Friday, April 14, 2017

Mengayuh Pedal Menyusur Bengawan Solo

Bengawan Solo, Riwayatmu ini

Sedari dulu jadi, perhatian insani…

Ada nada yang seolah terkayuh seiring pedal yang dipancal menuju sungai Bengawan Solo. Suara Mbah Gesang dengan iringan keroncongnya yang mengalun merdu, berdendang terus di kepala. Membuat saya tak henti-hentinya bernyanyi meski hanya sebatas dalam hati.

Sol sol la mi sol…

Do re mi re do mi…



Usai bait akhir Bengawan Solo, suara dalam hati berganti. Berganti note-note Bengawan Solo yang dulu selalu saya dan teman-teman lantunkan saat sedang latihan drumband. Sepeda rasanya menjadi mesin waktu yang membawa saya pada masa lampau. Saat dimana nyaring suara bellyra yang jadi alat musik pegangan saya berpadu berisik trio, bass, dan symbal bergaung memenuhi ruang kelas.

Ning pinggire bengawan…

Tansah setyo, ngenteni sliramu…

Lirik lagu Manthous yang nggranthes itu tak ketinggalan terlantun dalam hati.

Tiga lagu-lagu itu terus saja saya dendangkan dalam diam di sela-sela jarak yang terbentang antara sepeda saya dan rekan-rekan yang beberapa kali terlihat lebih sering melenggang jauh di depan.  Kayuhan saya memang cenderung pelan. Tapi bukankah sebuah perjalanan yang mengasyikkan,  terlalu sayang kalau dinikmati terlalu cepat?

Maka saya memilih melambat meskipun beberapa kali saya juga berusaha berjajar dengan yang lain agar tak kelihatan seperti orang tersesat.

***

Bengawan Solo, Sang Legenda Yang Ternoda


Start dari Tourism Center Gladag, kami lantas melewati alun-alun utara. Merasakan barang beberapa detik keteduhan rindang ringin Gladag. Lantas berlanjut lagi, berbelok ke arah pasar Kliwon saat sampai di Sumpit Urang Keraton.  Selanjutnya kami lurus terus sampai Semanggi lalu melalui beberapa belokan,  melalui juga  jembatan lama.  Serta melewati jalan-jalan sempit di daerah Kampung Sewu. Semuanya demi satu tujuan, nyebrang Kali Bengawan Solo.

jalan kampung sewu


"Ini Sungai, warnanya pasti ngikutin tren fashion," celoteh salah seorang peserta.

Kami terkekeh. Getir. Mungkin dia benar. Sampai di daerah Gandekan, kami sempat berhenti di sebuah jembatan yang di bawahnya merupakan pintu air. Aliran sungai terlihat kotor, sampah-sampah nampak tergenang dan warnanya tampak tercemar. Sudah bukan rahasia lagi kalau industri-industri kain serta warga sekitar kerap kali membuang limbahnya ke sungai. Padahal aliran itu nantinya juga akan menyatu dengan derasnya aliran Bengawan Solo yang hingga kini masih dimanfaatkan penduduk di sepanjang aliran Bengawan Solo.

Hemm, mungkin hidup indah kalau berwarna, tapi bagi sungai, warna adalah sebuah perkara. Berdiri di hadapan sungai dengan pintu air yang tampak eksotis, seperti bangunan lawas, saya cuma bisa membayangkan ini di Venesia. Yahh, andaikan semua sungai-sungai ini bersih

pintu air



Nama Bengawan Solo



Saat Pak Ajib bilang Bengawan Solo itu seperti Jalur Sutra, yakni jalur yang menghubungkan perdagangan di masa lampau. Saya jadi terngiang cerita Simbah tentang kayu-kayu alas kethu yang dihanyutkan lewat Bengawan Solo. Menurut cerita simbah yang juga "dicritani" penjualan kayu-kayu tersebut dilakukan dengan cara demikian karena terbatasnya alat angkut jalur darat. Uniknya, cerita ini bersambung ketika dewasa ini, saya datang ke Keraton dan mendapat kisah dari salah satu guide yang berujar bahwa beberapa kayu pembangunan keraton didatangkan dari jati-jati pilihan  Alas Kethu yang dihanyutkan lewat Bengawan Solo. Perkara benar atau tidak, saya tidak tahu. Tapi, begini ini yang bikin saya kangen simbah. Kerap kali cerita-ceritanya semasa saya kecil seperti berhubungan ketika saya dewasa.

Konon Bengawan Solo memang dulu ramai pedagang. Bengawan Solo menjadi jalur perdagangan yang menghubungkan antara wilayah Jawa Timur dan juga Jawa Tengah, juga menghubungkan kedua wilayah untuk mencapai laut. Perdagangan lewat jalur Bengawan Solo, dulunya ramai sampai akhirnya jalur kereta api digunakan. Nama Bengawan Solo sendiri awal mulanya bernama Bengawan Beton, namun seiring berjalannya waktu nama Bengawan Beton menjadi lebih dikenal dengan Bengawan Solo.

Gesang &Bengawan Solo

“Ajib, kamu bisa kan menyanyikan lagu Bengawan Solo?” Pak Heri, tour guide yang juga menemani perjalanan kami berujar dengan menirukan logat Orang-orang Belanda yang kerap meminta Pak Ajib, leader perjalanan ngonthel kami kemarin untuk bernyanyi lagu Bengawan Solo.

Pak Ajib hanya terkekeh menanggapi cerita rekannya.

Nama Bengawan Solo memang cukup populer di luar negri berkat lagu si Mbah Gesang. Tak terkecuali bagi turis-turis yang sering ngetrip susur kawasan Bengawan Solo bareng Pak Ajib.

Taman Gesang di kawasan Jurung adalah salah satu bukti kepopuleran Gesang dan Bengawan Solo. Di suatu hari yang cerah, saya pernah berjalan-jalan dengan seorang teman ke Taman Satwa Taru Jurug Solo. Dari kunjungan ke Jurug itulah, saya jadi tahu, nama Gesang, jauh lebih gesang (hidup) dari pemilik namanya sendiri.

taman gesang
Taman Gesang Jurug
Ada sebuah taman dengan tulisan Indonesia yang juga berpadu huruf-huruf Katakana, serta patung Gesang di sana. Taman itulah Taman Gesang, hasil pengumpulan dana para pecinta karya Gesang di negri Sakura. Di Komplek Taman Jurug, di atas pinggiran Bengawan Solo, Taman itu berdiri. Sebuah bukti bahwa memang Gesang dengan Bengawan Solonya cukup diakui di mata Internasional. Konon bahkan lagu Bengawan Solo sudah dierjemahkan ke dalam 13 bahasa

Menyebrang Bengawan Solo

perahu bengawan solo

Saya sempat shock saat melihat perahu yang akan kami tumpangi. Perahu kayu dengan rangkaian bambu di atasnya itu sekilas terlihat kurang kokoh jika nantinya harus mengangkut sepeda onthel kami yang ada 10. Ditambah 1 motor milik warga kampung serta 1 motor milik Pak Heri. Yang benar saja, apa bisa?

Nggih kulo mboten saged ngiro-iro nek mboten ditoto rumiyin, Saya tidak bisa memperkirakan kalau tidak ditata lebuh dulu-” komentar bapak perahu saat ada diantara kami meragukan kekuatan perahu itu.  Dan setelah semuanya tertata. Tadaaa, ternyata perahu itu memang mampu untuk mengangkut kami semua.

perahu bengawan
by +Dimas Suyatno 

Musim Kemarau, Tak sebrapa airmu…

Di Musim hujan, air meluap sampai jauh…


Perjalanan kemarin memang bertepatan dengan hari-hari dimana hujan rutin mengguyur. Sesuai lirik lagu Bengawan Solo, Hari itu kondisi air Bengawan Solo terlihat penuh lantaran hujan yang terjadi. Penyebrangan jadi terasa ngeri-ngeri sedap. Walaupun ternyata tak sengeri yang saya bayangkan. Perjalanan kami hanya berlangsung tak sampai 5 menit. Hyap, tak sampai 5 menit untuk menyebrangi sungai terpanjang di pulau Jawa itu. Tak sampai 5 menit untuk berpindah dari wilayah Solo ke Sukoharjo.


Kami juga sempat bertemu penjual karak yang hendak berkeliling menjajakkan karaknya ke daerah Widuran. Dengan sepedanya ia menyebrang, menempuh rute terdekat untuk bisa sampai ke Solo dengan waktu lebih singkat daripada harus memutar lewat jalur darat. Kami mengamatinya mulai ia naik ke atas kapal, dan Bapak perahu mulai menjalankan kembali perahunya. Saat perahu mulai bergerak, kamipun harus kembali bergegas. Menghampiri onthel masing-masing, lantas menuntunya melewati jalan tanah untuk melanjutkan perjalanan berikutnya menuju desa asal Ibu-ibu barusan mendapat Karak. Yap, Masih banyak agenda kami hari itu. Dan Desa Industri Pembuatan Karak, adalah Tujuan Kami yang pertama setelah menyebrangi Sungai Bengawan Solo.

Itu perahu, Riwayatnya dulu..

Kaum pedagang slalu…

Naik itu perahu….





Trip Bengawan Solo dan Sekitarnya
SELFIE SPOT COUNTRY SIDE ADVENTURE ( VILLAGE BIKE TOUR & CETO SUN SET)


Related Posts

Mengayuh Pedal Menyusur Bengawan Solo
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

6 comments

Tulis comments
avatar
14 April, 2017 22:04

Bengawan Solo emang legend bgt.. dulu jaman SBY sempat ada komitmen utk penyelamatan Bengawan Solo.. tp kayaknya berakhir jd wacana doang. Mpe sekarang ga ada action yg serius.. sedih.

Reply
avatar
14 April, 2017 22:24

waaaa asik ini tour sepeda dan blusukan gini.

Reply
avatar
19 April, 2017 12:38

harusnya sebagai sungai yang melegenda dia mendapat perhatian lebih ya mbak. Dampak ke depannya sebenarnya yang menakutkan kalau sampai dibiarkan tercemari dan sedimentasi terus terjadi

Reply

Punya pengalaman mirip? Ada Pertanyaan? Atau malah pengen curhat? Silahkan tinggalkan komentar kalau ada :)
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)