Monday, November 06, 2017

Mengintip Pembuatan Bubur Asyura di Masjid Sunan Kudus

2 orang perempuan berhijab berjalan membawa tampah dengan isian makanan yang sekilas seperti adonan puli. Berwarna kekuningan tetapi di atasnya ada toping bulatan kecil seperti bakso, udang, serta aneka rupa lauk yang tampak menggoda. Panganan-panganan itu terusun rapi diatas piring-piring daun pisang yang membentuk lingkaran


pembagian bubur asyura kudus


“Ini bubur asyura yang mau dibagikan ke warga,” jelas salah satu dari mereka

Saya membulatkan bibir. Ini untuk pertama kalinya, saya melihat bentuk bubur asyura.

Selesai acara di Rembang-Jepara, saya dan Pak Danang singgah sebentar di Masjid Kudus. Kedatangan kami ke Masjid Kudus beberapa waktu lalu bisa dibilang momen yang tepat. Tepat hari jumat, dan rupanya tepat saat acara Buka Luwur Sunan Kudus masih berlangsung. Menyusuri jalanan gang Kauman, gang samping masjid Kudus, saya berniat menghampiri rumah yang dipakai untuk membuat bubur asyura. 

Alunan bacaan surat mengalun di penjuru gang Kauman. Dua orang bocah tampak setengah berlari dengan kedua tangan mencincing sarung.

“Disana, Mbak,” si bocah menanggapi teriakan pertanyaan saya yang berkejaran dengan kecepatan lari mereka. Ia berhenti di sebuah pertigaan gang, menuding ke dalam jalan sempit diantara rumah-rumah. Setelahnya, ia berlari lagi

Saya mengikuti petunjukknya. Memasuki sebuah gang yang sama sempitnya dengan gang utama. Sayup-sayup keramaian ibu-ibu terdengar. Semakin terus berjalan, suara keramaian kian jelas, terkumpul dari balik sebuah rumah dengan pintu kayu yang terbuka. 

Bubur Asyura, Bagian Dari Rangkaian Acara Buka Luwur Sunan Kudus

Saya memberanikan diri memasuki pintu tersebut. Menyapa para ibu-ibu yang masing-masing sibuk dengan bagian pekerjaannya. Perhatian saya lama tertuju pada dua orang ibu yang sibuk mengaduk bubur pada dua wajan besar. Caranya mengaduk, bukan seperti mengaduk bubur biasa. Caranya mengingatkan saya ketika dulu kerap diminta simbah “ngaru” atau tahapan memasak nasi pakai kendhil. Gerakan adukannya berulang, ke atas-bawah, baru setelahnya diaduk berputar.

bahan bubur asyura

Baru hari itu saya tahu, jika di masjid Kudus ada tradisi semacam ini. Buka Luwur Sunan Kudus merupakan tradisi mengganti kain mori yang digunakan untuk membungkus nisan, cungkup, serta beberapa bagian lain dari makam Sunan Kudus. Penggantian hanya dilakukan setahun sekali setiap tanggal 10 Muharram. 10 Muharram, merupakan hari dimana Sunan Kudus wafat.

Dalam Islam, 10 Muharram merupakan hari istimewa yang mana disebut juga dengan hari Asyura. Asyura sendiri berasal dari kata ‘asyarah’ yang dalam bahasa Arab artinya sepuluh. Sunnah rasul menganjurkan untuk melakukan puasa di hari asyura dengan keutamaan menghapus dosa selama satu tahun. 

Luwur
Suasana Makam Sunan Kudus. Perhatikan kain-kain putih. Itulah luwur-luwur yang diganti




bka luwur kudus 2017


Pembagian bubur asyura, merupakan rangkaian dari acara buka luwur Sunan Kudus.  Pembukaan Luwur sendiri dilakukan pada tanggal 1 Muharramnya, dan baru dipasang kembali di tanggal 10 Muharram. Bubur asyura, di berbagai tempat dibagikan pada tanggal 10 Muharram, namun karena di tanggal tersebut juga dilakukan pembagian nasi jangkrik (nasi berupa nasi daging) maka bubur asyura di Masjid Sunan Kudus dibagikan di tanggal 9 Muharram.

Bubur asyura Terbuat dari 9 bahan

Bubur asyura di berbagai tempat, memiliki rasa yang berbeda-beda karena bahannya yang juga berbeda-beda. Di Masjid Kudus, bubur asyura terbuat dari 9 bahan yaitu: beras, jagung, pisang, kacang tanah, kacang hijau, tolo, kedelai, ubi jalar dan ketela.

Baca Juga



Ketika mencicip bubur asyura, aroma dan rasa gulai tercium kuat. Tentu saja, karena rupanya bumbu bubur asyura memang menggunakan bumbu gulai, dipadukan garam, daun sereh, daun pandan, serta kayu manis.

Usai bubur dimasak dan matang, bubur diberi toping atau taburan 9 macam bahan: tahu, tempe, teri, udang, potongan telur dadar, jeruk bali, tauge, lombok dan penthul. Rupanya, bulatan kecil-kecil yang semula saya kira adalah bakso  namanya adalah penthul. Bulatan kecil yang berasal dari campuran daging cincang dengan parutan kelapa lantas dibumbu dendeng. 

Paling unik menurut saya, ketika lidah saya mencicip bulir-bulir jeruk bali yang terkunyah bersama bubur. Sensasi rasa yang unik, tapi enak. Kalau saya boleh menaburi sendiri bubur dengan toping suka-suka, saya mungkin akan meratai bulatan bubur dengan bulir-bulir jeruk serta butir-butir penthul ^^
taburan bahan bubur asyura


Masjid Kudus kembali riuh saat Solat Jumat selesai. Dari tempat pembuatan bubur asyura, saya memasuki area makam Sunan Kudus. Pintu gerbang masuk makam kembali dibuka. Area Makam yang saat Solat Jumat sepi, kembali didatangi orang-orang.  Masuk sebentar ke area makam, saya lebih memilih melawan arus, menghindari pusaran manusia, melipir kembali ke luar. 

Solat Jumat sudah usai, itu berarti sekarang giliran saya untuk solat dhuhur. Yeahh, mari solat sebelum disolatkan, dan sebelum nama tertinggal sebagai nama yang tergores layaknya nisan-nisan di komplek makam Sunan Kudus. Hakikat Dziarah, bukankah sebuah pengingat bahwa mati itu pasti, tak peduli siapapun ia, dan sebagai pengingat hari kebangkitan itu ada maka mari siapkan bekal-bekalnya?



Related Posts

Mengintip Pembuatan Bubur Asyura di Masjid Sunan Kudus
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Punya pengalaman mirip? Ada Pertanyaan? Atau malah pengen curhat? Silahkan tinggalkan komentar kalau ada :)
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)