Friday, August 22, 2014

17 Agustusan di Pantai Klayar - Banyu Tibo - Kijingan : Segores catatan harian

Antara  ya dan tidak, jawaban itu masih menggantung dan begitu saya ragukan hingga setengah jam menjelang keberangkatan.

Hari itu, 16 Agustus 2014 adalah hari dimana saya dan teman-teman kampus harus berangkat ke pantai Klayar Pacitan-Jawa Timur. Acara yang sudah terencanakan jauh-jauh hari sebelumnya, rasanya sangat tak rela jika mesti dibatalkan. Namun, keraguan itu muncul lantaran secara kebetulan ayah masih sakit.

“Upacara… Upacara…” sebuah komentar yang saya post di facebook. Komentar yang saya sematkan manakala kawan saya update info seputar perkembangan rencana piknik. Sejak awal, saya memang sangat ingin melaksanakan upacara 17 Agustus di pinggir pantai. Dan kebetulan ide itu disambut antusias oleh temen-temen.

Seminggu menjelang keberangkatan, ayah malah mondok di salah satu rumah sakit di Jogja. Keraguan itu mendadak muncul. Mana mungkin saya nanti nekat liburan sementara ayah terkapar di rumah sakit. Mana jarak Jogja-Solo itu jauh pula.  Menarik nafas mencoba pasrah, okelah nggak usah ikut aja.

Pemberitahuan facebook lalu lalang muncul. Tapi tidak ada tanda-tanda yang mengabarkan bahwa piknik bakalan diundur.
 
Rasanya tuh, sakitnya di sini…..

Lebih sakit lagi, manakala baca komentar saya sendiri yang paling setia mengajak untuk upacara. Komentar itu begitu mengganggu, mengusik ketenangan hati, dan merobohkan ketentraman jiwa.  Huhu, masak iya, saya yang ngajakin upacara, saya duluan yang malah batal ikut.

 2 jam sebelum jam keberangkatan. Saya masih tetap ragu. Ayah memang sudah pulang setelah sebelumnya menjalani operasi. Beliau juga sudah ikhlas kalau saya mau ikutan piknik. Ijin sudah dikantongi. Meski masih ada perasaan tak tega, tapi saya benar-benar ingin pergi. 

2 jam menjelang keberangkatan, ada-ada saja godaan. Ada sebuah urusan bisnis yang mengharuskan saya ke Klaten. Sempat pesimis, bakalan bener-bener gagal nih.

Namun ternyata, urusan bisa kelar dalam waktu nggak ada sejam. Alhamdulillah….

Berkejaran dengan waktu, sampai kemudian seperempat jam sebelum seharusnya waktu keberangkatan, saya SMS teman saya yang bertindak sebagai EO nya acara untuk mau nungguin seperempat jam lagi. Dua huruf balasan SMS “O” dan “K”. Rasanya langsung bikin “clesss” ademm….

Semangat 45. Prepare mendadak dalam waktu seperempat jam. Karna nggak sempat beli barang maupun logistic apapun, akhirnya cuma mampir beli bakso bakar samping kos. Si penjual sempat shock saat saya langsung niat beli 25 tusuk. Pasalnya dia baru saja buka tenda dan barang masih berserakan di sana-sini.

“Nanti aja mbak, belum buka!” katanya.

Saya langsung menyahut “Mentahan aja kok pak, nggak usah dibakar! bumbu disendiriin!” sembari pasang muka memelas. Si Bapak pun menarik nafas kesal, meski tetap melayani pesanan saya. Hehe

Nyampai di tempat berkumpul, rupanya saya bukan jadi yang terkahir datang. Masih ada seorang teman yang belum juga muncul. Keberangkatan pun terpaksa mundur  1,5 jam dari rencana awal. 

“Niat kita kan mau liburan, tinggalkan semua masalah yang ada di sini!” ujar kawan saya sebelum berangkat. Yap, bener banget. Liburan itu ya liburan. Kalau kata Syahrini, kita harus “I’m feel free!”

Pukul 18.30  kita berangkat. Melalui  jalur Solo-Wonogiri-Batu-Pacitan kita akhirnya sampai di Pantai Klayar sekitar pukul 22.00. Gelapnya jalan saat melalui gunung pegat, serta jalanan di kecamatan Batu yang penuh batu, lubang dan tikungan memberikan kesan tersendiri buat kami. Hal-hal semacam inilah yang menjadi seni sebuah perjalanan. Semacam hidup lah, kalau lurus-lurus aja mana asik??? :D

Kami sempat berharap, karna hari sudah malam semoga nggak ada tarikan karcis. Kan lumayan bisa berhemat. Mental gratisa muncul...

Sayangnya kita musti kecewa. Tetep aja penjaga loket standbye. Huhuhu.


Sampai pantai, kami langsung mendirikan tenda. Lokasi tempat kami berkemah di atas bukit samping kanan Pantai Klayar. Berbekal pengetahuan pramuka seadanya kami saling bantu-membantu berbagi tugas. Ada yang mendirikan tenda, ada pula yang menyiapkan acara untuk api unggunan. Sekitar setengah jam kemudian tenda sudah berdiri tegak.

Persiapan bikin Api Unggun



Saya bagian pura-puranya bantuin bikin tenda :-D


Acara dilanjutkan bakaran jagung dan bakso. Suasana malam diiringi desiran nyanyian ombak serta tawa-tawa renyah penuh rasa senang, membuat selimut hawa dingin yang sebetulnya berhembus tak terasa lagi. Jagung dan Bakso dengan bumbunya yang seadanya  terasa nikmat menjejaki lidah. Malam itu, bintang-bintang di atas langitpun melihat syahdu ke arah kami.

Muka-muka kelaparan kawan-kawan saya yang sudah tak sabar menikmati bakso bakar





 Menjelang pukul 00.00 acara kami selanjutnya adalah kuis kejujuran. Dimana persyaratannya adalah “ketika teman saya menghentikan petikan gitarnya, maka botol yang diputar juga harus berhenti. Dan siapa yang pegang botol terakhir dia harus menjawab pertanyaan dari yang lain dengan jujur!”

Permainan dimulai. Kawan saya memulai memutar botolnya



Topik pertanyaan yang paling menarik tentu saja soal “cinta”. Jujur masalah hati itu memang selalu dinanti. Jawaban-jawaban tak terduga, banyak keluar dari mulut teman-teman saya. Tak terduga yang bikin mulut menganga, campuran antara shock, nggak nyangka, dan... lucu aja.

Saking serunya, waktu 2 jam berlalu  pun tak ada yang tahu. Tak ada yang sadar bahwa hari sudah menginjak pagi. Saya beruntung, karna pertanyaan yang menghampiri saya hanyalah pertanyaan tanggal lahir. Kalau itu mah, kecilll :-D

Menginjak pukul 2.00 banyak yang sudah mulai merasa lelah dan mengantuk. Akhirnya kami kembali ke tenda masing-masing. Beberapa anak laki-laki tiduran di luar, jaga tenda sambil gitaran.

Pukul 4.30 saya dan teman setenda saya terbangun. Melihat ke luar tenda, berharap ada sunrise muncul. Sayang, harapan tinggal harapan. Entah lokasi kami yang memang tidak strategis atau karna kabut, yang jelas kami tak melihat matahari. Semburat sinarnya pun tak nampak menggores kaki-kaki langit  pagi itu.

Ya, sudah. Pasrah. Saya dan dua teman saya lantas turun bukit untuk solat. Saat menuruni bukit itulah saya melihat hal yang sangat menyenangkan hati. Sang Dwi Warna, man… 

Sang Dwi Warna berkibar di sana. Di tepi pantai klayar. Otak langsung berputar. Kita bisa upacara di sana. Nggak perlu mikir mesti nyari dimana tiangnya. Karna yang jadi masalah utama adalah nyari dimana tiangnya. 

Selesai sholat, kembali menaiki bukit, saya memantau lagi. Sang saka sudah dibawa seseorang untuk berfoto di tepian karang. Harap-harap cemas, semoga itu bendera nggak lari kemana-mana.

Pikiran saya pagi itu hanya bendera, dan bendera. 

“Mbak gimana nanti upacaranya?” tanya seorang teman menambah kekhawatiran saya

Saya menjawab dengan tidak yakin “Di bawah sana ada bendera. Kita upacara di sana saja!”

“Hah??? Di sini saja. Nanti kalau di bawah banyak orang mbak. Kan malu,” kata yang lain.

Saya jelas nggak setuju. Kan lebih momentum kalau pas di bibir pantai.  Jadi kalau di foto itu pasir dan air laut bisa terlihat berpadu. Haiah…. :D

Tentu saja agar niatan itu terlaksana, saya harus pastikan bahwa bendera benar-benar bisa dipakai. Saya melongok lagi jauh ke bawah bukit. Kaget, karna bendera dan tiangnya sudah lenyap. Memutar-mutar pandangan mata mencari siapakah si penculik bendera. Tapi tak terlihat.

Tanpa sempat ngomong apa-apa ke yang lain saya langsung lari ke bawah mencari siapa gerangan dirinya yang mengambil bendera incaranku.

Terlihat diantara deretan mobil yang terparkir, beberapa orang laki-laki yang mungkin sekitaran usia kami menenteng bendera beserta tiangnya. Tanpa berpikir apapun langsung saya hampiri. Dalam otak saya hanya terpikir “Saya harus dapat bendera itu!”

“Mas, ini bendera yang tadi berdiri di sana?” Tanya saya sembari menuding ke arah pantai.
Laki-laki yang entah siapa namanya itu mengiyakan sembari memandang saya aneh. Pun kawan-kawannya.

“Mau dibawa kemana mas? Masnya mau upacara?” Tanya saya mencoba tidak peduli dengan pandangan-pandangan itu.

“Iya Mbak! Mbaknya mau ikut??” tanyanya.
Dengan semangat saya mengangguk.

“Tapi saya sama teman-teman saya mas.  Masnya mau nungguin?” tanya saya penuh harap.

“Boleh mbak, kalau rame-rame lebih asyik!” komentarnya

Maka diantara buncahan rasa lega yang luar bisaa besarnya, saya berlari lagi naik bukit untuk mengabarkan berita gembira itu ke teman-teman. Biar nafas tersenggal-senggal naik turun bukit, yang jelas, saya senang.  Kalau nebeng upacara begini kan nggak perlu mikir siapa yang jadi petugas, darimana dapat tiang bendera, serta hal-hal yang lain. Lagipula kalau banyak temannya kita jadi nggak perlu malu-malu lagi diliatin. ;-D

Sampai di atas, packingan barang-barang kita pas sudah selesai. Saya kabarkan berita yang menurut saya bahagia itu ke teman-teman. Langsung, mereka semangat buat turun. Dan dalam hitungan menit, upacara pun berlangsung. Rasanya saya benar-benar senang. :-D

Susunan acara memang hanya sedikit. Bukan upacara 17 agustus resmi yang kami adakan. Berbekal bendera yang sudah dikibarkan, acara upacara hanya terdiri dari menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hari Merdeka (17 Agustus 1945).

Berbaris rapi di tepian pantai klayar, mendengarkan pembawa acara membacakan susunan acara



“Kepada sang saka merah putih! Hormaaaattt…. Grak…” suara lantang sedikit cempreng mengalun dari kenalan baru kami itu. Serempak tangan-tangan terangkat. Mata tertuju pada sang saka. Diiringi deburan ombak, lagu Indonesia Raya berkumandang di tepi Pantai Klayar.

Secara spontan, entah dorongaan kuat darimana saya kok dengan pedenya maju ke depan dan langsung jadi dirigen dadakan. Hadeuh… saya sangat sangat malu mengingatnya. Sangat-sangat malu. Mana kekhidmatan terganggu gara-gara saat sampai reff instruksi tangan saya yang asal-asalan rupanya salah kaprah. Reff yang harusnya dua kali malah cuma jadi satu kali. Huhuhu… malu sob…

Tindakan spontanitas yang bikin saya malu. Huhuhu...

Bagian yang salah itupun terabadikan oleh teman saya. Malu sih sebenernya, tapi kenang-kenanganlah. Ini saya post di sini  videonya



Acara selanjutnya adalah menyanyikan lagu Hari Merdeka 17 Agustus. Di lagu kedua ini lancar jaya. Upacara ditutup dengan komandan upacara yang meneriakkan kata “Merdeka!” yang langsung serempak disambut kepalan tangan kami diiringi kata serupa

“Merdekaaaa!!!”

Benar-benar puas!
Saya sejenak memandang ke arah sang saka merah putih. Gerakannya mengalun pelan dibuai angin. Diantara kebahagian pagi itu, saya berdoa dalam hati “Ya Robb, suatu hari ijinkan kami mengikuti upacara pengibaran bendera merah putih, tidak hanya di negri ini.  Tapi di luar negri sana. Sebuah pengibaran bendera yang penuh semerbak harum  nama bangsa”

Amin….



Foto di Pantai Klayar sembari bawa MMT


Dari Pantai Klayar  jalan-jalan dilanjutkan menuju Pantai Banyu Tibo. Butuh waktu sekitar 15 menitan untuk menuju ke sana. Jarak yang cukup pendek untuk ditempuh.


Penampakan Banyu Tibo


Banyu Tibo, sebuah pantai yang memiliki air terjun. Untuk menikmati air terjunnya, kita harus turun ke bawah bukit dengan melalui tangga bambu yang dijaga petugas dari warga sekitar. Air terjun di sini adalah air tawar yang mengalir dari bukit di atas Banyu Tibo. Jadi di sini kita bisa melihat pertemuan antara air asin dan tawar.

Ketika kami di sana, ombak sedang gede-gedenya. Kami hanya bermain-main sebentar di sana. Oleh penjaga pantai, kami disarankan untuk ke Pantai Kijingan. Pantai yang tepat di sisi Banyu Tibo. Jadi di sekitar Pantai ini berjejer pula pantai lain. Di samping kiri Pantai Banyu Tibo ada Pantai Buyutan. Samping kanannya Pantai Kijingan. Di samping Pantai Kijingan ada Pantai Nampu.

Menuju Pantai Kijingan, kami melewati sisi pinggiran bukit. Jalan sempit, dengan sisi kiri berupa jurang. Namun itulah yang menarik, nyali adventure teruji di sini. Butuh beberapa menit berjalan.


Jalan menuju Pantai Kijingan



Pantai Kijingan memiliki hamparan pasir yang luas. Pantainya masih lumayan sepi, sehingga asyik sekali untuk bermain air.


Penampakan Pantai Kijingan saat perjalanan


Subhanallah…. Lukisan kuas Sang Maha Kuasa memang selalu indah.



Ada apa aja sih di sana???

Di Pantai Klayar, Kamu bakalan melihat 3 bagian dari sisi Pantai. Yang pertama adalah Pantai dengan hamparan pasir yang luas. Berlokasi di dekat tempat parkir, menjadikannya tempat paling ramai pengunjung. Di sini kita masih bisa bermain air.


Bagian kedua adalah bagian tengah. Jaraknya lumayan jauh, tapi kalau kamu malas berjalan kaki, di sana di sediakan semacam kendaraan bom-bom car, atau apalah namanya dengan ongkos sewa sekitar  Rp. 30.000. 


Penampakan kendaraan Pantai Klayar

Di tempat ini kamu bakalan melihat air laut yang menurut saya seperti ditampung. Karena di sini airnya seolah menggenang. Ombak diapit oleh dua buah batu karang besar. Menjadikan tinggi permukaan air lautnya lebih tinggi dari permukaan air laut yang lain. Horor kalau mau main air di sini. Karena deras ombak cukup besar. Dan saran saya jangan coba-coba main air di sini. Karena sudah banyak memakan korban.




Tempat ketiga adalah Seruling Samudra. Tempat ini ada di balik bukit-bukit karang. Untuk menuju lokasi ini perlu hati-hati. Bebatuan yang ada begitu licin. Tempat ini dinamakan seruling samudra lantaran ada bagian dari batu karang yang berlubang. Yang ketika ombak besar datang dan melewati bagian bawahnya, maka akan keluar air mancur yang menyembur, yang terkadang diikuti pula suara khas. Sayangnya waktu yang terbatas membuat kami tidak sempat mampir kemari.



Karena kami tidak sempat kemari, maka berikut saya tampilkan dokumentasi saya beberapa bulan lalu untuk memberikan gambaran bagaimana pemandangan dari seruling samudra

terdapat karang-karang besar

Ini dia semburan air yang dimaksud, yang bisa mengeluarkan suara khas

Narsis sebentar lah...


Di Pantai Banyu Tibo

ada semacam kolam air tawar yang dihuni beberapa ikan. Terdapat pula aliran air tawar yang mengalir langsung menuju ke bawah. Nama Banyu Tibo mungkin berasal dari sini. Banyu Tibo yang berarti air jatuh, mungkin sengaja diambil karena air tawar itu jatuh ke bagian bawah bukit. Dimana di bawah bukit itu terdapat sedikit hamparan pasir putih. Khasnya Banyu Tibo itu ya di sini, air terjun pantai.
Banyu Tibo filihat dari patkiran

Pantai Kijingan, yang membuatnya menarik adalah sepinya pantai dan luasnya pasir putih. Kata penjaga toilet yang saya tanyai, Pantai Kijingan menjadi tempat alternative yang disarankan ketika deras ombak di Banyu Tibo besar.


Pose Ala Meteor Garden di pantai kijingan


Di pantai Kijingan kita merasa sangat betah. Main air, foto-foto, serasa menjadi seorang anak kecil yang tidak pernah punya masalah.
Hawa Pantai selalu terasa segar. Sesegar Liang The Cap Panda, yang mampu menyegarkan ketika kita mengalami panas dalam.


Pura-puranya lagi mancing putri duyumg


Habis Berapa???

Menuju Pantai Klayar kita nggak perlu bayar mahal. Ongkos tiketnya murah. Parkir masuk per mobil @Rp 2.000. Tiket masuk per orang @Rp. 3.000…

Murah banget kan???




Jalan-jalan itu memang selalu menyenangkan. Hari itu menjadi hari perayaan kami menyambut 17 Agustus, sekaligus menjadi  hari perayaan atas ujian semester genap yang telah berakhir....


sejenak saya ingin menyanyikan bait reffnya project pop

Jika tua nantikita tlah hidup masing-masingIngatlah hari ini....


Narsis dulu diantara hamparan pasir


Andaikan... Aku punya sayap, ku kan terbang jauh, mengelilingi angkasa







Ikuti alunannya kawan
Nyanyian ombak...
desau suara angin  
menerbangkan butir-butir pasir
Biarkan, biarkan sejenak
Angin menerbangkan segala gundah
segala resah...
dan biarkan kita melompat
nampak gila berusaha meraih langit dengan cepat
kita hanya anak muda
yang berusaha bersama,
membunuh waktu dengan rekaman-rekaman kenangan indah
mencari arti, berusaha bersama
saling memberi makna






Niatnya sih salto....
Ujung-ujungnya ngluarin kekuatan kamehame buat nerbangin pasir :-)

dua kawan saya yang sedikit aneh. Punya obsesi besar jadi pelukis pasir. Tapi ujungnya cuma bisa bikin gambar kotak yang katanya "layar lcd"

Narsis diantara guyuran Air banyu tibo


Awalnya sih pada gotong royong bikin lubang

Akhirnya, tetap salah satu harus jadi korban... :-D






Narsis itu, wajib








Emang sih, pantai itu, pas kalau dipakai buat foto pre wedding. Hahahaha

NB* foto-foto di atas bukan prewed beneran. Hanya teman yang ingin foto barengan 

Satu hal yang kurang yang kami bawa hari itu, yakni Liang Teh Cap Panda. Saya yang saat itu lagi sedikit mengalami gangguan tenggorokan, merasa menyesal sekali melupakan satu produk yang ampuh redakan panas dalam itu ketika ke pantai kemarin.

Tapi habis dari pantai, di kampus, saya dan teman-teman langsung menikmati Liang Teh Cap Panda. Rasanya Clesss... enak dan bikin segar. Selain mengobati panas dalam juga dapat meningkatkan kekebalan tubuh







Sedia Liang Teh Cap Panda di segala suasana



Specially Thanks for:
-Allah SWT yang sudah melancarkan segalanya
-Para orang tua yang udah ngijinin :-D
-Sobatku Faizatun Naim yang sudah suport dalam banyak hal :-D
-Pastinya Kawan-kawan TI S1 STMIK Sinar Nusantara dan anak2 D3 MI sori guys kalau ada tulisan di sini yang kurang berkenan.
ya
-Semua panitia, terutama koordinator yang sudah merelakan waktu tidurnya, usaha dan seluruh tenaganya untuk menjaga tenda dan senantiasa memastikan segalanya berjalan lancar. Maaf ya membuat kalian repot
-Liang Teh Cap Panda yang udah bikin tenggorokan saya seger lagi dan udah ngadain Blog Contest
-Mas-Masnya yang lupa saya tanya namanya. yang udah ngijinin kita ngikut upacaranya
-Bapak penjual bakso, tukang parkir, penjaga warung, dan mungkin pihak-pihak yang luput saya sebut di sini.

Dan rasanya, saya perlu mengutip rincian ucapan terima kasih kepada teman-teman saya yang ditulis oleh kawan saya... ucapan yang menurut saya juga perlu saya ucapkan



Thx guys... tanpa kalian catatan ini nggak kan pernah ada


Kalau menang dapet hadiah, Alhamdulillah. Kalau nggak menang, setidaknya ada segores catatan yang bisa dikenang, dibaca-baca dan mungkin jadi refrensi, atau mungkin inspirasi

Akhir kata, saya tunggu komennya :-D






Related Posts

17 Agustusan di Pantai Klayar - Banyu Tibo - Kijingan : Segores catatan harian
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

40 comments

Tulis comments
avatar
22 August, 2014 22:03

jozz,,, next vacation pastinya bakal lebih....
AMAZING :)

Reply
avatar
23 August, 2014 05:52

Zuperrr zekaeee... perjalanan panjang yang menyenangkan... & tetap cinta negeri INDONESIA .Ruarr Biazaaa..

Reply
avatar
23 August, 2014 12:19

JOSS GANDOS ceritanya. SERUU!!!

Reply
avatar
24 August, 2014 05:46

Sip,,, terima kasih sudah mampir :-D

Reply
avatar
26 August, 2014 07:44

jossss... hehehe

aku juga buat tulisan ini mbk tapi masih di draft blm dipublish,,,
nunggu foto upload'an lengkap dulu :v

Reply
avatar
26 August, 2014 15:56

heboh beneran euy... air terjunnya juga unik.. mantap dah http://fxmuchtar.blogspot.com/2014/08/serasa-memiliki-pantai-pribadi-di-liang.html?showComment=1409043221012#c4112654454137735275

Reply
avatar
26 August, 2014 21:24

Hehe... Trima kasih sdh mampir :-D

Reply
avatar
26 August, 2014 21:29

:-) sip,,, ditunggu tom tulisanmu. Ditunggu jg uplod fotone..
Ikutin lomba sekalian aja :-D

Reply
avatar
26 August, 2014 21:34

Sip... Pastinya harus ngikut pk. Sedeng dedek bayi gede :-D

Reply
avatar
26 August, 2014 21:35

Hehe,,, merdeka!! Merdeka!!

Reply
avatar
27 August, 2014 04:50

keren Mbak... Pantai Indonesia memang keren2 abis..

Reply
avatar
27 August, 2014 07:44

Seru juga ya upacara di pantai, belum pernah soalnya hihi

Reply
avatar
27 August, 2014 07:45

:-D amin... terima kasih sdah mampir

Reply
avatar
27 August, 2014 08:21

pantainya keren banget,,,http://tweetysaya.blogspot.com/

Reply
avatar
27 August, 2014 13:26

Aih..banyak banget foto2nya..dari 17-an di pantai sampe ada semburan air ya.....Seru ya rame2 ke pantai...

Reply
avatar
27 August, 2014 14:27

seru banget wisata pantainya mbak. goodluck ya

Reply
avatar
27 August, 2014 18:19

speechless baca note ini.lebih tepatnya di bagian "specially thanks for" ^_^

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu,maka berjalanlah di segala penjurunya (QS.Al mulk)

yuuuuuuuuuukkk jalan jalan lagi,aku ikutttt #gagalfokus

Reply
avatar
27 August, 2014 21:34

weeeee 17an di panti. mantepppp! :D

Reply
avatar
28 August, 2014 00:46

Iya mb diba. Indonesia memang luar biasa

Reply
avatar
28 August, 2014 00:51

Ini pengalaman baru jg mb

Reply
avatar
28 August, 2014 01:00

Hehe. Iya. Makasih udah mampir :-D

Reply
avatar
28 August, 2014 01:27

Iya... Makasih sudah mampir

Reply
avatar
28 August, 2014 01:34

Hehe. Iya mb . makasih kunjungannya

Reply
avatar
29 August, 2014 15:29

:-) trima kasih kunjungannya

Reply
avatar
29 August, 2014 16:26

Nice posting gan, inspiratif juga. Visit balik blog saya juga ya http://tirtamhd.blogspot.com/2014/07/touring-3-bersama-kawan-ke-pantai.html:)

Reply
avatar
01 September, 2014 12:03

Cakep ya pantainya.....
Pengen kesana...

Reply
avatar
02 September, 2014 14:57

Wouuu, gak hanya pantainya yg super keren. Ulasannya juga komplit dan bikin org mupeng utk ke pantai klayar banyu

Reply
avatar
02 September, 2014 15:16

iyaaaa. makasih ya sudah mampir....

Reply
avatar
08 October, 2014 17:57

asik tuh kayaknya rame-rame pantainya juga indah tapi satu yang nggak banget pulang dari pantai wajah jadi kusem perlu perawatan

Reply

Punya pengalaman mirip? Ada Pertanyaan? Atau malah pengen curhat? Silahkan tinggalkan komentar kalau ada :)
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)