Wednesday, October 26, 2016

Dari Teriknya Gunung Sepikul Menuju Sejuknya Batu Seribu

Namanya gunung Sepikul. Lokasinya berada di dekat kota Wonogiri. Biarpun berdekatan, secara administratif, gunung atau lebih tepatnya Bukit Sepikul tidaklah termasuk wilayah Wonogiri. Akan tetapi sudah termasuk lingkup Sukoharjo.


View Gunung Kembar dari bukit sepikul

Saya mendengar nama Bukit Sepikul dari seorang teman yang baru saja membaca berita bukit ini dari sebuah media cetak lokal. Dia menanyai saya yang hanya menjawab dengan kerutan dahi. Tempat apa pula itu? Saya belum pernah mendengarnya.
“Kamu kan tukang jalan-jalan, makanya aku nanya ke kamu. Itu tempat, katanya baru ngehits,” ujarya. Saya hanya terkekeh. Dikiranya, mungkin saya Dora the explorer yang tau segalanya yang punya peta buat ditanyain. Hemm
Hari-haripun berselang sejak teman saya bertanya. Nama Bukit Sepikul-pun semakin santer terdengar. Semakin sering dibahas orang, dan semakin sering muncul di instagram para warga Wonogiri-Sukoharjo terutama para remajanya. Hem, bukit ini, ternyata benar-benar ngehits. Saya jadi penasaran.
Yaaahhh, masak kamu belum pernah kesana?” cibir sepupu saya beberapa waktu lalu. “Itu tempat udah lama ngehits. Masak kamu baru mau kesana sekarang?” lanjutnya. Saya Cuma mesem.
Yeahh, biarpun ketinggalan, saya tetap penasaran seperti apa bukit sepikul itu

Jadi, Seperti Apa Bukit Sepikul?

Asal-usul nama Bukit Sepikul sendiri lantaran Gunung Sepikul dengan Gunung Kembar, sebutan gunung dihadapannya, terlihat sejajar. Seolah keduanya adalah gunung yang siap dipikul.
Bukit Sepikul ini adalah sebuah Bukit yang berada di daerah Bulu, Sukoharjo. Katanya, bukit sepikul ini dulunya sering dipakai syuting film Wiro Sableng, bersamaan dengan gunung Gajah Mungkur yang lokasinya juga tak jauh dari sini.


Bukit ini tidak terlalu tinggi, medannya pun tidak terlalu sulit. Diawali dengan memanjat batu, lantas melewati pepohonan, memanjat lagi, lantas melewati ilalang dan selanjutnya untuk menuju puncak Bukit Sepikul, kita harus melalui bebatuan besar yang seolah tersusun dari batu-batu kecil yang menempel. Susunan batu-batu yang sepengamatan saya banyak dijumpai ketika kita mendaki ke bukit-bukit wilayah Wonogiri.

Puncak Bukit Sepikul

Dari awal pendakian sampai ke puncak, mungkin hanya butuh sekitar 15-30 menitan. Bahkan mungkin bisa lebih cepat dari itu. Tapi, kalau hanya mengejar sampai ke puncak rasanya terlalu sayang. Seperti kata-kata para traveler bijak, perjalanan itu harus dinikmati. Disyukuri tiap langkahnya, bahkan seharusnya setiap langkah kaki diiringi dengan menyebut asmaNya. Hemm, tapi kayaknya saya malah kebanyakan poto-poto. Hehe, harus banyak instrospeksi diri nih.
Well, dari puncak Bukit Sepikul, kita bisa melihat Gunung Kembar yang menjadi ciri khas view dari Bukit Sepikul. Selain itu, view persawahan yang masih banyak terdapat di wilayah Sukoharjo bisa terlihat indah dari sini. Semribit angin yang berhembus membawa udara yang terasa menyegarkan.
Waktu ideal untuk ke bukit ini sebenarnya adalah sore hari. Sembari melihat matahari terbenam dari puncak bukit. Sayangnya, saat kunjungan saya ke sini sedang musim hujan. Jadilah kami kemari pagi hari guna menghindari hujan yang biasanya datang sore.
Gunung Sepikul diperkenalkan sebagai tempat wisata selfi. Spanduk-spanduk yang mengusung konsep “Wisata Selfi” banyak dipasang sepanjang jalan menuju Gunung Sepikul. Untuk bisa ke Sepikul, cukup dengan membayar parkir Rp. 2.000.
Wisata Sukoharjo – Wonogiri memang tak ada yang mahal.

Bagaimana cara ke Gunung Sepikul?



Dari arah Solo bisa lewat terminal Induk Baru Wonogiri. Melewati jalur alternatif Wonogiri-Jogja, nanti kiri jalan ada gapura besar bertuliskan “Obyek Wisata Batu Seribu”. Lurus saja masuk ke gerbang itu. Nantinya akan ada pertigaan yang ada tulisannya menuju Bukit Sepikul. Ikuti saja jalan itu. Jalan beberapa meter, kita sudah sampai di parkiran Gunung Sepikul. Petunjuk jalannya ditulis dengan jelas kok! Jadi tak perlu khawatir tersesat. Lagipula tempat ini cukup terkenal, tanya penduduk sekitar pun, pasti tahu

Melanjutkan jalan ke Obyek Wisata Batu Seribu


Selesai naik-naik ke gunung sepikul kami lantas melanjutkan perjalanan ke Batu Seribu. Untuk ke OW Batu Seribu kami kembali lagi ke jalur utama menuju OW Batu Seribu. Habis itu lurus saja nanti akan ada petunjuk jalannya.
Nek seko Wonogiri tekan kene watune mbok etung, mesti punjul seko sewu –kalau dari Wonogiri sampai di sini batunya kamu hitung, pasti lebih dari seribu,” ujar budhe yang bikin saya mrengut. Tak puas dengan jawabannya atas pertanyaan saya kenapa namanya batu seribu. Budhe hanya terkekeh, karna rupanya jawaban itu pun ia dapat dari temannya suatu hari.
Obyek Wisata Batu Seribu, merupakan obyek wisata yang sudah ada sejak lama. Menurut berbagai sumber, obyek wisata ini sudah direncanakan presiden Suharto sejak tahun 1982, namun baru dioperasikan di tahun 1993. Lokasi lengkapnya tempat ini adalah di Bangseng, Batu Seribu, Gentan, Bulu, Sukoharjo.
Obyek Wisata Batu Seribu, adalah salah satu wisata terkenal saat saya masih kecil. Pasalnya, dahulu keberadaan kolam renang belum menjamur seperti sekarang. Mungkin bisa saya katakan tempat ini adalah pioner kolam renang di wilayah Wonogiri-Sukoharjo. Jadi biarpun dari Wonogiri lokasinya cukup jauh, tapi dahulu SD saya sering mengadakan ekstra renang sampai ke tempat ini.

Dongeng OW Batu Seribu
Iku opo dhe? –itu apa, dhe--” tanya saya saat motor saya hendak menanjak, lalu belok menuju OW Batu Seribu. Didekat belokan, nampak sebuah kolam kuno.
Ojo! Ojo rono! Ojo diphoto! –jangan! Jangan ke sana! Jangan difoto!-” seru budhe langsung melarang saya.
“Kenapa?”
Iku wingit, kolame isine lele gedhe-gedhe (Itu angker, kolamnya isinya lele besar-besar). Dikeramatkan, nggak boleh difoto!” jelas budhe membuat saya makin penasaran. Sayangnya, kalau pergi dengan budhe begini, sekali Budhe melarang, sudah bisa dipastikan, Saya dan para sepupu saya sampai nanti pulangpun tidak mungkin mampir ke tempat itu. Bakal panjang ocehannya urusannya soalnya.
Ternyata, kolam itu adalah kolam keramat yang berisi lele raksasa berwarna putih. Tempat itu dinamai sendang Ki Truno Lele. Konon katanya, lele-lele tersebut adalah perwujudan dari Ki Truno yang merupakan sahabat Pangeran Sambernyowo. Jumlah lele-lele tersebut belasan, yang konon katanya lagi lele-lele tersebut tidak pernah mati. Sayang, kemarin gara-gara larangan budhe kami benar-benar tak melihatnya. Huhu.
Selain Ki Truno Lele, Desa Wisata Batu Seribu masih memiliki dongeng yang lain. Obyek Wisata Batu Seribu, biasa disebut dengan Pacinan. Nama Pacinan inipun berasal dari dongeng.

Pada jaman dahulu ada sepasang suami istri bernama Ki Gathok dan Nyi Lanjar yang berjanji sehidup semati. Suatu ketika, Ki Gathok menemukan telur di jalan dan memakannya. Namun setelah memakan telur tersebut, Ki Gathok kepanasan, dan tanpa sadar mencabut rumput pacing yang tiba-tiba saja bekas cabutannya mengeluarkan air yang tidak kunjung berhenti.
Karena kepanasan, Ki Gathok menceburkan dirinya ke dalam air tersebut dan hilang tak kembali. Nyi Lanjar mencari suaminya yang tak kunjung pulang. Saat berada di dekat genangan air yang besar tersebut, Nyi Lanjar mendengar suara suaminya memanggil. Karena itu, Nyi lanjar kemudian ikut menceburkan diri ke dalam genangan dan tak pernah lagi muncul kembali ke daratan. Ia menepati janjinya hidup semati dengan suaminya.
Karena dongeng inilah tempat ini dinamakan Pacinan yang berasal dari nama Pacing.

Umbul Pacinan, Kolam Renang Alami

Di pintu masuk menuju OW Batu Seribu, kita akan disambut bangunan yang mungkin dulu dipakai untuk menjual tiket. Kini bangunan itu terlihat tak terpakai. Ragam tempat permainan anak pun nampak di sisi kiri bukit setelah berjalan beberapa meter.


Sebenarnya di bagian permainan anak ini unik, karna permainan-permainan seperti perosotan, jungkat jungkit, wall climbing berada di lokasi bukit sehingga untuk menuju ke atas kita musti menaiki anak tangga yang menjulang tinggi. Saya membayangkan berada di sana sembari menikmati teduhnya pepohonan yang rungkut pasti sejuk menyenangkan. Namun hari itu, karna memang diburu waktu, maka tujuan kami hanyalah ke umbulnya.
Untuk menuju ke Kolam Renang Pacinan, kami harus menuruni jalan berbentuk mulut Naga yang menganga. Lorong gelap di badan sang naga ini berujung pada sebuah pintu kecil yang seolah-olah seperti tubuh naga yang tekoyak jika dilihat dari luar.

Lepas dari tubuh sang naga, pemandangan berganti pada jalur cor dengan sisi kiri kanan adalah pepohonan yang menimbulkan suasana asri. Dari sini, kolam renang terlihat mengintip dari celah beberapa pohon, menggoda untuk segera disambangi.
Aihhh..
Setengah berlari kami menuruni jalan. Biarpun kami tidak berniat berenang, tapi melihat air dari dekat sungguh membuat tak sabar.
Kolam renang Pacinan terdiri dari 3 Kolam bertingkat. Di bagian atas merupakan kolam renang dewasa, dengan kedalaman 1,5 meter yang miring sampai kedalaman 3 meter. Jadi harus hati-hati, karna tak ada penanda kedalaman di sini. Kolam renang kedua adalah kolam yang kedalamannya rata 1,5 meter. Sementara yang ketiga adalah kolam renang khusus anak-anak.


“Ini air sumber. Alami Mbak,” cerita bapak penjaga. Saya mengangguk-angguk. Baru tahu saya, kalau air kolam renang Pacinan adalah sumber mata air rembesan dari Pegunungan batu seribu.
Saat kemari, Pacinan masih sepi. Hanya ada dua orang yang sedang berenang. Biarpun kami tadi sudah menghabiskan pagi lebih dulu ke Sepikul, tapi tetap saja kami masih terlalu dini sampai di Pacinan.
Untuk masalah tiket masuk, lagi-lagi tiketnya super murah. Cukup hanya Rp. 2.000 kita sudah bisa menikmati berenang di kolam renang dengan sumber mata air alami. Kalau tidak mau berenang, bisalah seperti kami menikmati suasana teduh di sana. Atau sekedar menikmati jajanan di warung dekat kolam.


Jawa Tengah, terdiri dari daerah-daerah yang memiliki potensinya masing-masing. Biarpun Semarang sebagai ibu kota maupun Solo juga disebut Jogja kedua, tetapi Jawa Tengah memang tak hanya tentang dua kota besar ini. Masih banyak daerah di Jawa Tengah yang memiliki alam yang mempesona. So, ketika bertandang ke Jawa Tengah, jangan lupakan pula bertandang ke kabupaten-kabupatennya ya^^
Akhir kata, semoga OW Batu Seribu kedepannya berkembang menjadi lebih baik lagi.


* Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah

Related Posts

Dari Teriknya Gunung Sepikul Menuju Sejuknya Batu Seribu
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

16 comments

Tulis comments
avatar
26 October, 2016 19:12

Maakk aq sering berenang disana bareng keluarga lhooo

Reply
avatar
26 October, 2016 20:42

Kayaknya asyik y... Tp medannya kurang friendly buat anak kecil y?

Reply
avatar
26 October, 2016 23:44

Iyakah mbak? Wah, ternyata dirimu rumahe sekitar sini ya? Tau gitu, kemarin mampir :-D

Reply
avatar
26 October, 2016 23:45

Iya sih mbak kalau ke sepikul buat anak-anak kurang friendly. Ke kolam renang pacinannya saja mbak. ada kolam kusus buat anak-anaknya

Reply
avatar
27 October, 2016 03:23

gunung kembarnay eksotis banget sih jadi mau ke sini deh

Reply
avatar
27 October, 2016 12:23

Naik bukit, wah, mau pasti segeeer udaranyaaa.
Btw kolam yang airnya hijau kok horor ya, gak keliatan dasar kolamnya.

Reply
avatar
27 October, 2016 16:26

Keren ya mbak :-D Lets Visit Sukoharjo Mbak

Reply
avatar
27 October, 2016 16:32

Segger Pastinya. Cuma karna matahari pas habis terbit ya lumayan silau mbak.

Mungkin karna airnya kecampur sama air hujan mbak, jadi nggak bisa bening. plus disini pohon-pohon besarnya banyak banget, jadi mungkin warna hijau daunnya memantul. Kemarin juga pas kesini petugasnya baru selesai ngebersihin kolam yang kedua, jadi mungkin masih nunggu giliran

Reply
avatar
31 October, 2016 11:59

kira-kira aku kuat ga ya ke bukit ini? hihihi klo jalan kaki jadi peer banget

Reply
avatar
02 November, 2016 09:40

kuat-kuat kak. nggak terlalu tinggi kok :-)

Reply
avatar
02 December, 2016 10:58

baru tahu ada objek wisata batu seribu disana. lumayan instagramable untuk foto ala-ala anak instagram di ujung tebing dengan view gunubg kembar dari sepikul ya mbak hehe

Reply
avatar
18 April, 2017 20:43

Duh, belum sempat ke Batu Seribu.. Padahal deket..
Tapi Gunung Sepikul emang keren.. Terima kasih sudah berbagi..

Monggo mampir ke catatan Gunung Sepikul saya:
PESONA KEINDAHAN TERSEMBUNYI GUNUNG SEPIKUL

Reply

Punya pengalaman mirip? Ada Pertanyaan? Atau malah pengen curhat? Silahkan tinggalkan komentar kalau ada :)
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)