

Eh iya, itu harga sewaktu bulan Juni 2019 ya.

Kalau sekarang (Oktober 2019), barusan saya cek ke booking.com harganya sudah Rp 77.500

Ya, setidaknya masih di bawah Rp 100.000 lah. Murah untuk ukuran penginapan di Jogja.

Jadi, kamar tempat saya menginap di Jogja ini model dormitory.  Dormitory nya terpisah antara cewek dan cowok.

Untuk dormitory di kamar saya sendiri seingat saya ada 8 kamar .

Tempat tidurnya resik. Sepreinya putih, nggak kotor.

Kasurnya nyaman. Dan tempat tidur bertingkatnya merupakan amben kayu yang prediksi saya sudah berusia lama, tapi kelihatan kokoh. Mungkin memang tempat tidur lama tapi kualitas kayunya bagus. jadi tetep layak pakai dan malah kesannya eksotis.

Untuk kamar mandinya sendiri per kamar dormitory ada. Kemarin di kamar dormitory cewek, kamar mandinya berupa kamar mandi shower, serta kamar mandi biasa dengan toilet duduk dan dilengkapi pula shower. Yang penting sih resik, luas, pintu tertutup sampai ke bawah. Jadi nyaman kalau saya.

Haha, suka heran kadang dengan desain kamar mandi yang ngapain sih pintunya nggak sampai menutup ke bawah? Pakai bolong di bagian bawahnya?

Berdasarkan pengalaman saya kemarin, saya ketemu beberapa turis asing di Omah Heritage. Satu kamar saya saja kemarin turis dari Malaisya semua. Ada 3 orang perempuan di kamar saya yang semuanya satu kelompok pengunjung dari Malaisya.

Awalnya saya agak aneh ketika ngajakin ngobrol mereka, kok mereka seperti “orang bodoh” saat saya ajak ngomong bahasa Indonesia.

Kelihatan harus mencerna agak lama omongan saya.

Tapi setelah mereka bilang dari Malaisya, oalah baru saya bisa maklum. Ya gimanapun meski bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia mirip tetap saja ngedengerinnya harus dicerna dulu.

Jadi, mereka bilang, mereka ke Indonesia dan menginap di Omah Heritage karena baru saja mendaki Merbabu, Prau, serta Andong. 

Saya dengerin ceritanya mlongo.

Saya aja cuma mendaki Gunung Prau udah kerasa mau tepar. Hla ini, 3 gunung dalam 3 hari berturut-turut. Salut lah.

Well, kembali ke review Omah Heritage.

Jadi, di Omah Heritage ini seperti biasa kalau nginep di penginapan. Dikasih fasilitas handuk.
Eh tapi handuk sewa hlo ya nggak dibawa pulang.

Terus, fasilias lain di Omah Heritage adalah free wifi, serta sarapan.

Nah, bagian sarapan ini yang mau saya kritisi.

Jadi, saya kan udah girang banget tuh nginep di penginapan murah eh masih dapet sarapan.

Tapi ketika saya dateng ke tempat makan, saya musti mimbik-mimbik kecewa.

Iya lah, soalnya sarapan yang mereka maksud itu sarapan roti tawar beserta selai dan misisnya. Serta tersedia fasilitas pemanggangnya.

Ya, saya kan sebagai “wong ndeso” dapat sarapan cuma begiuan yo gelo lah.

Wkwkwk.

Saya soalnya termasuk penganut paham “ora sego ora wareg” hahaha.

Jadi ya sandwich-sandwich an begitu yo kurang sreg.

Tapi ya sudah, daripada kelaparan akhirnya tetap lah ya, saya makan roti seadanya.

Oh ya, Omah Heritage ini ada musholanya. Walau nggak luas, tapi lumayan lah, bisa solat di sini. 

Secara keseluruhan kesimpulan saya terhadap penginapan Omah Hritage adalah Oke bingit. Cocok lah buat kalian-kalian yang berencana menginap di Jogja tapi cari yang harganya murah di bawah Rp 100.000



Wednesday, September 11, 2019

Review FacadeHotel, Tempat Menginap Asyik di Tawangmangu, Karanganyar

Beberapa waktu lalu, tiba-tiba saja saya merasa tidak ingin sekedar datang dan pulang begitu saja seperti yang biasa saya lakukan kalau main-main ke Tawangmangu.

Saya rasa, saya perlu menginap sehari. Setidaknya saya ingin sejenak memutus waktu, melupakan sejenak rutinitas yang belakangan membuat saya merasa tak bisa kemana-mana.

Lantaran saya rasa menginap sendirian bukan sebuah pilihan yang asyik. Saya buru-buru menghubungi sepupu.

Tempat jujugan menginap kami hari itu adalah Facade Hotel Tawangmangu.

Berlokasi tepat di depan Taman Balekambang Karanganyar, Hotel Facade Tawangmangu menjadi hotel yang lokasinya cukup strategis dan mudah dijangkau.

kamar facade hotel tawangmangu


Lokasinya juga dekat dengan ragam wisata Tawangmangu, Karanganyar. Dari mulai Taman Balekambang, Grojogan Sewu, Bukit Sekipan, Lawu Park, juga Pasar Tawangmangu.

“Kami memang tidak punya kolam renang, tapi kami tidak minder,” begitu saya ingat ucapan Rengga, Manager Pemasaran Hotel ketika saya pernah mengikuti pers confrence Facade dulu.

Saya rasa, ucapan Mas Rengga benar, Facade Hotel Tawangmangu cukup menjadi dirinya sendiri saja. Ia sudah cukup menarik bagi wisatawan yang ingin menikmati hawa dingin Tawangmangu sekaligus mendapatkan kenyamanan.

Pasalnya, hotel dengan desain minimalis ini kamar-kamarnya terasa nyaman, bersih, fasilitas lengkap, dan pelayanannya cukup ramah.

Meski tak punya kolam renang, kalau ingin berenang, pengunjung bisa berkunjung ke Taman Balekambang di depannya yang memiliki wahana wisata air.

Pun basah-basahan saja di Grojogan Sewu apabila ingin menikmati air yang berpadu dengan suasana alam karanganyar.

Kesan pertama yang saya dapatkan kali pertama datang ke Facade Hotel, adalah pelayanannya yang baik.

Hotel Facade Tawangmangu, merupakan salah satu  bagian dari nama besar Azana Hotel. Di seluruh wilayah Indonesia, Azana memiliki sekitar 40an Hotel dan Resort.  Tentunya tak perlu diragukan lagi masalah kualitas pelayanan maupun kualitas yang terkait fasilitasnya.

Datang Kemalaman Ke Facade Hotel

Lantaran ada beberapa hal yang harus diseesaikan, kami kemalaman sampai di Facade Hotel. Kami baru sampai di Facade Hotel Tawangmangu sekitar pukul 22.00 WIB. Lantaran sama-sama sudah lelah, begitu datang kami langsung melempar diri ke kasur. Membuang lelah, istirahat beberapa menit di atas kasurnya yang empuk.

Namun kami tak langsung tertidur. Kami menghangatkan diri dari hawa dingin Tawangmangu yang tadi kami rasakan saat perjalanan, dengan membuat dua cangkir teh memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia di Kamar kami di Facade Hotel.

Katanya "mari ngeteh mari bicara/", itu pula yang kami lakukan. Dengan segelas teh masing-masing yang tergenggam di tangan, kami berbagi cerita sembari sesekali cek-cek media sosial memanfaatkan sinyal Wifi Hotel Facade Karanganyar yang lumayan kenceng.

facade hotel tawangmangu


Keesokan paginya usai mandi dan beberes, sekitar pukul 08.00 WIB resepsionis menghubungi kami. Mengingatkan bahwa kami berdua belum sarapan.

Kami lantas turun, dan menikmati sarapan di Facade Hotel Tawangmangu. Saya mencicip nasi goreng dan kwetiawnya.

Enak rasanya. Biasanya, saya kurang cocok dengan masakan hotel, tapi Faccaade Hotel saya rasa memang menyesuaikan rasa dengan lidah lokal. Makanya saya cocok.

Di tempat ini juga tersedia sandwich yang tentunya pas untuk tamu yang nggak biasa sarapan berat.

Kesimpulan Review

facade hotel

Secara keseluruhan, saya rasa Facade Hotel merupakan hotel yang ideal untuk kamu yang mencari penginapan di sekitar Tawangmangu, atau Bukit Sekipan.

Masalahnya Facade unggul dalam banyak hal. Pertama dari sisi lokasi. Strategis karena di dekat jalan besar Tawangmangu. Depan hotel juga tempat wisata Taman Balekambang.

Ada juga Gerojogan Sewu, Lawu Park, dan Sekipan yang hanya hitungan kurang 10 menit ditempuh dengan motor

Dari sisi harga, silahkan saja cek dengan berbagai aplikasi travel agent. Harganya murah mulai dari sekitar Rp 200 an ribu.

Fasilitas kamar komplit tergantung pilihan kamar, tapi rata-rata semua mirip yakni memiliki AC, LCD TV, Almari gantung, Toilet yang bersih, tempat tidur yang nyaman, dan Wifi.

Di hotel ini juga tersedia pilihan family room cocok untuk yang datang bersama anak-anak.

Untuk yang mau bulan madu juga oke. Ada bagian kamar yang dilengkapi balkon dengan pemandangan pepohonan yang memberikan nuansa syahdu.

Jadi untuk anda yang mencari Hotel di sekitar Tawangmangu atau penginaan di sekitar sekipan atau tempat menginap yang tak jauh dari Gerojogan Sewu, coba saja untuk menginap di Facade Hotel. Insya Allah, nggak kecewa.

Baca Juga:



Saturday, September 07, 2019

Gojek, Layanan Ojek Online Permudah Transportasi ke Segala Tempat



Dahulu ketika belum muncul ojek online di Indonesia, apabila berkunjung ke suatu tempat sering bingung, nanti di tujuan mau naik apa. Kini semenjak ada ojek online yang mulai merambah ke berbagai tempat, saya cukup tenang ketika akan mendatangi suatu lokasi.

Sebagai contoh, dulu ketika mau ke Jakarta, suka bingung bagaimana nanti akses transportasinya?

Apalagi, kerap kali dari lokasi saya yang di Wonogiri, menuju Kota Jakarta dibutuhkan waktu sekitar 12 jam perjalanan. Padahal umumnya kendaraan berupa bus Jakartanan berangkat dari Wonogiri siang, sehingga mau tak mau, bus baru tiba di Jakarta pada dini hari antara pukul 01.00-05.00 WIB.

Saya masih ingat pertama kali saya menginjak Jakarta untuk merantau pada 2011 silam. Ketika itu, saya tiba di Terminal Pulo Gadung sekitar pukul 02.00 WIB.

Perasaan saya campur aduk, antara sedih, takut tapi disatu sisi, euphoria akirnya bisa menginjak Jakarta, bercampur jadi satu.

Saya sedih karena ketika itu rasanya no body support me. Pokoknya saya datang ke Jakarta penuh kegundahan kala itu. Wkwkwk

Saya takut, jelas, karena itu pertama kali ke Jakarta dan teman saya baru saja mengirimkan SMS. Bunyinya kurang lebih begini:

 “Sori ya, masih jam 02.00 WIB. Aku nggak berani jemput. Soalnya ke terminal harus lewat daerah rawan. Kamu naik taksi aja ya. Nanti begitu turun, jalanke luar terminal, cari taksi resmi. Aku nggak tidur, kutungguin di kos sampai kamu datang, Pokoknya nanti di terminal jangan seperti orang bingung!” pesannya

Saya mak deg ketika itu. Membayangkan jalan seorang diri di terminal.

Kecewa juga, karena awalnya ia berjanji akan jemput.

Bus yang saya tumpangi datang lebih cepat dari seharusnya. Petugas bus awalnya mengatakan bus kurang lebih akan sampai di Jakarta sekitar pukul 05.00 WIB. Nyatanya, lalu lintas yang tak pasti, bisa membuat bus datang lebih cepat.

Saya tak mungkin protes ketika akhirnya kawan saya bilang tak jadi jemput.

Setidaknya, ia masih bersedia memberi saya tumpangan tidur di kosnya. Lagipula, saya bisa memaklumi karna posisi kawan saya pun juga sama-sama perempuan. Dia juga belum terlalu lama di Jakarta, jadi wajar lah menurut saya.

Pokoknya dahulu turun dini hari di Jakarta benar-benar membingungkan. Angkot tak ada jam segitu. Pilihannya hanya taksi. Mau naik ojek pangkalan malam-malam rasanya kurang save, naik taksi pun kawatir dipalak.

Untungnya, taksi yang saya tumpangi dulu bisa dipercaya. Sehingga akhirnya saya bisa tiba di kosan temen dengan selamat.

Kehadiran Gojek sebagai penyedia ojek online dan Aplikasi Taksi online jelas memberikan keuntungan besar saat saya kembali lagi berkunjung ke Jakarta. Pasalnya, mau turun dari bus dimanapun, transportasi ojek atau taksi online bisa saya akses dengan hanya sentuhan jari.

Saat dini hari pun saya tak perlu risau, karena Gojek hadir 24 jam. Keamanan ojek online pun, kita sama-sama tahulah. GoRide cenderung lebih aman. Pun Taksi online, saya tak lagi khawatir dipalak karena saya bisa pesan menggunakan GoCar.

Saat beberapa kali main-main ke Jakarta, saya sering membatin, coba dulu pas saya masih merantau ke ibu kota pesan ojek online sudah bisa dilakukan.  Mungkin dulu, saya bakalan lebih betah tinggal di sana.

Kehadiran Ojek Online kini tak hanya di Kota besar. Di kota asal saya, Wonogiri, kehadiran ojek Online seperti Gojek membawa makna tersendiri. Sekarang akses ke beberapa tempat wisata di Wonogiri kota jadi bisa dijangkau oleh mereka-mereka yang datang ke Wonogiri tanpa kendaraan pribadi.

Meski belum sampai menjangkau ke pelosok, setidaknya wilayah Wonogiri kota sudah bisa dihandle. Pengalaman naik Ojek Online terutama Gojek saya yang cukup menarik adalah ketika saya bertemu dengan seorang driver yang bersedia mengantar saya ke Watu Cenik.

Jadi, Watu Cenik adalah salah satu obyek wisata yang ada di Wonogiri Kota tak jauh dari Waduk Gajah Mungkur. Lokasi jalannya nanjak. Saya saja kaget ketika ternyata rute pilihan Gojek bisa sampai ke tempat itu.

Sebetulnya tujuan utama saya adalah ke Soko Gunung. Yakni lokasi wisata di atas Watu Cenik yang aksesnya lebih jauh dan nanjaknya sangat ekstrem.

Tapi lantaran pilihan rute hanya sampai di Watu Cenik akhirnya saya memilih tujuan tempat itu saja.

Beruntungnya saya ternyata si driver juga senang menjelajah. Ketika akhirnya si driver saya minta untuk mengantar saya ke Soko Gunung karena tak mungkin saya order lewat aplikasi karena pilihan rute tak ada, ia bersedia.

Dan asiknya, Ia melakukannya dengan suka rela, tak mematok tarif. Mungkin di samping ia suka explore, mungkin juga ia kasian dengan saya yang keliatan banget pengen ke Soko Gunung tapi nggak ada yang ditebengi. Wkwkwk.

Gokilnya lagi, pada akhirnya kami justru menjadi teman.

Saat perjalanan ia sempat bercerita tentang dirinya yang ternyata sebelum menjadi driver adalah seorang programer di sebuah perusahaan media online terkemuka di Indonesia. Namun karena satu dua hal, dia memutuskan kembali ke Wonogiri dan kemudian menjadi driver.

Saya yang kebetulan suatu hari diterima bekerja sebagai praktisis IT di sebuah Instansi Kesehatan, suatu kali diminta untuk mencari teman seorang programer. Teringatlah saya dengan driver saya itu. Singkat cerita, kami akhirnya menjadi rekan kerja.

Eloknya, meski sekarang ia menjadi pekerja kantoran, usai dari kantor ia masih melanjutkan pekerjaannya sebagai seorang driver Gojek, berjuang untuk kehidupan istri dan anak-anaknya.

Yeah, saya rasa Gojek hadir memberi solusi akan banyaknya masalah di negeri ini. Salutlah saya dengan Nadiem Makarim yang berhasil membantu pemecahan masalah untuk banyak orang melalui Gojek.

Kini tak hanya GoCar dan GoRide, Gojek kini mengembangan diri dengan beragam aplikasi penyelesai masalah banyak orang. Lihatlah Layanan Ojek Online Gojek , kini kita bisa mendapati aplikasi seperti GoFood, GoClean, juga GoMassage, GoSend, dsb.

Monday, August 19, 2019

Pegipegi, OTA Pilihan Penentu Perjalanan



Beberapa hari terakhir ini, sepertinya saya sedikit stress akibat beberapa hal yang rasanya belum mampu saya kendalikan.

Kalau sudah seperti ini, liburan sepertinya adalah solusi untuk sejenak berlari merefresh kewarasan yang sepertinya belakangan ini mulai menurun. Yeah, tentunya biar siap kembali untuk menyelesaikan beberapa realitas yang mau nggak mau harus dihadapi.

Untuk urusan liburan, andalan saya adalah aplikasi Pegipegi.  Online Travel Agent (OTA) buat saya adalah kunci untuk kelancaran perjalanan.

Makanya saya nggak mau pilih OTA sembarangan. Maunya yang sering saya pakai dan tak pernah mengecewakan.

Pasalnya memilih OTA yang tepat akan melancarkan urusan arus keuangan yang secara otomatis akan sangat berpengaruh pada kelancaran segala urusan perjalanan.

Sebuah hal yang penting utamanya untuk saya yang sangat menjunjung tinggi asas penghematan.

Online Travel Agent Pegipegi, kerap memberikan promo diskon yang lumayan besar, sekaligus kemudahan dalam bertransaksi, makanya saya suka.

Pegipegi selama ini cukup memudahkan saya dalam merancang sebuah perjalanan. Melalui aplikasinya saya bisa mengkira-kira biaya yang nantinya akan saya habiskan untuk urusan tiket pesawat, tiket kereta, serta hotel sebelum memulai perjalanan.

Jika berencana naik pesawat misalnya. Dengan sangat lengkap pegipegi memberikan berbagai pilihan penerbangan yang tentunya pas dipilih.

Beragam pilihan berbagai maskapai tersedia, tiket pesawat garuda serta tiket pesawat maskapai lain dengan ragam rute bisa dengan mudah dipilih calon penumpang.

Kemurahan harga Pegipegi sudah beberapa kali saya buktikan. Makanya, kadang tanpa perlu membandingkan dengan yang lain, saya langsung percaya untuk memesan tiket perjalanan menggunakan aplikasi ini.

Apalagi, aplikasi pegipegi yang sekarang ini sangat mudah untuk diakses dan memiliki tampilan yang menyenangkan. Pesan tiket pesawat jadi makin mudah.

Seperti pakde saya, dalam waktu dekat berencana melakukan perjalanan menuju Jakarta. Ia yang seumur-umur belum pernah naik pesawat dalam hidupnya, berujar kepada saya kali ini dia ingin naik pesawat.

Saya tertawa menanggapinya. Namun tampaknya ia sangat serius kali ini, ingin beneran merasakan bagaimana itu naik pesawat.

Ia yang tidak tahu dan belum pernah naik pesawat, serta belum pernah menggunakan Online Travel Agent meminta pendapat saya mengenai bagaimana cara memesan tiket pesawat online.

Pegipegi jadi andalan saya untuk mensurveikan harga tiket pesawat penerbangannya nanti. Tak hanya jadi sekedar bahan survey, karna dengan Pegipegi beragam promo bisa didapatkan sehingga nantinya perjalanan pakde menjadi lebih hemat biaya.

Salah satu promo yang dimiliki Pegipegi kali ini adalah diskon memperingati 74 tahun Indonesia Merdeka.

Kali ini Pegipegi menyediakan diskon tiket pesawat dan hotel hingga 74 %. Sebuah penawaran yang sangat menarik tentunya.
Promo pegipegi

Promo ini mengusung tajuk “Bepergian terus pantang mundur, diskon tiket pesawat dan hotel sampai dengan 74 %”

Promo tersebut berlangsung mulai dari tanggal 7 Agustus hingga 24 Agustus 2019 ini.

Saya ingin sekali mengambil promo ini sebetulnya. Tapi yah, karena saya belum dapat jatah cuti kantor ya sudah lah keinginan ngikut pakde ke Jakarta buat liburan sepertinya saya ikhlaskan saja. Toh daripada ke Jakarta sepertinya lebih asyik kalau saya pergi ke tempat-tempat lain yang jauh lebih asyik.

Yeah, bagaimanapun mendatangi Jakarta sepertinya lebih tepat kalau disebut berwisata dengan keruwetan. Dan kali ini saya sepertinya nggak siap.

Belakangan ini urusan udah ruwet, ngapain saya harus datang menjemput keruwetan dengan datang ke Jakarta?

Mungkin saya rencanakan saja untuk berkunjung ke Danau Toba, menyebrang Samosir dan menikmati segala keindahan tempat itu selama yah paling tidak 3 harian lah.

Ngayal dulu. haha

Yang pasti segala hal terkait perjalanan nantinya saya gunakan Pegipegi agar segala urusan perjalanan lancar selalu





Wednesday, July 24, 2019

Sebuah Pelajaran Mengatasi Dingin Saat Mendatangi Embun Beku Dieng

Perjalanan kerap kali mendatangkan ilmu-ilmu baru.

Ketika suatu kali saya bertemu dengan pendiri Kampuz Jalanan, ia berujar

"Ilmu itu bisa didapat Mbak darimana saja. Bahkan dari jalanan. Disana siapapun bisa kita kita ambil pelajarannya," ujarnya.

Perkataan Mbak Aroh itu kembali terngiang manakala, saya ke Dieng beberapa waktu lalu.

Dari seorang penjual angkringan saya mendapatkan tips yang saya rasa pantas kalau saya sebut "menyelamatkan:" saya dari kedinginan suhu ekstrim Dieng.

***



Dieng terlalu gelap saat kami datang.

Sekujur tubuh saya ketika itu rasanya mengginggil kedinginan. Jaket tebal, sarung tangan, kaus kaki, semua rasanya percuma. Dingin tetap menusuk, menghunus ke tulang-tulang.

Jalanan gelap, turunan curam, tanjakan tajam, dan kelokan ekstrim hanya bisa teraba dari sorot motor yang tak terlalu kentara. Tipis kabut memang tak menghalangi, tapi parahnya tak ada sorot lampu merkuri  di kanan kiri.

Bukankah Dieng tempat wisata terkenal? Sorot lampu saja kenapa tak satupun ada? Rutuk saya dalam hati.

Di atas motor adik saya menanyai kembali rencana saya, yang sayapun belum yakin pasti.

“Mbak, yakin kita ngebasecamp? Sudahlah kita cari homestay saja. Takutnya kamu nggak kuat,”  ujarnya. Mungkin ia sedikit khawatir dengan kondisi saya yang meski sudah hampir sebulan usai sakit masih saja sering kambuhan.

“Ini weekend, homestay penuh. Kalaupun ada pasti mahal. Kita lihat basecamp dulu, kalau basecamp penuh baru kita nyari homestay,”

Saya tahu hari itu saya konyol. Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya fit, saya nekat mengajak adik ke Dieng motoran, dan parahnya kami kemalaman.

Bermodal informasi internet, dan dikuatkan info dari seorang kawan kampus yang pernah mendaki ke prau, serta info dari Anggara, saya menyusun rencana untuk tidur di basecamp dan keesokan paginya langsung cuss lihat embun es.

Hal yang paling konyol adalah kami tidak tahu pasti nama basecamp apa yang kami tuju. Saya hanya bermodal informasi, ada basecamp di Dieng dekat dengan Candi Arjuna.

Sampai di pertigaan Dieng dekat homestay Bu Djono kami masih harus celingak-celinguk tanya orang tentang posisi basecamp yang kami sendiri namanya saja tidak tahu.

Sampai pada keramaian pertigaan Dieng, saya baru sadar, basecamp Prau ada beberapa. Beberapa orang yang kami tanyai memberikan sarannya tentang basecamp yang harus kami datangi. Tapi tak satupun yang memberikan kepastian mana sebetulnya basecamp yang benar-benar tepat agar keesokan harinya kami bisa lebih dekat jalan ke Candi Arjuna.

Jangan tanya kenapa kami tak pakai google maps saja.  Kami saja bingung harus menitik lokasi dimana. Pun HP saya eror untuk membuka google map dan HP adik habis baterai.

Diantara segala ketidakpahaman kami akhirnya memacu motor menggunakan feeling. Langkah kami selanjutnya berhenti, pada sebuah nyala api di tepian jalan.

Kami menghangatkan diri di perapian tepian jalan tersebut, lantas berlanjut membeli susu jahe di seberang.

Malam itu, rasanya Allah menujukkan cintaNya kepada kami.

Saat dingin rasanya begitu sulit dikontrol, di tempat inilah saya bertemu Mas Rohmat, seorang penjual angkringan yang begitu baiknya memberikan tips panjang lebar mengenai bagaimana mengatasi hawa dingin Dieng yang malam itu sekitar pukul 23.00 WIB rasanya menjadi rasa dingin terparah yang saya rasakan selain dulu saat mendaki ke Merapi.

“Orang sini, apa nggak pada kedinginan, Mas?” tanya saya pada Mas Rohmat.

Ia terkekeh.

“Ya dingin. Tapi sudah biasa,” jawabnya sambil memberesi dagangan. Kami menjadi pembeli terakhir malam itu.

“Malam-malam gini, kira-kira masih ada homestay kosong nggak ya Mas? Yang harganya nggak terlalu mahal gitu? Jaga-jaga saja sih kalau ternyata basecamp penuh, atau kalau ternyata nggak kuat dingin,”

Mas Rohmat menghentikan aktivitasnya lantas menghampiri kami yang berdiri di dekat sepeda motor tak jauh dari gerobak angkringannya.

“Kalau menurut saya sih mendingan tetep tidur di basecamp sih mbak,” ujarnya.

“Hla gimana, Mas?”

“Kalian tidur di homestay pun sama saja. Sama dinginnya di dalam homestay itu.” tuturnya. "Lagipula udah pada penuh,"

Saya mikir sejenak, benar juga. Kalau seandainya hawa panas mungkin tidur homestay bisa nyalain kipas angin atau AC. Tapi kalau dingin seperti ini, apa yang mau dinyalain. Saya tak yakin ada penghangat ruangan di homestay, dan selimut tebal sepertinya juga tak akan ampuh melawan hawa dingin yang separah ini.

Tetiba saya teringat cerita kawan kampus yang sehari sebelum kedatangan kami ke Dieng ia juga kesana. Ia berujar, kalau dia datang ke Dieng membawa bed cover, namun menurutnya, percuma karna bed cover tak mempan melawan dingin suhu Dieng.

Keraguan tidur di basecamp pun lantas menghilang. Seketika saya makin mantap untuk segera datang menuju basecamp.

“Kalau biar nggak kedinginan itu ada caranya Mbak,” Mas Rohmat berujar lagi.

“Gimana Mas?” tanya kami antusias.

“Kalian bawa sleeping bag kan?”

Kami mengangguk.

“Bawa mantol?”

Kami mengangguk lagi.

“Jadi biar nggak dingin, nanti kalian pakai jas hujan dulu, baru pakai jaket,” sarannya.

“Bisa gitu, Mas?” saya langsung merasa bahagia mendapat satu tips ini. Jujur saja ada sedikit ketakutan tersendiri di hati. Saya pernah kedinginan parah saat pertama kali mendaki merapi dulu.

Saking parahnya rasanya sampai tak ada darah mengalir sampai ke otak.

Resiko hipotermi bagaimanapun bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.

“Iya.. Kalau ada plastic kecil,juga bisa dipakai di kaki, baru nanti pakai kaos kaki. Jadi nanti di basecamp, minta trash bag juga. Terus dipake di badan, baru pakai sleeping bag,” ujarnya.

Saya menyimak dengan suka cita. Ahh, saya benar-benar tak sabar mempraktekkannya. Rasanya saya benar-benar harus mengakhiri segala rasa dingin ini.

“Dengan cara seperti itu, nanti suhu tubuh nggak akan keluar. Jadi tetep hangat. Ini membantu kalau udara dingin seperti ini,” jelasnya. Saya mengangguk-angguk.

Mas Rahmat selanjutnya bercerita bahwa dirinya adalah salah satu warga yang juga sering ikut kepanitiaan DCF. Ia juga kerap membantu jika ada orang-orang yang hipotermi.

Ia juga menjelaskan panjang lebar tentang hipotermia dan bagaimana mengatasinya,
“Ciri-ciri orang hipotermi itu dia tiba-tiba kaku. Tubuhnya itu kaku mendadak. Yang paling bahaya itu kalau dia sedang tidur. Susah mendeteksinya. Jadi sebaiknya itu memang kalau tidur itu gentian.  Jadi bisa saling menjaga dan memastikan temannya tidur, dan bukan kaku karna hipotermi,” ujarnya.

“Lalu kalau hipotermia, gimana nolonginnya mas?” tanya saya selanjutnya.

“Kalau ada yang hipotermi, pertama korban dibuat sadar dulu. Dibau-bauin pakai minyak kayu putih biar sadar. Bagian-bagian lekukan badan juga diberi sesuatu yang hangat. Bisa pakai botol yang diberi air hangat, lalu diletakkan di telapak kaki, lipatan belakang dengkul, ketiak, serta belakang leher,

“Terus jangan mengoleskan balsam dan semacamnya, karna balsam itu hangatnya hanya sesaat, setelah itu justru dingin yang terasa. Nah setelah sadar itu korban diberi sesuatu yang hangat, seperti air putih hangat,” jelasnya.

“Pelukan juga bisa dilakukan untuk menghangatkan korban. Tapi ya itu, kalau cowok ya yang meluk sebaiknya cowok, cewek ya sebaiknya cewek. Biar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan,” tambahnya.

Saya mengangguk-angguk.

“Nanti pokoknya sampai sana, kalian minta trash bag. Setiap basecamp itu pasti sudah menyiapkan trash bag. Nanti dipake baru pake sleeping bag ya. Oh ya, saya kayaknya masih ada mantol,” ujarnya lantas berlari ke sebuah tempat tak jauh dari angkringan.

Kami hendak mencegahnya, tapi ia sudah terlanjur berlari lebih dahulu. Beberapa saat kemudian ia sudah kembali membawa dua mantol plastic.

“Ini buat kalian. Nanti dipakai sebelum memakai jaket ya,” ujarnya.

“Duhh mas, nggak usah. Kita udah bawa jas hujan. Malah jadi merepotkan,” kami sungkan.

“Nggak papa pakai saja. Masih banyak kok,” ujarnya.

Kami menurut. Dan berdasarkan sarannya akhirnya kami memilih basecamp Dworowati dengan pertimbangan jarak terdekat.

Sesampainya di basecamp Dworowati, ternyata kami harus dihadapkan pada kenyataan, basecamp berupa papan kayu yang memiliki jarak-jarak kecil membentuk selah lubang diantaranya.

Saya menelan ludah, perang dingin bakal terus berlanjut.

Untungnya ada anglo aka tungku yang bisa digunakan untuk sekedar membantu menghangatkan badan.

Saat menjajal air di kamar mandinya, ingatan saya dibawa pada jaman kecil ketika sering iseng mandi dengan air es batu. Persis dinginnya. Bahkan mungkin lebih dingin.

Jari-jari tangan saya rasanya kaku, dan bibir enggan juga berhenti bergetar. Akhirnya, kami memutuskan mencoba tips dari Mas Rahmat. saya ke bagian depan penjaga basecamp. Meminta plastik putih kecil untuk dimasukkan ke kaki dan tangan baru kemudian ditutup sarung tangan dan kaos kaki.

Bagian kaki juga saya pakaikan trash bag sebelum masuk sleeping bag.

Pun, mantol pemberian mas Rohmat juga saya kenakan sebelum menggunakan  jaket dan sleeping bag. Air hangat juga saya minum. Hasilnya?

Saya tetap kedinginan.

Iya, tetap dingin namun jauh lebih hangat. Setidaknya tak separah sebelumnya. Terbukti perbandingannya ketika saya mencoba melepas plastik saat hendak ke kamar mandi di sepertiga malam.

Cara pemberian Mas Rohmat mungkin terdengar asing dan belum terbukti secara ilmiah. Namun nyatanya menggunakan trash bag dan plastik berdasar apa yang saya coba cukup efektif.

Esok paginya saya bersyukur, saya bisa melalui malam Dieng yang teramat dingin. Yeah ilmu memang bisa didapat dari setiap perjalanan. Dan saya rasa ini sebuah bukti bagaimana Dieng begitu peduli dengan wisatawan.

Tak cuma Mas Rohmat, sepanjang perjalanan kemarin kami merasakan benar bagaimana keramahan mereka terhadap wisatawan.

Sunday, July 21, 2019

Safi, Treatment Merawat Kulit Wajah Usai Mendaki Gunung

review safi age defy


Orang-orang di sekitar saya sepertinya sudah sangat paham, bahwa selama ini saya agak ndableg masalah skincare dan makeup.

Beragam nasihat seperti harus pakai sunblock ber spf tinggi lah,  serta jenis-jenis perawatan serta kosmetik lain sebenarnya kerap saya terima.

Tapi ya, banyak malasnya saya itu. Emm.. lebih tepatnya, karna ngerasa belum butuh saja sih. Wkwkwk. La wong saya tampil cantik pun belum ada nilai pahalanya, ya buat apa? Toh sepertinya, saya dandan dan nggak dandan yo podo wae, wkwkwk.

Namun tak bisa dipungkiri, usia yang terus bertambah, nyatanya bagi perempuan adalah perkara yang memusingkan.

Kalau ada yang bilang perempuan itu seperti susu, semakin lama dia semakin basi, sementara laki-laki itu diibaratkan seperti tuak, semakin lama dia semakin lezat dan bernilai tinggi tampaknya bukan sekedar isapan jempol.

Menginjak usia 26 plus plus ini kerasa benar kulit saya jadi ringkih, dan mau tak mau saya jadi peduli.

Contohnya usai kunjugan saya ke Dieng, dan mendaki Gunung Prau beberapa waktu lalu. Wahh, saya benar-benar mikir usai hari itu.

Hla mau gimana, kulit kering parah. Dulu sepertinya kalau habis naik gunung kulit juga kering sih, tapi sepertinya tak separah kemarin. Kulit rasanya clekit-clekit, kasap, dan ngglodoki.

Sudah dioles dengan pelembab lidah buaya, tetep saja nggak berkurang.

Tapi untungnya beberapa hari usai mendaki Prau, saya ikut acara gathering produknya Safi. Pas hari itu saya berkesempatan menjajal rangkaian perawatan safi walau Cuma sekali.

Dan efeknya langsung kerasa.

Nyoba sekali langsung kerasa?

Iya e. Saya juga heran, ini produknya yang kebagusan, atau karna memang kulit saya  yang terlalu virgin?

Rangkaian perawatan kemarin yang saya coba sebetulnya perawatan untuk sehari-hari, yakni  pembersih, scrub, toner, dan juga pelembab.

Semuanya sepertinya memang dibutuhkan untuk kulit saya.

Meski sehari-hari sudah pakai pembersih muka, tapi menscrub wajah usai mendaki gunung sepertinya memang pas saya lakukan kemarin. Perjalanan Solo-Dieng dengan motor tampaknya menyebabkan wajah saya kusam parah yang tak cukup dibersihkan hanya dengan pembersih wajah biasa saja. Apalagi pada dasarnya wajah saya komedogenic.

Produk scrub yang saya gunakan kemarin Safi Age Defy Deep Exfoliator yang dari keterangannya sih mampu membantu membersihkan wajah secara lebih dalam hingga membantu mengurangi komedo. Produk ini sepertinya juga pas untuk kulit saya yang tampaknya memang butuh perawatan berbau “age defy” mengingat usia yang hiks terus bertambah.

Yang paling kerasa banget itu ketika  saya mengoleskan Safi Age Defy Gold Water Essence.  Cuman saya oles sekali lho, kelembababnnya langsung kerasa. Langsung kenyal rasanya.

Kalau dari penuturan mbaknya yang jadi pembicara Safi sih produk ini memang mengandung kelembaban 130%.

Kulit saya yang kering parah tampaknya memang butuh ini, makanya kemarin bisa langsung kerasa efeknya.

Dari acara kemarin kulit saya jadi jauh lebih enakan. Di rumah, saya lanjut perawatan kulit usai mendaki gunung dengan Safi Age Defy Concentrated Serum dan cleansernya yang lumayan lah diberikan secara gratis.

Untuk pelembabnya, karna kebutuhan saya bulan ini lumayan mencekik maka ya sudah saya nggak lanjut beli Safi Age Defy Gold Water Essence yang sayangnya tidak diberikan secara gratis kemarin, wkwkwk.

Saya melanjutkan dengan pelembab lidah buaya yang selama ini sudah kerap saya pakai ditambah dengan Serum Safi tadi.

Safi Age Defy Concentrated Serum dari keterangannya sih membantu perawatan kolagen kulit yang mulai menurun utamanya bagi perempuan berusai 26 plus plus seperti saya, Hiks.

Saya menggunakan produk ini tiap malam, awalnya tak rutin, tapi seorang teman mengingatkan saya bahwa bagi wanita, kulit wajah itu investasi. Nggak harus make up, yang penting dirawat. Jadinya, ya sudah lah saya pakai saja, toh ikhtiar biar kulit nggak kering lagi. Karna kering itu sakit.

Produk ini mengandung 18 jenis Amino Acid yang membantu menjaga kelembaban kulit agar selalu halus dan elastis.

Hasilnya, mungkin bagi yang biasa ketemu saya tak terlalu memperlihatkan perubahan. Tapi bagi saya, kerasa banget bedanya. Clekat-clekit usai mendaki gunung hilang, dan yang pasti kulit saya lebih halus dibandingkan sebelumnya.



Monday, June 17, 2019

Cerita Sore di Watu Lumbung

view dari Watu Lumbung

Dua minggu lebih sempat merasa tak berdaya karena sakit, akhirnya sedikit demi sedikit saya kembali pulih. Ya biarpun masih kambuhan, setidaknya saya sudah tak didera rasa pusing yang berkepanjangan.

Tepatnya 2 hari lalu, di tengah rasa bosan yang mendera karena kebanyakan glundang-glundung di kasur, saya secara tetiba terpikirkan untuk datang ke kawasan Sendang Pinilih.

Ibu berwajah masam saat mendengar saya pamitan “kumat neh, karepmu!” ujarnya. Saya cuman njegeges dan nekat memacu motor ke sana. Yeah, beberapa hal mengganggu pikiran saya kemarin, ditambah keharusan banyak-banyak bed rest rasanya justru membuat saya makin ingin kabur.

“Ini nggak ada jasa anter ke atas Mbak? Saya kok pengen ke Bukit Joglo. Tapi mau naik sendiri nggak berani. Tanjakannya ngeri e” tanya saya pada Mbak-mbak penjaga tiket.

“Wah, udah sore Mbak. Kalau agak siangan tadi, saya mau nganterin ,” sahut Mas-mas di sampingnya.

Saya mengintip jam HP. Benar juga sudah setengah 5 an. Sampai di Bukit Joglo tentunya sudah terlalu sore, dan bisa dipastikan balik bakalan Magrib.

“Minggu aja Mbak, saya anterin,” tawar Mas-mas tersebut. Saya menggeleng. Saya suntuknya hari itu, nunggu Minggu ya percuma lah.

“Kalau yang tempat wisata baru itu dimana, Mas?” saya mencoba mencari alternatif.

“Ohh, itu Watu Lumbung. Perempatan depan belok kiri lurus aja terus. Nanti untuk sampai ke Watu Lumbung, Mbak harus naik jalan kaki,” terangnya. Saya manggut-manggut. Meskipun sebenarnya saya sedikit khawatir naik ke Watu Lumbung bakal membuat tenaga terkuras. Mengingat, itu sesuatu yang sangat tidak disarankan untuk kondisi saya saat ini.

“Mau kesana Mbak? Sendiri aja?”

“Iya. Yang penting aman kan Mas? Tempatnya tinggi nggak?”

“Aman, Mbak. Nanjaknya Cuma pas jalan kaki aja ke sana,” giliran si Mbak-mbak menyahut.

Mendengar penjelasan ini, saya makin mantap untuk lanjut jalan. Usai berpamitan, sesuai arahan mereka saya berbelok di perempatan.

Jalur menuju Watu Lumbung merupakan jalur cor blok. Saya kira, motor saya bakal melaju cukup jauh. Ternyata, hanya sekiar 5 menit saya sudah sampai di penghujung jalan yang merupakan rumah warga.

Rumah-rumah di Sendang Pinilih buat saya cukup unik. Saya menyebut perkampungan di sini perkampungan di atas awan. Pasalnya, jalur ke kawasan ini tanjakannya lumayan. Saat pagi hari datang kemari, Desa Sendang Pinilih diselimuti kabut, membawa imaji saya bahwa tempat ini seperti sebuah negri dongeng, negri di atas awan.

Seorang perempuan muda muncul melihat kehadiran saya di depan rumahnya.

“Watu Lumbung itu di atas sana Dik?” saya memarkir motor lantas bertanya pada si gadis yang sayangnya saya lupa namanya.

“Iya Mbak. Mau saya anter?” tanyanya.

"Mau banget," sontak saya tak menolak. Bagaimanapun jalan di tempat yang belum pernah didatangi lebih terasa aman kalau ada yang menemani.


“Sendirian aja Mbak?” tiba-tiba suara laki-laki terdengar dari belakang saya.

“Iya,” jawab saya lantas memutar tubuh ke belakang. Namun saya kaget. Tak ada manusia satupun di sana.

Saya bengong, dan  hati mak tratap rasanya.  Pandangan di belakang hanya pepohonan yang tampak lebat, dengan suasana cukup gelap saking rimbunnya, ditambah hari memang sudah sore.

Mungkin, sekitar 10 detikan saya terpaku.

“Mbak,” suara itu terdengar lagi. Tapi tetap tak terlihat manusia.

“Mbakk…”

Jantung saya mendadak memburu. Sore-sore menjelang magrib, datang ke tempat yang masih agak rungkut dibanding spot-spot lain di kawasan Sendang Pinilih, tetiba menjadi sesuatu yang saya sesali saat itu. Bayangan saya sudah yang nggak-nggak. Bahkan sempat terlintas, jangan-jangan perempuan muda tadi bukan manusia. Tiba-tiba saya merasa khawatir,  menengok lagi ke arah semula.

“Mbakkk…”Suara itu memanggil lagi. Kali ini saya mendongak pelan-pelan ke atas pohon yang tepat ada di hadapan saya.

“Baaaa,” ujar seseorang di atas sana.

Reflek saya teriak dan tubuh berjengat ke belakang.

Wohladala, jebulannya di atas pohon yang entah apa namanya, ada bapak-bapak berkaos parpol sedang metangkring. Entah sedang apa.

“Kaget Mbak?” tanyanya tanpa rasa berdosa dan hanya tersenyum lebar

Meski gemes, saya ngekek. Dalam hati membatin, ahhh Alhamdulillah suoro uwong tenan tibake.

“Kalau mau naik ke atas jaraknya 5 km Mbak,” ujar si bapak.

Perkataan si Bapak tentu membuat saya awang-awangen seketika. Pengalaman saya bertanya ke penduduk setempat, kalau penduduk bilang 2 km itu berarti bisa sampe 8 km an. Hla ini dia bilang 5 km, bisa-bisa saya harus nanjak sejauh 10 km.

“Ayo Mbak,” si  perempuan muda tadi, menyadarkan saya untuk segera menentukan sikap.

Ia mengambil sandalnya lantas mendahului saya jalan di depan tanpa memberikan penjelasan apakah yang dikatakan si bapak tadi benar atau tidak.

Ragu saya mendadak teralihkan dengan semangat si gadis muda menemani saya.

Wes ditawani meh dikancani, mosok yo rasido Da? Batin saya dalam hati.

Saya menelan ludah sembari berdoa dalam hati, “duhh, mugo-mugo ra kumat. Mugo-mugo gur cedak,”

Saya bergegas menyusul si gadis yang mendahului saya melewati jalan semen setapak yang menanjak. Di sela-sela perjalanan saya mencoba menanyai perempuan muda itu untuk sekedar mencairkan suasana.

Saya kira, perjalanan bakalan sepanjang 5 km seperti yang dikatakan si bapak. Hla ternyata, mak jegagik, hanya berkisar 5 menit tak sampai, saya sudah tiba di tempat yang disebut Watu Lumbung.

Hemm, bapaknya, 2 kali sukses bikin saya deg-degan.

Sampai di atas, Watu Lumbung tampak belum selesai digarap. Menurut penuturan si gadis muda tempat ini direncanakan sebagai tempat landas ganthole seperti halnya Bukit Joglo. Beberapa waktu sebelumnya juga sudah ada beberapa atlit paralayang yang menjajal landasan Watu Lumbung.

Jika dibandingkan Watu Cenik, Soko Gunung maupun Bukit Joglo, menurut saya pemandangan Watu Lumbung masih kalah dari ketiga pendahulunya. Pasalnya pemandangan tidak selapang ketiga tempat tersebut. Namun kelebihan tempat ini adalah sudut pandang di tempat ini lansung pas ke Karamba, jadi karamba jadi lebih terlihat jelas. Pun bagi para atlit paralayang pemula, ketinggian yang lebih pendek tentunya cocok untuk berlatih

Hanya sebentar saya di Watu Lumbung. Lantaran mengejar waktu biar tidak kemalaman untuk lanjut ke Watu Cenik.

Saat kembali turun, si Bapak masih saja metangkring di atas pohon.

“Gimana Mbak, jauh?” tanyanya sambil ngekek.

“Nggak pak, deket itu. Haha,” ujar saya ikut tertawa. Si Bapak pun ngekek lagi. Entah ia memang salah memperkirakan jarak, atau pada dasarnya ia sedang bercanda, pokoknya saya ngekek saja. Buat saya, itu sebuah sambutan keramahannya sebagai warga. Pun, si perempuan muda, ia menunjukkan keramahannya sebagai warga setempat. Dengan baiknya ia bersedia menemani saya naik turun. Meski tak terlalu jauh, ya teteplah jalan nanjak itu bikin lelah, dan menemukan orang yang mau menemani nanjak seperti itu sesuatu yang berkesan buat saya.

Yeaahh sore kemarin, datang ke Sendang Pinilih sepertinya memang sesuatu yang tepat.

Ahh ya, cerita masih berlanjut sebetulnya di Watu Cenik. Pankapan saja lah saya lanjut lagi. Sudah 900 an kata. Saya rasa cukup tulisan ini jadi isian blog setelah sekian lama saya nggak nulis di sini. 





Wednesday, April 24, 2019

Bonanza, Bakso Kemasan Instan Yang Cocok Jadi Bekal Traveling

Masalah makan itu kalau diabaikan bisa mengganggu kesehatan. Tapi kalau pas traveling dan budget perjalanan terbatas, maka masalah makan mau tak mau harus diirit. Nah solusi terbaik menurut saya adalah membawa bekal sendiri atau membawa peralatan masak dan bahan masakan sendiri.

Beberapa makanan seperti abon, pop mie, roti kering, sarden, nugget dan Bakso kemasan instan seperti Bakso Bonanza   menurut saya praktis untuk dibawa saat traveling. Ini karena tentu saja makanan-makanan tersebut cenderung awet dan sangat praktis dalam pengolahannya.

Bakso Bonanza misalnya. Saya tahu produk ini ketika menghadiri acara demo masak Bakso Bonanza di Solo Square. Ketika itu Chef Brian menunjukkan bagaimana mudah, praktis dan cepatnya bakso ini dibuat olahan. Kita hanya perlu membuka kemasan dan bakso bisa langsung dimasak dicampur dengan beragam masakan. Yang lebih penting, rasa bakso kemasan instan ini enak.

olahan bakso kemasan

Bakso Bonanza, Bakso Kemasan Instan Yang Sapi Banget

Asupan gizi ketika traveling utamanya buat para pejuang irit seperti saya kerapkali di nomor duakan. Nah membawa bakso Bonanza saya rasa bisa sangat membantu perbaikan gizi saat traveling. Mengingat di dalam bakso ini terkandung 84% daging sapi asli. Eloknya lagi daging sapi yang diolah adalah dari sapi-sapi pilihan. Dimana sapi-sapi mendapat pakan bernutrisi serta diberi makanan hasil olahan limbah nanas. Nanas kerapkali digunakan sebagai bahan pengempuk saat memasak daging, tak heran kalau kemudian Bakso kemasan instan Bonanza sudah empuk meskipun dalam pembuatannya tanpa bahan pengempuk.

bakso kemasan instan
bakso bonanza

Belum lagi campuran bumbu dan tepung pada Bakso Bonanza dibuat sedemikian hingga tanpa menggunakan tambahan MSG, tanpa borax dan formalin. Ditambah pula Bakso Bonanza tidak memerlukan tambahan pengawet, karna proses pengawetan bakso menggunakan teknologi pendinginan yang tepat. So rasanya nggak salah kalau saya menyebut bakso kemasan instan ini rasanya enak dan sehat.

Soal kehalalan, juga tidak perlu dipertanyakan lagi. Bakso kemasan instan Bonanza sudah mengantongi sertifikat halal dari MUI. Sehingga bagi umat muslim yang mengutamakan kehalalan dalam setiap makanan tak perlu risau.




Ide Olahan Praktis Saat Traveling

Di acara kemarin Chef Brian mendemokan beberapa olahan masakan Bakso Bonanza. Seperti dibuat Bakso BBQ, serta Bakso Kuah kuning. Bakso BBQ kemarin cukup enak dimana bakso dibumbui lalu dibakar dan ditusuk dengan diselang-seling paprika.

kreasi bakso kemasan

bakso kemasan kuah


Saya jadi ingat dulu ketika kamping bareng temen-temen kampus, bikin bakso bakar itu adalah hal terpraktis yang bisa menambah keseruan saat traveling. Tapi dulu bakso yang kita masak hanyalah bakso-bakso yang dijual di pinggiran jalan yang kita tidak tahu bagaimana kualitasnya. Setelah ini, saya rasa membeli Bakso Bonanza bakalan saya lakukan kalau next ada lagi acara kamping. Biar badan tetep sehat dengan mendapat asupan makanan yang nggak abal-abal.

Mengolah Bakso kemasan instan untuk dijadikan makanan saat traveling sepertinya bisa dicoba dibuat bakso BBQ. Namun bisa juga diolah menjadi bakso kuah kuning atau mungkin campuran dalam sop. Tapi kalau mau lebih praktis lagi Bakso Bonanza bisa diolah dengan digoreng saja. Baksonya sudah enak dari sananya, jadi bisa langsung digoreng tanpa ditambah bumbu. Praktis dan awet untuk bekal traveling

Untuk mencari Bakso kemasan instan Bonanza caranya cukup mudah. Bakso instan ini bisa dicari di Superindo maupun Hypermart. Bakso yang dijual dengan ukuran kemasan 500 gr harganya kisaran Rp. 85.000. Isi bakso sekitar 33 biji. Tapi kalau mau kemasan kecil, bakso Bonanza juga menyediakan kemasan kecil.

Nah tunggu apalagi, kalau masih bingung bekal traveling mau bawa bahan makanan apa, bisa dicoba untuk membawa bakso kemasan instan dari Bakso Bonanza. Nggak ribet, nggak perlu nggiling daging sendiri, tapi gizi dan bahannya  kualitasnya terjamin.

Wednesday, April 10, 2019

#CDJ 4: Nasihat



“Jadi kapan?” Adik saya mengaduk es teh di gelasnya.

Saya terkekeh. Saya paham benar, sejatinya ia selalu mencari kesempatan setiap ngobrol untuk menanyakan ini.

“Doakan saja,” jawab saya pendek.

“Banyak yang nanya.”

Saya lagi-lagi terkekeh. Tapi ya, saya lebih memilih meneruskan melahap geprekan ‘preksu’ Jogja sampai habis daripada memperpanjang percakapan semacam itu dengannya.

“Jangan terlalu sering jalan sendiri, Mbak,” kali lain ia kembali mengingatkan saya.

Di Jogja sebulan membuat saya benar-benar merasai bahwa saya punya adik. Saya yang biasanya bertemu dengannya paling sebulan sekali, saat itu akhirnya selama sebulan penuh kami hampir setiap hari bisa ketemu. Dan hampir tiap ia longgar ia mengajak saya mengunjungi banyak tempat di Jogja. Bisa dibilang, ini waktu kebersamaan terlama kami.

“Aku nggak selalu bisa nemenin kemana-mana. Buruan cari mahram, biar ada yang nemenin kemana-mana,” ujarnya. Saya menanggapinya dengan sedikit senyum kecut.

“Kenapa? Kamu mau nikah duluan? Kalau nantinya mau nikah duluan, duluan aja,” ujar saya lantas buru-buru mengalihkan pandang ke piring geprekan.

Geprekan Jogja dimanapun tempatnya sepertinya jadi lokasi kami lebih sering membicarakan hal-hal sensitif semacam ini. Yeah, saya sepertinya juga lebih nyaman ngomong di warung geprek. 

Setidaknya kalau saya tiba-tiba menitikkan air mata bisa beralasan kepedesan, pun kalau lagi tak pengen menanggapi percakapan saya bisa pura-pura buru-buru fokus menghabiskan nasi.

“Bukan gitu. Hanya kadang khawatir kalau kamu jalan sendiri, Mbak,” ujarnya.

Dibandingkan ayah saya, sepertinya adik saya jauh lebih cerewet mengingatkan saya untuk secepat mungkin mengakhiri kelajangan. Ia juga kerap mengingatkan saya tentang hadis-hadis aturan safarnya seorang perempuan, serta megingatkan saya untuk sebisa mungkin tidak pergi hanya berdua dengan laki-laki.

“Kalau jodoh itu carinya tinggal kayak kita metik daun, aku udah metik dari dulu-dulu,” ujar saya suatu kali ketika ia lagi-lagi menyinggung masalah itu.

“Kalau mencari jodoh kita nyari yang sempurna, selamanya kita tidak akan pernah menikah,” katanya lagi.

“Saya tidak pernah menuntut kesempurnaan, hanya saja ya kalau belum ketemu ya belum,” tanggapan saya.

Saya menghela nafas dengan ucapannya. Bukannya saya menolak dengan perhatiannya. Saya seneng betul ketika ia mengingatkan beberapa hal yang memang tidak seharunya saya langgar. Tapi ya, soal jodoh kok ya gimana kalau terus diingatkan. Ahh, apakah mungkin ini karena ada bagian diri saya yang congkak? Sehingga kadang saya sedikit sensitif dengan bahasan seperti ini?

“Kita tidak pernah tahu, suatu tempat apakah benar-benar aman untuk didatangi. Makanya lebih aman kalau kemana-mana ada mahramnya.”

“Disitulah fungsi doa yang kenceng sama Allah. Doakan saja kakakmu ini yang baik-baik.” Jawab saya. “Sebisa mungkin kalau kemana-mana aku juga nyari temen kok biar nggak sendirian. Kalau pas ada, Kalau nggak, ya pokoknya doakan saja terus yang baik-baik.”

Obrolan selanjutnya ia kembali menunjukkan saya beberapa hadist   perihal safarnya seorang perempuan. Namun yaahhh, semoga Allah paham bahwa saya tidak sedang ingin menjadi hambaNya yang ingkar. Saya percaya bahwa setiap aturanNya selalu mengandung kebaikan. Namun beberapa hal memang belum bisa saya laksanakan. Kehidupan, rasanya selama ini menuntut saya untuk mandiri. Saya hanya bisa berharap, semoga Allah memaklumi, memaafkan dan senantiasa melindungi.