Friday, December 15, 2017

d'Season Premiere Jepara, Hotel Nyaman Dekat Pantai Bandengan

Sederhana dari luar, namun ternyata, menyimpan kecantikan di dalam. Itulah sepenggal kalimat yang saya pikirkan kala kaki melangkah ke luar kamar, lantas berjalan menyusur area samping kolam Hotel d’season Jepara.



dseason premiere hotel jepara


Jika hanya melihat hotel ini dari luar, mungkin saya tak akan mengira, jika ternyata Hotel d’Season Premiere merupakaan sebuah resort yang dilengkapi dengan kolam renang, serta private beach. Tampilan luarnya begitu sederhana, hanya terlihat sebagai penginapan biasa bertingkat dua. Kemewahan baru terasa saat memasuki kamar, dan semakin terasa kala melintas di samping kolam lalu membuang pandang ke arah laut.



Penampakan suasana Hotel Dseason dari salah satu kamar

Pasir putih terlihat diujung sesudah kolam, diapit rerumputan yang tertata rapi di kiri kanannya. Di atas rerumputan hijau itu, pohon-pohon kelapa terlihat cantik. Berdiri dengan jajaran berurutan. Di ujung pantai, ombak terlihat nyaris tak pernah bergulung, memberi hawa tenang khas lautan Jepara. Ketenangan perairan yang berbeda jauh dengan laut kidul.

d'Season hotel dilengkapi dengan tempat-tempat berjemur menghadap laut, serta sebuah ayunan untuk tamu bersantai. Tempat ini, sungguh cocok bagi orang-orang yang hendak mencari damai saat liburan.



Dua kali saya berkesempatan menginap di Dseason Premiere dalam rangka acara yang berbeda. Walau begitu, dari kesemua-semuanya, saya memiliki kesimpulan yang sama: cukup puas menginap di d'Season Hotel. Pelayannannya yang ramah, ditunjang fasilitas kamar yang ciamik, terutama kamar saya, yang di kunjungan pertama adalah kamar yang menghadap laut, adalah alasan saya berpendapat demikian. 





Melakukan tur hotel di Dseason Premiere, makin meyakinkan saya, bahwa hotel ini kece luar biasa. 

Ada beberapa fasilitas di Hotel ini seperti tempat fitnes, tempat spa, maupun sauna.


tempat spa jepara
lokasi spa

tempat sauna

Hotel Dseason Premiere Jepara memiliki beberapa tipe kamar, yaitu: businese room, executive room, junior suite serta d'Season Family Suite. Kamar yang paling jadi idola saya adalah kamar yang lokasinya di lantai dua, pas di tengah bangunan yang berbentuk U. Dari sini saya bisa dengan mudah memandang lepas ke pantai, maupun ke kolam renang. Cihui banget pokoknya.

Baca Juga




Lokasi d'Season Premiere Hotel sendiri cukup strategis. Hanya kisaran 15 menit dari Pantai Bandengan bila berjalan kaki. Sehingga hotel d’Season Jepara bisa dijadikan pilihan menginap saat mencari hotel yang dekat Pantai Bandengan.


kamar dseason hotel
Salah satu kamar dseason yang menghadap kolam


Berapa Tarif Menginap Di d'Season Hotel?

Apabila datang ke Jepara, Hotel d'season Premiere mungkin bisa menjadi rekomendasi. Saat kesana saya baru tahu bahwa Hotel ini rupanya juga memiliki beberapa cabang yakni di: Karimunjawa, serta Surabaya. Untuk tarif menginap di d'Season sendiri kisaran harga mulai 600.000 per malam. Tarif ini mungkin sedikit berbeda dengan ketika memesan menggunakan aplikasi-aplikasi traveling yang rata-rata harganya lebih murah.

Senja d d'Season Jepara



Hotel d’Season Jepara momen cantiknya semakin memancar saat mentari mulai kembali ke peraduan. Saya beruntung mendapat kamar yang langsung menghadap laut ketika kunjungan saya yang pertama. Dari kamar saya, pemandangan senja terlihat molek, hingga saya dan rekan sekamar saya enggan beranjak. Kami malas keluar kamar lantaran dari jendela yang seluruhnya terbuat dari kaca kami bisa melihat pemandangan itu dengan jelas. Yeah, kami berdua hanya duduk santai di kasur twin bed masing-masing, sembari membuka laptop menyelesaikan pekerjaan kami sendiri-sendiri. Sesekali disambi bertukar cerita, sesekali sembari melepaar pandang ke arah luar. Yeahh

“tak ada yang bisa mengkhianati indahnya senja”
Alamat D'season Jepara:
Jl. Pariwisata No.9, Bandengan, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412
Telepon: (0291) 7519888





Wednesday, November 29, 2017

Museum Karst, Si Cantik Yang Kemarin Terendam

Hujan yang mengguyur Wonogiri  sejak 27 November 2017 berdampak buruk pada salah satu Objek Wisata Wonogiri yakni Museum Kars. Museum yang konon merupakan museum karst terbesar se Asean ini, Selasa kemarin tergenang air. Berita Museum Kars yang banjir cukup viral, terbukti dari menyebarnya informasi kondisi Museum Karst kebanjiran di berbagai grup WAG dan linimasa media sosial saya.





Sebuah pertanyaan tentang bagaimana bisa Museum Karst kebanjiran yang diajukan seorang teman, sejatiya juga menggelayuti benak. Iya sih, lokasi Museum berada di cekungan, tapi bangunan Museum sendiri sudah ditinggikan. 


museum kars wonogiri
Museum Karst sebelum kebanjiran




Rasa penasaran itu juga menjadi bahan diskusi seru dengan adik lewat catingan WA kemarin. Jika Museum Karst Wonogiri sampai kebanjiran, itu berarti warung-warung di sana juga terendam? Lawong posisi museum sendiri sudah tinggi, sementara warung berada di bawah. Ya, walaupun warung-warung disana non permanen sih. Tapi kan tetep kasihan. Dan itu berarti, volume air di sana sangat-sangat tinggi. Museum yang sudah ditinggikan saja terendam.


Pagi hari, saya sampai membuat gambar analisa tak penting, tentang bagaimana itu terjadi, saking masih tak percaya kalau Museum Karst kebanjiran.


museum kars



Pada akhirnya berita video yang baru muncul saat hari mulai siang, membuktikan kenyataan bahwa benar, Museum Karst Pracimantoro Wonogiri kebanjiran. Dari situ baru saya benar-benar percaya.


Tak terbayang seperti apa kondisi Museum Karst nanti kalau sudah surut. Banyak peralatan di sana merupakan barang-barang elektronik, panel-panel edukasi dan ragam replika serta miniatur yang bercerita tentang karst dan kedupan masyarakat di daerah karst sejak era nenek moyang. Apalagi, Museum Karst memiliki 3 lantai, dimana lantai bawahnya memiliki isian yang cukup banyak karena memang menjadi lokasi kunjungan wisatawan.


Berita dari Timlo menyebutkan, banjir yang melanda Museum Karst ini merupakan luapan sungai dari 3 desa yang semuanya bermuara di satu luweng di dalam Goa. Luapan sungai yang berlebihan, membuat luweng tak sanggup menampung debit air. Karena itulah banjir di Museum Karst Wonogiri terjadi.


Tak jauh dari lokasi Museum, memang ada sebuah Goa yang disebut Goa Sodong, Goa yang memiliki sumber mata air yang hingga sebelum banjir masih digunakan sebagai tempat mandi warga inilah, muara dari air-air itu. 

Apa sih Museum Karst?

Mungkin yang belum tahu, jadi museum Karst ini adalah museum yang dibuat dengan tujuan pelestarian, konservasi kawasan kars, meningkatkan apresiasi masyarakat mengenai kawasan kars, meningkatkan potensi geologi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.



museum karst sebelum banjir










Museum ini difungsikan sebagai sarana penyebarluasan informasi tentang kawasan Kars Indonesia dan dunia. So bakalan ada banyak hal seputar Kars ketika kita masuk ke dalam


Proses terbentuknya karst, jenis-jenis karst di berbagai belahan dunia, bentuk-bentuk karst, dan pemanfaatan Karst dari jaman prasejarah dijelaskan secara apik melalui gambar, peraga, miniatur, dan peralatan audio visual di sana. 




Objek wisata Museum Karst juga dikelilingi dengan banyak Goa-goa di sekitarnya. Ada 7 macam Goa. Goa Tembus, yang bisa ditemui di dekat lokasi membayar tiket masuk kawasan karst, Goa Sodong, Goa mrico, Potro-Bunder, Gilap,Sapen dan Sonya Ruri.

Selain Goa, dulu sewaktu awal pembangunan, sempat terdengar kabar akan dibangun tempat peribadatan 5 agama di sini. Hingga kini, setahu saya yang sudah ada baru mushola, serta sebuah pura yang dibangun di posisi cukup tinggi di atas goa Sodong.

Yang paling menarik adalah, untuk masuk ke Museum Karst selama ini gratis. Pengunjung hanya membayar tiket masuk kawasan Karst sebesar: terakhir saya kesana 2016, hanya Rp. 3.000

Baca Juga




Hingga tulisan ini saya buat, hujan di Wonogiri tak jua reda (29-11-2017: 01.51). Yah, dan sepertinya ini juga senada dengan wilayah Pacitan serta Gunung Kidul yang juga mengalami kondisi serupa, efek dari Siklon Tropis Cempaka kata para orang pinter.


Ada satu status kece dari seorang teman fb:


Bumi sehari dimandikan

Matahari seperti disembunyikan.

Lalu penjual es seakan kehilangan pelanggan
Sementara abang tukang bakso kebanjiran orderan
Lantas kau pingin menyalahkan keadaan?
Jangan!
---@yusufcahyono----

Yah, apapun yang terjadi, percaya saja ada hikmah dari setiap kejadian, entah nanti atau entah sekarang, entah besuk. Keep positiv thinking. 


Semoga hujan segera berhenti,



***update: hujan sudah berhenti sekitr pukul 7.00


Lantas seperti apa museum karst sebelum banjir?
Ini videonya:

Tuesday, November 21, 2017

Klenteng Cu An Kiong, Rumah Candu, Juga Batik Lasem, 3 Wisata Lasem Yang Tak Boleh Terlewat

Lasem, adalah salah satu daerah di Rembang yang mendapat julukan Tiongkok kecil. Julukan yang erat kaitannya dengan keberadaan Lasem yang diyakini sebagai awal mula masuknya etnis Cina ke Jawa yang dipimpin oleh Laksamana Chengho. Wisata Lasem mungkin belum terlalu bergaung namanya. Bahkan beberapa ada yang menyebut Lasem sebagai kota tua yang terlupakan lantaran daerah ini tak banyak orang yang tahu.


Mendatangi Lasem, kesan pertama saya adalah sunyi. Tak banyak lalu lalang kendaraan. Beberapa rumah dengan pagar-pagar tembok bergaya cina terlihat kusam,  tak terawat seperti tak berpenghuni, seolah daerah ini daerah kuno yang sudah lama ditinggalkan


Lasem sebagai kota tua penuh sejarah, menawarkan beberapa peninggalan sejarah yang menarik sebetulnya.  Ada beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi kala datang ke Lasem Rembang yang sayang kalau sampai terlewatkan

1. Klenteng Cu An Kiong

klenteng cu an kiong lasem


Tempat Wisata Lasem yang pertama adalah Klenteng Cu An Kiong.

Beberapa sumber menyebutkan, Cina datang ke Indonesia dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah rombongan Laksamana Chengho, yang merupakan seorang Muslim Cina. Namun di kedatangan Cina selanjutnya, ialah rombongan Cina yang berpaham Konfusianisme. Sehingga tak heran jika Lasem juga memiliki beberapa bangunan klenteng.

Klenteng Cu An Kiong, merupakan klenteng tertua di Lasem, dan bahkan tertua di Jawa. Arti Cu an Kiong sendiri adalah “Temple of Mercy and Peace” Di Klenteng ini terdapat beberapa lukisan  tembok yang sudah berusia cukup lama setara dengan usia bangunan. Salah satunya adalah lukisan tentang 36 jenderal langit.

Saya tidak mengerti tentang arsitektur klenteng Cina. Tapi secara keseluruhan klenteng ini mirip dengan klenteng-klenteng lain. Berwarna khas merah, berhias patung, memiliki altar, dihias banyak lampion-lampion, terdapat kotak ramalan, serta terdapat ornamen-ornamen Cina di sana sini. Saya yang awam, hanya bisa menilai sebatas klenteng ini memiliki perbedaan dengan klenteng-klenteng yang pernah saya lihat dari sisi gapura serta ornamen gentingnya. Jika dibandingkan Sam Po Kong, ataupun klenteng di Pasar Gede, klenteng ini menurut saya lebih berkesan Cina klasik. Lantaran bentuk Gapura serta patung jendral langit yang menghiasinya mengingatkan saya dengan film-film silat Cina


2. Rumah Candu Atau Rumah Opium Rembang

Wisata Lasem Rembang
Gerbang Samping Lawang Ombo

Ketika peristiwa geger pecinan terjadi, banyak orang-orang Cina yang diusir dari Batavia. Mereka yang terusir, kemudian berlari ke beberapa tempat, salah satunya adalah ke Lasem, dimana kebanyakan saudara-saudara mereka lebih dulu tinggal. Hal ini berdampak pada semakin pesatnya perdagangan di kawasan Pelabuhan Lasem, yakni di depan Kelenteng Cu An Kiong. 

Majunya jalur perdagangan di Lasem, ikut pula berdampak pada majunya beberapa pebisnis opium.

Tak jauh dari Klenteng Cu An Kiong, terdapat sebuah tempat yang berjuluk Rumah Opium. Sebuah rumah berpagar tembok dengan dua pintu masuk di bagian depan dan samping.

wisata lawang ombo herritage lasem
lubang tempat penyelundupan


“Lawang Ombo Herritage” sebuah identitas yang terpasang di pintu samping rumah Opium. Tempat ini dulunya digunakan sebagai tempat penyelundupan opium oleh beberapa etnis Cina. Di dalam rumah tersebut terdapat sebuah lubang yang nampak kecil, dengan kedalaman sekitar 3,5 meter yang menghubungkan rumah dengan pelabuhan. Lubang inilah yang digunakan sebagai tempat menyelundupkan opium dari pelabuhan agar tidak diketahui oleh Belanda. Menurut cerita salah satu tur guide di sana, bahkan lubang tersebut juga menghubungkan pula dengan rumah-rumah lain yang juga sama-sama berbisnis opium.

Kini Rumah Opium sudah tak berpenghuni dan lebih digunakan sebagai jujugan bagi yang ingin mendatangi wisata Lasem. Hanya saja, salah satu keturunan pemilik rumah masih sering beberapa kali menilik ke dalam rumah tersebut.

Pemilik Rumah Opium yang sekarang

3. Batik Lasem

lasem batik

Jika Solo memiliki Kauman ataupun Laweyan sebagai pusatnya batik, maka Rembang memiliki Lasem. 

Batik Lasem dalam sejarahnya sudah terkenal sejak abad ke 13 di era Majapahit. Tetapi sebenarnya, batikLasem sudah ada sejak sebelum abad 13. Keberadaan Batik Lasem sangat dipengaruhi oleh kebudayaan China. Saat era pendaratan Laksamana Cheng Ho, sebagian armadanya menetap dan tinggal di Lasem. Salah satunya adalah Binang Un. Istrinya menjalin keakraban dengan warga sekitar, karena itulah motif-motif batik erat kaitannya dengan budaya cina.

Beberapa motif batik Lasem yang mencerminkan kebudayaan cina, adalah adanya gambar Burung Hong, naga, ataupun bunga teratai. Motif yang paling terkenal dari Batik Lasem adalah motif pesisiran. Dari sisi warna, Warna batik Lasem yang terkenal adalah abang getih pitik atau merah darah ayam. Bukan berarti warna merah batik Lasem dari darah ayam. Namun abang getih pitik ini menunjukkan bahwa warna merah pada batik Lasem lebih berkesan berani. Warnanya juga berbeda, hanya dimiliki oleh Batik khas Lasem.

Warna getih ayam ini, konon dikarenakan karena pewarna yang digunakan bercampur dengan mineral air Lasem. Tetapi sebenarnya, hal ini karena teknik pembuatan warna yang digunakan berbeda. Batik Lasem mempunyai kecenderungan motif yang ramai. Seperti banyaknya titik-titik di celah-celah gambar.

Itu tadi, tiga catatan wisata Lasem Yang Tak boleh terlewat

Sunday, November 12, 2017

Melihat Langsung Pembuatan Kain Tenun Troso Jepara

Seringnya, kota Jepara lebih dikenal sebagai kota ukir, ataupun mebel. Namun sebenarnya, potensi Jepara tidak hanya tentang ke dua hal itu. Jepara, juga memiliki kerajinan khas lainnya, salah satunya adalah Kain Tenun Troso. Disebut Kain Tenun Troso, karena kain tenun di sini diproduksi di desa Troso. Sebuah desa yang berada di Kecamatan Pecangan Jepara.


Mendatangi desa Troso, kami mengunjungi sentra tenun Mulia Tunggal. Ruang produksi tenun Mulia Tunggal, berupa sebuah rumah bertembok batu bata tinggi. Berlantai semen, tanpa jendela, dengan beberapa lubang sirkulasi udara di bagian atas, dan lubang-lubang kaca tempat masuknya cahaya. Hawa panas terasa saat memasukinya. Alat-alat tenun Bukan Mesin berjajar nyaris memenuhi separuh ruangan di sebelah kiri. Beberapa pekerja terlihat sibuk menaik turunkan alat tenun sembari menyesuaikan tatanan motif.

tenun troso

Di sisi kanan, 3 orang ibu-ibu terlihat menggerakkan roda seperti memintal benang. 

Niki namine malet, niki nyepul --ini namanya malet, ini nyepul--,” ujar salah satu ibu-ibu yang usianya terlihat paling senior dilanjutkan penjelasan tentang fungsi masing-masing.

Saya mengangguk-angguk saja mendengar penjelasannya meskipun saya tidak sepenuhnya mengerti, lantaran istilah-istilah tentang proses yang ia jelaskan adalah nama-nama asing yang baru hari itu saya dengar. 

Saya baru agak paham, ketika Pak Nur bercerita ulang tentang proses pembuatan kain Troso Jepara. Itupun, butuh waktu lama hingga saya bisa ngeh bahwa kain tenun troso terbuat dari 2 macam benang, yakni benang lungsi serta benang pakan. Benang lungsi nantinya akan digunakan sebagai benang yang posisinya membujur, sedangkan benang pakan akan digunakan dengan posisi melintang.

Benang pakan, dilakukan proses pemasangan ke dalam plangkan melalui proses yang disebut ngeteng. Setelah tertata dalam plangkan, selanjutnya dilakukan proses pewarnaan. Namun sebelum diwarna, plangkan dipasang motif dan diikat tali plastik pada bagian motif-motif yang dikehendaki. Bagian-bagian yang ditali nantinya akan terlindung dari bahan pewarna saat pencelupan.

Usai diwarna, benang dijemur, dilepas ikatannya dan dilakukan pemintalan lewat proses yag disebut malet. Selanjutnya benang siap dipakai untuk menenun bersama benang lungsi yang sudah diproses juga. Proses penyiapan benang lungsi diwarna dulu, kemudian disepul. Yakni dipintal ke dalam alat sepulan. Selanjutnya dilakukan proses nyekir dimana benang dipendah ke alat BUM sehingga benang nantinya bisa dipasang di alat tenun.

tenun troso pembuatan
Proses Ngeteng

kerajinan troso ikat
Proses nyepul( perempuan tengah) dan malet (perempuan kiri)
Alat sekiran
benang diikat
benang yang sudah diikat


Proses tenun ikat memang terkesan ruwet. Maka wajar kalau tenun troso memiliki harga yang tidak murah. Kain tenun troso harganya mulai 75.000 hingga jutaan rupiah tergantung ukuran dan kualitas.


tenun troso kain


Dari cerita Pak Nur, pemasaran Tenun troso di tempat ini menjangkau berbagai wilayah di Indonesia, namun paling banyak Bali. Dari Bali, ada pula tenun troso yang dijual kembali ke luar negri. Menurutnya, kain tenun troso memiliki keunggulan dari sisi kecepatan produksi serta kemampuan produksi yang lebih banyak dibandingkan daerah lain. 


Baca Juga




Nah, selain main ke pantai kartini maupun Karimunjawa, jangan sampai terlewat untuk berburu kain tenun troso jika datang ke kota Jepara


Saturday, November 11, 2017

6 Hal Ini Bisa Dilakukan Kalau Main Ke Pantai Kartini Jepara

Nama Pantai Kartini tentunya tak asing lagi bagi banyak orang. Pantai satu ini sudah menjadi ikon terkenalnya kota Jepara. Ini kali ke tiga saya datang kemari. Pertama dulu, hanya ke dermaganya saja karna musti cepat-cepat berangkat ke Karimunjawa. Kali kedua, adalah ketika saya hendak ke Pulau Panjang. Dan kali ketiga, adalah beberapa minggu lalu barengan para mahasiswa asing, genpi, serta Dinpar Jateng. Lantas, apa saja sih yang bisa dilakukan kalau datang ke Pantai Kartini?

Monday, November 06, 2017

Mengintip Pembuatan Bubur Asyura di Masjid Sunan Kudus

2 orang perempuan berhijab berjalan membawa tampah dengan isian makanan yang sekilas seperti adonan puli. Berwarna kekuningan tetapi di atasnya ada toping bulatan kecil seperti bakso, udang, serta aneka rupa lauk yang tampak menggoda. Panganan-panganan itu terusun rapi diatas piring-piring daun pisang yang membentuk lingkaran


pembagian bubur asyura kudus


“Ini bubur asyura yang mau dibagikan ke warga,” jelas salah satu dari mereka

Tuesday, October 24, 2017

Pesan Tiket dan Hotel Traveloka Sekaligus, Liburan Ke Bali Jadi Hemat Satu Juta

Entah kali keberapa sahabat saya mengajak ke Bali. Entah kali keberapa pula, saya tidak benar-benar serius menanggapi. Yeahh, Bali bukan prioritas untuk saya. Mau sih, tapi ya… nanti dulu lah

Thursday, October 12, 2017

Cerita Dari Jamban-Jamban Rembang

Ini bukan perjalanan ke  tempat wisata seperti biasa. Ini adalah perjalanan yang membawa saya  melihat kehidupan masyarakat Rembang dari sudut pandang berbeda.

***
“Kami dibantu warga bersih-bersih, buangin ini, kotoran manusia dalam plastik,” samar-samar, ucapan Bidan Rut terekam kembali. Kala itu, beliau menunjukkan gambar beberapa orang bersih-bersih di sebuah lahan bersemak dengan beberapa buntel plastik telihat bercecer.

Pikiran saya berkecamuk, susah melogikakan bahwa plastik-plastik itu berisi kotoran manusia. Tidak, bukan saya tak percaya itu kotoran manusia lantaran tak ada plastik yang dibuka dan difoto. Tidak, tidak, saya tak ingin juga kali, melihat foto semacam itu. 

Hanya saja, saya susah melogikakan mengenai kenyataan: ada manusia yang membuang kotorannya dengan plastik. Dalam kondisi yang tentu saja tidak darurat. Ahhh, membayangkannya saja saya rasanya tak sanggup. Aneh saja sih, kenapa tidak diuruk dengan tanah atau pasir? Begitu kan jauh lebih baik, daripada dibuntel plastik kemudian dibuang sembarangan seperti itu? 

Well, bagaimanapun, itu adalah suatu bukti bahwa di jaman now, BABS bukan sekedar tulisan peringatan seperti yang pernah saya lihat di Pacitan maupun di pelosok Wonogiri beberapa waktu sebelumnya. Tapi masalah BABS memang masih banyak ada di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk juga di Rembang

***

Kunjungan pertama kami adalah mendatangi tempat Bu Warsini. Perempuan yang tidak terlalu tinggi dengan perawakan yang sedikit gelap itu menempatkan kedua tangannya terjulur lurus ke bawah dengan posisi siap, nampak tegang dengan expresi yang sedikit grogi saat menerima kedatangan kami. Bu Warsini merupakan salah satu warga yang selama ini tidak mempunyai jamban layak untuk BAB. 
rembang desa
Rumah Bu Warsini

Saturday, September 23, 2017

Kopi Ketjil Jogja, Kedai Kopi Mini di Siang Hari

Memasuki kedai Kopi Ketjil, saya sedikit terkejut dengan semua keterkecilan yang ada. Yeahh, sesuai dengan namanya, tempat ngopi ini kecil, mini. Kira-kira hanya seukuran sebuah garasi yang muat satu mobil. Di dalam kedai, hanya ada 3 buah meja. 2 meja khusus pengunjung, dan satu meja untuk pembeli sekaligus untuk sang barista meracik kopinya.

kedai kopi buka siang

Hari itu, 2 meja di belakang sudah terisi. Jadilah saya dan adik duduk menghadap meja tempat sang barista meramu. 


Tuesday, August 22, 2017

Melukis Warna di Kampung Pelangi Semarang

“Pak… saya numpang istirahat sebentar di sini, nggih? “ diselingi nafas yang tersenggal, saya meminta ijin duduk di cakruk sebuah rumah di Kampung Pelangi Semarang.

kampung pelangi semarang
Spot Foto Favorit