Wednesday, March 22, 2017

Sekitar Alun-Alun Utara Solo Suatu Ketika

Sebuah musibah, tak pernah ada yang tau kapan ia datang. Ia menjadi sesuatu yang seharusnya dihadapi pada akhirnya.

***

Jalan-jalan ke Solo, tentunya kurang lengkap kalau sampai tak mencoba menginjakkan kaki ke Keraton juga wilayah sekitarnya, termasuk sekitaran PGS sampai memasuki kawasan Gladag.

Saya kira dulu Gladag hanyalah sebuah nama. Namun ternyata, nama Gladag lantaran area ini merupakan tempat menggladang hewan sembelihan raja yang akan dibagikan kepada rakyat di jaman dulu.

Salah satu hal yang saya suka ketika memasuki gapura Gladag adalah teduhnya hawa di sana. Rindangnya ringin-ringin besar yang saling berhadapan sejak mulai memasuki gerbang gapura Gladag, lantas berlanjut lagi setelah memasuki gapura kedua/gapura Kori Pamurakan, adalah alasan kenapa udara di sini sejuk.




Memasuki sekitaran Alun-alun Lor atau bahasa Indonesianya disebut Alun-alun Utara, riuh lalang motor dan geliat aktivitas perdagangan yang terjadi menjadi mayoritas pemandangan. Tempat ini rasanya tak pernah sepi, kecuali jika sore sudah menjelang. Kegaduhan akan lebih beralih ke Alun-alun kidul pada malam harinya. Sisi dimana menjadi tempat cukup yahud untuk menikmati bakso bakar pedas yang banyak dijual.



“Pak, saya mau benahin helm. Kayak gini bisa?” 

Pagi itu, saya sengaja mendatangi kawasan sekitar  Gladag. Bukan untuk jalan-jalan. Niat saya adalah mendatangi seorang bapak-bapak yang menyediakan jasa servisaan helm. Lokasinya berada di bawah gapura Batangan. Gapura batas wilayah Keraton, yang menjadi jalur keluar menuju wilayah Pasar Kliwon. 

“Bisa mbak, bisa. Ini helmnya masih lumayan bagus kok. Cuma dalemnya aja perlu diperbaiki,” ujarnya sembari tersenyum girang. Saya pun ikut girang. Helm yang sisi pinggirannya sudah mulai keropos lepas lemnya. Serta bagian belakang gabusnya mulai krowak itu, dibilangnya masih bisa diperbaiki. Helm itu pemberian seorang kawan karib, makanya sayang kalau mau diganti.

“Saya tunggu ya, pak. Bisa kan?” 

“Bisa mbak, bisa,” lagi-lagi ia tersenyum girang. Nampak senang karena mendapat pelanggan. 

“Saya sambi jalan-jalan sebentar ya, Pak,” ujar saya lantas mengeluarkan kamera hendak berburu hal menarik kawasan sekitar Gladak. Si bapak manggut-manggut. 

Awalnya, saya mau masuk ke Pasar Batu Mulia Keraton Surakarta. Tapi hari itu Pasar Batu Mulia terlihat ramai. Akhirnya saya batalkan. Saya lebih memilih menunggui si bapak membenahi helm saya.



Foto Pasar Batu Mulia diambil lain hari

Ia memberi saya kursi, tapi karena bapak itu sendiri memilih duduk di pinggiran trotoar, sayapun mengikuti. Dengan gerakan cepat, nampak pengalaman si bapak mulai mengeluarkan bagian dalam helm saya. Mengelilingi bagian pinggir gabus helm, dengan balutan gabus tipis hingga menutup lubang gabus saya tadi. Ia lantas mengelemnya dengan hati-hati  lalu memasukkannya kembali. Pelan-pelan ia juga melekatkan sisi-sisi kain yang mulai sobek.

Saya mengedarkan pandang. Sempat terhenti cukup lama di bagian tengah Alun-alun Lor. Pandangan saya tertuju pada kayu-kayu yang menjadi penyusun dinding-dinding darurat pasar klewer. Bangunan tidak permanen darurat pasar Klewer yang terlihat tiap kali melintasi wilayah Alun-alun, selalu membawa saya terbang ke masa silam. Sekian tahun lalu, saya pernah manjadi salah satu manusia yang menghabiskan harinya di dalam ruang sempit diantara tumpukan dagangan hasil mengurasi harta sisa-sisa paska kebakaran seperti itu. Menjadi saksi, bagaimana nenek berjuang kembali saat semua hasil pejuangan puluhan tahun hilang begitu saja.

Sekian tahun yang lalu, Pasar Wonogiri juga mengalami hal yang sama dengan Pasar Klewer. Kebakaran hebat menghabiskan seluruh sudut bangunannya. Tapi yah, hal semacam itu berlalu pada akhirnya. Biarpun pada awalnya, masih sangat jelas dalam ingatan saya bagaimana esok pagi setelah kebakaran, warna hitam dan abu yang mengubah kekokohan pasar menjadi lapangan membawa sendu diantara wajah-wajah riang pedagang yang biasanya saya temui. 

“Pak, maaf, ini vitiligo ya, Pak?” tanya saya saat mengalihkan pandang kembali pada bapak yang membenahi helm saya. Kaki si bapak terlihat putih pucat, ujung tangan sampai pergelangan penuh bercak, dan area wajahnya juga tampak beberapa diselinggi bercak putih.

“Iya, Mbak. Kok mbaknya tahu namanya ini vitiligo?”tanyanya sembari tersenyum. Ia sama sekali tak marah dengan pertanyaan saya.

“Ada teman yang juga menderita ini, pak.”

“Owh.” Si bapak manggut-manggut. “Dulu udah berobat, Mbak. Tapi ya mau gimana lagi. Memang nggak ada obatnya,” ceritanya dengan tersenyum lagi. Saya jadi paham lama-lama, kalau bapaknya ini memang ramah. Sejak awal pembicaarn kami ia selalu tersenyum.

Di depan kami, lalu lintas motor yang melewati area alun-alun terus saja bersliweran. Jalan searah yang diberlakukan di Slamet Riyadi, membuat kawasan ini cukup rame dengan lalang kendaraan.




“Nih mbak, kulit saya jadi kering begini lho mbak. Nanti kalau kepanasan jadi merah-merah. Jadi tipis, sensitif, gampang luka mbak,” tunjukknya pada sedikit luka di kakinya. Seumur-umur, baru saya melihat kulit vitiligo sedekat itu. Dan ternyata memang terlihat sangat tipis.

 “Coba dikasih handbody pak biar nggak kering,”

“Iya mbak. Saya pasrah, Mbak. Wong ya nggak ada obatnya,” jawabnya sembari sibuk memotong kain yang akan dijadikannya pengganti kain helm saya yang juga robek.  Saya jadi ingat tentang golongan kortikosteroid yang setahu saya kerap dipakai untuk pengobatan vitiligo. Tapi untuk kasus vitiligo yang sudah meluas, kortikosteroid bukan pilihan bijak untuk digunakan.  Saya mengulik-ulik lagi pengetahuan saya. Tapi yah, selain 'kortikosteroid, pencangkokan, dan belum ada obat', saya tak menemukan pengetahuan apapun tentang vitiligo di database kepala saya. Pengetahuan saya tentang penyakit ini kurang sekali

“Ini nanti dipakai lebih enak, Mbak. Lebih pas nanti,” Bapak itu masih sibuk dengan helm saya. Ucapannya membuat saya lagi-lagi menoleh pada helm saya dan secara otomatis pada kulitnya.

Mendadak saya merasa bersalah habis-habisan atas jiwa kewanitaan yang tak terpungkiri kadang  tak bersyukur lantaran masih terlintas untuk memiliki kulit putih mulus atau sekedar kuning langsat layaknya wanita-wanita di sana. Sementara seseorang di samping saya, sedang berpasrah pada kondisinya yang pelan-pelan harus kehilangan warna kulit sawo matangnya. CaranNya menyindir, kadang memang tajam mengena.

Saya mengedarkan pandang lagi. Kali ini tertuju pada Gapura Batangan. Gapura besar nan kokoh yang sudah puluhan tahun berdiri itu, konon namanya diambil dari nama Kiai Batang yang juga dimakamkan di sekitar situ.

Gapuro Batangan

“Anak saya itu sekarang 22 tahun, mbak. Nggak kuliah. Sekarang kerja di perfilman,” bapak itu memulai bercerita lagi. Kali ini ia membahas tentang putranya.

“Nasib orang, Mbak. Nggak ada yang tahu. Sekarang penghasilannya lumayan besar. Bisa beli rumah di sana. Bisa belikan pula saya motor ini,” tunjuknya pada sebuah motor laki-laki yang modelnya cukup kekinian. 

“Awalnya dia pemeran pengganti. Sekarang naik, jadi bantu-bantu sutradara, Mbak,

“Ya saya akui, anaknya gigih. Selalu penasaran, dan suka mempelajari hal baru. Makanya dia sekarang dipercaya jadi asisten sutradara,” tangan si Bapak masih sibuk. Sementara bibirnya terus mengalirkan cerita yang membuat saya membatin salut. Ternyata dibalik kondisi kulitnya tersimpan cerita anaknya yang cukup menakjubkan.  Dia memang Maha Adil.


“Saya itu sebenarnya mau dimodalin anak saya. Tapi saya nggak mau. Dimodalin jual helm lagi. Tapi nggak lah. Enak seperti ini.”

“Lah, kenapa pak?”

“Saya dulu pernah jual helm, Mbak. Besar, sampai saya bisa beli rumah. Lalu krismon 98 bangkrut. Lalu besar lagi, bangkrut lagi. Sekarang saya lebih milih gini. Yang jual helm itu banyak. Tapi yang mau servis cuma sedikit,” ceritanya kembali. Saya manggut-manggut lagi. Yah, namanya usaha kadang memang seperti komidi putar. Kadang di atas, kadang di bawah. 

“Anak saya itu awalnya nggak bisa apa-apa. Dia disuruh belajar macam-macam, tekun, ya akhirnya bisa seperti sekarang. Alhamdulillah. Orang tua itu kalau sudah lihat anaknya mandiri, mbak. Sudah seneng,

 “Monggo mbak, dicoba! Pasti enak! Kalau belum enakan, saya benerin lagi,” si Bapak menyerahkan helm itu. Saya lantas mencobanya. Benar saja, langsung pas di kepala saya. 

Hanya membayar Rp. 15.000 helm saya sudah kembali layak pakai. Bagusnya, sekitar 30 menit saja saya duduk di trotoar rasanya saya sedang diingatkan Yang di Atas tentang banyak hal. Hemm, saya sudah berasa ada di ruang golden ways.

Tak jauh dari lokasi servisan helm ini, seorang ibu-ibu sedang dikerumuni beberapa orang. Dari gerobaknya tertulis Dawet Solo. Yeah dikala sinar matahari pagi yang sudah mulai mengerang, dawet Solo memang pilihan pas menyegarkan dahaga. Namun sayangnya, saya masih harus bergegas. Usai membayar helm dan berpamitan, saya mulai memacu motor lagi. Melewati alun-alun lor melewati keramaian komplek optic penjual aneka rupa kacamata, menyusuri wilayah Supit Urang Keraton, melipir melewati Keraton, menjamah  jalan Alun-alun Kidul, sampai akhirnya keluar dari wilayah Keraton ditandai dengan terlewatinya gapura Gading. 

Masih panjang hari itu perjalanan saya menuju Wonogiri. Tapi ya, sepanjang perjalanan, percakapan dengan bapak-bapak itu berhasil membuat saya banyak-banyak merenung.

Related Posts

Sekitar Alun-Alun Utara Solo Suatu Ketika
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

12 comments

Tulis comments
avatar
22 March, 2017 20:58

Aku belum pernah service helm Mbak, kebetulan selalu awet helmku. Alhamdulillah ya, anaknya bapak tukang service helm, nasibnya baik.

Reply
avatar
23 March, 2017 01:09

Serasa diajak2 jalan2 ke alun2 SOlo, aku blm pernah ke sana soalnya hehe. Wah jd inget helmku talinya jg rusak
TFS kisahnya mbk

Reply
avatar
23 March, 2017 03:22

Ah, aq juga pernah service helm di bapaknya. Yang di deket gapura itu bukan? Terampil banget. Dan bener kata bapak itu, yang jual helm banyak tapi yang bisa service?? hmmm kayaknya dia doang. Belom tau yang lainnya. Btw tulisan ini menarik bgt. Sederhana tapi sangat menarik. Ngga kepikir bisa dapet cerita bagus begini di sana. Great job!

Reply
avatar
23 March, 2017 08:59

iya mbak. Yang Di Atas memang Maha Adil

Reply
avatar
23 March, 2017 09:00

kapan-kapan main k solo mbak, terus jalan-jalan ke alun-alun

Reply
avatar
23 March, 2017 09:09

iya mbak yang itu. aku juga belum menemukan yang lain.
thanks ya mbak. ini juga ndilalah pas waktu itu ngobrol, sekedar daripada cuman bengong. eh nggak taunya malah dapet pelajaran banyak

Reply
avatar
23 March, 2017 09:30

Iya nih dr gladak mau ke keraton emg adem di bawah pohon2 itu. Jd inget dlu pas mudik ke wonogiri nyasar muter2 sekitaran keraton itu wkwkwk

Reply
avatar
23 March, 2017 09:34

ndang gek mudik neh mas. hahaha

Reply
avatar
23 March, 2017 13:04

Kadang ada saja ya cerita-cerita tak terduga yang kita dapet dari sebuah perjalanan.
Ah Kota solo memang cantik, aku selalu kangen sama Solo.
kangen dengan masyarakatnya yang religius dan ramah :)

Reply
avatar
24 March, 2017 06:01

Sering ke Solo tapi belum pernah menyusuri sampai ke kawasan terdalam. Baru tahu malah kawasan Gladag ini.
Harus ditelusuri ah besok, biar paham Solo :)

Reply
avatar
25 March, 2017 23:54

bener banget. dan cerita-cerita tak terduga semacam itu yag membuat berkesan. Yuk secepatnya mampir ke solo :)

Reply
avatar
25 March, 2017 23:55

hihihi. Yuk mbak injul. kapan2 nyolo ;)

Reply

Punya pengalaman mirip? Ada Pertanyaan? Atau malah pengen curhat? Silahkan tinggalkan komentar kalau ada :)
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)