Thursday, September 08, 2016

Suatu Hari di Kemuning



Suatu hari di tengah kebosanan antri tiket tiga tahun lalu….

 “Sebenernya, kalo kamu nggak dapet tiket aku pengen ajakin kamu ke Kemuning,” ujar Faiz saat kami berada  di depan gedung UNS.

“Mauuuu,” saya sumringah. Kebetulan, memang tiket acara metro TV di UNS 3 tahun lalu sudah ludes tak bersisa. Kebetulnnya pula, saya memang belum pernah sekalipun ke Kemuning.


“Tapi aku nggak tau jalan,” ujarnya kemudian

“Tanya orang lah,”

“Tapi aku cuma bawa uang dua ribu,” ujar Faiz lagi.

“Aku bawa 30 ribu,” ujar saya sembari mengira-ngira duit sisa yang masih ada di dompet.

“Mana cukup? Ya udah, entar kita nggak usah makan ya? Kita main ke Kemuning aja,”

“Siappp…” saya jelas setuju.

Yeah, kalau cuma ke Karanganyar nggak makan, jelas bukan suatu masalah buat saya.

“Lha buat beli bensin, sama tiket masuk, cukup nggak ya?” Faiz ragu lagi.

“Emm, ya udah. Kita mampir cari ATM dulu,” dalam benak, saya menghitung-hitung masih ada sisa uang di ATM.

Maka hari itu, bertolak dari UNS kami memulai perjalanan menuju Kemuning. Tiba di dekat kampus UNSA Faiz menghentikan motornya. Sebuah ATM BCA berdiri di sana. Saya pun masuk. Tapi belum ada 2 menit saya sudah keluar lagi sembari meringis.

“Kenapa?”

“Hehe, ATM ku ketinggalan Is,” kata saya sembari meringis.

“HE???” dia kaget tapi lantas geleng-geleng kepala. “Ahh, kebiasaan!”

“Lha gimana? Lanjut? Tiket ke Kemuning berapa tho?”

Faiz menggerakkan bahunya ke atas. Ia pun tak tahu.

“Coba deh, cek dulu. Hitung uang di dompetmu,” pinta Faiz kemudian.

“Ada, kok. Masih 30 ribu,”

“Ahh, hitung dulu, deh,” ia bersikukuh meminta saya membuka dompet. Saya menurut. Mengeluarkan dompet dari tas, menghitungnya, dan lantas terkejut.

“Ehh, tinggal 16 ribu?” pekik saya heboh.

“Tuh kan. Sudah aku duga. Aku ki wes apal karo koe.”

Saya cuma mlengeh, garuk-garuk kepala mengingat-ingat apa yang terakhir tadi saya beli. Hemm, dan ternyata sebelum ke UNS saya memang sempat membeli sebuah barang.

Haishhh, kenapa saya suka sekali lupa?

“Aku 16 ribu, kamu dua ribu. Total kita Cuma bawa uang 18 ribu. Buat beli bensin 10 ribu. Berarti sisa 8 ribu. Nanti tiket masuk berdua berapa?” saya mencoba mengkalkulasi.

Faiz menggeleng.

“Hla gimana? Nekat?”

Faiz berpikir sesaat. “Ayo!” Faiz menstater kembali motornya.

“Oke,” saya menyunggingkan senyum bahagia. Biarpun duit mepet. Pokoknya saya hanya berpikir saya bahagia karna mau ke Kemuning. Haha.

Motor terus melaju. Dan kami tak henti-hentinya berdiskusi.

“Ntar kalau ke sana kita dimintai bayaran gimana?”

“Ahh, kayaknya nggak bayar, deh,” ujar saya sok tahu.

“Yakin banget lu?” tanyanya sembari terkikik.

“Loh, yang penting itu keyakinan! Segalanya itu, berawal dari keyakinan, Iz!” jawab saya sok-sokan meniru ucapan para motivator.

“Ahh, gendheng, lo! Ya sudah, baca Al- Fatikhah!” serunya terkekeh. Benar juga, Al-Fatikhah kan memang banyak khasiatnya. Saya pun menurut.

Motor masih melaju. Faiz tiba-tiba berujar lagi,

“Aku haus. Pengen minum.”

“Ahh, tenang saja Iz. Tawangmangu kan banyak banget sumber mata air,” ujar saya pedhe. Otak saya terbang ke ingatan sewaktu mendaki Merbabu beberapa waktu sebelumnya. Saat itu, rombongan kami dengan mudahnya mendapat air dari sumber-sumber mata air di sana. Imajinasi saya, mungkin nanti di Kemuning ada yang seperti itu. Haha.

“Aku pengen es teh, Tal!” ujarnya melas.

“Kita nggak punya duit, Iz! Al Fatikhah, Iz. Al-Fatikhah! Siapa tau nanti dapat es teh!” ujar saya gantian mengingatkannya. Faiz terkekeh. Tapi kemudian kita ber Al-Fatikhah lagi.

Beberapa saat kemudian si Faiz sudah gembredhek lagi

“Aku lapar, Tal!” keluhnya.

 “Nanti moga-moga kita dapat makanan gratisan ya?”

“Huakakak, Siapa yang mau ngasih, Tal?” tanyanya sangsi.

“Nggak tahu. Yah, semoga saja!” jawab saya entheng. Lagi-lagi kita pun ngakak.

“Ya sudah, kalo gitu, kita baca Al-Fatikhah lagi, ya!” ujarnya.

“Hooh, Ayo,” angguk saya setuju. Al Fatikhah pun mengalun lagi di dalam hati kita masing-masing. Perjalanan sudah mulai memasuki daerah Karanganyar. Saat itulah saya ingat, bahwa kami sebetulnya masih punya beberapa kawan yang asli Karanganyar.

“Ehh, coba kontak –menyebut beberapa nama teman- atau coba bikin status BB!” saran saya.

Tapi kemudian zonk. Banyak kawan-kawan lama kami yang sudah hilang kontak. Akhirnya, Faiz pun sebagai manusia sosialita melebihi saya langsung bikin status,

“Yang rumahnya Karanganyar, plis PING! Lagii butuh bantuan!”

Satu menit, dua menit, 5 menit,krik krik.

 “Kok renek sing mbales yo?” tanya saya terus memantau HP si Faiz.

“Huakakakakak, yowes neh. Kita terus melaju saja,” ujarnya pasrah.

Tiba di POM Bensin Karanganyar, sesuai rencana kita isi bensin Rp. 10.000. Keraguan kembali menghinggapi. Keraguan untuk iya atau tidak. Tapi jarak sudah jauh. Maka mundur adalah suatu kesia-siaan.

“Ntar, kalau kita beneran nggak bisa masuk ke Kemuning karna nggak bisa bayar tiket masuk, kita mesti ke sini lagi ya?”

“Okeee. Ayo baca Al Fatikhah lagi!” seru saya menyemangati.

Entah berapa kali kita baca Al Fatikhah. Saat bergelut dengan ketidakpastian begini, memasrahkan segalanya pada Yang Maha Kuasa memang cara paling menenangkan. Ahaha.

Hijaunya kebun teh mulai terlihat setelah beberapa saat kami melintasi Pasar Kemuning. Udara segar khas Tawangmangu membuncahkan kebahagiaan tersendiri. Ahh, kami berbinar-binar memperhatikan jajaran hijau yang amat menyejukkan mata.

“Di sini Iz? Ini kebun tehnya?”

“Bukan.,” jawab Faiz. Padahal di depan kami sudah penuh sekali pohon teh.

“Setauku, kita harusnya masih naik lagi,” Faiz menjelaskan ketidakmengertian saya.

Faiz menghentikan motornya. Memarkirkannya pada jalan setapak diantara rimbun tanaman teh. Ia mengeluarkan kameranya. Mulai menjepret ke berbagai penjuru, mencari angel yang menarik.

“Kalau bukan di sini, ya sudah ayo naik lagi!”

“Di sini saja lah, nanti kalau di atas bayar gimana?”

Saya manyun. Ini memang sudah kebun teh sih. Tapi kalau bukan spot kebun teh yang sesungguhnya, ya tetep saja ada yang kurang.

“Emm, kita tanya ke bapaknya dulu deh,”

Tak jauh dari tempat kami berdiri, seorang penjual cilok terlihat sedang sibuk melayani pembelinya, sepasang suami Istri yang sedari tadi tampak bercakap-cakap penuh pandangan mesra.
Haishhh.

“Pak, Kemuning itu masih di atas ya?” tanya saya pada si penjual.

“Iya Mbak, masih,” Istri pasangan itu yang menjawab.

“Kita juga mau naik, kok” sang suami menimpali.

“Ohh, kalau mau naik berapa Mbak tiket masuknya?” tanya saya kemudian.

“Berapa ya??” Si istri memandang suaminya. Sang suami menggeleng.

“Nggak tahu, Mbak. Tapi, kalau kita mungkin nanti nggak bayar,” jawabnya sembari tersenyum.

Ehh, Apa yang barusan dibilangnya??? Nggak bayar???

Kata nggak bayar itu mendadak di capslock besar-besar di kepala saya. Jelas saya penasaran kenapa

“Kok bisa, Mbak??”

“Iya, soalnya, suami saya satgas, Mbak,” jawabnya.

Bibir saya langsung membentuk huruf O. Meskipun saya tidak tahu pasti kenapa, tapi tampaknya dimana-mana Satgas, Polisi maupun tentara memang seringnya tidak dipungut bayaran ya kalau ke tempat-tempat begini?

Seketika otak saya berbinar.

Saya kembali mendekat ke Faiz yang masih sibuk dengan kameranya. Saya kabarkan berita tentang ke dua orang tersebut. Juga tentang ide cemerlang saya. Maksudnya ide licik saya. Ahaha

“He??? Kita ikut naik mereka?” tanya Faiz tidak yakin.

“Iya, siapa tau, kita nanti juga tidak disuruh bayar,”

Faiz Cuma terkekeh. Tapi kemudian ia sudah mendekat ke arah suami istri itu. Bercakap-cakap sok akrab bercerita tentang banyak hal juga memfoto-foto mereka ala-ala foto preweding.

Meskipun awalnya niat kami cuma sok-sokan akrab, tidak tulus lantaran sejatinya niat kami biar bisa ikutan naik ke Kemuning gratis. Tapi rupanya, dua orang ini cukup welcome. Hingga tanpa kami sok akrab pun, kita bener-bener bisa akrab. Hahaha.

Yeah, wajar sih, berdasarkan pengalaman saya, sikap welcome memang sering ditunjukkan para traveler yang sudah sering melanglang buana. Dan rupanya mereka salah satunya.

“Yok naik, Mbak!” ajak sang suami kepada kami.

Kami mengangguk. Ajakan ini yang sudah kita tunggu. Kami lantas mengambil motor, mulai menaikinya.

“Nanti pokoknya, kalau ternyata bayar, kita turun ya Tal!” ujar Faiz sembari mulai mestater motor.
Saya Cuma mengiyakan.

“Baca Al Fatikhah dulu,” ujarnya mengingatkan. Kita sama-sama terkekeh, lantas memulai lagi perjalanan dengan Al Fatikhah.

Sampai di atas, harapan kita ternyata tercapai. Yeahhh, rupanya, masuk Kemuning tidaklah bayar. Karena memang tidak ada tempat penjualan tiket. Tempat ini sejatinya memang hanya berfungsi sebagai kebun teh.

Kami berempat turun dari motor. Naik-naik diantara kerumunan pohon, lantas berfoto-foto. Saya sesekali terkekeh-kekeh mengingat proses perjalanan kami. Ahh, ternyata tidak bayar. Kenapa sedari tadi kami begitu khawatir masalah biaya?


Saya merasa senang sekali, karena tadi, kami membuat sebuah keputusan tepat untuk tetap berjalan meskipun di atas keraguan.

“Mbak, ayo makan!” Saat lagi seneng-senengnya berfoto  pasangan suami istri itu mengajak kami. Saya dan Faiz langsung berpandangan.

Belum sempat kami menjawab apa-apa, mereka sudah mendahului kami menghampiri warung tak jauh dari lokasi kami berdiri.

“Gimana, Iz?” saya menelan ludah.

“Kita pesan es teh saja Tal,” Faiz juga terlihat khawatir.

Yeah, dua es teh tentunya cukup lah dengan uang kami yang hanya tinggal 8 ribu. Kami lantas mengikuti dua pasangan itu. Dan ehh, kami dipesankan mereka mie rebus.

“Saya yang bayarin, Mbak. Saya tau kok, kalian mahasiswa kan? Mahasiswa itu pasti seneng  yang gratisan,” ujar si suami membuat saya dan Faiz langsung berpandangan. Tawa saya dan Faiz mendadak langsung pecah. Huakakak, apakah sebegitunya kita berdua terlihat ngarep gratisan?

“Kok bapak tau to?” tanya kami polos.

“Tau lah, saya juga pernah jadi mahasiswa,”

Si Bapak itu lantas memberi kami banyak cerita tentang perjalanan-perajalanan yang sudah ia lalui. Wah, kami malah mendapat banyak pengalaman darinya. Beberapa saat kemudian, Semangkuk Mie rebus hangat ditemani segelas es teh hadir di hadapan kami. Ahh, Ya Allah, Engkau kabulkan harapan-harapan kami sepanjang jalan tadi dengan begitu cepatnya. Pertanyaan Faiz di perjalanan tadi tentang siapa yang bakal ngasih kita makan, rupanya terjawab sudah.

Beberapa jam dalam hari itu, meninggalkan banyak kesan luar biasa buat kami. Tidak hanya tentang indahnya barisan hijau kebun teh Kemuning. Tapi hari itu, kami diberikan kesan tentang perjalanan dan pelajaran tentang arti pasrah.

Ketika pulang, saya dan Faiz hanya bisa terkekeh-kekeh sembari bersyukur luar biasa.

“Khasiat Al Fatikhah Iz,”

“Iyo Tal. Alhamdulillah,”

“Ini perjalanan rohani kita,”

Faiz terkekeh. “Doa kita terkabul semua Tal,”

Kita pun terbahak lagi. Ahh, kami seperti diingatkan untuk selalu mengingatNya.

Hari itu kami memang masih bermental gratisan.

“Semoga nanti ke depannya, kita gantian selalu bisa posisi ‘tangan di atas ya, Iz!’” batin saya.
Ahh ya, saatnya Al Fatikhah lagi :-)

-Catatan Desember 2013-


Indahnya view Kemuning

Moga makin lancar rejekinya ya kalian ^^


Related Posts

Suatu Hari di Kemuning
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Punya pengalaman mirip? Ada Pertanyaan? Atau malah pengen curhat? Silahkan tinggalkan komentar kalau ada :)
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)