Friday, April 22, 2016

Perempuan Di Dunia IT, Why Not?

Dunia IT selalu identik dengan “laki-laki”. Kampus IT pun rata-rata memiliki mahasiswa laki-laki yang jauh lebih banyak daripada perempuan. Ini pula lah yang terjadi di kampus saya. Perbandingan antara mahasiswa laki-laki dan perempuan di kelas mencapai angka 70 persen. Bahkan dulu ketika saya masih sering mengikuti kelas kakak-kakak tingkat, saya seringkali menjadi mahasiswa perempuan satu-satunya diantara sekian banyak laki-laki.

“Perempuan itu, banyak yang nggak ‘jadi’ kalau kuliah ambil jurusan IT. Paling-paling lulus cuma jadi tukang ketik exel di kantor-kantor,” komentar seorang teman beberapa  tahun yang lalu ketika saya memberitahunya bahwa saya baru saja mendaftar di sebuah kampus IT .

“Kok komentarmu gitu?” keluh saya

Padahal membuat keputusan untuk kuliah lagi bukan perkara mudah saat itu. Punya teman yang kadang kerap kali nyinyir di tengah kondisi butuh semangat seperti ini, disitu kadang saya merasa sedih. Hiks.

“Sejauh pengalaman saya memang gitu. Kamu tau si A, dia pernah kuliah di tempatmu juga. Tapi nggak selesai. Perempuan yang kuliah lagi itu, banyak godaannya. Ya kita lihat saja nanti. Kamu bisa lulus atau nggak,”

Nah, Loh? Kali ini laki-laki itu nyinyir lagi. Hem, kalau bukan karena usianya yang jauh sekali di atas saya, mungkin saya sudah cicit cuit.

“Coba pikir, kenapa laki-laki itu lebih dibutuhkan di dunia IT? Apa ya perempuan nanti mau, kalau harus panjat-panjat tangga benerin kabel, atau angkat-angkat printer dan pc?” tambahnya lagi

“Kan dunia IT tidak hanya seputar teknisi,” sanggah saya.

“Tapi kemampuan-kemampuan teknis semacam itu dibutuhkan di dunia kerja. Lagipula, kalau mau jadi programmer, perempuan itu 'susah jadi'. Jarang perempuan berhasil jadi programmer,”


“Ya kamu kasih doa saja lah buat saya,” pada akhirnya saya lebih memilih pergi meninggalkannya waktu itu. Daripada mendengarnya terus bernyinyir ria. Bisa-bisa bikin saya kehilangan semangat. Sementara kehilangan semangat, jelas buruk di tengah posisi saya yang baru mulai mau kuliah kala itu.

Percakapan di suatu hari itu, masih saya ingat sampai sekarang. Saya sih coba ambil hikmahnya, menjadikan nyinyiran itu sebagai  lecutan penambah motivasi untuk membuktikan bahwa dia salah.  

perempuan teknologiSudah umum diketahui, bahwa dunia IT itu rata-rata memang didominasi lelaki. Tapi pernyataannya yang seolah-olah menjudge para perempuan tidak mungkin sukses sebagai seseorang yang terjun di dunia IT, saya rasa kawan saya ini adalah manusia butuh piknik. Hemm

Saya sendiri lebih suka mengambil contoh orang terdekat saya ketika melihat sesuatu. Secara kebetulan, saya memiliki seorang kakak sepupu perempuan yang doyan  mengotak-atik kodingan. Ia secara khusus menspesialisasikan diri terutama sebagai seorang Web programming dan sebagai seorang dosen di sebuah kampus IT. Di sinilah saya jadi bisa menilai bahwa masih ada kok peluang bagi perempuan untuk terjun ke dunia IT.

Bagi kakak saya, ngoding itu adalah hal yang menyenangkan. Karena lewat koding, ia selalu merasa tertantang.

Kakak saya  suatu hari pernah saya tanyai pendapatnya, “Kenapa programmer laki-laki cenderung lebih banyak daripada  perempuan?”

Dan jawabannya, cukup membuat saya angguk-angguk kepala membenarkan.


Lumayan logis. Sebagai wanita, saya akui emosi itu adalah satu permasalahan tersendiri. Emosi apapun, sedih, marah, senang adalah emosi-emosi yang cukup sulit dikendalikan. Apalagi ketika masa-masa tamu bulanan menghampiri.

Sudah menjadi cerita lama bahwa berkebalikan dengan perempuan, laki-laki memiliki kecenderungan menggunakan logikanya lebih banyak daripada perempuan. Sehingga wajar lah, ketika jumlah programmer laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Karena dunia programming identik dengan logika.


Pendapat kakak saya ini, mendadak memberi charger semangat tersendiri. Membangkitkan semangat saya, bahwa sudah sewajibnya saya belajar programming lebih dalam.  Meskipun dalam hati masih terselip pertanyaan, mampukah saya? Mengingat deretan kode-kode itu seringkali membentuk barisan yang seolah seperti benang ruwet, susah terurai.

Masih membahas tentang perempuan. Beberapa waktu lalu saya  menghadiri sebuah acara bertajuk “Woman in Tech” yang diadakan oleh teknojurnal.com bekerjasama dengan INTEL di Jogja. Dalam acara itu seluruh peserta yang hadir merupakan para perempuan. Meskipun kala itu saya hanya menghadiri acara hari ke dua tentang pelatihan pembuatan aplikasi android menggunakan Intel XDK , setidaknya saya jadi sedikit mengerti bahwa sebenarnya dunia IT itu terbuka untuk apapun gendernya. Aulia Faqih selaku narasumber sempat menunjukkan bahwa beberapa developer  Intel yang berpredikat black belt, merupakan seorang perempuan.

Para peserta pelatihan Intel XDK  punya antusiasme besar dalam hal teknologi. Terlihat bagaimana mereka begitu bersemangat merespon ilmu baru, menjajal Intel XDK sebagai tools untuk mengembangkan aplikasi android.

Yeah, koding itu kan memang bukan tentang gender. Tetapi tentang kemauan untuk belajar.

peserta seminar
Sayangnya, saya tidak mengikuti acara tersebut hingga akhir. Padahal di sesi terakhir ada Siska Restu, Inisiator Perempuan Sadar Teknologi, yang menjadi pembicara. Acara hari pertama pun berupa meet up tak bisa saya hadiri. Padahal ada Estu Galih Nur Pratiwi, perempuan ini salah satu pendiri Agate Studio. Sebuah studio game yang berdiri sejak tahun 2012 di Jogja.  Keren kan? Juga Vania Marita, Co Founder Wisageni Studio yang hadir membagikan inspirasi bagi para peserta. Mereka merupakan salah satu bukti, bahwa perempuan bisa sukses dalam dunia Teknologi Informasi.

Ada banyak sebetulnya yang bisa diambil contoh wanita-wanita yang sukses di dunia IT. Permisalan lain contohnya. Bagi yang suka nulis, tentunya sudah tidak asing lagi dengan storial.co atau nulisbuku.com. Situs-situs yang berhubungan erat dengan dunia pena ini foundernya juga merupakan seorang perempuan. Dialah Ollie Salsabila. Selain cantik, perempun ini kemampuannya sebagai developer tak perlu diragukan lagi.

Dalam sebuah wawancaranya, seperti disampaikan di codepolitan.com, Ollie menjelaskan jumlah developer wanita yang masih sedikit menyebabkan para developer wanita tidak banyak bisa bertukar pikiran seperti halnya laki-laki. Ini mengindikasikan  bahwa sebenarnya, masih banyak slot untuk para perempuan jika ingin terjun ke duina developer.

Bulan Maret lalu saya juga iseng saja bergabung disebuah grup"female geek PHP Indonesia." Ehh, isinya ternyata memang para wanita yang memiliki ketertarikan di dunia programing terutama PHP. Tak main-main lah, anggotanya bukan hanya yang masih belajar seperti saya, tetapi juga para wanita yang memang sudah terjun menggeluti dunia IT seperti sebagai IT Suport, System Analyst, atau IT Consultant.

Komunitas yang diharapkan menjadi wadah berbagi dan memberi inspirasi bagi para perempuan yang ingin menggeluti dunia IT ini, masih bersinergi dengan komunitas PHP Indonesia. Female Geek, baru saja dibentuk di 2 Februari 2016 kemarin dengan anggota yang sudah mencapai 100-an orang. Untuk tahu lebih banyak tentang female geek, mungkin bisa cari tahu langsung

Dunia IT itu luas. Seorang bloger pun juga bisa disebut sebagai manusia yang terjun di dunia IT. Tak asing lagi tentunya dengan "Kumpulan Emak Bloger" atau yang biasa disingkat "KEB" atau ada  juga "Bloger Perempuan". Sebuah grup yang mengumpulkan para perempuan yang suka nulis di blog pribadi.

Kerennya, para bloger perempuan ini banyak juga yang anggotanya Ibu-ibu. Yang di tengah profesinya sebagai Ibu rumah tangga, mereka masih sempat ngeblog. Unik lagi, ada juga yang selain jadi Ibu Rumah Tangga, mereka juga masih menyandang predikat pekerja kantoran.


Hebatnya para anggota, banyak dari mereka merupakan bloger-bloger yang punya sekian prestasi per-blogeran melalui kemenangannya lewat beragam lomba blog. Banyak juga dari mereka yang menjadikan blognya pundi-pundi pendapatan keuangan keluarga.

Kembali ke pembicaraan tentang kawan saya yang menyatakan "perempuan itu, banyak yang nggak ‘jadi’ di dunia IT"

Saya rasa, mungkin kawan saya itu benar-benar harus piknik. Karena di dunia IT tidak pernah ada aturan yang membatasi gender.

So, Perempuan Di Dunia IT? Why Not?

Menurut saya, yang penting kan selama yang kita tidak melanggar norma agama, hukum, dan kepentingan orang lain, maka pada dasarnya apapun yang kita lakukan sah-sah saja. Apalagi ketika itu mampu membawa dampak positif untuk diri sendiri maupun lingkungan. 

So, Mari bersemangat, para perempuan Indonesia^^


Ingin mendapatkan tool dan tutorial pemrograman gratis? Kunjungi Intel Developer Zone http://sh.teknojurnal.com/witidz


Related Posts

Perempuan Di Dunia IT, Why Not?
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

13 comments

Tulis comments
avatar
24 April, 2016 23:34

Jd inget dulu pernah kerja di perusahaan IT, pegawai ceweknya bisa diitung jari... :)

Reply
avatar
25 April, 2016 22:24

Hihi... Ya begitulah kebanyakan yg terjadi mb

Reply
avatar
27 April, 2016 08:21

akupun tukang ketik excell, kenapa memangnya? katakan pada orang itu bahwa nyatanya ada juga orang IT yang tidak bisa bermain dengan excell. walaupun penggunaan excell memang lebih mudah daripada harus membuat algoritma pemrograman dan membuat aplikasinya hahaha tapi setidaknya masih mending daripada org IT malah menjadi pegawai bank.

Reply
avatar
27 April, 2016 20:45

Woww.. Komentarnya top mb. Logis jg ya excel kan juga butuh logika. Bisa excel jg hrsnya tak perlu diremehin :-D

Reply
avatar
28 April, 2016 04:06

orang-orang IT itu menurutku keren.

Reply
avatar
28 April, 2016 19:07

Keren sih menurutku
Soalnya dunia it lebih dominan ama cowok
Dan materinya juga susah susah

Reply
avatar
30 April, 2016 11:08

dizaman sekarang dunia IT sudah buka hanya milik lelaki yah Mba, wanita pun bisa menggeluti dunia ini :)

Reply
avatar
02 May, 2016 09:53

Nah keren kalau pada bisa IT. Aku ternasuk yang gaprek dan belajar pun tetap sulit. Sekarang juga terbiasa ngandelin yang bisa aja deh. Haha

Reply
avatar
02 May, 2016 10:03

bbrp waktu lalu saya baru ngedit artikel dengan tema sejenis (judulnya pun hampir sama!) di sebuah majalah abege *dan sbny lagi kepikiran nulis artikel ini juga utk webste wanita karier www.dailysylvia.com :) anyway, tema ini menurut saya emang menarik, krn akan memotivasi/empower wanita bahwa mereka mampu bekerja di berbagai bidang--termasuk yg selama ini didominasi pria. well done!

Reply
avatar
03 May, 2016 15:51

Hmm kalau menurut saya sih mbak beruntung lo kalau perempuan masuk ke IT karena bisa dibilang paling cantik, ahi hi hi.

Reply
avatar
12 May, 2016 16:33

Pengen deh kuliah jurusan IT, tapi disini susah kerja sambil kuliah, ga ada kelas karyawan. Nantilah klo dah balik ke jakrta hehe. Keren kalau kuasain IT

Reply
avatar
18 May, 2016 11:24

orang IT adalah orang pemikir

Reply
avatar
26 May, 2016 01:03

Keren sista artikelnya..wkwkwk

Reply

Punya pengalaman mirip? Ada Pertanyaan? Atau malah pengen curhat? Silahkan tinggalkan komentar kalau ada :)
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)