Sunday, March 20, 2016

Nyanyian Hening di Keriuhan Malioboro

malioboro street
Beragam manusia dari bergam daerah , beragam latar belakang, beragam tujuan, dan beragam model ada di sini. Menghias tiap jengkal jalanan Malioboro. Dan setiap manusia selalu menarik. 

Di suatu sore, langkah saya berhenti di hadapan seorang bapak-bapak yang asyik memainkan angklung. Ingar musik modern bergema dari sebuah toko pakaian di dekat lokasi si bapak berada. Namun itu tak menghentikannya memainkan lagu. Ia terus saja bermain sampai ingar musik itu berhenti sendiri dan musik angklungnya menjadi pemenang yang menguasai udara di sekitar kawasan Malioboro, Jogjakarta. Tepatnya di dekat hotel Mutiara. Saya cukup lama ada di sana. Mencoba menikmati sisi lain Malioboro. Mencari sisi dimana saya bisa berlari dari hiruk pikuk manusia yang dari pagi hingga sore tak juga reda.

 “Boleh saya main Pak?” Bapak itu baru saja menyelesaikan permainan lagu caping gunungnya ketika saya meminta. Dengan ramah ia mempersilahkan saya untuk mencoba menggoyang pelan susunan bambu-bambu itu. 

Saya mencoba memainkan sebuah lagu yang notenya paling melekat kuat di kepala saya. Sebuah irama gundul-gundul pacul pun mengalun. Irama yang terdengar terbata-bata, karena saya harus memainkan angklung sembari melihat huruf-huruf note yang ditempel di bagian atas bambu. Beberapa kali si Bapak mendahului saya menggoyang bambu karena gerakan saya yang terlalu lama. Saya hanya bisa terkekeh-kekeh dan pada akhirnya membiarkan saja si Bapak yang memiliki keterbatasan fisik di kakinya ini meneruskan permainan saya sembari tersenyum penuh maklum. 

Orang-orang yang lewat, sesekali memandang saya lantas menyunggingkan senyum ambigu. Mungkin saya yang begitu penasaran bermain angklung ini, nampak ndesonya di mata mereka.

 “Mahal ya, Pak, angklung seperti ini?” tanya saya iseng. Angklung terus mengalun. Iramanya menggugah nurani beberapa orang yang melintas. Sesekali orang-orang murah hati ini melempar koin maupun uang kertas kedalam toples si Bapak. Terkadang si Bapak menghentikan sebentar permainannya demi memungut recehan yang meleset terlempar ke luar toples. 

“Harganya dulu sekitar 1 juta.” Saya mlongo. Mahal benar?

Si Bapak terkekeh melihat ekspresi kaget saya. “Bambu memang murah, Mbak. Membuatnya berirama seperti ini, itu yang mahal,” katanya.

 Irama angklung kini berubah menjadi lagu yang tak saya kenal. Saya masih berjongkok di samping si bapak. Ada kebanggan yang timbul di hati saya. Saya jadi teringat tentang berita permainan angklung masal di New York yang sampai tercatat di Guinnes Book of Record. Alat musik asli Bandung ini memang sudah terbukti dikagumi dunia. 




Si Bapak bercerita lagi kalau dia bermain angklung bergiliran dengan seorang temannya yang lain. Temannya pagi, dan dia sore. Saya tahu orang yang ia maksud. Dalam suatu hari yang lain, saya bertemu dengan kawannya yang ternyata memiliki kondisi fisik yang juga terbatas. Seorang buta dengan rambut yang mulai ditumbuhi uban. 

Hemm, manusia, macam-macam saja usahanya untuk hidup dan menghidupi. Tak peduli dia bertubuh sempurna ataupun tidak. Tetap saja manusia adalah makhluk yang membutuhkan isi perut. Orang-orang yang di tengah keterbatasannya mampu untuk hidup mandiri, selalu mempunyai sisi yang membuat kagum.

Lagu-lagu jawa pun terus mengalun berganti-ganti. Malioboro yang begitu ramai serasa bertolak belakang dengan suasana yang tercipta di tempat duduk saya kini. Nada-nada angklung itu seolah mampu menghipnotis saya, membawa saya ke tempat nisbi manusia. Saya masih ingin berada di sana kalau saja sebuah SMS tak mengharuskan saya bergegas pergi. Dengan berat hati saya berpamitan pada si bapak. Irama lagu campursari cucak rowo menjadi lagu terakhir yang mengiringi kepergian saya,sebelum suara angklung itu benar-benar lenyap.

Kenyataan pun membawa saya kembali. Malioboro tetap saja riuh, seperti di sore hari itu.





Related Posts

Nyanyian Hening di Keriuhan Malioboro
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

16 comments

Tulis comments
avatar
20 March, 2016 21:24

Malioboro emang sll ngangenin seperti biasa.

Reply
avatar
03 December, 2016 08:30

Saya sering lewat di depan hotel mutiara itu, dan gak sekalipun absen melihat sang bapak tersebut beraksi. Jika sedang ada receh saya kasih :D

Reply
avatar
03 December, 2016 09:07

Tombo ati.. mantap mba..
Ini harus dilestarikan

Reply
avatar
03 December, 2016 09:16

Jadi pengen ke Malioboro mbak.. udah lama bgt gak ke jogja

Reply
avatar
03 December, 2016 09:58

Kapan-kapan kalau ke Malioboro lagi, tak ngematke mba. Beberapakali kesana kok nggak ngeh ya.

Reply
avatar
03 December, 2016 10:58

Ah bapak angklung itu masi disana...jadi bernostalgia dg masa2 kuliah dulu.. hampir setiap hari kongkow disana, dan hampir selalu ketemu bapak angklung yg buta itu...

Reply
avatar
03 December, 2016 15:05

Marloboro memamng ngangenin..

Reply
avatar
04 December, 2016 07:04

Kapan2 kalau kesana mampir ke tempat pak e ini mbak :D

Reply
avatar
04 December, 2016 07:05

Huum mb. Amatilah nanti kalau kesana

Reply
avatar
04 December, 2016 07:06

Woh dulu kuliah dimana mbak? Berati bapaknya sudah bertahun2 ya ada di sana?

Reply

Punya pengalaman mirip? Ada Pertanyaan? Atau malah pengen curhat? Silahkan tinggalkan komentar kalau ada :)
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)