Thursday, February 12, 2015

rasa syukur

Kadang bertemu seseorang adalah inisial tuhan untuk menyuruh kita tak lupa mengingatNya
------------------------------

Siang itu, Minggu panas tanpa mendung. Capek badan rasanya. Hampir setengah hari saya muter-muter Solo mencari bahan untuk pelengkap bikin souvenir. Sampai ketika saya hendak pulang,  di sebuah pemberhentian bus Wonogiri, saya duduk di sebuah bangku memanjang. Mungkin saking lelahnya, hingga saya tak memperhatikan ada seorang perempuan berkaos hitam yang juga duduk satu bangku dengan saya. Saya duduk di ujung kiri, sementara ia, ada di ujung kanan.

Keberadaannya baru saya sadari ketika ada insiden memalukan yang membuat orang-orang di sekitar kami terpingkal-pingkal menertawakan saya. Rupanya, Mbak yang sedari tadi duduk di sana itu, tiba-tiba saja berdiri. Bangku yang tak kokoh memijak tanah menjadi berat sebelah. Akibatnya, saya sukses terguling tanpa sempat menghindar. Duhh, antara merasa sial dan malu. Tapi yahh, beberapa menit memalukan itu, saya malah ikut terpingkal-pingkal. Kadang kesialan bisa begitu reflek memang untuk ditertawakan.

Bermula dari situ, Mbak yang barusan berdiri itu mulai mengajak saya bicara. Dari sebuah permintaan maaf sampai kemudian merembet ke hal pribadi ketika kami satu bangku lagi di dalam bus. Mbaknya itu, anggap saja namanya Tini. Si Tini ini  terus saja ngecuis sejak kali pertama kami duduk di dalam bus.

 “Mbak  kerja atau kuliah?” tanyanya setelah beberapa saat tadi kami sempat ngobrol banyak basa-basi.
“Saya…” menggantung sejenak. Pertanyaan seperti ini seringnya membuat saya berpikir, mau menjawab apa. “Kerja Mbak,” jawab saya akhirnya. Perempuan itu mengangguk-angguk.

 “Mbanya?” Tanya saya balik

“Aku….” Kali ini giliran perempuan itu yang menggantung jawaban “Aku mblayang mbak,”

Saya mengernyit. Merasa aneh.
Tiba-tiba perempuan itu terpingkal. Mungkin lantaran melihat expresi  bingung saya.

“Maksudnya, ini lagi main gitu? Lagi liburan ya Mbak?” saya mencoba berpikir positif.
Ia malah ngakak. Tapi kemudian menggeleng, menyiratkan bahwa dugaan saya salah.

“Aku itu kerja, tapi suka-suka saya mbak.”

Kembali saya mengernyit. “Maksudnya?”

Saya jadi berpikir, jangan-jangan orang di samping saya ini seorang entrepreneur muda seperti seseorang berpenampilan lusuh  yang pernah saya temui beberapa waktu lalu. Singkat cerita, beberapa hari sebelumnya saya ketemu orang berpakaian lusuh, dan eh ternyata dia seorang pengusaha mainan yang penghasilan per bulannya mencapai 10 jutaan. Karena itu saya jadi berpikir, mungkin mbaknya wiraswasta, makanya bisa kerja suka-suka.

“Ini saya dari Jakarta mbak,” ceritanya kemudian.

“Jakarta? ” saya masih belum paham apa pekerjaan mbaknya. Tapi saya mengangguk-angguk saja.

Sebagai orang yang pernah sebentar tinggal di Jakarta, mendengar kata Jakarta, segala kenangan tentang kota itupun melintas.

“Jakartanya mana mbak?” tanya saya lagi.

“Selatan mbak, tapi minggu depan mau ke Cengkareng”

Saya ngawang lagi. Otak saya flash back sejenak.

“Mbaknya Dagang ya? Kok keliling-keliling. Usaha apa mbak?” Tanya saya kemudian. Berusaha tidak larut dalam kenangan lalu.

Tapi dia malah ngakak.

“Nggak mbak. Saya itu kerja sama orang. Tapi gaji saya seminggu itu nggak dibayar,”
Saya mengernyit lagi. Duhh, sepertinya pertanyaan saya sedikit menguik luka.
 “Nanti bayarannya bulanan Mbak?” Saya mencoba menghibur.

“Nggak mbak. Harusnya perminggu digaji. Padahal saya disuruh ini itu. Kalau ada yang nggak bersih diomelin. Ya udah, saya akhirnya kabur.”

Saya kaget. Saya mencoba bersikap prihatin. Penasaran juga, dia sebenarnya kerja sebagai apa. Koki kah? Pembantu rumah tangga kah atau rumah makankah? Tapi kemudian saya memilih tak bertanya lagi. Sudahlah, kasihan.

Tapi orang itu mendadak cekakakan lagi. Saya sendiri kurang paham kenapa dia tertawa. Krik krik, saya jadi malah bingung mau ngapain.

“Mbak, panas banget ya? Mbaknya pakai jilbab begitu nggak kepanasan apa?” tanyanya tiba-tiba, membuat saya mengernyit untuk kesekian kalinya.

“Nggak i. Biasa aja itu mbak,”jawab saya kemudian.

“Saya dulu juga pakai jilbab mbak. Dari kecil malahan. Tapi begitu SMP kenal SOLO saya langsung ndugal,” ujarnya.

Untuk keseratus kalinya saya mengernyit dan kali ini ditambah melongo. 

“Kok bisa Mbak?” Tanya saya dengan nada yang saya usahakan terdengar biasa saja. Meskipun saya itu penasaran dengan ceritanya.

“Iya Mbak, SMP kelas dua, saya kos sama ibu di Solo. Terus lingkungan saya nggak pada pakai jilbab, terus saya kenal sama orang Ngeluh~nama sebuah desa~, saya kenal facebook, dan saya mulai kenal ‘ngombe’. Ya sudah mbak, saya jadi ndugal,” ujarnya dengan irama yang terdengar sangat santai seperti Anggun ketika sedang iklan pantene. Duhhh.

“Terus apa tanggapan orang tua mbak? Kecewakah?” Tanya saya antara prihatin, kasihan dan penasaran

“Wong tuo ku itu nyantai kok Mbak. Mereka Cuma pesen, jangan hamil aja!”

Ha?  Saya tak bisa menahan diri untuk tidak melongo, plus mulut yang sedikit ternganga saking  tak mengira saja dengan jawabannya. 

“ Cuma gitu mbak tanggapan mereka?” Tanya saya heran.
Orang dihadapan saya menggangguk sembari tersenyum sangat renyah. 

“Tau nggak mbak, tadi aku ke sini itu naik kereta, dan aku kelaparan sekali karna sejak saya naik kereta aku belum makan.” Ceritanya lagi. Hemm, bakal lanjut obrolan lagi nih.

“Apa nggak ada penjual makanan mbak?” Tanya saya masih saja berminat menanggapi.
“Hahaha, Mbak, Mbak, saya itu pulang kabur! Temen saya yang bantuin kabur. Dia kasian ngeliat saya nggak digaji. Dia bayarin kereta saya. Tapi saya pulang nggak bawa uang sepeserpun.”

Saya menelan ludah. Seorang perempuan berambut merah, berkaos hitam, cukup cantik namun kesan “nakal” memang lumayan kuat hadir darinya.  Tanpa beban ia bercerita. Tak ada sedikit pun sorot kesedihan. Padahal saya yang mendengarnya bisa begitu merasa prihatin.

“Akhirnya tadi saya ngejual MMC saya mbak. 2 giga.” Ceritanya lagi.

“Hah??? MMC udah kepakai dijual, Mbak? Emang laku?” Tanya saya.

“Hahahaha” ia tertawa lagi.

“Iya Mbak. Laku 45 ribu,”

“Hah??? Jual dimana, Mbak? Wah, dihargai mahal itu,”

“Wkwkwkwk. Apa iya, Mbak? Emang biasanya pasarannya berapa?” tanyanya ingin tahu.

“Baru aja, kadang 30, kadang 35 ribu,” saya mengingat-ingat lagi MMC yang beberapa waktu sebelumnya saya beli.

“Wow, hahaha. Mungkin Masnya yang jual suka sama saya, Mbak. Kalau nggak, mungkin dia kasihan.” Perasaan saya campur aduk. Antara merasa prihatin tapi juga merasa pengin ngakak.

“Habis tak jual, tadi uange aku pakai buat beli makan, Mbak! Sisanya, aku pakai buat naik bus ini. Eh, tapi, kalau sama kernetnya ini to, Mbak, saya nggak mungkin bayar,” jelasnya lagi.

“Kok gitu? Kenapa?” Nah loh, saya menanggapi lagi. Bakalan panjang lagi ini obrolan.

“Dia suka Mbak, sama saya,” Glekk. Wealah, Mbaknya ini kok ya pedhe sekali.
“Padahal tahu nggak, dia itu udah punya istri lho, Mbak. Hahaha” Gadis di depan saya mendadak ngakak lagi. Tapi kali ini ia bikin saya begitu merinding. Ia bercerita, tergelak tawa, sambil kemudian mengerling pada kernet yang ada di pinggiran pintu bus. Si kernet tersenyum malu, sedikit salah tingkah. Mungkin nggak enak karna mata saya juga memandang ke arahnya. Tapi sadar dia ngerasa nggak enak, saya buru-buru membuang pandang.

“Kok Mbaknya bisa tahu dia udah punya istri?”

Aida elu kepo banget sih!!! Duhh, saya nggak bisa tahan untuk tak bertanya.

“Hahaha, tau lah. Aku kan dulu sering main ke pangkalan bus ini.” Jelasnya. Saya membulatkan bibir.

“Mbaknya udah punya pacar?” tanyanya mendadak bikin saya gelagapan. Yah, kok gentian saya yang ditanya.
Saya menggeleng.

“Hahaha, masak sih, Mbak? Aku nggak percaya,” komentarnya.

“Mbaknya udah pernah punya pacar?” tanyanya lagi. Weleh, pertanyannya. Giliran saya kini yang terkikik. Dan saya menggeleng lagi.

“HAHHHH???” mukanya shock berat.

“Masak sih, Mbak? Kok bisa? Mbaknya usia berapa sih?” kini ia yang melongo.

“((Menyebut angka))” jawab saya sambil tersenyum.

“((Menyebut angka)) belum pernah pacaran?”

Giliran saya yang ketawa. “Emang Mbaknya usia berapa?” Tanya saya balik.

“14 tahun, Mbak” jawabnya.

Glodak… Saya melongo kembali. Kali ini mungkin expresi tershock saya. Saya nggak percaya. Perempuan di depan saya itu bongsor sekali tubuhnya. Ia lebih tinggi dari saya, dan dia lebih berisi dari saya, masak masih 14 tahun??Yang bener aja??? Apalagi dari ceritanya yang panjang lebar tadi, masak ia masih begitu belia?

“Beneran, Mbak! Badanku emang bongsor,” Ia seolah bisa membaca pikiran saya.

“Aku itu, Mbak, pacarku itu banyak. Tapi satu yang benar-benar aku suka. Ya orang ‘Ngeluh’ itu tadi.” Jelasnya. “Sejak kenal orang ‘Ngeluh’ iku, aku nggak sekolah, Mbak,”

Kembali ada nada sedih dalam ucapannya. “Kenapa Mbak?”

“Hahaha, ya Pokoknya, Mbak,” jawabnya dengan tatapan mata menghindar. Hem baiklah. Untuk yang satu ini, tampaknya lukanya terlalu dalam. Makanya ia enggan bercerita. Hening sejenak

 “Aku pingin nikah, Mbak!”  katanya tiba-tiba dengan nada yang saya yakin itu tulus.

“Owh,” saya jadi bingung mau ngomong apa. “Ya sudah, kalau pingin, nikah saja,” kata saya  akhirnya..

“Hahahaha,” Gadis itu tertawa lagi. Saya jadi menduga, tawa ringannya dari tadi adalah usaha untuk mengusir kegalauannya.

“Pingin sih, Mbak. Sebenernya dia udah cukup umur. Udah 18 tahun. Tapi aku kan belum!"

Owh iya, syarat nikah menurut Negara harus punya KTP dulu kan ya?

Baru saja gadis itu bercerita begitu. Tiba-tiba gadis itu sudah mengerling pada si kernet. Seolah lupa kalau barusan expresi sedihnya begitu dalam membahas pacarnya. Si kernet datang ke arah kita. Dan ia menggodai si gadis dengan kata basa-basi. Kali ini, kernet itu terlihat tak mempedulikan kehadiran saya. Duhh justru saya kini yang mendadak merasa nggak nyaman. Tapi untungnya, beberapa saat kemudian si kernet itu pergi.

“Mbak tau nggak, dia tadi habis ‘ngombe’” jelas Tini saat si kernet menjauh.

“Tau darimana?”

“Baunya, Mbak.Hahaha” jelasnya.  Saya mengangguk. Memang tadi saya sempet mencium bau cukup menyengak.

Hemh… saya kemudian diam. Mbak-mbak di samping saya juga kemudian Nampak lelah kebanyakan cerita.

Orang di samping saya ini udah tau si kernet udah merid, kenapa godaan si kernet ia tanggapi dengan godaan yang menggoda pula? Tapi bukan hak saya untuk menghakimi. Tiap orang punya latar belakang pastinya untuk setiap tingkah polahnya. Entahlah, yang pasti pertemuan dengan si Tini ini sangat membuat saya banyak-banyak bersyukur. Bagaimanapun saya jauh lebih beruntung dibandingkan perempuan itu. Usia 14 tahun saya masih nongkrongin TV saat hari minggu tiba. Nungguin Tokyo Mew-Mew, Dr. Rin, serta aneka rupa anime yang lain. Biarpun keluarga saya bukan orang kaya, tapi di usia itu saya punya kehidupan wajar sebagai anak sekolah. Anak SMP yang walaupun sebenarnya sudah banyak masalah macam-macam, tapi motivasi untuk fokus memikirkan sekolah masih saya dapat dari keluarga saya.

Dalam perjalanan dengan Bus menuju Wonogiri Allah menegur saya lewat kehadiran Tini. Sudah seharusnyalah saya memperbaiki segala sikap saya yang kadang sering complain tentang kehidupan
Istighfar…

Related Posts

rasa syukur
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

1 comments:

Tulis comments
avatar
11 April, 2015 07:59

smngt maak
@guru5seni8
http://hatidanpikiranjernih.blogspot.com

Reply

Punya pengalaman mirip? Ada Pertanyaan? Atau malah pengen curhat? Silahkan tinggalkan komentar kalau ada :)
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)