Melipir ke Bali

“Jika mahasiswa seumuran kalian ini belum pernah ke Bali,berarti kalian belum menikmati masa muda kalian” sebuah kutipan dari buku Backpaker Bali-Lomboknya Gilang Tama & Endah Kemala ini lumayan menusuk saya pagi ini.

Saya kena. Saya pernah Ke Bali sih, tapi itu sudah sejak terakhir saya masih SMP. Sekitar 10 tahun yang lalu.Tak banyak foto yang saya ambil ketika itu.  Jadi rasanya, kini saya seperti belum pernah ke sana.

Memang Indonesia bukan hanya Bali. Banyak keindahan yang  tersaji di negri ini. Tetapi bagaimanapun, Bali merupakan pariwisata Indonesia yang sudah terkenal di mata dunia. Sehingga mengunjunginya, adalah suatu keistimewaan tersendiri menurut saya.

Kunjungan saya ke Pulau Menjangan beberapa waktu lalu, tetap saja terasa belum ‘Bali’ walaupun sejatinya secara administratif ia termasuk daerah Bali Barat. Apalagi ketika itu, di Pulau Menjangan, rombongan kami hanya sekedar mampir berenang di lautnya dan tidak menginjakkan kaki di pulaunya. Rasa ‘Bali’ pun otomatis tak bisa saya dapatkan sepenuhnya.

Apa  Kabarmu Kuta???
Sumber: www.water-sport-bali.com


10 tahun yang lalu, Pantai Kuta merupakan salah satu pantai yang saya kunjungi saat studi tur. Yang saya ingat, Pantai Kuta adalah pantai berpasir dengan warna yang agak hitam. Pantainya luas dengan pemandangan yang khas yaitu bule-bule berjemur. 

Jaman dahulu, Pantai Kuta adalah Pantai yang paling tersohor.  Sehingga kala itu, bisa datang ke Pantai Kuta sudah merupakan sesuatu yang WoW. Walaupun pada dasarnya saya tidak begitu senang karena pantai itu sangatlah ramai.

Namun setelah sekian tahun berlalu, kini rasanya saya ingin kembali menengok Pantai Kuta. Hem,, sepertinya banyak sekali tempat yang ingin saya kunjungi. Setelah kemarin saya bercerita tentang ingin saya ke Lombok, kini Bali dengan pantai Kutanya ingin kembali saya kunjungi.

Foto-Foto Asyik di Ubud Bali
Sumber: http://www.iwisataindonesia.com/

View Ubud seperti yang tertera di mata uang Rp. 50.000 menggugah rasa penasaran saya. Berfoto sembari membawa uang Rp. 50.000 di sini nampaknya menjadi sesuatu yang bakal saya lakukan andaikan nanti saya datang ke Ubud.  10 tahun lalu, studi tur kami tidak mengunjungi Ubud. Sehingga kini Ubud tak boleh saya lewatkan.

Gegara melampiaskan perasaan ingin liburan dengan baca-baca buku traveling, kini saya justru makin ingin traveling. Buku Backpaker Bali Lombok bukannya mengobati rindu saya, ia malah makin membuat saya semakin kangen liburan.

Apalagi ketika buku ini menggambarkan tentang bagaimana kondisi salah satu tempat di Kabupten Gianyar ini. Ubud dengan suasana pegunungan dan persawahannya, merupakan sebuah tempat yang terlihat menyenangkan. Tak heran kalau banyak wisatawan beredar di sekitaran Ubud. Suasana khas Ubud, membuat para pendatang siapapun itu, merasa nyaman dan tentram

Menyeruput Kopi di Kintamani
Sumber http://balebengong.net/gaya-hidup/jalan-jalan/2015/08/14/menikmati-kopi-kintamani-di-kebun-petani.html

Saya bukan penggemar kopi. Tetapi saya tahu, Bali punya Kintamani. Kitamani merupakan suatu tempat wisata alam di daerah Bengli. Dan, di kota inilah asal dari kopi Kintamani yang terkenal itu. Kopi kintamani merupakan kopi arabica. Rasanya kecut tidak seperti kopi-kopi pada umumnya. Menurut cerita dari seorang Barista di sebuah kedai kopi yang pernah saya datangi, hal ini terjadi karena Kopi Kintamani tersebut ditanam di dekat tanaman buah-buahan, sehingga ia memiliki rasa yang asam. Menyeruput segelas kopi Kintamani di daerah asalnya, tentulah suatu hal yang istimewa.

Untuk menuju ke Kintamani, terdapat dua jalur. Yakni jalur melewati Desa Batur dan yang kedua adalah dengan menuruni desa Kedisan untuk selanjutnya menyebrang melintasi danau ke sebuah desa tua, Terunyan. Pilihan ke dua ini yang menurut saya menarik. Karena nantinya, kita di sini bisa melihat peradaban Bali Aga. Dimana ia punya keunikan yakni orang-orang mati yang hanya diletakkan di bawah sebuah pohon tanpa dikubur namun ia tak berbau. Gambarnya pernah saya lihat di buku SD saya sekian tahun lalu. Hemm, mata ini ingin melihatnya sendiri.

Menengok GWK
Sumber: wikipedia

GWK atau Garuda Wisnu Kencana. Dahulu saat saya datang kemari, GWK masih baru tahap pembangunan. Kini saya ingin menengok patung yang dulu kabarnya akan memiliki besar melebihi patung Liberty NewYork ini. Saya sempat mengira bahwa patung GWK terbuat dari batu. Namun rupanya tidaklah demikian. Patung GWK ternyata terbuat dari baja dan tembaga.

Patung GWK berada di Garuda Wisnu Kencana Cultural Park. Taman Budaya ini memberikan kesan modern yang berpadu dengan tradisional. Di dalam taman budaya, terdapat pertunjukan pentas seni dan tarian yang kadangkala pentas-pentas itu merupakan pentas skala nasional maupun internasional.

Trekking Mangrove
Sumber: http://www.birohumas.baliprov.go.id/

Setelah tahu bahwa treking mangrove itu asyik dari perjalanan saya ke Karimunjawa dulu, kini saya ingin merasakan asiknya treking mangrove di Bali. Bali ternyata mempunyai hutan bakau seluas 1.343,5 hektar yang masuk di wilayah Taman Hutan Raya Ngurah Rai. Menariknya, hutan ini merupakan  hutan mangrove terbaik se Asia. Saya bangga. 

Padahal sebelumnya, hutan mangrove di daerah Denpasar Selatan sempat berfungsi menjadi lahan tambak.  Namun untungnya sejak tahun 1992 ia difungsikan lagi sebagai hutan mangrove.

Backpakeran Ke Bali
Beberapa waktu lalu, seorang kawan bercerita kepada saya tentang temannya. Sepasang suami istri yang merupakan sahabatnya

“Kamu tau, Da, temanku itu tho tiba-tiba dateng ke rumahku minta makanan. Semua bakwan ibuku yang baru selesai di goreng, diangkut semua. Padahal aku saja baru ambil sedikit,” ceritanya menggebu-gebu.

“Buat apa Mbak?” tanya saya heran.

“Diangkut, buat bekal ke Bali,” jawabnya. Saya ndomblong. “Dia sama istrinya nekat backpakeran. Bawa duit tipis, sama bekal bakwan ibuku, mereka nekat motoran ke Bali,” lanjutnya lagi.

Saya kembali ndomblong. 

Backpakeran  untuk para backpaker sejati memang selalu meninggalkan kesan yang luar biasa bagi siapapun yang mendengarkan ceritanya. Tetapi kalau saya sendiri, haduh, saya selalu lebih suka memilih jalur tengah. Backpaker setengah-setengah. Kalau untuk backpakeran ke Bali pakai motor, rasanya rasanya saya belum bisa membayangkan.

Membaca buku Backpaker Bali Lombok, saya jadi menyimpulkan sebetulnya bisa kok ke Bali tanpa harus keluar uang banyak.  Nah, saya di sini berusaha memadukan caranya dari buku dan dengan trip-trip yang menurut saya ampuh untuk hemat budget tanpa harus meinggalkan kenyamanan.

1. Pilih Transportasi secara pintar

Transportasi merupakan faktor penting dalam menentukan biaya perjalanan. Memadukan Jalur darat dan laut memang cara paling efektif untuk menghemat biaya perjalanan ke Bali. Tapi tentu saja masalah lamanya waktu yang harus dibayar menjadi pertimbangan yang penting. Untungnya, di era sekarang ini sudah banyak kemajuan teknologi. Penyedia layanan traveling berbasis teknologi semacam traveloka bisa menjadi alternatif penghematan biaya perjalanan. 

Diskon-diskon tiket pesawat bisa kita dapat jika kita transaksi lewat app nya. Jelas ini salah satu cara kita bisa menghemat biaya perjalanan tanpa harus kehilangan waktu lama. Menurut saya dengan memesan sarana transportasi melalui app nya para traveler semacam  ini merupakan salah satu cara yang paling ampuh hemat budget perjalanan.

2. Pilih Makanan Yang Irit

Manusia tidak bisa hidup tanpa makanan. Tetapi, ketika dalam perjalanan dan membutuhkan hemat biaya, memilih makanan yang berharga murah adalah salah satu kunci perjalanan kita irit. Tentu saja membawa bekal sangatlah disarankan. Tetapi, kita tidak selalu bisa membawa bekal apalagi ketika perjalanan itu butuh berhari-hari. Satu-satunya jalan ya itu tadi, pilihlah makanan yang murah

3. Pilih Penginapan Yang Murah

Kalau tidak membawa tenda, maka memilih penginapan murah adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Tetapi memilih yang murah bukan berarti harus mengorbankan kenyamanan.  Ketika ke Bali, saya justru ingin menginap saja di hotel. Mumpung sekalian di surganya para wisatawan. Di dekat Pantai Kuta terdapat  Kuta  Paradiso Hotel. Sebuah tempat di Kuta tak jauh dari bandara Ngurah Rai. Tempat yang lengkap dengan fasilitas fitnesh, dan kolam renang yang cantik. Tempat yang nyaman untuk liburan.

Menginap di Kuta Paradiso Hotel lantas ketika malam jalan-jalan di tepian pantai menikmati semribit angin Kuta, tentulah menyenangkan.

4. Surveilah saat membeli oleh-oleh

Ketika kita trveling, tentu bakalan banyak kerabat dan kawan-kawan kita yang seringnya bersemangat meminta oleh-oleh. Parahnya, kadang mereka tidak mau tahu kalau kita untuk perjalanan saja musti berhemat sedemikian hingga. Nah, kalau saya, mengakalinya biasanya dengan keluar-masuk toko oleh-oleh maupun souvenir. Survey harga dari satu toko ke toko lainnya. Kalau bisa ditawar, maka saya tak akan melewatkan momen tawar menawarnya.

Bali selalu menarik. Tetap tak kalah pamor meskipun kini daerah wisata-wisata lain di Indonesia mulai bergeliyat. Selain alamnya yang indah, kebudayaannya yang tak luntur adalah daya tariknya tersendiri. Yah, semoga nanti kapan-kapan saya bisa ke Bali lagi 


Sumber info banyak diambil dari buku Backpaker Bali-Lombok Gilang Tama dan Endah Kemala





Lampung The Treasure of Sumatra’

Sumber tripvisto.com

27 Agustus 1883

Sebuah kiamat kecil melanda. Gunung Krakatau meletus. Kawah bersuhu ratusan derajat meluber meng-ambrukkan tiga perempatan badannya.Mengguncang lautan yang berakibat hempasan tsunami hebat. Sebanyak  36.417 korban jiwa tewas dalam peristiwa.

Mulai tahun 1927 sedikit demi sedikit anak gunung Krakatau bertumbuh. Tingginya 230 meter kini, dengan posisi ditengah-tengah antara tiga pulau yang tersisa dari ledakan. Di suatu hari yang tak pernah terperkirakan sebelumnya itu, hari menjadi begitu menakutkan. Bahkan tak hanya untuk masyarakat Indonesia. Namun juga di negara lain. Suara ledakannya berdentum. Menggemparkan Srilanka, dan Karaci. Juga Sydney dan Perth Australia.

Di Tokyo Jepang, Matahari berwarna merah tembaga.Yang mengejutkan, empat bulan setelahnya matahari berubah berwarna-warni. Dari hijau, merah lantas hijau kembali di Hongkong sana. Lebih mengerikan dan tak bisa saya bayangkan adalah seorang ibu-ibu yang membeli kakap di daerah Serang. Mendapat  sebuah kejutan berupa 2 jari manusia masih utuh di dalam tubuh seekor ikan.

Saya terlarut membaca satu persatu beberan peristiwa hebat dalam buku Ekspedisi Krakatau 2006 “Krakatau Laboratorium Alam di Selat Sunda” Peristiwanya begitu saja tergabung dengan film Krakatoa dalam imajinasi saya. Hasilnya, kini saya merasa ngeri.

Sumber: http://darrylhammer.com/


Krakatau memunculkan perdebatan pada beberapa orang. Perdebatan tentang bagaimana kehidupan bisa muncul kembali di krakatau. Di sinilah laboratorium alam itu berada.

Beragam teori tumbuh. Tentang kemungkinan-kemungkinan asal muasal kehidupan yang harusnya sudah steril akibat lelehan kawah bersuhu 800 derajat.  Darimana asal muasal tikus, harimau, ular, dan hewan-hewan lainnya serta beragam tumbuhan di sana? Para pakar-pakar pun banyak yang datang meneliti.

Letusan Krakatau merupakan kesempatan yang sangat langka untuk mempelajari kolonisasi yang berlangsung secara alami -Andre Cailleux, dikutip dari Buku Ekspedisi Krakatau-

Kolonisasi diawali oleh para binatang bersayap sementara binatang tidak bersayap diperkirakan datang bersama hanyutnya pepohonan. Binatang melata seperti halnya ular dan biawak datang karena memang mereka mampu berenang dengan jarak jauh.

Sementara tikus dimungkinkan datang bersama kapal. Sedangkan harimau adalah binatang yang mampu menyebrang teluk sejauh 20 km



Anak Krakatau kini.

Di foto penampakannya pada beberapa gambar, ia tampak mungil menyatu dengan indahnya laut biru dengan gradasi background langit yang juga nyaris sama birunya. Meskipun ia tetap mengancam. Namun kini Krakatau adalah idaman para wisatawan. 

Adalah Pulau Anakrakata, Pulau Rakata, Pulau Rakata Besar serta pulau Sertung  adalah beberapa pulau yang berkaitan erat dengan gunung krakatau. Karena merekalah sisa dari kehebatan besar ledakan krakatau .

Pulau Anakrakata atau Pulau Anak Krakatau ini pulau menarik, lantaran ia terus menerus tumbuh hingga kini. Pulau Anak Rakata memiliki 2 puncak. Di puncak pertama inilah stasiun pengamatan berdiri di atas ketinggian 163 mdpl. Sementara puncak kedua memiliki ketinggian 290 mdpl dan merupakan kawah aktif.

Gambar Anak Gunung Krakatau yang pada beberapa blog terlihat penuh pasir mengingatkan saya pada pendakian ke merapi beberapa tahun silam. Memang sama-sama gunung berapi, karenanya tak mengherankan ketika ia memiliki struktur pasir yang mungkin nyaris sama.

Perairan  di sekitar pulau-pulau ini memiliki keanekaragaman biota laut yang mampu memanjakan mata.  Buku Ekspedisi Krakatau 2006 menyebutkan bahwa berbagai jenis terumbu karang hidup ada disana. Karang-karang itu ada yang berbentuk lembaran, masif, koloni mengerak, koloni bercabang serta  bentuk bercabang. Keanekaragaman terumbu karang inipun secara otomatis mendukung pula banyaknya ikan-ikan karang yang tumbuh. Sehingga membuat lautan sekitar Krakatau tampil memukau. Maka dari itulah sudah seharusnya keelokannya ini senantiasa dijaga

Waktu terus bergulir. Lampung kini terus berusaha menggarap pariwisatanya. Pantai-pantai mulai dikembangkan. Kini tak hanya Anak Krakatau yang jadi idaman. Kini Lampung menawarkan destinasi-destinasi menarik hati. Pulau Umang-umang, Pulau Sebuku dan Pulau Sabesi adalah pulau yang ditawakan pada banyak pilihan saat tur Krakatau. Pulau-pulau di Lampung dengan keindahan alam bawah lautnya ini memang menggoda.

Pulau Umang-Umang
Sumber : http://breaktime.co.id/travel/destination/menikmati-keindahan-sunset-dari-pulau-umang-umang.html


Ahh, Lampung rasanya tak berlebihan ketika ia menyebut dirinya The Treasure Of Sumatra. Pesona Lampung dari berbagai sudut. Sisi seni dan budayanya yang cukup beragam , serta alamnya yang kaya bahkan mempengaruhi dunia ini, sudah cukup membuktikan bahwa Lampung adalah The Treasure Of Sumatra

27 Agustus 1883 pernah menjadi masa kelam masyarakat sekitar selat Sunda bahkan dunia. Akan tetapi kini tanggal itu menjadi tanggal istimewa. Sebuah tanggal dimana Lampung Krakatau Festival diselenggarakan.  Sebuah tanggal yang dulu pernah menyisakan duka dan luka. Kini justru mampu menciptakan senyum-senyum bahagia bagi banyak orang. Anak-anak berteriak girang melihat pertunjukan, sementara Ibu Bapak mereka bahagia  ketika anaknya sumringah. Pun para pedagang, jualan mereka laris melebihi hari biasa.

Sumber gbr: http://www.tribunnews.com/

Lampung Krakatau Festival memiliki 5 konten acara.
1. Jelajah Pasar Seni (24-28 Agustus 2016) di Mal Boemi Kedaton,
2. Jelajah Layang-Layang (25-26 Agustus 2016) di PKOR Way Halim,
3. Jelajah Rasa (26-28 Agustus 2016) di Lapangan Saburai,
4. Jelajah Krakatau (27 Agustus 2016) di Gunung Anak Krakatau,
5. Jelajah Semarak Budaya-Parade (28 Agustus 2016) di Tugu Adipura dan Jelajah Semarak Budaya-Investor Summit (28 Agustus 2016) di Hotel Novotel.






Waterboom Gajah Mungkur Edisi Jalan-jalan Sore



Menenggelamkan 5-6 kecamatan di Wonogiri sekian tahun lalu.

“Mengorbankan kepentingan pribadi, demi kemakmuran bersama. “

Rasanya itu sebuah pelajaran yang bisa kita petik dari terbentuknya Waduk Gajah Mungkur.  Memiliki luas sekitar 8.800 ha, waduk ini melebar ke 7 kecamatan. Sebagai warga Wonogiri, ini sebuah kebanggan tersendiri. Mengingat waduk Gajah Mungkur merupakan salah satu waduk terbesar di Indonesia.

Meskipun Waduk Gajah Mungkur lebarnya tersebar di beberapa kecamatan, hanya terdapat satu bagian tempat yang diplokamirkan sebagai area wisata dengan nama ‘Gajah Mungkur’ itu sendiri. Di sebuah daerah bernama Sendang Asri  inilah Objek Wisata Gajah Mungkur atau yang biasa disingkat O.W Gajah Mungkur berada.

Bagi warga Wonogiri, OW. Gajah Mungkur memiliki panggilan lain. Kami biasa menyebutnya dengan panggilan “proyek”. Berdasar cerita simbah dahulu, panggilan ini terbentuk lantaran waduk ini adalah sebuah “proyek” besar presiden Suharto kala itu. Sebuah “proyek” besar   yang mengakibatkan terjadinya transmigrasi bedhol desa warga Wonogiri ke berbagai wilayah terutama Sumatera.

Ada sebuah cerita yang berkembang di masyarakat. Cerita ini tentang  satu keluarga yang bersikeras tidak mau di transmigrasikan dan tetap berada di rumah hingga air waduk dibendung. Satu keluarga itu akhirnya ikut ditenggelamkan bersama terbentuknya Waduk Gajah Mungkur. Dahulu saat mendengar cerita ini, saya merasa trenyuh sekali dan membayangkan betapa kasihannya keluarga itu. Namun beberapa tahun kemudian, saya memastikan hal ini ke Pakde, yang kebetulan paham betul soal menyoal sejarah Waduk ini. Ia bercerita bahwa itu hanyalah cerita dongeng.

Baiklah. Lupakan soal cerita itu. Saya kali ini belum akan membahas soal detail sejarah Waduk Gajah Mungkur. Mungkin lain waktu. Kali ini, saya ingin bercerita tentang kedatangan kami ke waterboom Gajah Mungkur.

Cerita ini dilatarbelakangi modus yang sama seperti saat saya menengok panamtu, dan ke taman tombo galau beberapa waktu lalu. Modusnya sama, yaitu: ngebantuin Budhe prepare untuk jualan saat lebaran. Tapi karena prinsip “nggak mau rugi” sudah tertanam dalam benak, maka saya dan Nana lagi-lagi menyempatkan waktu sekalian buat jalan-jalan.

Waterboom Gajah Mungkur ini merupakan wujud kerjasama pihak pariwisata dengan swasta. Meskipun dahulu pembangunannya sempat mangkrak lantaran pemborongnya kabur, dan sempat pula off beroperasi saat sudah dibuka,  Waterboom Wonogiri kini  sudah mulai berjalan normal kembali dan kini selalu siap menyambut kedatangan para wisatawan yang ingin seru-seruan menikmati wahana air.

Sore hari itu, waterboom sudah menjelang tutup. Tujuan kami memang tidak untuk berenang hari itu. Kami hanya ingin melihat bagaimana penampakan waterboom Waduk Gajah Mungkur dari dalam.

Pancuran-pancuran sudah dimatikan, para pengunjung pun sudah pulang semua. Kami menjadi penghuni terakhir. Yeah, saya selalu suka kondisi seperti ini, terbebas dari keramaian. Waterboom serasa milik kami.

Dominasi Ornamen Gajah




Menjejak arena waterboom dimulai dengan menaiki tangga, menyebrangi jembatan kayu berbentuk lengkung di atas bagian kolam memanjang yang tampaknya jika diteruskan akan menghubungkan antara kolam renang dewasa dengan anak-anak.

Dari atas sini, pemandangan sudah terlihat oke. Background wahana air sisi kanan maupun kiri menggoda kami untuk menghampiri lebih lanjut tiap sisi waterboom. Bening air yang menunjukkan ornamen keramik lantai kolam pun menambah mewah penampakan kolam. Hati saya berdesir-desir, ingin sekali merambah air itu, menapaki tiap ubinnya.

Namanya juga waterboom yang berlokasi di Waduk Gajah Mungkur. Maka jangan heran, jika saat memasukinya kita akan mendapati berbagai ornamen gajah di tempat ini. Baru masuk saja, di bagian atas pintu masuk menuju Waterboom, sebuah patung gajah berdiri menyambut. Pun ketika kami berada di dalam lokasi waterboom. Pancuran-pancuran airnya berwujud kepala gajah.

Walau dominasinya ornamen Gajah, tetapi lantas tidak semua berwujud gajah. Patung-patung jamur, pancuran berwujud katak pun ikut meramaikan lokasi waterboom ini.




Wahana  Wisata Keluarga

Di sekitar arena waterboom terdapat rest area, tempat gasebo, ayunan, serta arena bermain anak. Sehingga nampaknya menjadikan waterboom Gajah Mungkur sebagai pilihan tempat wisata keluarga adalah pilihan yang pas. Sepupu saya yang masih berusia 4 tahunan saja terus berjingkrak riang ketika kami berada di lokasi ini. Hemm, apalagi kalau seandainya kami berenang-renang di sana.

Papan seluncur yang berputar-putar serta arena main air yang berwujud bak yang siap mengguyur andaikan kita berada di bawahnya makin membuat saya berdesir-desir berharap bisa berenang di sana. Tapi ahh, kami harus ingat, waterboom sudah menjelang ditutup dan kami hanya bisa melihat-lihat saja sore hari itu. Hiks.


Sensasi Rooftop

Gegara melihat foto kawan yang berenang di rooftop Ubud hotel, saya jadi doyan memandangi gambar-gambar rooftop dimanapun lokasinya. Asyiknya, berada di waterboom Gajah Mungkur saya juga merasakan nuansa ala-ala rooftop mewah hotel.  Kolam yang memang dibuat bertingkat, serta warna-warna menarik keramik kolamnya yang membuat saya jadi berpikir demikian.

Ketika berada di atas papan seluncur di sisi kolam bagian utara, saya bisa melihat pemandangan ujung kolam yang  kelihatannya jika berada di sisi ujung sana lantas dijepret dengan kamera, saya bakalan tampak seperti sedang di rooftop Ubud. Yeah, tentunya, jika di sini rooftopnya berbackground  view Waduk Gajah Mungkur.


How To Get There
Untuk bisa sampai di waterboom Objek Wisata Gajah Mungkur, tentu saja harus sampai dulu di Objek Wisata Gajah Mungkur. Karena memang lokasi waterboom ini menjadi satu dengan OW. Gajah Mungkur. Caranya bagaimana?



Paling mudah memang menggunakan motor. Tapi kalau mau memakai transportasi umum, bisa kok. Datang saja ke terminal pasar Induk Wonogiri. Di sana nanti akan ada angkutan kota yang khusus jurusan “proyek”. Kalau tidak, naik saja bus jurusan Solo – Pracimantoro. Nanti minta si sopir menurunkan di OW. Gajah Mungkur.

Tiket masuk  ke Waduk Gajah Mungkur kalau hari biasa, tarifnya Rp. 5.000. Hari libur dan hari Minggu Rp. 10.000. Dengan membayar tiket ini kita belum langsung bisa masuk ke arena waterboom. Tiket ini hanyalah untuk masuk arena wisata Waduk Gajah Mungkur.  Memasuki arena waterboom, dikenakan karcis, yang jika hari  biasa Rp. 10.000 , sedangkan hari Minggu dan hari libur Rp. 12.500.

Objek Wisata Waduk Gajah Mungkur jika dibandingkan dahulu, memang sudah banyak mengalami peningkatan. Sudah banyak penataan di berbagai sisinya. Termasuk penambahan waterboom inipun adalah sebuah bentuk upaya peningkatan, supaya OW. Gajah Mungkur semakin ramai. Bagaimanapun lokasi ini adalah ikon wisata di Wonogiri. Maka sudah selayaknyalah jika OW. Gajah Mungkur terus mengadakan perbaikan ke arah yang lebih baik.


Untuk informasi lebih lanjut, bisa tengok ke website resmi waterboomgajahmungkur.com



kremun-kremun rindu ke Karimunjawa



“Kangen Karimunjawa”

Kalau hidup saya di hastag, maka kata itulah yang akan muncul saat ini. Bagi saya perjalanan kami ke sana 2014 lalu meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Pemandangannya, lautnya, pantainya, sunrisenya, snorklingnya, juga tragedi-tragedi pengusiran kami di sana. Semuanya menyisakan rindu yang tiada bertepi.

Apalagi, explorasi kami yang belum tuntas. Rasanya  saya ingin secepatnya mengepak ransel dan langsung berkapal menuju ke sana.
 
Dalam sebuah grup yang diikuti saya dan beberapa rekan perjalanan ke Banyuwangi,yang juga sebelumnya pernah melakukan wisata Karimunjawa, mereka rupanya mengucapkan hal yang sama. Rindu Karimunjawa.  

Aihhh, mungkin Pulau itu jika diteliti udaranya mengandung komposisi senyawa narkoba. Membuat siapapun yang kesana merasa tak cukup jika hanya datang sekali.  Maunya nagih, lagi dan lagi.

Karimun = kremun-kremun

Meskipun sudah pernah kesana, dan mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi baru beberapa minggu ini saya mendengar tentang sejarah atau asal-usul Pulau Karimunjawa.  

Tak kenal maka tak sayang, peribahasa itu tak berlaku buat pulau ini. Saya tak perlu tahu lebih dulu bagaimana asal muasal si  Pulau Karimunjawa, untuk bisa ‘sayang’ dengan pulau itu. Tapi, justru karena rasa ‘sayang’ itulah, makanya saya mau tahu. 

Alkisah, dahulu kala Sunan Muria menyuruh anaknya  Amir Hasan untuk memperdalam ilmu agamanya. Tetapi sang anak malah kabur ke sebuah pulau. Sunan Muria melihat pulau tempat kaburnya sang anak begitu jauh dari Gunung Muria yang merupakan gunung tempat lokasi Sunan Muria tinggal. Dari gunung Muria, pulau Karimunjawa hanya terlihat kremun-kremun (samar-samar). Oleh karenanya dinamakanlah pulau itu Karimun yang berasal dari kata kremun-kremun.

Kini Pulau itu sukses membayangi saya dengan rindu yang kremun-kremun dalam kelopak mata.

Daratan Karimunjawa

Karimunjawa menurut wikipedia memiliki luas daratan sekitar 1500 hektare.  Meskipun wisata karimunjawa lebih beken dengan ragam pesona lautnya, tetapi perlu diketahui pula bahwa pulau ini memiliki pesona wisata darat yang sayang jika sampai dilewatkan untuk dijelajahi.

Perjalanan 2014 lalu, kami beruntung sempat mengexplore beberapa pesona daratan wisata Karimunjawa. Meskipun belum semua, dan hanya beberapa, tetap saja tempat itu terus menimbulkan bayangan kremun-kremun dalam ingatan, yang membangkitkan seluruh gairah rindu penjelajahan.

1. Pantai Nirwana Resort

Pantai ini adalah milik sebuah resort, Nirwana Resort namanya. Saat berkunjung ke sini, hari masihlah  pagi. Biarpun kami ketinggalan sunrise di sana, tetapi tak sedikitpun terbersit kecewa di hati. Ada saja alasan saya untuk merasa bahagia selama di Karimunjawa. Termasuk, saat sunrise tak berhasil kami dapat lantaran kami kesiangan dan langit memang mendung.

Penampakan Pantai Nirwana Resort yang sepi dan bersih, serta gasebo-gasebo yang tertata membuat kami serasa memiliki pantai pribadi. Belum lagi taman di Nirwana Resort dengan deretan kamboja putih serta rumputnya yang tertata. Kentara sekali keasriannya. Keinginan terdalam punya rumah pinggir pantai macam film full house pun bisa sedikit terpuaskan selama di sini.

Bersantai di Nirwana Resort


2. Pantai Ujung Loro

Nama pantai ini kami ketahui setelah kami tanyakan pada seorang tur leader yang menemani kami tur laut. Dengan memberikan deskripsi bagaimana bentuk pantai itu, sang tur leader menyimpulkan kalau pantai yang kami datangi itu adalah Pantai Ujung Loro.

Pantai ini tidaklah luas. Hanya sempit. Sebuah ayunan bertengger pada sebuah pohon dengan menghadap laut. Ayunan ini menjadi singgasana yang menyenangkan untuk menikmati gemericik ombak laut Karimunjawa yang bergulung lemah. Di dekatnya, bebatuan berujung agak runcing berderet dengan posisi miring, menambah keunikan pemandangan di tempat ini.



3. Pantai Nyamplung Ragas

Explorasi daratan selanjutnya adalah Pantai Nyamplung Ragas. Ciri khas pantai ini adalah pasir putihnya yang begitu luas dengan pemandangan Pulau Batu yang kelihatannya hanya sejengkalan tangan jaraknya. Pantai Nyamplung Ragas merupakan terusan dari Pantai Nirwana Resort, Ujung Loro dan jika diteruskan lagi menuju Legon Lele.

Jika teman kami bercerita bahwa saat kemari pantainya kotor, maka kami sungguh merasa beruntung lantaran kunjungan kami ke Pantai Nyamplung Ragas saat kondisi pantai sangatlah bersih dan seperti dua pantai sebelumnya. Sepi, tanpa pengunjung yang lain. Kami bersama seorang bule serta istrinya, menjadi satu-satunya pengunjung di sana saat itu. Saking sepinya, seekor burung yang mungkin burung flaminggo pun bersedia menampakkan dirinya.



4. Pantai Legon Lele

Pantai ini memiliki kisah yang berhubungan erat dengan sejarah nama wisata Karimunjawa. Didongengkan, bahwa utusan Sunan Muria yang saat itu akan mengirimkan mustaka dan oleh-oleh untuk Amir Hasan membawakan nasi pecel lele dan juga pepes siput. Amir Hasan menanti utusan ayahnya di pinggir sebuah Legon (teluk). Saat tiba, pecel lele dan juga pepes siput itu tidak sengaja jatuh ke laut. Ajaibnya, lele dan siput yang sudah masak tersebut hidup kembali. Karena lele dan siput itu sebelumnya sudah matang, maka kemudian lele tersebut hidup kembali tanpa memiliki patil. Siputpun hidup tanpa memiliki ekor yang runcing. Lele dan siput itu lantas beranak pinak hingga sekarang. Karena kejadian inilah Amir Hasan menamai tempat ini Legon Lele.



Untuk menuju tempat ini, kami harus menerobos dulu ke sebuah rungkut hutan mangrove yang sekilas nampak menakutkan.  Hijaunya pepohonan di perbukitan Legon Lele memberikan kesan yang berbeda dengan pantai-pantai sebelumnya. Keasrian Legon Lele cukup memanjakan mata kami. Sebuah kapal bekas, tak berpenghuni menjadi aksesoris pelengkap yang menambah keunikan tempat ini. Jika perjalanan kami diteruskan menyusur Legon Lele, menurut informasi, harusnya kami akan berjumpa dengan perkampungan Legon Lele dan juga tempat pemancingan lele. Tetapi hari itu, masalah mepetnya waktu, mengurungkan niat kami untuk jelajah lebih lanjut.




5. Treking Hutan Mangrove

Sebagai pelindung pantai, habitat berbagai jenis satwa, dan tempat pembesaran banyak jenis ikan laut adalah beberapa manfaat yang saya ketahui seputar hutan mangrove. Di Karimunjawa, hutan Mangrove ini sekaligus dikelola sebagai hutan wisata. Di dalam area wisata treking mangrove di Karimunjawa, kami menemui beragam papan-papan berisi pengetahuan seputar mangrove.

Melewati papan-papan kayu yang dibuat melingkari area hutan ini, kami harus rela digigiti nyamuk lantaran kami lupa membawa lotion anti nyamuk. Sebuah pelajaran sederhana yang akan saya ingat untuk suatu hari jika diberi kesempatan lagi olehNya jelajah hutan mangrove :-D

Papan treking tempat pijakan kami terbuat dari papan yang disusun rapi, dan nampak eksotis ketika kamera dijepretkan. Di tengah-tengah area treking, sebuah menara pandang dari kayu berdiri. Dari menara pandang ini kita bisa melihat luasnya area hutan mangrove Karimunjawa beserta penampakan lautnya.



6. Pantai Kemloko dan Pantai Annora

Sebuah pantai yang penuh bebatuan, luas, dengan ayunan yang jumlahnya lebih banyak, itulah gambaran yang bisa saya ceritakan tentang pantai ini. Pantai ini menjadi pantai yang kami kunjungi terakhir dan hanya sebentar saat wisata Karimunjawa. Yang saya ingat, pantai ini tidaklah berpasir putih, pasirnya cenderung kecoklatan. Tetapi nampaknya, pantai ini cukup nyaman jika digunakan untuk menikmati hari, bercengkerama dengan teman-teman ditemani sepoi angin yang berhembus. Bahkan tampaknya, pantai ini cukup strategis untuk mendirikan tenda.

pantai annora karimunjawa
Pantai Annora


7. Bukit Joko Tuo dan Bukit Love

Kedua lokasi ini adalah wisata Karimunjawa yang ingin saya datangi jika nanti saya berkesempatan datang lagi ke Karimunjawa. Masalah waktu, lagi-lagi menjadi alasan kami saat itu batal berkunjung ke sana. Ragam foto instagram yang banyak tersebar seputar dua bukit ini ngiming-imingi saya untuk suatu saat harus datang pula ke sana. Yeah, semoga nanti Allah memberi lagi rejeki buat ke sana :-)

Sumber : wikipedia


Pulau-Pulau Karimunjawa Yang Terlewatkan

Pulau Karimunjawa memiliki sekitar 27 pulau-pulau kecil disekitarnya. Menurut cerita bapak-bapak yang menemani kami tur laut, Beberapa diantara pulau-pulau itu berpenghuni, ada pula yang tak berpenghuni namun sudah menjadi hak milik. Beberapa diantaranya malah kepemilikannya adalah orang luar negri.

Sumber Wikipedia.org

Saat tur laut 2014 lalu, kami hanya melakukannya setengah hari. Sehingga kami belum puas mengexplore  Karimunjawa. Saat itu kami hanya bisa berpuas diri snorkling di laut Pulau Menjangan Kecil Karimunjawa dan menikmati senja di Pantai Tanjung Gelam.


Di laut Pulau Menjangan, untuk pertama kalinya, saya dan sepupu snorkling melihat keindahan bawah laut. Untuk pertama kalinya, saya benar-benar melihat langsung indahnya terumbu karang, serta gerombolan ikan yang berlari ke sana kemari mengitari kami. Biarpun kala itu ketakutan akan air laut lantaran saya tidak bisa berenang membuat saya hanya sebentar memandangi indah bawah laut, tapi ingatan tentang keindahan itu, kremun-kremun sering terlintas di kepala saya, membaluri saya dengan rindu yang berkepanjangan. Lagi-lagi bicara rindu.

Ketika saya tur setengah hari dulu, saya harus rela, melewatkan tur yang seharusnya bisa membawa saya ke Pulau Menjangan Besar, Cemara, Pulau Kecil dan Pulau Tengah.  Masalah waktu, alasan yang sama yang sudah saya katakan sebelumnya, masih menjadi alasan utama. Explorasi yang tak tuntas ini, rasanya seperti menuntut penyelesaiannya suatu hari.


senja di Tanjung Gelam


Cara Mudah dan Murah menuju Karimunjawa

Semenjak perjalanan saya ke Karimunjawa, saya menarik sebuah kesimpulan

Menuju Karimunjawa itu tidaklah mahal

Suatu saat saya ingin lagi ke sana.

Saat saya bilang ke temen-temen  kalau saya ke Karimunjawa dulu cuma habis Rp. 400.000, banyak yang tidak percaya. Karena beberapa teman ke sana minimal habis 900an ribu termasuk PP dari Solo. Lah saya, Cuma Rp. 400.000 termasuk PP.

Nah, mungkin beberapa saran saya ini bisa dipakai kalau ingin ke Karimunjawa dengan murah:

1.   Jadilah backpaker

Catatan saya di blog saya sebelumnya, adalah contoh sebuah perjalanan ala-ala backpaker yang saya lakukan. Saya menyebutnya ala-ala, karena itu memang masih semi backpaker. Masih banyak kok para backpaker keren dan lebih extrim yang bener-bener total mengirit budget perjalanan mereka ke Karimunjawa. Saya pernah membaca sebuah blog yang lebih gila. Perjalanan ke Karimunjawa dengan hanya bermodalkan uang 100-an ribu.

Yang pasti backpaker di sini yang saya maksud secara garis besar adalah melakukan perjalanan sendiri tanpa tur agent. Ribet memang harus menentukan ini-itu sendiri.  Tapi ya memang harus begitu kalau memang mau benar-benar irit.

2.   Bawalah makanan sendiri
Nasi dan nugget adalah bekal andalan kami kalau jalan-jalan tapi pengennya hemat. Hehehe

Setiap manusia itu butuh makan. Tapi kalau kamu lebih mementingkan perjalanan, tentu makan bukanlah jadi masalah utama. Maksudnya di sini bukan berarti kita tidak makan sama sekali. Maksud saya, mengirit pengeluaran makan dengan jalan membawa bekal, adalah salah satu cara masuk akal untuk menghemat pengeluaran. Tentunya, makanan yang direkomendasikan untuk dibawa adalah lauk pauk jenis gorengan. Karena pertimbangannya gorengan jauh lebih awet. Abon, atau serondeng juga menu recomended untuk dibawa sebagai bekal penghematan.

Kalau tidak mau repot, maka ya harus pinter-pinter milih tempat makan. Kalau merasa tidak malu, maka bolehlah tanya harga makanan dulu sebelum makan di sebuah warung. Hihihi, Niatnya kan jalan-jalan bukan cari makan :-)

3.   Carilah Transportasi tingkat ekonomi



Ini salah satu kewajiban, untuk mencapai Karimunjawa dengan harga murah. Kapal Shiginjai, adalah satu-satunya  kapal ekonomi untuk wisata Karimunjawa. Naik kapal ini adalah wajib hukumnya bagi para traveler yang ingin ke Karimunjawa dengan biaya yang lebih murah. Harga tiket kapal ini 2014 lalu masih Rp. 56.000. Tetapi yang harus disiapkan adalah mental perjalanan yang membutuhkan sekitar 5 jam berada di atas kapal. Sayangnya, kapal ini tidak setiap hari berangkat, maka jika ingin menggunakan kapal ini sebagai sarana transportasi, maka haruslah update informasi seputar jadwal kapal. Dan sebaiknya perjalanan memang direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya.

Selain kapal tentu bus dan kereta yang membawa ke Jepara haruslah tingkat ekonomi. Biar total ngiritnya. 

4.   Menginaplah di tempat penginapan yang murah!!!

Karimunjawa merupakan tempat wisata yang sudah ternama. Maka tak heran di pulau ini banyak menawarkan penginapan dengan berbagai harga. Mulai dari yang murah sekali, sampai yang harganya setinggi langit. Tapi tentu tergantung kita mau pilih yang mana. Kalau kita wisata Karimunjawa  memang nyari yang murah, maka penginapan yang biasa saja tentu tidak jadi masalah. 2014 lalu, saya menginap di sebuah penginapan yang per-malamnya dihargai Rp. 70.000 saja. Itupun dengan fasilias yang menurut saya sudah cukup lumayan.

Kalau memang mencari penginapan di Karimunjawa yang lebih murah lagi, saran saya sih bawa saja tenda sekalian. Bisa gratis malah. Lumayan asyik kelihatannya mendirikan tenda di Karimunjawa.

5.   Tidak ada yang salah kok menggunakan tur agent! Asal pinter aja milihnya!

Memang wisata karimunjawa dengan backpaker itu bisa lebih hemat biaya. Tapi kalau nggak pinter-pinter perhitungan dan rajin-rajin cari info serta tanya-tanya ke mbah google, bisa-bisa bukanya ngirit, perjalanan bisa jadi malah ngorot. Selain itu, perjalanan dengan backpaker cenderung memiliki segi kekurangan dari sisi keamanan. Maka dari itu, di era boomingnya kegiatan traveling, bisnis tur agent pun ikutan menjamur.

Salah satu tur agent yang menyediakan pilihan tur ke Karimunjawa adalah Paradiso Tour.  Perjalanan ke Karimunjawa lebih nyaman karena perjalanan kita bisa lebih teratur dan terjadwal. Harganya pun tidaklah mahal. Karena harga paket yang ditawarkan mulai dari Rp. 800.000 sampai sekitar satu jutaan tergantung pilihan. Asyiknya dengan harga segitu fasilitasnya sudah lumayan dan nggak kacangan. Makannya terjamin, tidurnya nyaman, explorasinya pun dapet.

Saya sendiri pun bukanlah seorang  backpaker sejati.  Saya hanyalah seorang penyuka jalan-jalan yang tidak menguras banyak biaya. Jadi kalau memang ada tur agent yang menawarkan harga yang murah, seperti halnya Paradiso Tour, tentu saya lebih memilihnya. Karena bagaimanapun lewat tur agent, segalanya lebih terjamin, aman dan nyaman. Yeah, wajar dong, karena wanita butuh rasa nyaman. Halah.

Hehehe

Akhir kata, semoga saya dan kalian bisa secepatnya menuntaskan rindu ke Karimun Jawa. Dan yang belum pernah kesana semoga segera bisa mengepak ransel dan capcuzz menuju wisata Karimunjawa

Karimunjawa itu, Indah Sob!!!

Menjajal Oleh-Oleh Khas Notosuman

Serabi, siapa yang tak kenal dengan makanan satu ini. Di banyak daerah, serabi memiliki ciri khasnya masing-masing meskipun dengan kecenderungan bahan dasar yang sama yakni tepung beras dan santan. Kalau di daerah Jawa Barat-an, serabi bentuknya mirip dengan apem. Dagingnya jauh lebih tebal.  Beda dengan serabi di wilayah Solo dan sekitarnya, yang memiliki struktur daging yang jauh lebih tipis.

serabi notosuman
Serabi, Oleh-oleh khas Notosuman


 Bentuknya yang khas dengan pingiran tipis berwarna coklat, garing nan legit adalah pembeda utama antara serabi Solo dengan daerah lain. Putih warnanya, lembut teksturnya, gurih rasanya, namun ringan harganya, membuat makanan tradisional satu ini digemari banyak orang dari berbagai kalangan.

Jika mengunjungi kota Solo, icip-icip serabi tentu menjadi suatu kewajiban tersendiri, mengingat serabi merupakan salah satu panganan khas di kota Bengawan. Penjual serabi bakalan mudah sekali ditemukan kalau kita jalan-jalan di seputaran Solo, seperti halnya di pinggiran Slamet Riyadi maupun di beberapa pasar tradisional. Namun Notosuman, menjadi daerah di Solo yang paling terkenal akan serabinya.

Serabi Notosuman Ny Handayani dan Serabi Notosumn Ny. Lidia, adalah duo kakak beradik toko serabi paling terkenal di kota Solo. Meskipun ke dua toko serabi ini letaknya berhadap-hadapan yakni sama-sama di jalan M. Yamin, namun yang unik ke dua toko serabi ini sama-sama larisnya. Kalau masuk ke sana, selalu saja ke dua toko ini berasa kepenuhan pengunjung. Tentu saja ini tak mengherankan, mengingat ke dua toko ini sudah merintis dunia perserabian sejak lama. Apalagi, ditunjang dengan bentuk serabi mereka yang dikemas sedemikian hingga, sampai berkesan ‘profesional’. Harga yang sampai Rp. 2.500 per serabi  pun saya pandang layak untuk panganan satu ini mengingat kemasan dan rasanya yang memang pantas dan enak.


Dalam sebuah perjalanan mudik melewati kawasan Notosuman Solo, motor saya hentikan mendadak. Sebuah promosi serabi Rp. 1000 sukses menarik perhatian saya. Rupanya, di kawasan Jln. Gatot Subroto tak jauh dari lokasi serabi Notosuman yang sudah lebih dulu beken, terdapat penjual serabi yang katanya baru sekitar 3 minggu buka.

“Ini, beda dengan serabi yang disitu pak?” tanya saya pada si penjual.

“Beda, Mbak. Tapi ini sama-sama serabi khas notosuman,” senyum si bapak dengan ramahnya.

Saya kemudian membaca lagi plakatnya. Ahh, ya, beda. Ini memang bukan serabi notosuman, tetapi ini oleh-oleh khas Notosuman. Dan oleh-oleh khas dari daerah notosuman, tentu saja adalah serabi.

“Saya beli, Pak,” saya mulai mengeluarkan dompet. Baru saja saya hendak mengeluarkan uang, si Bapak sudah berkomentar.

“Wah, kalau mau beli harus jam 19.30. Ini lagi ada banyak pesanan, Mbak!” ujarnya membuat saya sedikit kecewa. Ia lantas menunjukkan tempelan kertas di kaca jendela yang begitu banyaknya. Tempelan berisi nama dan jumlah pesanan.

“Saya menyela nggak bisa, Pak? Saya masih harus mudik ke Wonogiri,” saya mencoba merajuk.

Si penjual menggeleng sembari terus menuang tepung ke tiap wajan kecil yang berjajar. Biasanya, saya kalau beli serabi tak pernah disuruh menunggu sampai sejam begini. Kalau antripun antri cuma beberapa saat. Entah kenapa, malam itu saya bersedia saja menunggu.

“Oleh-oleh Halal Solo Khas Notosuman, H. Oemar” begitu yang tertera di spanduk penjual serabi ini. Tempat yang mengambil nama dari nama ayah si penjual serabi ini tak berwujud toko. Tetapi semacam HIK serabi kalau menurut saya.

Penjual serabi ini tak lagi menggunakan arang.  Ia sudah lebih modern. Kompor-kompor gas dengan susunan pipa yang diikat rapi di bawah, lantas tungku diberi penyangga stenlis hingga wajan kecil bisa terpasang di atasnya menjadi alat pembuat serabinya.

Yang asyik di sini, adalah kita bisa duduk menunggu, sembari melihat langsung proses pembuatan serabi. Proses pembuatan serabi dilakukan oleh 4 orang. Bagian penuang tepung, penuang santan, pembersih wajan dan bagian packing.

Awalnya serabi dituang pada tiap-tiap wajan. Selanjutnya si penuang santan menuangkan santannya sembari mengaduk sebentar agar tepung dan santan bercampur lantas menutupnya. Setelah beberapa saat, wajan dibuka, serabi yang sudah matang disusun di tampah diserahkan pada bagian packing. Lantas kemudian wajan dilap, dan si penuang tepung kembali melanjutkan aksinya. Begitu seterusnya.

 “Oleh-oleh Halal Solo Khas Notosuman H. Oemar” buka mulai pukul 06.00. Promo serabi Rp. 1.000 ini menurut si penjual bakalan ia lakukan sampai nanti akhir tahun.  Meskipun baru saja dibuka, si penjual bercerita bahwa per harinya, ia sudah bisa menghabiskan 50 kg tepung. Sebuah jumlah yang cukup fantastis.

Melihat langsung pembuatan serabi begini jadi mengingatkan masa kecil saya. Dulu, kalau lagi ikut ke pasar Wonogiri, saya sering duduk menunggui penjual serabi. Kadang duduk di sana bukan untuk beli, cuma duduk sekedar melihat penuh penasaran, bagaimana caranya serabi pinggirannya bisa berwarna coklat, padahal tengahnya berwarna putih? Hanya seperti itu saja, saya dulu bisa sampai berjam-jam duduk di sana. Maka hari itu, kalau saya Cuma duduk menunggu sejam untuk dapat serabi, rasanya bukan masalah.

Tepat pukul 19.30, serabi saya sudah matang.  Meskipun packingnya masih tradisional, yakni tanpa digulung dan dengan kardus yang belum bermerk, tetapi serabi H. Oemar ini rasanya cukup enak. Tak mengecewakan, meskipun harganya seribu rupiah. Nah, buat kamu yang ingin menikmati serabi hangat sembari melihat proses pembuatannya, bisa datang langsung kemari. Lokasinya mudah dijangkau. Di Pinggir jalan, di dekat perempatan menuju Paparon Pizza. Mumpung sekarang masih promo.