Monday, December 26, 2016

Menengok Kampung Batik Kaoeman (Kauman) Solo

Klewer adakalanya tertinggal sebagai cerita menyebalkan, kala para pedagang alot sekali saat ditawar. Biarpun begitu, sebal sehari, esok pasti tetap kembali. Yeah, sebab jika sudah sampai rumah, kerap kali  saya sadar: bukan pedagangnya yang alot, tapi  saya sebagai pembeli seringnya memang membantai harga dengan harga yang parah rendahnya.

Siang terasa membakar hari itu. Debu-debu dari proses pengerjaan Pasar Klewer yang bertebaran ketika melintas di jalan samping pasar lama Klewer,  makin menambah gerahnya hawa yang terasa. Capek pun ikutan mendidih, menggondokkan hati, dan rasanya ingin cepat-cepat lari dari penatnya siang.

Suatu kali di hari yang gerah, saya memutuskan diri menerobos gang-gang kecil belakang Masjid Agung Surakarta yang di sampingnya menjadi Pasar Sementara Klewer. Sembari berjalan kaki, saya berulang kali geleng-geleng kepala, terkesima dengan rentetan rumah-rumah  antik yang tampak tempoe doloe. 

“Kampung Wisata Batik Kaoeman” Satu tulisan dari papan kayu membuat saya mengernyit. Sekian lama tinggal di Solo, saya baru tahu tentang Kampung Batik ini kurang lebih setahun lalu. Saya kira dulu Kampung Wisata Batik ya hanya Laweyan. Ternyata, di Kauman, ada pula Kampung Batik yang bisa menjadi alternatif wisatawan. Meskipun dari segi kualitas dan history, saya belum paham mana diantara keduanya yang jauh lebih baik dan jauh lebih berhistory.


Kampung Batik Kaoeman (Kauman) Kini




Perjalanan tak sengaja setahun lalu itu rupanya jadi cara Allah bercerita kepada saya bahwa ada satu lagi tempat menarik di kota Solo. Kampung Batik Kauman, setahun lalu setelah pertemuan tak sengaja  itu untuk kali ke tiga kemarin, saya kembali lagi ke sana.


“Ini tempat apa to? Poto-poto di sini kayaknya keren ya?

Saya mengiyakan saja pertanyan Nurul yang terakhir. Bagi anak-anak generasi milenial, poto-poto adalah bahasan utama. Dan sekitaran gang belakang Nonongan, hingga menuju kampung Batik Kauman ini memang banyak bangunan-bangunan unik yang cukup instragamable.

gapura kauman

“Ini Kampung Batik Kauman. Kita bisa lihat proses pembuatan batik di sini. Tapi kita lihat museum dulu,” ujar saya pada Nurul lantas memarkir motor di depan pintu gerbang Batik Gunasti. Pagi itu saya ingin mengajak Nurul berwisata batik.

“Museumnya ada di Batik Gunawan, Mbak!” kami baru saja hendak turun dari motor. Seorang mbak-mbak pegawai Batik Gunasti rupanya mendengar percakapan kami dan langsung menyambung.

Lhoh, pindah?” tanya saya kaget.

“Iya, mbak. Jadi satu di sana sekarang.” ujarnya lagi. Saya membulatkan bibir


Ada Apa di Kampung Batik Kaoeman?

patung batik

Tentu saja, di kampung ini ada batiknya. Hehe.

Gang-gang  sekitar kampung batik ini banyak sekali  yang rumahnya terpasang plan-plan toko batik dengan beragam nama. Meskipun siang hari itu terlihat beberapa tutup, tapi ada satu bagian gang utama Kampung Batik Kaoeman yang nampak hidup.

Di gang inilah outlet Batik Kaoeman, Batik Gunasti dan Batik Gunawan Setiawan berdiri.

Jadi begini, diantara 3 outlet yang saya sebutkan di atas, masing-masing memiliki kekhasannya masing-masing. Dan ketiganya bersinergi, menjadikan Kampung Batik Kaoeman menjadi lebih hidup.

Seperti di outlet Batik Gunasti. Outlet batik ini, cukup menarik karena  kita bisa melihat proses pembuatan batik di bagian depan outlet. Saat saya kemari dulu, seorang bapak-bapak sibuk menggambar pola, sementara dua orang ibu-ibu sibuk dengan cantingnya. Menggoreskan malam ke kain.

batik gunastimenggambar polabatik gunastikedai batik

Bagian dalam Batik Gunasti, berisi ragam olahan kain batik serta pernak-pernik bercorak batik seperti balngkon dan kipas batik. Sisi kanannya setahun lalu adalah museum batik mini. Sementara di sisi krinya adalah kedai tempat minum yang menjual dawet segar. Tapi sekarang, mini museum rupanya sudah berpindah ke Batik Gunawan Setiawan. Tapi, kalau untuk es dawetnya masih tetep ada.

"Loh, Gunasti itu bukan singkatan dari Gunawan Setiawan ya?" tanya saya kaget saat seorang pegawai yang tadi memberitahu saya tentang museum yang pindah, bercerita kepada kami. Ternyata selama ini saya salah paham

“Keduanya hanya sebagai mitra kerja, Mbak” jawab si pegawai kemudian.

Saya kemudian hanya mengangguk-angguk.

Tak jauh dari Batik Gunasti, outlet Gunawan Setiawan berdiri. Sambutan pertama kala masuk outlet Gunawan Setiawan adalah pandangan langsung berupa pajangan hasil kreasi kain-kain baik. Kalau tak pernah masuk dan melihat sampai semua sudut tokonya, mungkin dulu saya tak pernah tahu kalau di belakang ada tempat pembuatan batik.

Karena sekarang sudah digabung dengan koleksi mini museum dari Batik Gunasti, maka sekarang Batik Gunawan Setiawan makin terlihat komplit. Susunan Museum Batik mini menjadi satu dengan para pembuat Batik sehingga kita tak perlu melihatnya terpisah.

Ini karena foto-foto di HP saya ilang. Maafkeun ya, ini pakai foto-foto lama sebelum batik gunawan setiawan berubah.
malam batiktempat cuci batikbahan batikpelelehan malam


Mini museum batik di Gunawan Setiawan adalah berupa motif-motif kuno batik yang dipajang lengkap dengan filosofinya. Inilah yang dulu ada di Museum Mini Batik Gunasti. Tapi saya lihat, koleksi di sini jauh lebih lengkap. Mungkin lantaran ke duanya saling melengkapi. Dua koleksi yang digabungkan.

Bahan-bahan alam  pembuatan batik tulis, seperti malam dan sebagainya di sajikan dalam wadah kecil-kecil. Disusun sedemikian rupa, hingga nampak etnik dan menarik. Di tembok-tembok dinding, aneka rupa bentuk cap-capan batik untuk membuat batik cap pun dipasang.

Batik  Gunawan Setiawan nampak berbeda dari kedatangan saya setahun yang lalu. Selain Mini Museumnya yang sekarang lebih komplit, dulu bagian pembuatan batik seingat saya belum dikeramik, sementara temboknya juga belum di cat dan terekesan berantakan.

Tapi kini sudah lumayan banyak kemajuan. Sayang kedatangan saya kemarin bertepatan dengan para pembatik yang sedang istirahat. Jadilah kemarin sepupu saya tak bisa melihat langsung proses pembuatan batik.

Tepat di sebrang batik Gunawan Setiawan outlet Batik Kaoeman berdiri. Menariknya outlet ini adalah bangunannya yang khas dan unik. Batik Kaoeman ditujukan bagi mereka-mereka yang ingin membeli dengan cara grosiran. Sayang, lagi-lagi karena masalah foto ilang, gambar saya tentang bangunan batik Kaoeman ikut ilang pula. Huhu. Kapan-kapan saya tambahkan kalau sudah moto lagi :D

How Much?


Karena Kampung Batik Kauman ini tempat jualan batik, jadi kalau ke sini gratis. Kita tak perlu bayar karcis dan sebagainya. 

Untuk melihat langsung pembuatan batik, baik di Gunasti maupun Gunawan Setiawan, kita juga tidak dikenakan biaya. Tapi jika ingin mencoba membatik sendiri kita dikenakan biaya Rp. 50.000 . Dengan biaya itu, kita bisa belajar membatik dimedia kain ukuran 30x30 yang nantinya bisa dibawa pulang.

"Maaf mbak, tidak boleh memotret. Kalau mau memotret harus pakai proposal," ujar seorang pegawai Batik Gunawan Setiawan setahun lalu. Kala itu saya sempat sebal, kenapa pula dilarang? Tapi akhirnya, saya cukup bisa mengerti. Mungkin kerentanan plagiasi yang marak  terlalu membahayakan. Baiklah. Akhirnya saya menurut. Kemarin atau setahun lalu pun saya hanya jeprat-jepret di tempat-tepat yang memang diijinkan ketika kemari.

How To Get There

peta kauman

Sebagai kota budaya, Solo memiliki beberapa Spot lokasi yang terkenal akan batiknya. Salah satunya adalah Kampung Batik Kaoeman. Lokasinya tak jauh dari Keraton Kasunanan Surakarta. Hanya jalan beberapa meter dari Keraton, melewati Pasar Klewer yang kini tengah dibangun paska kebakaran. Melintasi masjid Agung Surakarta, lantas jalan beberapa meter lagi, sebuah Gang bertuliskan  “Kampung Batik Kaoeman” bakalan kita temui.

Cara untuk menuju ke sini, kita bisa dengan naik angkot bernomor 01A lantas turun di Klewer, biasanya angkot-angkot ini memang berhenti mencari penumpang di sekitaran Klewer. Saran saya sih kalau kemari jalan kaki saja sejak dari PGS atau Beteng. Biar dapet rasa Solonya.

Alternatif yang saya sarankan kalau mau nikmatin Solo mungkin bisa dimulai dari Jelajah PGS dan sekitarnya, lantas dilanjut jalan keliling alun-alun kidul, ke Klewer, Masjid Agung, Keraton, Belanja ke Kaoeman, nyari barang murah dan unik di Nonongan, lantas sorenya nikmatin keramaian Alun-alun utara. Sisihkan waktu seharian untuk melakukan ini. Biar puas.

Well, kalau ke Solo jangan lupa untuk menyempatkan diri mampir ke Kampung Batik Kaoeman.





Related Posts

Menengok Kampung Batik Kaoeman (Kauman) Solo
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

28 comments

Tulis comments
avatar
26 December, 2016 08:00

Kemarin baru liat plang kampung batik kauman waktu lewat Slamet Riyadi mba. Sempat mikir ternyata kampung batik di Solo bkn cuma Laweyan. Belum sempet ngubek2 sih mba. Hanya sempet lewat hbs dr masjid Agung tapi saat itu belum ngeh kalau kampung yg saya lewati itu kampung batik kauman. Hadeeh. Kapan2 pengin mbolang kesitu.

Reply
avatar
26 December, 2016 08:15

Kapan-kapan pengen ah wisata Batik, belum pernah malahan hihihi. Keren kayaknya

Reply
avatar
26 December, 2016 08:24

Wah, keren bgt tulisannya. Informatif n bahasanya ngalir banget. Kampung Batik Kauman nih salah satu tempat yg selalu saya rekomendasikan ke teman2. Asyik..dan aksesnya kesana jg gampang.

Reply
avatar
26 December, 2016 10:26

Keren mbk, bhsane apik. Nang kauman mengingatkan tempo doeloe. Kalau laweyan skrg dah gk seperti dl.

Reply
avatar
26 December, 2016 14:51

kalau kesana saya singgahi deh buat belajar membatik. say abelum pernah secara langsung melihat proses membatik. dengan biaya 50k, itu sangat murah utnuk belajar warisan nenek moyang.

Reply
avatar
26 December, 2016 16:13

hwuaaa... larangan memotret ituh paling menyakitkan bagi blogger ya, Mba. Apalagi tempatnya keren gitu. Etnik banget.
Tapi ya namanya prosedur harus kita ikutin yah. Kan blogger yang baik hati. :D

Reply
avatar
26 December, 2016 16:25

Kp batik kauman mah sebenernya dekeeet bgt dr rumah mertua di solo. Tp krn sking deketnya ampe skr ga pernah aku dtangi krn mikirnya tarsok tarsok :D. Next kalo ke solo lg wajib kayaknya minta mertua nemenin kesitu :D

Reply
avatar
26 December, 2016 20:31

Membatik melatih kesabaran, para pembatik memang luar biasa sebanding pula dengan harga yang ditawarkan.

Reply
avatar
26 December, 2016 21:16

Selama saya tinggal di Solo saat SMA, belum pernah mampir ke tempat bikin Batik :( Nyesel juga ya..
Kampung Kauman bukannya tempat orang-orang keturunan Arab juga ya Mbak?
Sayang banget ya nggak dibolehin motret, untung aja ada beberapa spot yang boelh di potret gitu. coba kalo nggak boleh sama sekali, gimana ceritanya nih tulisan tanpa fotonya? hehe

Reply
avatar
26 December, 2016 22:54

mesti cobain mbak ety dateng kemari. Ajakin anak-anak pasti suka. Apalagi kalo mereka dibeliin baju batik baru :D

Reply
avatar
26 December, 2016 22:56

Jangan lupa mbak ajak misua, biar nanti ada yang bayarin pas kepincut sama gaun batiknya ;-)

Reply
avatar
26 December, 2016 22:58

thanks mbak wied sudah mampir :D
iya, aksesnya yang gampang dan dekat sama kraton ini daya lebih kampung batik kauman. Jadi pas kemari bisa sekalian mampir wisata yang lain

Reply
avatar
26 December, 2016 23:01

suwun mbak ipeh. Laweyan yang dulu aku nggak begitu tau soale. cuman setauku di laweyan banyak nilai historinya juga

Reply
avatar
26 December, 2016 23:02

nanti kalau misalnya ke Solo wajib tuh cobain sensasi belajar membatik di kauman

Reply
avatar
26 December, 2016 23:04

hwehehe, iya mbak. Sebagai blogger yang baik hati, wajib tuh menghargai aturan yang ada :D

Reply
avatar
26 December, 2016 23:05

Sekalian tuh kak, mertua dibeliin baju batiknya. biar jadi menantu idola :D

Reply
avatar
26 December, 2016 23:06

yup, maka tak mengherankan ya kalau harga batik tulis mahal. ya semoga batik indonesia tetap lestari

Reply
avatar
26 December, 2016 23:10

tempat orang keturunan Arab setau saya kebanyakan ada di Pasar Kliwon mas.
Hehe, iya. udah bisa dibayangin, tulisan aja tanpa grafis pasti nggak yoi banget. Nanti suatu hari kalau ke Solo lagi, jangan lupa mampir yak

Reply
avatar
27 December, 2016 06:29

dulu pernah ke kampung batik yang ada di pekalongan. Belum pernah yang di Solo. Pengalaman yang berkesan ketika bisa melihat proses pembuatan batik. Bisa jadi tujuan kalau pas ke solo :D

Reply
avatar
27 December, 2016 09:49

Tarif membatik sendiri terjangkau ternyata, pengen nyobain ngebatik deh kapan2

Reply
avatar
27 December, 2016 09:53

yes, bisa jadi referensi nih, blusukan batik di solo, kauman sama laweyan yang memiliki sejarah panjang.

Reply
avatar
27 December, 2016 15:49

Saya kmaren pas ke Solo tempat jualan batik malah yg sempat dikunjungi. Tanah Solo emang ngangeni karena kaya budaya.. semoga bisa mengunjugi Kauman tempat pembuatan batik.

Trims infonya mba.. sgt menarik..

Reply
avatar
01 January, 2017 07:09

yap. mampir lah kalau ke solo

Reply
avatar
01 January, 2017 07:10

wajib cobain kalau ke kaoeman :)

Reply
avatar
01 January, 2017 07:10

hyap. caling yak kalau ke solo

Reply
avatar
01 January, 2017 07:11

sama-sama mbak. jangan lupa mampir kalau pas ke solo

Reply
avatar
09 January, 2017 20:50

Budayakan batik,,, Kaoeman Go Internasional

Reply
avatar
14 January, 2017 22:06

HUft sayang kalau ke daerah solo hanya sekedar lewat pas mau arah salatiga harus di list neh

Reply

Punya pengalaman mirip? Ada Pertanyaan? Atau malah pengen curhat? Silahkan tinggalkan komentar kalau ada :)
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)