Saturday, December 19, 2015

Cerita dadakan mesastila



Masih bisa kurasakan aroma kesegaran kaki gunung merbabu. Aroma tanah akibat gerimis yang tak kunjung henti terus mengiringi perjalanan.


Pagi ini, aku membulatkan diri mengikuti acara ngilmu bareng Windy Ariestanty dan Teguh Sudarisman serta phinemo.com di sebuah resort yang berlokasi di sebuah kawasan Magelang. Mesa Stila Resort namanya. Nyaris saja, aku membatalkan rencana datang ke tempat ini. Masalah lokasi yang terlalu jauh hampir menyurutkan langkahku. Tapi, bayangan menimba ilmu serta melihat secara langsung kolam renang ala-ala ubud di resort Mesastila terus menyemangati

“Lewat daerah Kopeng. Nanti lebih cepat,” jelas seorang kawan asli Magelang yang kutanyai seputar lokasi. Aku hanya manggut-manggut saja kemarin. Aku sama sekali belum pernah tau daerah Kopeng. Di pikiranku, yang penting adalah akses jalan yang lebih cepat.

GPS kunyalakan. Motor mulai kupacu. Dari Solo lalu ke  daerah Boyolali sampai mendekati perbatasan Salatiga, aku masih baik-baik saja. Tapi begitu mendekati Gapura Salatiga, aku mulai sedikit was-was. Kulirik Hp, dan aku mendapati kenyataan bateraiku tinggal 15%.

Aku tak punya pilihan lain.  GPS dan sambungan data harus kumatikan guna menghemat daya. Jalan masih panjang. Bagian penting dari GPS masih diperlukan nanti. Kalau aku nekat, aku bisa benar-benar kehilangan petunjuk. Hal yang sedikit kusesali adalah kenapa aku harus lupa mencharger HP semalam.

Motorku terus melaju. Aku tak punya petunjuk sekarang. Yang kutahu hanya satu. Aku harus sampai ke Magelang terlebih dahulu. Baru setelahnya mencari daerah bernama Grabag. Jalanan Kopeng cukup membuatku shock. Jalan beraspal, lumayan bagus sebenarnya. Tapi jalanan ini  memiliki banyak tanjakan yang cukup tinggi serta tikungan tajam. Dan semakin lama ia berubah menjadi semakin sempit. Semakin lama semakin jarang kendaraan yang kujumpai. Pemandangan pun berubah-ubah. Sesekali jalanan terlihat gelap oleh hutan, sesekali kembali terang. Kadang kanan adalah jurang, kadang berubah kembali menjadi rumah penduduk atau sekedar tanah kosong.

Ada sedikit ketakutan yang mendadak hinggap. Bagaimana kalau nanti tiba-tiba ada begal. Ahh, Ini sudah pagi. Hiburku pada diri sendiri.

Bagaimana kalau tiba-tiba motormu mogok? Lagi-lagi bayangan buruk muncul saat ingat, motorku belum sempat di service.

Bagaimana kalau truk itu tak kuat melewati tanjakan dan pas kamu di belakangnya? Batinku saat tiba-tiba sebuah truk menyalipku

Tapi ketakutan-ketakutan itupun tertelan. Lebih tepatnya berusaha kutelan. Harus berani, karena sebentar lagi aku akan melihat kolam renang rooftop. Yeayyy. 

Tampak konyol, tapi inilah salah satu alasanku datang kemari. Alasan yang kalau dipersen 50:50 lah dengan keinginan menimba ilmu dari Mbak Windy Ariestanty dan Mas Teguh Sudarisman.

Di daerah dekat arah jalur basecamp merbabu dan sampai mendekati area Magelang, bentangan alam berupa gunung dan area persawahan model terasering menghiasi. Pemandangan Inilah obat penenangku. Saking terhiburnya, aku memelankan motor agar bisa menikmati setiap inchi pemandangannya.

Tiba di pertigaan bertuliskan "Grabag" aku berhenti. Dua bocah SMP nampak berbisik-bisik lantas berteriak menggodaku. Dalam hati aku membatin sebal ealah, kurang kerjaan banget to le....

"Losari lewat sebelah mana, dek?" kuhampiri saja dua bocah itu. harapanku biar sekalian mereka malu. Emang dipikirnya menggodai orang yang jauh lebih gedhe itu keren???

"Ke-ke- sana Mbak"

Berhasil. Cara bicara mereka jadi kikuk. Lantas tersenyum sungkan. Nampaknya usahaku membuat mereka malu cukup sukses.

"Oke, thanks ya!" ujarku kemudian.

Motor kembali kupacu. Sampai di persimpangan jalan aku kembali berhenti. Pada seorang bapak-bapak yang sedang sibuk menyemproti ayamnya aku bertanya.

"Mesastila? Nggak tahu itu, Mbak. Alamat lengkapnya dimana?" tanyanya balik.

"Emmm, Pokoknya Losari Grabag itu, Pak" jawabku. Memang hanya sebatas itu yang kutahu tetang alamat mesastila.

"Kalau Losari, lewat jalan ini, Mbak," tunjuknya.

Aku diam sebentar berpikir. Tapi akhirnya, meskipun aku ragu kuikuti saja petunjuk si Bapak. Sebuah jalan tak beraspal kulewati. Sebuah jalan yang nampak tak meyakinkan karena becek bekas hujan semalam, serta kiri kanannya banyak sekali pohon bambu. Rumah-rumah penduduk masih terlihat jarang. Tuisan SD Losari membuatku lega sesaat. Sepertinya aku di jalan yang benar.

Tiba-tiba pemandangan berubah menjadi persawahan. Jalan semakin jelek dan sempit saja. Penampakan sawah yang membentang nampak indah namun  membuatku ragu kembali. Setahuku saat browsing gambar Mesastila, gambarnya terlihat mewah. Masa sebuah resort mewah ada di jalan seperti ini?

"Mesastila? Apa itu?" pertanyaan balik yang dilontarkan seorang Ibu di pinggir sawah saat aku tanyai.

"Resort, Bu. Penginapan," terangku. aku mencoba berpikir hal apa lagi yang bisa kujelaskan. tapi pada kenyataannya aku belum banyak browsing tentang Mesastila. jadi bisa dibilang aku tak tahu apa-apa selain itu adalah sebuah resort yang memiliki sebuah kolam renang rooftop.

"Pak, Mesastila itu dimana?" panggil Ibu itu kemudian pada seorang laki-laki yang muncul dari balik rungkutnya padi.

"Ora reti, Bu!" jawabnya. Aku menghela nafas.

"Maaf, mbak. Setahu saya di sini tidak ada penginapan," jawaban yang membuatku merasa  lemas seketika.

Aku akhirnya memutuskan memutar arah balik. Ini desa Losari, tapi kenapa tak seorangpun tau Mesastila?

Jam sudah menunjukkan pukul 9.15. Seharusnya ini acara sudah mulai. Kunyalakan kembali handponeku. Sebuah pilihan yang tepat karena aku mematikannya tadi. Baru kutahu, ternyata seharusnya di persimpangan jalan tadi aku belok ke kiri, bukan kanan. Tapi kenapa daerah ini juga benar daerah bernama Losari? Aku tidak mengerti.

Pada akhirnya aku kembali memacu motor sambil sesekali melirik handpone di saku. Motor kembali melaju melewati jalan raya dan ternyata lokasi Mesastila masih jauh sekali. Masih sekitar 40 menit. Sayangnya handpone kali ini sudah tidak kuat. Ia benar-benar mati sekarang. Aku kembali kehilangan arah. Tapi untungnya kali ini aku mengandalkan bertanya pada penduduk setempat yang tahu lokasi. Fiuhhh. Sekarang doaku dalam hati adalah Semoga acaranya molor.

Singkat cerita, pada akhirnya aku tertawa-tawa sendiri, bahkan air mataku sampai berlinang ketika aku mendapati diri, aku tiba di Messtilla dengan baik-baik saja.
***

Kau mainkan untukku sebuah lagu tentang negri di awan. Dimana kedamaian menjadi istananya. Dan kini, tengah kau bawa aku menuju ke sana...

Masuk area Lobi Mesastila, seorang perempuan cantik menyambutku. Kuamati sekeliling. Aku sempat sekilas membaca di sebuah situs bahwa lobi Mesastila adalah bekas ruang tunggu kereta. Hem, suasananya memang terasa klasik.

Keluar dari lobi, aku sempat terperanjat. Tiba-tiba saja taburan bunga mawar berhamburan menyambutku. Aku hanya bisa terkekeh. Rupanya, dua orang anak kecil yang berdandan ala-ala jawa modern yang melakukannya. Ini sambutan yang menarik, kreatif  dan bahkan lucu bagiku. Mereka membuatku merasa diperlakukan bak seorang penting. Bak seorang tamu agung yang memang sudah lama ditunggu.

“Ini baru mulai kok Mbak! Ibaratnya Mbak baru ketinggalan pos 1,” hibur Pak Arifin saat aku tergopoh-gopoh menyusul rombongan Java Travel Journalism Class yang sedang melakukan Coffe Tour Plantation.

Kuedarkan pandangan, banyak sekali tanaman kopi. Aku menelan ludah, astaga, tempat ini ternyata bukan sekedar kolam renang saja. Tiba-tiba aku ingat jadwal acara yang dikirimkan Phinemo padaku. Coffe tour Plantation memang menjadi salah satu kegiatan yang kami lakukan di sini.

Seorang pemandu menjelaskan tentang kopi. Sosoknya terhalang beberapa orang  di depanku hingga membuatku sedikit kesulitan menangkap penjelasannya.

Tapi biar saja. Aku menikmatinya. Berada diantara warna hijau seperti ini, memberiku kenyamanan tersendiri.

“Ini hasil okulasi,” Pak Arifin menunjuk sebuah pohon kopi. Biarpun aku jauh dari bapak pemandu di depan, Pak Arifin selaku Room and division Manager ada di belakang. Ia memberiku beberapa informasi.

“Ini pohonnya adalah kopi excelsa. Nanti dahannya dahan kopi robusta atau yang lain. Excelsa dipilih sebagai induk karena tubuhnya lebih tahan penyakit. Sementara buahnya kurang laku di pasaran,” jelas Pak Arifin.  “Tanaman kopi bisa berumur tahunan. Yang ini umur pohonnya sudah 50 tahun,” imbuhnya lagi.

“Tapi tak terlihat tua ya Pak? Tingginya mirip seperti yang lain” kuamati pohon kopi yang ditunjuk Pak Arifin. Bentuknya sekilas sama. Hanya saja, memang sedikit lebih kekar.

“Kita jaga supaya tingginya tetap segitu. Selama produktivitasya baik, pohon kopi tidak diganti,”

Aku mengangguk-angguk, mengisyaratkan paham.


Kami kemudian memasuki “House of Coffe” Sebuah tungku dilengkapi kayu bakar ada disana. Di atas tungku itu 2 buah panci berdiri. Panci yang terbuka terlihat mengepul. Air berwarna coklat seperti teh, bercampur dengan semacam serabut-serabut rimpang, ada di dalamnya.



“Itu Jamu,” Pak Eko, seorang pegawai Mesastila menjawab rasa penasaranku. Di samping tungku jamu itu, sebuah alat sangrai kopi sedang berproses. Di atas sebuah tungku yang masih menyala, sebuah alat bebentuk bulat terus berputar. Ia mengeluarkan suara berisik akibat gesekan biji-biji kopi di dalamnya.

“Setelah dari situ, nanti kopinya ditaruh di sini. Ayo coba!” Pak Eko, pegawai yang sudah bekerja di Mesastila sekitar 30 tahun, menunjukkan biji-biji kopi yang nampak sudah menghitam.

Kucomot sebiji kopi dan kupadukan dengan sedikit gula jawa. Rasanya, Joss! Ini kali pertama aku mencicip biji kopi. Kupikir bakalan pahit. Ternyata ini enak. Pak Eko juga membuatkanku segelas kopi. Tapi aku lebih suka mengunyah bijinya langsung.

Kebun seluas 11 hektare ini membuatku berkali-kali tak habis pikir. Beragam tanaman ada di sini. Semua yang tersaji di Mesastila adalah hasil panen sendiri. kopi, jamu, sayur, semua makanan yang disajikan adalah hasil kebun pribadi. Ini istana atau apa sih? Bahkan sampai pupuk pun diolah sendiri.

Beberapa ekor kambing terlihat di kandang. Tidak sembarang kandang. Tetapi kandang yang memang dibuat dengan ilmu. Kandang tersebut dibuat menggantung. Dengan tempat berpijak si kambing adalah susunan kayu yang dibuat berjarak sehingga nantinya kotoran kambing bisa jatuh ke bawah lewat sela-sela kayu. Lantai  bawah kandang si kambing diplester semen dan dibuat miring ke belakang. Dengan begitu kotoran akan mengalir sehingga lebih mudah untuk dikeruk. Selanjutnya kotoran tersebut dikumpulkan, dicampur dengan bermacam sampah organic baik kering ataupun basah lantas difermentasi hingga menjadi pupuk.



Tempat ini jadi memiliki siklus yang tetap. Tanaman dipupuk-tumbuh-dimanfaatkan-sisa limbah dibuat pupuk – pupuk diberikan tanaman lagi, begitu seterusnya.

Imajinasiku melayang. Bagiku tempat ini menyerupai istana. Dimana nantinya para penghuni istana tinggal menikmati hasil persembahan para rakyatnya. Uhhh.



Bermula dari keinginan melihat rooftop, aku malah menjadi melihat hal semacam ini. Ahh, aku benar-benar menyukai perjalananku. Mungkin kalau membuat rumah, perlu aku model begini.

“Kenapa warga desa Grabag yang aku temui tidak tahu tempat ini, Ya Pak?” tanyaku pada Pak Arifin lagi ketika kami kembali berjalan setelah dari House of Coffe.

"Desa Losari dan jalan Losari itu dua hal yang berbeda ya, Pak?" Saat perjalanan aku menanyakan pada orang-orang tentang desa Losari. Tapi saat di google, keterangan peta adalah Jln Losari. itu sedikit membuatku bingung.

"Harusnya sama saja, Mbak,"

"Tapi saya masih harus menuju tempat ini nyaris 1 jam, Pak dari desa yang bernama Losari. Lagipula warga desa Losari  yang saya temui banyak yang tidak tahu tentang Mesastila,"


Aku mencoba mencari tahu atas ketersesatanku

“Itulah kendalanya, Mbak. Tetapi mereka bakal tahu kok, kalau Mbak tanyanya Losari Coffe Tour Plantation,” jelas Pak Arifin.

Rupanya, nama itu adalah nama Mesastila jaman dahulu. Tempat ini mengalami pergantian sebanyak 4 periode. Dari orang Belanda, lalu ke Indonesia. Lantas ke orang Italia. Selanjutnya kembali ke Indonesia lagi. Ya, istana modern ini merupakan tempat yang harusnya sudah tua.

"Mungkin Mbak tadi cuma muter-muter. Karena Mesastila ini lokasinya ya masuk desa Losari," terang Pak Arifin sedikit susah kupahami. Tapi ya sudahlah. Yang penting akhirnya aku sudah ada di sini.

Selesai berkeliling-keliling kebun, aku akhirnya melihat rooftop juga. Yeahh… Begitu Mbak Windy dan Mas Teguh selesai menyampaikan pemaparan kelasnya, lantas dari tim phinemo meminta kami untuk membuat tulisan dengan mencari tempat menulis sesuka kita. Aku tentu memilih Rooftop sebagai sudut tempatku mengetik tuts-tuts keyboard.



Kolam renang Mesastila menurutku mirip rooftop di Ubud Hotel. Lantaran pemandangan dari kolam langsung menerjang kawasan hutan yang nampak rungkut di bawahnya. Kolam renang itu bertingkat. Dan ada susunan ubin-ubin untuk menyebrang di tengahnya. Di situlah aku memilih tempat. Meskipun aku tak berenang, tapi berada di dekat dengan kolam begini cukup membuatku senang.





Related Posts

Cerita dadakan mesastila
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Punya pengalaman mirip? Ada Pertanyaan? Atau malah pengen curhat? Silahkan tinggalkan komentar kalau ada :)
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)