Saturday, January 28, 2017

Menyambangi Kawasan Desa Wisata Nglanggeran Jogja

Sebuah perjalanan,seharusnya tak melulu bicara tentang destinasi. Karna elemen manusialah yang pada akhirnya menguatkan kenangan tentang sebuah tempat. 

**

formasi nglanggeran


Seperti biasa, catatan awal saya tentang  Jogja, akan saya buka dengan keterangan “Jika ada satu saja alasan buat ke Jogja, maka sebisa mungkin saya pasti tak akan menolak.” Yeah. Kali inipun, alasan : ke Nglanggeran, membuat saya bersemangat  untuk turut serta hadir di sana.


Selama ini membicarakan Nglanggeran yang saya tahu hanyalah tentang tracking Asyik ke gunungnya, serta bagaimana indahnya sunset di embungnya. Tapi dalam perjalanan kemarin, saya baru tahu: bahwa Nglanggeran bukan hanya tentang gunung dan embung. Kata indah buat Nglanggeran, bukan hanya tentang alam, tapi juga tentang masyarakatnya. 

“Semua pengelola kawasan Nglangeran ini masyarakat sekitar semua, Mas?” satu pertanyaan ini, mewakili rasa kagum saya tentang sebuah desa dimana para warganya mampu kompak guyub menyekoyong pembangunan. 

“Iya, Mbak. Semua warga sekitar sini,” Saya mengangguk-angguk. Tertohok lebih tepatnya. Sebagai orang desa, yang malah memilih jadi perantauan, saya tersindir.

“Apa nggak ada yang merantau Mas?” tanya saya lagi.

“Dulu ya ada yang merantau bahkan sampai ke Korea. Alhamdulillah, sejak terbentuknya desa wisata ini, mampu menekan terjadinya urban, Mbak” ceritanya lagi.  

Sebagai orang yang hidup di lingkungan masyarakat yang kebanyakan mengadu nasib di perantauan, kepala saya susah percaya tentang sebuah desa yang warganya kompak guyub mensukseskan pembangunan desa. Tapi Nglanggeran, menunjukkan kekompakan semacam ini.

desa wisata nglanggeran
Sumber: Tempo.co.id

Ahh, rasanya pantaslah kalau desa Nglanggeran sampai diakui ditingkat Internasional. Baru terjadi beberapa hari sebelum kedatangan saya, barengan blogger, kompasianer serta buzzer beserta rombongan Dinpar DIY, tepatnya di tanggal 20 Januari 2017, kawasan Desa Wisata Nglanggeran baru saja mendapat penghargaan desa wisata terbaik se-ASEAN untuk bidang community based tourism. 

“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” . (Bung Karno)

Ucapan bung Karno  benar. Dalam hal ini, melesatnya desa Nglanggeran tak bisa lepas dari para pemudanya yang aktif jadi pengelola. Tenaga muda dan semangat muda, kolaborasi yang pas untuk sebuah pembangunan desa wisata. Apalagi dengan dukungan seluruh warga dan pemerintah.

Semenjak dari awal kebersamaan kami dengan Mas Aris hari itu, diselingi cerita-cerita tentang Geosite Nglanggeran, pertanyaan tentang “Kok bisa, kok bisa?” banyak menghinggapi kepala saya. Bagaimana bisa sekompak ini, menjadi  satu-satunya pertanyaan paling kuat yang memenuhi benak?

“Karna mengelola desa itu mengelola konflik, Mbak,”

Saya menggaris bawahi kalimat Mas Aris pada bagian ini. Menyatukan sekian banyak orang tentunya bukan perkara mudah. Konflik dimanapun itu tentu tak bisa dihindarkan dari sebuah tempat yang dihuni lebih dari satu kepala. Namun bagaimana mengelolanya memang itu yang penting. Persatuan seharusnya terlalu berharga untuk dinodai dengan adanya konflik. Keberhasilan pengelolaan konflik di Nglanggeran, bisa dilihat dari bagaimana kondisi desa wisata ini sekarang.

Perjalanan Desa Wisata Nglanggeran bisa seperti sekarang bukan sebuah perjalanan sekejap. Langsung jadi  hanya lantaran Kawasan Nglanggeran punya destinasi. Butuh waktu, butuh perjuangan, dan butuh mental masyarakat khususnya para pemuda untuk bersedia totalitas membangun desa. Setidaknya itu yang bisa saya ambil dari cerita-cerita panjang Mas Aris ketika ia menemani kami naik mobil Bak terbuka menuju Kampung Pitu.

“Dulu, di awal-awal kami sempat menyebar brosur kemana-mana. Sampai ke Solo juga. Ditertawakan ‘iki ki opo to?’ wong ya brosurnya cuma hitam putih. Nglanggeran waktu itu nggak banyak orang yang tahu,” cerita Mas Aris mengenang masa-masa silam.

Sisa-sisa hujan yang baru saja reda menyisakan gerimis yang belum sepenuhnya tuntas. Tanah-tanah basah, serta kabut-kabut tipis sore hari itu memenuhi pandangan. Kampung Pitu yang lokasinya nun jauh di atas, menuntut mobil bak terbuka yang menjadi transportasi kami sesekali tersenggal, seolah berteriak bahwa ia kelelahan.

Kami berulang kali menggeser tangan, mencari pegangan yang bisa dengan mudah kami pegang erat. Posisi duduk pun beberapa kali bergeser, berusaha mundur ke belakang guna mengimbangi  beban mobil yang berusaha merangkak naik. Di sela-sela aktivitas mempertahankan diri dari goyangan mobil yang tanpa henti, Mas Aris terus saja berbagi cerita, dan kami dengan setia menyimak, sesekali melempar tanya penasaran, sesekali menghamburkan guyonan, dan sesekali mengintip hijau alam menuju perjalanan ke kampung pitu.

jalan ke kampung pitu
Taken by mas Dimas Suyatno



Ini perjalanan tak terduga. Saya kira saya bakal naik gunung saja. Ternyata, hari itu kami musti naik bak terbuka yang menjadi salah satu moda transportasi jika ingin beramai-ramai naik ke kampung pitu. Hihi, ini bak terbuka ke dua yang saya naiki setelah dulu naik bak terbuka menuju Pantai Bandengan. Jadi saya senang-senang saja menerima keterkejutan semacam ini.

truk nglanggeran

Mempertahankan desa wisata, berarti mengupayakan para warganya untuk menjauhi kenakalan remaja yang menjadi masalah tersendiri bagi banyak para pemuda. Inilah salah satu manfaat lain yang diceritakan Mas Aris selain sektor ekonomi yang terangkat dari sebuah desa wisata. Tentu saja, karena wisatawan akan merasa nyaman jika mereka merasa aman dengan warganya yang jauh dari kata “nakal”.

“Target kami tahun ini dan tahun kemarin adalah menurunkan kunjungan. Sasaran kami sekarang lebih ke komunitas. Karena bisa saja kami menjual banyak tiket masuk seharga Rp.15.000 tapi semakin banyak wisatawan, semakin banyak akses terbuka akan semakin banyak sampah yang terbawa,” 

Hemm, rasanya ucapannya benar sekali. Berapa banyak lokasi-lokasi wisata alam yang membludak dipenuhi wisatawan tetapi ujungnya sampah menjadi masalah utama? Dan berapa banyak lokasi-lokasi wisata yang akhirnya rusak karena banyaknya kehadiran manusia? Karena itu, desa wisata Nglanggeran mengusahakan desa wisata ini menjadi sebuah tempat wisata yang tak hanya memikirkan masa sekarang tetapi juga untuk jangka panjang.

Live in menjadi salah satu program yang ditawarkan oleh Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran. Tinggal di rumah warga, dan mengikuti kegiatannya seperti belajar pertanian, belajar membajak sawah, melepas ikan adalah diantaranya yang bisa dilakukan.

Desa Wisata ini sendiri, saat ini memiliki 80 homestay yang bisa digunakan wisatawan. Live in, Camping, Outbound,  Flying Fox, Wisata budaya, jelajah alam, adalah beberapa hal yang bisa kita nikmati di kawasan desa Nglanggeran.

Loh, loh, kenopo mandeg?” komentar saya dan beberapa orang di mobil bak terbuka. Terdengar panik, lantaran saat di tengah perjalanan mobil kami sempat berhenti. 

Rupanya, kami hanya diingatkan, bahwa sisi kiri kami viewnya cukup bikin adem. Sawah, dan merapi yang mengintip diantara kabut terlihat di sana. Langsung, kamera-kamera mengarah ke sana. Jeprat-jepret beberapa waktu.





Dirasa cukup, perjalanan lantas dilanjutkan kembali.

Jalan-jalan menuju kampung pitu masih terlihat sederhana, belum ada aspal, hanya jalan cor. Tinggi menanjak, sisi kiri jurang, sesekali sawah sisi kanan terlihat pepohonan dan beberapa nampak lahan kosong. Nggak terbayang, lewat kemari pas malam hari.  Pasti horor.

Beberapa kali saya membuang pandang ke jalan, mata saya mencari bongkahan batu besar yang kira-kira nanti bisa langsung diambil kalau-kalau tiba-tiba mobil kami berhenti di tengah, nggak kuat lagi nanjak. Pengalaman naik truk yang nyaris ngglondhor kala dulu main ke merapi, serta bus yang berhenti mendadak sewaktu melewati tanjakan Ijen memberikan trauma tersendiri bagi saya. Makanya, mata saya nggak bisa tenang tanpa sesekali memandang tanah mencari bongkahan-bongkahan batu. Hihi. Kok saya segitunya ya?

Diujung sana, Kampung Pitu menyisakan rasa penasaran di benak. Sepanjang perjalanan, tak sabar ingin secepatnya sampai di sana menuntaskan penasaran seperti apa sebenarnya kampung yang cukup terkenal ini. Desa Wisata Nglanggeran, hari itu baru perjalanan awalnya saja sudah memberikan saya banyak kekaguman. Padahal awalnya saya kira saya bakal mengulang lagi pendakian ke Nglanggeran. Tapi ya, hari itu ada sisi lain dari Nglanggeran yang ternyata tak layak untuk dilewatkan. Sejatinya saya penasaran, bagaimana ya rasanya live in di desa ini? Pasti asyik. Hemm



Untuk Informasi lanjut tentang kawasan Ekowisata Gunung api Nglanggeran bisa datang langsung ke websitenya:

www.gunungapipurba.com
Fb: gunung api purba nglanggeran
Tweeter &instagram: @gunungapipurba

Related Posts

Menyambangi Kawasan Desa Wisata Nglanggeran Jogja
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

14 comments

Tulis comments
avatar
29 January, 2017 08:22

iya harus kompak ya jadinya asyik kan
seru2 mbak apalagi nyawah dengan background aduhai
pengen deh

Reply
avatar
29 January, 2017 17:39

Tracknya waow, menguji adrenalin kan, untung ada mas nya yang dada dada ^_^

Reply
avatar
29 January, 2017 19:39

Asyik kayaknya kak kalau bisa menginap barang semalam di sana dan berbaur dengan masyarakat Nglanggeran serta mengikuti setiap aktifitas warganya. Semoga ada kesempatan untuk itu. :)

Reply
avatar
30 January, 2017 06:00

Keren yaa disaat penduduk desa lain pada merantau mencari penghidupan lebih baik, jalannya horor juga ya Daa..

Reply
avatar
30 January, 2017 10:13

Wah mba A8da .. ngebolangnya semakin asyik aja ya.
Kalau di Indonesia punya banyak desa wisata betapa asyiknya.. dari sabang sampai Marauke

Reply
avatar
30 January, 2017 13:53

aku setuju dengan kalimat pembukanya mbak. tak melulu tempat wisata yg ramai adalah tidak nyaman. justru dari situ aku bisa mengamati berbagai macam manusia :)

Reply
avatar
31 January, 2017 08:44

asik lho mas. Kemarin kok nggak ikutan?

Reply
avatar
31 January, 2017 08:45

iya mas. coba kemarin kita plus nginep ya. pasti asyik tuh

Reply
avatar
31 January, 2017 08:46

huum mbak, tamparan tersendiri buatku yang lebih pilih jadi anak rantau. haha

Reply
avatar
31 January, 2017 08:47

huum ti. asik lagi kalau bisa jelajah tuh desa wisatanya dari sabang sampai merauke. hehe

Reply
avatar
31 January, 2017 08:48

karena tiap manusia itu unik :)

Reply
avatar
02 February, 2017 06:10

Eh gw baru tau lho di ngelangeran ini ada kegiatan dewa wisata macam ini, kapan lalu ke sana cuman ngejar sunset doang hehehe

Reply
avatar
08 February, 2017 06:23

Wah mas cum. Wajib banget sampean kemari

Reply

Punya pengalaman mirip? Ada Pertanyaan? Atau malah pengen curhat? Silahkan tinggalkan komentar kalau ada :)
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)