Wednesday, November 09, 2016

4 Desa Unik Ini Bikin Makin Pengen Terbang Ke Bali

Where do you come from?”
“Indonesia,”
Ahh, ya, Bali. I know that place,”
Rasanya percakapan di atas, banyak sekali dibicarakan para anak Indonesia yang melanglangbuana ke luar negri. Meskipun saya belum pernah ke LN, tapi saya banyak mendengar cerita dari rekan-rekan yang pernah ke sana, bahwa Indonesia banyak di kenal di luar, hanya karena Balinya. Seolah Indonesia hanya terdiri dari satu pulau kecil yang bernama Bali itu.
Tapi ya mau bagaimana lagi, Bali memang sudah menjadi pulau internasional. Pesonanya yang yahud, sulit untu dielakkan.
Membicarakan Bali rasanya tak bisa dilepaskan dari budayanya yang masih kuat, keunikan tradisi, serta lokasi wisata berbau lautnya. Penduduk Bali senantiasa konsisten menjaga tradisi hingga terbentuklah kekhasan masyarakat dari masing-masing tempat. Tak heran, jika Bali memiliki beberapa desa wisata lantaran keunikannya ini. Nah, berikut ini ada 4 desa yang cukup khas di Bali. Desa-desa wisata yang banyak mengundang rasa penasaran tak hanya para turis Internasional saja, tapi turis lokal pun tertarik mengunjunginya. Berikut diantaranya:

Desa Batubulan

Namanya unik, Batu bulan.
Eits, bukan berarti desa ini batu-batunya berasal dari bulan lho!!!

Pahatan Batubulan
(diedit dari: https://www.zoombali.com/place/desa-batubulan-batubulan-village/)

Desa Batubulan, berada di lingkup kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Awalnya, desa ini terkenal sebagai desa agraris yang kaya akan seninya.Namun kini sesuai namanya yang mengandung unsur batu, desa Batubulan terkenal dengan seni ukir dan pahat batunya.
Indonesia kaya akan khasanah dongeng nusantaranya. Pun tak ketinggalan dengan desa batu bulan. ada sebuah kisah tentang asal-usul desa Batubulan yang banyak dipercayai penduduknya
Suatu hari, ada seorang bernama Dewa Agung Kalesan, seorang anak pungut yang ditemukan saat terjadinya pemberontakan di Kerajaan Gegel. Ketika dewasa, sang anak ini diminta Raja Badung untuk membangun kerajaan di sebuah hutan. Ketika sedang mencari tempat yang pas, Dewa Agung Kalesan ini menemukan sebuah batu yang bercahaya seperti bulan. Di tempat ditemukannya batu itulah kini dinamakan sebagai “Batubulan”. Batubulan itu sendiri, konon hingga kini disimpan di Mrajan Agung Batubulan.

Terlepas dari kebenaran cerita tersebut, Batubulan kini banyak dikenal sebagai tempat mencari kerajinan seni pahatan batu yang bisa kita lihat langsung proses pembuatannya. Bahan dasarnya sendiri adalah "paras" batu vulkanik abu-abu atau soapstone. Kualitas pahatan batu di desa Batubulan sudah terkenal bagusnya. Selain sebagai pusat seni batu, Batubulan juga tenar sebagai tempat mencari barang-barang antik. Asiknya lagi, tak jauh dari desa Batubulan, merupakan kawasan Bird Park yang berisi beberpa jenis burung langka. 

Desa Panglipuran

Desa Panglipuran
(Sumber:bali.panduanwisata.id)

Kalau main-main ke Bali, desa Panglipuran ini menjadi desa yang paling ingin saya kunjungi. Pasalnya, saya pernah melihat tayangannya di salah satu stasiun televisi, yang memperlihatkan bagaimana teraturnya desa ini.
Terletak di Kabupaten Bangli, tak jauh dari kawasan Kintamani, Panglipuran tampil dengan keunikan bentuk-bentuk rumahnya. Bentuk-bentuk rumah desa Panglipuran ini dari hulu ke hilir nyaris seragam. Keseragaman ini terlihat dari pintu gerbang rumah, atap dan dindingnya. Pintunya sendiri berupa angkul-angkul, pintu khas Bali yang hanya muat satu orang. Untuk cat tembok, masyarakat desa Panglipuran pun seragam, menggunakan cat berbahan tanah liat.
Udara di desa Panglipuran, kata mereka yang pernah ke sini terasa sejuk. Mngkin ini karena lokasi desa Panglipuran yang berada pada ketinggian 700 mdpl. Asal-usul namanya sendiri berasal dari “Pengeling Pura” yang memiliki artian tempat suci untuk mengenang arwah leluhur. Saya kira sebelumnya panglipuran itu artinya pelipur lara. Ternyata saya salah . Hehe.

10 Mei kemarin, desa ini memasuki usia yang ke 812 tahun. Wow, waktu yang sudah cukup lama ya? Dalam waktu selama itu, desa Panglipuran masih senantiasa mempertahankan tradisinya yang unik. Maka hal wajar ketika desa ini banyak mendapat penghargaan.Termasuk sebagai desa terbersih di dunia.

Desa Bona


Tari Kecak Bali
(Sumber: http://www.wisatamurahbali.info/mengenal-tari-kecak-bali/)

Namanya desa Bona, tapi bukan Bona dan Rong-rong. Desa Bona ini salah satu desa di Bali yang berada di kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Bali. Lantas apa yang membuatnya unik?
Desa ini ternyata adalah desa dimana tarian kecak, yang terkenal sebagai tari khas Bali itu berasal. Tari kecak merpakan tarian yang namanya sebenarnya berasal dari iringannya yang menggunakan teriakan "cak..cak..cak..." Di desa Bona, tarian kecak yang mengisahkan tentang cerita penculikan Dewi Shinta oleh Rahwana ini, dipentaskan bersama tarian lain seperti tari Sang Hyang Jaran,dimana laki-laki menari sembari menendang bola api dengan kaki telanjang. Waahhh, apa nggak kepanasan ya?
Selain karena Tari kecaknya, desa Bona juga terkenal dengan kerajinan dari anyaman lontar yang dikreasi menjadi beragam bentuk. Seperti keranjang, topi, tas, juga barang lainnya. Pemasaran kerajinan lontar inipun ternyata tidak cukup di Bali dan Nasional saj. Tapi ternyata, sudah sampai ke mancanegara.

Desa Trunyan

Tengkorak desa trunyan
(Sumber: http://blog.gogonesia.com/jelajah-3-desa-bali-aga-melihat-budaya-bali-yang-sesungguhnya/)

Berada di tepi danau Batur Kintamani, Kabupaten Bangli. Desa Trunyan ini terpencil lokasinya, sehingga untuk melewatinya harus melalui beragam medan. Termasuk, kita harus menaiki perahu menyebrang melewati danau batur.

Penduduk desa Trunyan, adalah masyarakat Bali Aga yang merupakan penduduk asli Bali sebelum kedatangan Majapahit.
Kalau masyarakat Bali terkenal dengan Kremasinya, maka Bali di bagian desa Trunyan ini berbeda. Yang membuat desa Trunyan unik adalah tradisi pemakamannya. Ada dua model pemakaman masyarakat desa Trunyan yaitu mepasah dan dikubur biasa.
Tradisi mepasah adalah tradisi dimana mayat diletakkan di atas tanah dan ditutup dengan kain serta bambu yang membentuk prisma. Pembaringan jenasah sendiri dilakukan dengan melobangi jenasah sedalam 10-20cm agar mayat tidak bergeser akibat kontur tanah.
Jenasah tersebut diletakkan diantara pohon taru menyan. Pohon inilah yang menetralisir bau dari para jenasah. Selain itu pohon inilah yang menjadi cikal bakal nama desa Trunyan. Taru artinya pohon, sementara menyan artinya harum.
Pohon trunyan hanya mampu menangani 11 jenasah, jika nanti ada jenasah baru, maka akan ada jenasah yang dipindahkan ke tempat terbuka dengan diletakkan di bawah pohon, atau tatanan batu.
Hemm, terdengar horor, tapi justru inilah yang membuat unik.
Petualangan seru nan horor ke desa Trunyan, sepertinya bakalan asik nih kalau dilakukan.


Bali memang pulau dengan sajian budaya uniknya yang kuat. Maka tak heran, walaupun geliat pariwisata Indonesia di berbagai tempat yang lain akhir-akhir ini sedang terangkat, Bali tetap saja menjadi destinasi yang tetap populer. Keunikannya jarang ditemukan di tempat-tempat lain. Yeah, saya jadi pengen ke Bali lagi. Apalagi, akhir-akhir ini sering ada promo terbang ke Bali murah. Agen-agen travel seperti tiket2.com sering sekali memberi diskon bahkan bagi-bagi tiket pesawat gratis. Terbang ke Bali, rasanya jadi bakalan hemat. Duhh, mupengnya makin tambah-tambah.

Related Posts

4 Desa Unik Ini Bikin Makin Pengen Terbang Ke Bali
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

16 comments

Tulis comments
avatar
09 November, 2016 17:23

Dari dlu pngen k trunyan..karena penuh misteri

Reply
avatar
09 November, 2016 17:53

Nusantara jaman dulu y kayak Bali ini y mbak. Budaya n ajaran leluhur masi dipegang teguh..n malah jadi pemikat wisatawan...saya jg pengen ke Bali

Reply
avatar
09 November, 2016 18:12

Kalau lihat daerah timur ke timur rasanya mereka masi sangat kuat sekali ya mbak, untuk mempertahankan budaya dan tradisi leluhurnya. walaupun sudah kedatangan turis-turis mencanegara tapi mereka tidak terbawa.

Reply
avatar
09 November, 2016 19:50

desa trunyan ngeri yaa kak...hehe

Reply
avatar
09 November, 2016 21:09

Waaaaa Bali. Aku pingin ke Panglipuran sama Trunyan belum kesampean hiks. Next kalo ke Bali lagi mau kesana ahh.. Btw, banyam juga orang LN yang tanya: Indonesia itu mana nya Pulau Bali ya? Saking famous nya Bali 😍😍

Reply
avatar
09 November, 2016 23:43

Saya baru pernah ke Desa Panglipuran. Sudah dua kali. Penasaran dengan Trunyan, sih, tapi ngeri, ah. Kabarnya pembawa perahunya suka "ngancam" akan ninggalin kita di desa itu kalau bayarnya nggak mahal. Benar atau nggak, sih?

Reply
avatar
10 November, 2016 09:06

penglipuran sepertinya sedang hits

Reply
avatar
10 November, 2016 12:32

Bali memang tiadanya matinya,
selalu muncul sesuatu yang baru hingga ingin balik lagi ke sana.
thank

Reply
avatar
12 November, 2016 18:43

misterinya ini yang bikin penasaran ya :-)

Reply
avatar
12 November, 2016 18:45

Semoga secepatnya bisa kesana mbak

Reply
avatar
12 November, 2016 18:49

Bali yang menurut saya paling bertahan mas. Tetangganya Bali saja, aduh... sudah jauh banyak berubah

Reply
avatar
12 November, 2016 18:54

ngeri tapi seru kayaknya. hehe

Reply
avatar
12 November, 2016 18:56

Bali pulau bekennya Indonesia :-)

Reply
avatar
12 November, 2016 19:00

ehh, iyakah kak? wah, ngerinya makin tambah2 tuh. Ditinggalin di desa trunyan kayak apa ya rasanya? Brrrr

Reply
avatar
12 November, 2016 19:01

Yup. Lagi ngehits. Tapi emang bener-bener unik sih

Reply
avatar
12 November, 2016 19:02

Yup. Bali Joss. Terima Kasih sudah mampir mas

Reply

Punya pengalaman mirip? Ada Pertanyaan? Atau malah pengen curhat? Silahkan tinggalkan komentar kalau ada :)
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)