Thursday, February 23, 2017

Sensasi Seruput Segelas Kopi Jos Tugu Jogja

Saya bukan penggila kopi, hanya seseorang yang selalu bersemangat ketika diajak ke sebuah tempat yang memang khas untuk ngopi. 

Seperti kala di Jogja, setelah acara dari New Saphire Hotel, berawal dari sebuah pertanyaan,

“Ada nggak sih tempat makan yang khas di dekat sini?” 

Berdiskusi sebentar di atas motor, Adik saya yang kebetulan memang kos di Jogja langsung mengajak saya ke sebuah warung kopi di dekat tugu Jogja.

kopi jos mb lina


“Ini, kopi yang arangnya dicelupkan ke dalam gelas itu tho?” tanya saya memastikan sembari membaca nama kopi Jos yang tertera di spanduknya.

Saya ingat, dulu adik saya pernah memberitahu saya mengenai kopi unik ini. Saya sempat tereran-heran waktu itu, apa enaknya minum kopi dikasih arang? Kopi saja sudah pahit, masih harus dipahitkan lagi? Tapi beberapa hari setelah saya mendengar cerita itu, saya makin sering mendengar mengenai kopi Jos. Rupanya, kopi ini memang sudah terkenal di mana-mana. Saya saja yang ketinggalan berita.

Beberapa dekade setelah pembahasan kopi Jos, akhirnya baru Desember kemarin saya berkesempatan menikmati segelas kopi Jos bareng adik. Sebuah momen kebersamaan yang cukup langka buat kami meskipun sebenarnya beberapa kali saya ada kesempatan buat ke Jogja.  Begitulah perkara waktu, seringnya menjadi alasan untuk memberi jarak pada apapun. Waktu kita susah untuk disamakan.

“Ada beberapa warung kopi Jos di Jogja, Mbak. Di sana juga ada,” tudingnya pada warung yang masih satu barisan dengan  tempat kami mampir. Saya mengikuti telunjuknya. Malam yang remang membuat warung yang sedikit agak jauh itu tak nampak di pandangan saya. Ya mungkin nantilah kapan-kapan saya mampir ke warung kopi Jos yang lain lagi. Malam itu, cukuplah “Angkringan Kopi Jos Tugu Mbak Lina” menjadi ampiran kami.

menu angkringan kopi jos
Menu Angkringan Kopi Jos

Memasuki  angkringan Kopi Jos, perut saya yang sejatinya tadi sore sudah sangat kenyang, meronta lagi seolah menyatakan pendapat kalau ia masih siap untuk diisi. Beragam jajanan gorengan khas HIK, atau bahasa Jogjanya angkringan, menyemarakkan menu peneman menikmati kopi di sana.

Salah seorang penjual mempersilahkan saya duduk menunggu, setelah sepiring gorengan pilihan, kami serahkan untuk dibakar.  Adik saya mendahului saya duduk, sementara saya masih tertinggal berdiri di belakang bapak-bapak yang bersiap membuatkan kopi kami. 

Mumpung pertama kali ke situ, jelaslah saya enggan duduk sebelum hasrat kepo saya tentang pembuatan kopi jos terpenuhi. 

Bapak-bapak itu mulai menyendok beberapa sendok bubukan kopi ke dalam gelas. Memberinya air lantas momen yang saya tunggu adalah ketika si bapak memasukkan arang menyala  ke dalamnya.

Jossss….” 

Konon, suara air kopi yang mematikan nyala pada arang itulah yang kemudian membuat kopi ini diberi nama kopi jos. 

proses kopi jos


“Ini arang kayu apa, Pak?” iseng saya bertanya.

“Kayu samin, Mbak. Harus arang kayu khusus. Nggak sembarangan arang kayu bisa dimasukkan ke dalam sini. Karna salah-salah, nanti malah bikin diare,” ceritanya membuat saya garuk-garuk kepala. Seumur-umur saya baru mendengar ada nama kayu samin. Saya pernah dengarnya masyarakat samin. 

Atau saya yang salah dengar tentang penyebutan namanya? Entahlah, kala itu saya tak banyak bertanya lebih lanjut. Setelah segelas kopi selesai dibuat, kekepoan saya waktu itu beralih pada penasaran perihal rasa kopinya.



Sruputan demi sruputan saya rasakan sembari sesekali berjengit melawan panas kopi yang masih terasa. Mungkin lantaran saya bukan mania kopi. Jadi bagi saya kopi dimanapun itu rasanya cenderung sama saja. Kecuali memang kopi Bali Kintamani yang pernah saya cicipi di Ngopi Serius dulu yang ada sensasi kecut-kecutnya.

Buat saya, kopi jos pun rasanya juga sama saja. Mungkin lantaran kopi saya lebih berasa susu. Karna yahh, saya kan nggak suka yang pahit-pahit. Haha. Tapi biarpun kerap kali saya terlalu bodoh membedakan cita rasa kopi, rasanya saya tak pernah gagal menikmati sensasi romantisme yang selalu tercipta dari segelas kopi. Wikikik, ngopi sama adik saja gayanya menikmati sensasi romantis. Hadeuhhh.

Jadi begini maksud saya, kopi itu bagi saya selalu berhasil membuat obrolan menjadi hangat. Beberapa pengalaman ngopi bareng beberapa orang, seringnya membuat saya mengenal lebih jauh tentang orang itu. Mungkin ini efek caffeine yang punya kecenderungan menenangkan, makanya ketika kita ngobrol terasa lebih asik karena masing-masing dari kita menjadi jauh lebih rileks dan otomatis membuat lebih nyaman untuk lebih terbuka satu sama lain.

Kopi Jos sendiri, dikenal sebagai kopi yang ramah bagi penderita maag. Arang dari kopi ini banyak dipercaya mampu menghisap tingginya kadar caffeine, sehingga lebih aman untuk para penderita gangguan lambung. 

Untuk harganya sendiri, segelas kopi Jos waktu itu (2016) hanya Rp. 5.000 sebuah harga yang cukup ramah dikantong bukan? Gorengannya sendiri juga kisaran 2000-3000. Menu gorengan  lumayan komplit. Nasi kucingnya pun lumayan hot rasanya. Nah, mungkin Kopi Jos Tugu Mbak Lina ini bisa jadi pilihan alternativ kuliner malam di Jogja. Tempatnya sudah buka dari sore sekitar pukul 16.00. 

Membicarakan kopi saya jadi ingat sebuah status di instagram teman yang mengibaratkan keharusan manusia untuk meninggalkan zona nyaman yang ia miripkan dengan biji kopi. Saya lupa bagaimana ucapannya, tapi kurang lebih seperti ini:

“Jangan menjadi seperti biji kopi di dalam toples. Jika hanya terlalu nyaman di dalam toples, kopi tak akan berarti apa-apa. Tapi biarkan dirimu menjadi biji kopi yang tak pernah protes walau harus mengalami sakitnya ditempa. Penempaan biji kopi mengubah kopi menjadi serbuk yang lebih bermakna. Menjadikannya bisa diminum, ataupun menjadi bahan campuran makanan. Seperti manusia, penempaan ujian hidup harusnya mengubah manusia menjadi lebih dewasa dan bijaksana. Dan sudah seharusnyalah seorang manusia memberikan banyak makna dalam hidupnya dan sekitarnya. Jadi, kawan, beranikanlah dirimu keluar dari toplesmu. Carilah maknamu!”

Duhhh. Selalu saja ada banya kata-kata romantis maupun inspiratif dari segelas kopi. 


Angkringan Kopi Jos Tugu "Mbak Lina" Jogja:

Jl. Margo Utomo No. 1, Gowongan, Kota Yogyakarta

Related Posts

Sensasi Seruput Segelas Kopi Jos Tugu Jogja
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

15 comments

Tulis comments
avatar
23 February, 2017 15:59

Hm, jadi nggak tambah pahit ya rasanya. Pernah pingin nyoba kopi jos di angkringan di dpn stasiun tugu tp batal. Soale sy gak suka kopi mba

Reply
avatar
23 February, 2017 19:03

Semoga nanti romantisme kopinya bisa terjadi beneran, bukan sama adiknya ya Mba Aida..hihihi..

Iya..kopi memang ada yg asem Mba.. Beberapa kopi sifatnya gitu. Kata suami sih, roastingan kopi juga pengaruh. Aduh, aku mah ngga paham lah..

Tapi menurut yang pernah aku dengar, emang si arang ini menyerap kafeinnya. Jadi ada khasiatnya gitu. Hahambuh lah yaa.. Sing penting jos lah Mba..:D

Reply
avatar
24 February, 2017 09:39

iya nih aku belum pernah nyoba, meski berkali2 ke jogja :3

Reply
avatar
24 February, 2017 13:46

aku pesan pkai susu yang banyak mbak. hehe. kalau kopi jos yang depan stasiun tugu saya belum pernah coba juga

Reply
avatar
24 February, 2017 13:49

wkwkwkw. amin...

fungsi arangnya di situ menyerap kafein katanya mbak. beberapa sumber menyebutkan bisa menyembuhkan maag karena menetralisir asam lambung. Tapi kalau menurut saya lebih tepat kalau kopinya menyerap kafein makanya lebih aman buat lambung. Kalau dibilang menyembuhkan kurang tepat rasanya, wong arangnya nggak dimakan

Reply
avatar
24 February, 2017 13:52

wajib tuh mas disempatkan ;)

Reply
avatar
25 February, 2017 21:08

kebetulan gw kopi lover bgt, kalo kebetulan maen di jogja pokoknya kudu wajib nyeruput kopi jos..

Reply
avatar
28 February, 2017 07:42

murah, enak, dan hot....
duh jogja....

Reply
avatar
01 March, 2017 12:41

waahhh mantap juga nih bisa nikmatin Kopi Jos di Tugu YK .........

Reply
avatar
03 March, 2017 21:26

Kebetulan saya maagh jadi keknya cucok ni klo ngangkring di sini,...#comot sate puyuhnyaKebetulan saya maagh jadi keknya cucok ni klo ngangkring di sini,...#comot sate puyuhnya

Reply
avatar
04 March, 2017 20:55

Mampir mas kalau ke jogja

Reply
avatar
04 March, 2017 20:56

Hahaha. Jangan lupa bayar mbak

Reply
avatar
09 March, 2017 20:15

kopi di wenehi areng opo yo sehat tho mbak gubug haha..
apa lagi makannya sate2 jeroan sego bandeng kayak gitu....
nek aku tetep tak mam hahah, tapi gak sering-sering :)

Reply

Punya pengalaman mirip? Ada Pertanyaan? Atau malah pengen curhat? Silahkan tinggalkan komentar kalau ada :)
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)