Tuesday, November 21, 2017

Klenteng Cu An Kiong, Rumah Candu, Juga Batik Lasem, 3 Wisata Lasem Yang Tak Boleh Terlewat

Lasem, adalah salah satu daerah di Rembang yang mendapat julukan Tiongkok kecil. Julukan yang erat kaitannya dengan keberadaan Lasem yang diyakini sebagai awal mula masuknya etnis Cina ke Jawa yang dipimpin oleh Laksamana Chengho. Wisata Lasem mungkin belum terlalu bergaung namanya. Bahkan beberapa ada yang menyebut Lasem sebagai kota tua yang terlupakan lantaran daerah ini tak banyak orang yang tahu.


Mendatangi Lasem, kesan pertama saya adalah sunyi. Tak banyak lalu lalang kendaraan. Beberapa rumah dengan pagar-pagar tembok bergaya cina terlihat kusam,  tak terawat seperti tak berpenghuni, seolah daerah ini daerah kuno yang sudah lama ditinggalkan

Lasem sebagai kota tua penuh sejarah, menawarkan beberapa peninggalan sejarah yang menarik sebetulnya.  Ada beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi kala datang ke Lasem Rembang yang sayang kalau sampai terlewatkan

1. Klenteng Cu An Kiong

klenteng cu an kiong lasem


Tempat Wisata Lasem yang pertama adalah Klenteng Cu An Kiong.

Beberapa sumber menyebutkan, Cina datang ke Indonesia dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah rombongan Laksamana Chengho, yang merupakan seorang Muslim Cina. Namun di kedatangan Cina selanjutnya, ialah rombongan Cina yang berpaham Konfusianisme. Sehingga tak heran jika Lasem juga memiliki beberapa bangunan klenteng.

Klenteng Cu An Kiong, merupakan klenteng tertua di Lasem, dan bahkan tertua di Jawa. Arti Cu an Kiong sendiri adalah “Temple of Mercy and Peace” Di Klenteng ini terdapat beberapa lukisan  tembok yang sudah berusia cukup lama setara dengan usia bangunan. Salah satunya adalah lukisan tentang 36 jenderal langit.

Saya tidak mengerti tentang arsitektur klenteng Cina. Tapi secara keseluruhan klenteng ini mirip dengan klenteng-klenteng lain. Berwarna khas merah, berhias patung, memiliki altar, dihias banyak lampion-lampion, terdapat kotak ramalan, serta terdapat ornamen-ornamen Cina di sana sini. Saya yang awam, hanya bisa menilai sebatas klenteng ini memiliki perbedaan dengan klenteng-klenteng yang pernah saya lihat dari sisi gapura serta ornamen gentingnya. Jika dibandingkan Sam Po Kong, ataupun klenteng di Pasar Gede, klenteng ini menurut saya lebih berkesan Cina klasik. Lantaran bentuk Gapura serta patung jendral langit yang menghiasinya mengingatkan saya dengan film-film silat Cina


2. Rumah Candu Atau Rumah Opium Rembang

Wisata Lasem Rembang
Gerbang Samping Lawang Ombo

Ketika peristiwa geger pecinan terjadi, banyak orang-orang Cina yang diusir dari Batavia. Mereka yang terusir, kemudian berlari ke beberapa tempat, salah satunya adalah ke Lasem, dimana kebanyakan saudara-saudara mereka lebih dulu tinggal. Hal ini berdampak pada semakin pesatnya perdagangan di kawasan Pelabuhan Lasem, yakni di depan Kelenteng Cu An Kiong. 

Majunya jalur perdagangan di Lasem, ikut pula berdampak pada majunya beberapa pebisnis opium.

Tak jauh dari Klenteng Cu An Kiong, terdapat sebuah tempat yang berjuluk Rumah Opium. Sebuah rumah berpagar tembok dengan dua pintu masuk di bagian depan dan samping.

wisata lawang ombo herritage lasem
lubang tempat penyelundupan


“Lawang Ombo Herritage” sebuah identitas yang terpasang di pintu samping rumah Opium. Tempat ini dulunya digunakan sebagai tempat penyelundupan opium oleh beberapa etnis Cina. Di dalam rumah tersebut terdapat sebuah lubang yang nampak kecil, dengan kedalaman sekitar 3,5 meter yang menghubungkan rumah dengan pelabuhan. Lubang inilah yang digunakan sebagai tempat menyelundupkan opium dari pelabuhan agar tidak diketahui oleh Belanda. Menurut cerita salah satu tur guide di sana, bahkan lubang tersebut juga menghubungkan pula dengan rumah-rumah lain yang juga sama-sama berbisnis opium.

Kini Rumah Opium sudah tak berpenghuni dan lebih digunakan sebagai jujugan bagi yang ingin mendatangi wisata Lasem. Hanya saja, salah satu keturunan pemilik rumah masih sering beberapa kali menilik ke dalam rumah tersebut.

Pemilik Rumah Opium yang sekarang

3. Batik Lasem

lasem batik

Jika Solo memiliki Kauman ataupun Laweyan sebagai pusatnya batik, maka Rembang memiliki Lasem. 

Batik Lasem dalam sejarahnya sudah terkenal sejak abad ke 13 di era Majapahit. Tetapi sebenarnya, batikLasem sudah ada sejak sebelum abad 13. Keberadaan Batik Lasem sangat dipengaruhi oleh kebudayaan China. Saat era pendaratan Laksamana Cheng Ho, sebagian armadanya menetap dan tinggal di Lasem. Salah satunya adalah Binang Un. Istrinya menjalin keakraban dengan warga sekitar, karena itulah motif-motif batik erat kaitannya dengan budaya cina.

Beberapa motif batik Lasem yang mencerminkan kebudayaan cina, adalah adanya gambar Burung Hong, naga, ataupun bunga teratai. Motif yang paling terkenal dari Batik Lasem adalah motif pesisiran. Dari sisi warna, Warna batik Lasem yang terkenal adalah abang getih pitik atau merah darah ayam. Bukan berarti warna merah batik Lasem dari darah ayam. Namun abang getih pitik ini menunjukkan bahwa warna merah pada batik Lasem lebih berkesan berani. Warnanya juga berbeda, hanya dimiliki oleh Batik khas Lasem.

Warna getih ayam ini, konon dikarenakan karena pewarna yang digunakan bercampur dengan mineral air Lasem. Tetapi sebenarnya, hal ini karena teknik pembuatan warna yang digunakan berbeda. Batik Lasem mempunyai kecenderungan motif yang ramai. Seperti banyaknya titik-titik di celah-celah gambar.


Sunday, November 12, 2017

Melihat Langsung Pembuatan Kain Tenun Troso Jepara

Seringnya, kota Jepara lebih dikenal sebagai kota ukir, ataupun mebel. Namun sebenarnya, potensi Jepara tidak hanya tentang ke dua hal itu. Jepara, juga memiliki kerajinan khas lainnya, salah satunya adalah Kain Tenun Troso. Disebut Kain Tenun Troso, karena kain tenun di sini diproduksi di desa Troso. Sebuah desa yang berada di Kecamatan Pecangan Jepara.


Mendatangi desa Troso, kami mengunjungi sentra tenun Mulia Tunggal. Ruang produksi tenun Mulia Tunggal, berupa sebuah rumah bertembok batu bata tinggi. Berlantai semen, tanpa jendela, dengan beberapa lubang sirkulasi udara di bagian atas, dan lubang-lubang kaca tempat masuknya cahaya. Hawa panas terasa saat memasukinya. Alat-alat tenun Bukan Mesin berjajar nyaris memenuhi separuh ruangan di sebelah kiri. Beberapa pekerja terlihat sibuk menaik turunkan alat tenun sembari menyesuaikan tatanan motif.

tenun troso

Di sisi kanan, 3 orang ibu-ibu terlihat menggerakkan roda seperti memintal benang. 

Niki namine malet, niki nyepul --ini namanya malet, ini nyepul--,” ujar salah satu ibu-ibu yang usianya terlihat paling senior dilanjutkan penjelasan tentang fungsi masing-masing.

Saya mengangguk-angguk saja mendengar penjelasannya meskipun saya tidak sepenuhnya mengerti, lantaran istilah-istilah tentang proses yang ia jelaskan adalah nama-nama asing yang baru hari itu saya dengar. 

Saya baru agak paham, ketika Pak Nur bercerita ulang tentang proses pembuatan kain Troso Jepara. Itupun, butuh waktu lama hingga saya bisa ngeh bahwa kain tenun troso terbuat dari 2 macam benang, yakni benang lungsi serta benang pakan. Benang lungsi nantinya akan digunakan sebagai benang yang posisinya membujur, sedangkan benang pakan akan digunakan dengan posisi melintang.

Benang pakan, dilakukan proses pemasangan ke dalam plangkan melalui proses yang disebut ngeteng. Setelah tertata dalam plangkan, selanjutnya dilakukan proses pewarnaan. Namun sebelum diwarna, plangkan dipasang motif dan diikat tali plastik pada bagian motif-motif yang dikehendaki. Bagian-bagian yang ditali nantinya akan terlindung dari bahan pewarna saat pencelupan.

Usai diwarna, benang dijemur, dilepas ikatannya dan dilakukan pemintalan lewat proses yag disebut malet. Selanjutnya benang siap dipakai untuk menenun bersama benang lungsi yang sudah diproses juga. Proses penyiapan benang lungsi diwarna dulu, kemudian disepul. Yakni dipintal ke dalam alat sepulan. Selanjutnya dilakukan proses nyekir dimana benang dipendah ke alat BUM sehingga benang nantinya bisa dipasang di alat tenun.

tenun troso pembuatan
Proses Ngeteng

kerajinan troso ikat
Proses nyepul( perempuan tengah) dan malet (perempuan kiri)
Alat sekiran
benang diikat
benang yang sudah diikat


Proses tenun ikat memang terkesan ruwet. Maka wajar kalau tenun troso memiliki harga yang tidak murah. Kain tenun troso harganya mulai 75.000 hingga jutaan rupiah tergantung ukuran dan kualitas.


tenun troso kain


Dari cerita Pak Nur, pemasaran Tenun troso di tempat ini menjangkau berbagai wilayah di Indonesia, namun paling banyak Bali. Dari Bali, ada pula tenun troso yang dijual kembali ke luar negri. Menurutnya, kain tenun troso memiliki keunggulan dari sisi kecepatan produksi serta kemampuan produksi yang lebih banyak dibandingkan daerah lain. 


Baca Juga




Nah, selain main ke pantai kartini maupun Karimunjawa, jangan sampai terlewat untuk berburu kain tenun troso jika datang ke kota Jepara


Saturday, November 11, 2017

6 Hal Ini Bisa Dilakukan Kalau Main Ke Pantai Kartini Jepara

Nama Pantai Kartini tentunya tak asing lagi bagi banyak orang. Pantai satu ini sudah menjadi ikon terkenalnya kota Jepara. Ini kali ke tiga saya datang kemari. Pertama dulu, hanya ke dermaganya saja karna musti cepat-cepat berangkat ke Karimunjawa. Kali kedua, adalah ketika saya hendak ke Pulau Panjang. Dan kali ketiga, adalah beberapa minggu lalu barengan para mahasiswa asing, genpi, serta Dinpar Jateng. Lantas, apa saja sih yang bisa dilakukan kalau datang ke Pantai Kartini?

Monday, November 06, 2017

Mengintip Pembuatan Bubur Asyura di Masjid Sunan Kudus

2 orang perempuan berhijab berjalan membawa tampah dengan isian makanan yang sekilas seperti adonan puli. Berwarna kekuningan tetapi di atasnya ada toping bulatan kecil seperti bakso, udang, serta aneka rupa lauk yang tampak menggoda. Panganan-panganan itu terusun rapi diatas piring-piring daun pisang yang membentuk lingkaran


pembagian bubur asyura kudus


“Ini bubur asyura yang mau dibagikan ke warga,” jelas salah satu dari mereka

Tuesday, October 24, 2017

Pesan Tiket dan Hotel Traveloka Sekaligus, Liburan Ke Bali Jadi Hemat Satu Juta

Entah kali keberapa sahabat saya mengajak ke Bali. Entah kali keberapa pula, saya tidak benar-benar serius menanggapi. Yeahh, Bali bukan prioritas untuk saya. Mau sih, tapi ya… nanti dulu lah

Thursday, October 12, 2017

Cerita Dari Jamban-Jamban Rembang

Ini bukan perjalanan ke  tempat wisata seperti biasa. Ini adalah perjalanan yang membawa saya  melihat kehidupan masyarakat Rembang dari sudut pandang berbeda.

***
“Kami dibantu warga bersih-bersih, buangin ini, kotoran manusia dalam plastik,” samar-samar, ucapan Bidan Rut terekam kembali. Kala itu, beliau menunjukkan gambar beberapa orang bersih-bersih di sebuah lahan bersemak dengan beberapa buntel plastik telihat bercecer.

Pikiran saya berkecamuk, susah melogikakan bahwa plastik-plastik itu berisi kotoran manusia. Tidak, bukan saya tak percaya itu kotoran manusia lantaran tak ada plastik yang dibuka dan difoto. Tidak, tidak, saya tak ingin juga kali, melihat foto semacam itu. 

Hanya saja, saya susah melogikakan mengenai kenyataan: ada manusia yang membuang kotorannya dengan plastik. Dalam kondisi yang tentu saja tidak darurat. Ahhh, membayangkannya saja saya rasanya tak sanggup. Aneh saja sih, kenapa tidak diuruk dengan tanah atau pasir? Begitu kan jauh lebih baik, daripada dibuntel plastik kemudian dibuang sembarangan seperti itu? 

Well, bagaimanapun, itu adalah suatu bukti bahwa di jaman now, BABS bukan sekedar tulisan peringatan seperti yang pernah saya lihat di Pacitan maupun di pelosok Wonogiri beberapa waktu sebelumnya. Tapi masalah BABS memang masih banyak ada di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk juga di Rembang

***

Kunjungan pertama kami adalah mendatangi tempat Bu Warsini. Perempuan yang tidak terlalu tinggi dengan perawakan yang sedikit gelap itu menempatkan kedua tangannya terjulur lurus ke bawah dengan posisi siap, nampak tegang dengan expresi yang sedikit grogi saat menerima kedatangan kami. Bu Warsini merupakan salah satu warga yang selama ini tidak mempunyai jamban layak untuk BAB. 
rembang desa
Rumah Bu Warsini

Saturday, September 23, 2017

Kopi Ketjil Jogja, Kedai Kopi Mini di Siang Hari

Memasuki kedai Kopi Ketjil, saya sedikit terkejut dengan semua keterkecilan yang ada. Yeahh, sesuai dengan namanya, tempat ngopi ini kecil, mini. Kira-kira hanya seukuran sebuah garasi yang muat satu mobil. Di dalam kedai, hanya ada 3 buah meja. 2 meja khusus pengunjung, dan satu meja untuk pembeli sekaligus untuk sang barista meracik kopinya.

kedai kopi buka siang

Hari itu, 2 meja di belakang sudah terisi. Jadilah saya dan adik duduk menghadap meja tempat sang barista meramu. 


Tuesday, August 22, 2017

Melukis Warna di Kampung Pelangi Semarang

“Pak… saya numpang istirahat sebentar di sini, nggih? “ diselingi nafas yang tersenggal, saya meminta ijin duduk di cakruk sebuah rumah di Kampung Pelangi Semarang.

kampung pelangi semarang
Spot Foto Favorit

Saturday, August 12, 2017

Review Gets Hotel Semarang, Hotel Bintang Empat di Semarang

Menginap di Gets Hotel Semarang tempo hari, bisa dibilang agenda yang sedikit mendadak. Karena ada sebuah ujian yang harus saya lakukan hingga sore, sayapun akhirnya memutuskan menginap saja di Semarang.

Jarak Solo-Semarang yang butuh 2,5 jam perjalanan menggunakan motor, lumayan membuat  lelah. Belum hilang lelah saya, konsentrasi sudah harus terkerah sepenuhnya menghadapi ujian selama 8 jam. Biarpun saya lulus, tetap saja itu tak menghalau capek yang tercipta. Maka dari itu, menginap di Semarang adalah pilihan bijak menurut saya. Pulang kemalaman di tengah rasa lelah yang menumpuk, tentu bukan hal yang baik bukan untuk sebuah perjalanan Semarang-Solo menggunakan motor? Apalagi saya hanya sendirian

Semalam Di Gets Hotel Semarang



pilihan hotel terbaik semarang
lobi gets hotel Semarang
Hotel bintang 4 di Semarang ini lumayan anyar. Baru dibuka sekitar September tahun lalu. Namun jangan bayangkan ketika ke Gets Hotel saya bakal mendapati suasana hotel yang sepi.


Thursday, July 06, 2017

Pulau Kalong, Melawan Ngeri Menyebrang Laut Kidul Jogja


Nama bocah itu Malikin. dialah yang hari itu memberi kami pengalaman istimewa. Pengalaman yang saya tidak yakin, berani kembali untuk mengulanginya.

***

“Menyebrang Rp. 25.000, mbak,” bocah berbaju hitam tiba-tiba muncul menawari kami.

Deburan ombak Pulau Kalong yang mengetuki kaki pulau itu dengan liukan arogannya cukup membuat kami terpesona. Sampai-sampai kami tak sadar, ada manusia yang sedari tadi duduk di batuan dekat jembatan penyebrangan.

“Gimana? Nyebrang?” tanya saya pada yang lain. Pertanyaan ini, saya tahu hanya akan berakhir menjadi sebuah pertanyaan retoris belaka. Tanpa mereka perlu menjawab, tanpa kami membuat rencana di awal  untuk menyebrang pun saya sudah memperkirakan konsekuensi mengusulkan Pulau Kalong sebagai tujuan trip kita hari itu. Mereka pasti mengajak menyebrang.

Nyebrang nho, wes adoh-adoh tekan kene og,” saya menelan ludah mendengar jawaban Nana. Satu jawaban yang diiyakan semua. Meskipun saya sudah hafal dengan jawaban ini, namun rasa ngeri kali ini, tak bisa terpungkiri menelusup kuat dalam hati.

Saya kembali membuang pandang ke jembatan, ke arah bawah laut, lalu ke pulau, berganti-ganti pandang dintara ketiga hal itu. Dentuman ombak keras mengalun, meliuk tanpa henti seolah berontak penuh amarah ingin menjuntai menggapai jembatan. Sementara, jembatan kayu yang dibuat renggang dengan hanya saling terkait dengan tali tambang itu nampak lemah, rapuh, dan gontai mempertahankan diri digoyang hembusan angin.

Pulau Kalong Gunungkidul Jogja


“Mau keliling pulau? Kalau mau saya temani,” tawaran Malikin menjadi sebuah tawaran tak terduga. Sebelumnya kami mengira bahwa Pulau Kalong hanya menawarkan spot foto, sensasi menyebrang, dan seperti yang tertulis di plakatnya: memancing. Tawaran mengelilingi pulaunya tentu langsung kami setujui.

“Nanti, kalau sudah sampai sebrang kalian tunggu di ujung sana ya,” Malikin menunjuk ujung jembatan.

Glekkk. Lagi-lagi saya menelan ludah. Tidak adakah cara lain untuk bisa sampai ujung selain melewati jembatan ini? Batin saya.

“Sopo sik sing nyebrang?”
“Kok aku wedhi yo,”
“Aku iyo. Koe sik ndang,”
“Aku we ngeriii,”
“Aku kok deg-degan. Koe sik wae,”

Kami sedikit berdebat saat kami benar-benar mendekat ke arah jembatan. Yeah, kami hanya wani angas sebenarnya. Sok-sokan berani, tapi sebenarnya rasa takut dalam hati menguasai.

Sebagai satu-satunya laki-laki diantara rombongan kami berempat, Abdi tanpa banyak berkata maupun nimbrung berdebat, langsung saja menyebrang mendahului. Kami menghentikan perdebatan, memperhatikan dengan seksama bagaimana ia berjalan santai dan tenang menapaki satu persatu kayu jembatan Pulau Kalong.

Namun ketika Abdi sampai diujung, kami ribut diskusi kembali.

“Saya temenin dibelakang deh Mbak,” Malikin akhirnya menawarkan alternatif. Ia menawarkan untuk menemani masing-masing dari kami menyebrang. Mungkin Malikin tau, kalau dia tidak menawarkan solusi, maka kami tak akan bergegas dan mengakhiri perdebatan.

Baru setelah diberitahu begitu, kenyataannya kami memang  berhenti diskusi.  Sesuai janjinya, Malikin mengantar kami.

Angin berhembus, menggoyang air laut, juga menggoyang jembatan yang disusun dari papan-papan kayu itu. Biarpun ditemani Malikin di belakang, tetap saja terasa ngeri.

“Jembatannya dilewati berdua tidak apa-apa?” Nana ragu. Malikin hanya tersenyum, sembari berujar meyakinkan bahwa jembatan itu aman.

Satu persatu dari kami akhirnya mencoba memberanikan diri. Saya menjadi yang terakhir dari rombongan yang menyebrang. Tiap kali melihat Malikin mondar-mandir di atas jembatan saya hanya bisa menggeleg takjub. Bocah 14 tahun itu terlalu berani.

Mata saya tak bisa berpindah selain ke arah kaki, memastikan bahwa pijakan saya tak luput, tak salah memilih  kayu, dan bukan sela lubang antara jajaran kayu yang saya pijak. Menjadi dilema tersendiri sebenarnya melihat ke bawah. Di satu sisi, biar tak salah langkah, tapi di sisi lain gumpalan-gumpalan ombak itu menumbuhkan gentar. Pada akhirnya hanya bisa pasrah menggerakkan mulut untuk tak henti-hentinya merapal dzikir sejak langkah pertama menginjak papan kayu. Yeahhh, sejatinya saya memang penakut.

“Ombak di bawah tak akan sampai ke atas jembatan,” saya cukup terhibur dengan ucapan Malikin sebelum kami menyebrang. Dalam hati saya berdoa, semoga ombak memang bergulung wajar. Saat kita ketakutan, siapa lagi yang bisa kita harapkan selain kuasa Tuhan untuk menyelamatkan?

Biarpun begitu, tetap saja dada berdesir-desir. Desau ombak tak juga mau berhenti. Andai saya punya remote ajaib, saya tentu akan menyalakan mode mute ke arah ombak-ombak dan angin-angin itu.

Saking paniknya, tangan saya sampai tremor. Untung saja saya tidak terpuruk lemas saking ketakutannya. Horor saja membayangkan andaikan saking takutnya saya tiba-tiba lemas tak bertenaga. Siapa yang bakal menggendong saya kembali? Jangankan menggendong, dilalui dengan jalan biasa saja jembatan itu bergoyang.

jembatan pulau kalong
Malikin menemani kami menyebrang
Kami bersorak, gembira manakala kami semua sukses sampai ke Pulau Kalong. Itu berarti tiba saatnya buat kami untuk melanjutkan keliling pulau.

“Lewat sini Mbak,” Malikin memberi aba-aba. Kami mulai mengikutinya. Menaiki satu persatu batuan. Terus naik, dan makin lama kami malah berjumpa dengan sisi curam tebing Pulau Kalong. Di situlah saya mulai merasa aneh.

“Ini sampai sana, jalannya seperti ini?” saya mulai mencium tanda-tanda bahwa menyebrang jembatan bukanlah satu-satunya kengerian yang akan kami hadapi.

Malikin mengiyakan. Saya ternganga di sela-sela nafas yang memburu saking tiba-tiba kami dihadapkan pada medan berupa tebing dengan batuan yang harus didaki.

Bayangan saya, bahwa keliling pulau adalah melalui hamparan datar rerumputan hijau seperti Pulau Kalong kalau dilihat dari jauh, pupus sudah. Mengelilingi Pulau Kalong yang sebenarnya adalah benar-benar mengelilingi pulaunya. Menelusur lewat tepiannya. Permasalahannya, sisi-sisi pinggiran Pulau Kalong adalah batu-batuan karang, berwarna hitam dan berongga-rongga. Diantara celah-celah batu itu kami melihat bayagan gelap dibawah. Sementara sisi pinggir kami adalah laut lepas tanpa pengaman. Yang bisa dipastikan, kalau jatuh  pasti plung lap, sekali plung terjatuh, lapp seketika, ilang ditelan laut.

menyusuri pulau kalongbebatuan enuju pulau kalong

Kami harus berhati-hati memilih pijakan batu yang kokoh. Belum lagi, kami harus memastikan, batu yang kami pijak adalah batuan dengan ujung tumpul bukan ujung lancip yang akan menyakiti kaki.

Astaga, saya rasanya benar-benar tak percaya dengan apa yang saya lakukan.

Ingin mundur, tapi tanggung. Balik pun butuh usaha yang nggak gampang. Saya harus menuruni batu-batu itu lagi? Tidak! Itu jauh lebih menakutkan. Maka terus berjalan adalah satu-satunya yang bisa kami pilih.

Gila saja rasanya, melewati medan se-extrem itu tapi saya harus menggunakan rok jeans. Ini suatu kesalahan besar. Meskipun  saya mengenakan dobelan celana panjang. Tapi masa iya saya tiba-tiba mau melepas rok? kan ya lucu. Jadilah akhirnya saya tetap mengenakannya, dengan konsekuensi saya harus menengok ke belakang sebelum melangkah, guna memastikan rok tak tersangkut. Tapi meski begitu beberapa kali tetap saja luput. Berkali-kali ujung rok saya tertambat batu tiap melangkah, untung tak sampai terjatuh.

Agak jauh di depan kami, Malikin bisa berjalan dengan cepat. Walau usianya masih belia, tapi dia sudah terlatih. Nyaris setiap hari kalau tidak sedang sekolah, remaja itu datang ke Pulau Kalong. Menemani bapaknya menjaga jembatan, dan kadangkala ikut menginap di Pulau Kalong bersama para pemancing. Hari itu, ayah Malikin sedang mencari pakan ternak. Sehingga hanya Malikin yang menjaga jembatan Pulau Kalong seorang diri.

Jembatan penyebrangan Pulau Kalong, merupakan jembatan yang dikelola oleh Malikin dan ayahnya. Jembatan ini membentang sejauh kurang lebih 30 meter. Menurut cerita Malikin dan cerita beberapa warga yang kami temui, jembatan itu dibuat ayah Malikin dengan menghabiskan dana sekitar 30 an juta. Pulau Kalong awalnya hanya digunakan untuk mencari lobster dan memancing. Awalnya hanya berupa tambang dan tali yang dilempar di sana lalu dibuat semacam gondola dengan kayu. Hal ini mengingatkan saya kepada Pantai Timang. Warga Pantai Timang pun dulu menenerangkan fungsi asli gondola di sana persis semacam itu.

tempat berkemah di pulau kalong

“Ini tempat untuk kemping. Sudah ada perkakasnya. Jadi kalau mau menginap di sini tinggal bawa bahan-bahan untuk memasak saja,” lepas dari bukit batuan, Malikin menunjukkan pada kami sebuah gubug sederhana, beratap kain spanduk, bertiang kayu, yang dilengkapi tungku serta kendhil stenlis untuk memasak air. Dia juga menunjukkan tempat mendirikan tenda, berupa sebuah lokasi tanah agak lapang dan datar.

Indah memang membayangkan bangun pagi bertemu view laut jika ngecamp di sini, tapi saya pribadi rasanya tak sanggup jika harus mengulang lagi melewati tepian Pulau Kalong yang tadi kami lewati untuk kamping di sini.

Lepas dari gubug tersebut, Malikin mengajak kami ke area para pemancing biasanya mencari ikan. Kali ini kami tak lagi melewati medan batu. Namun ganti sebuah belukar yang diantaranya tumbuh beberapa pohon pepaya.

eancing di pulau kalong
Dari depan, Erin, Nana, Abdi, dan Malikin


Area pemancing, adalah sebuah sudut Pulau Kalong yang dilengkapi dengan tempat duduk bambu, pagar dari tali dan kayu serta sebuah bambu tinggi yang diarahkan ke laut. Ujung bambu itu dililit senar yang menjuntai ke laut persis seperti pancing raksasa, seolah tanda bahwa lokasi ini memang lokasi para pemancing. Dari arah ini, laut jauh terlihat lebih tenang. Seperti kata pepatah, “air tenang menghanyutkan”. Laut luas di bawah kami bisa dipastikan jauh lebih dalam.

Cukup lama kami berada di sana, menikmati sisi lain laut Gunung Kidul dari Pulau Kalong. Juga mendengar cerita dari Malikin tentang Pulau ini yang baru saja diliput televisi, ceritanya semasa kecil yang pernah menjadi tokoh si bolang trans 7, juga cerita tentang asal nama Pulau Kalong itu sendiri.

view dari pulau kalong
Pantai Sinden dilihat dari Pulau Kalong

pantai sinden terlihat dari pulau kalong
laut dari Pulau Kalong


“Dulunya Pulau Kalong ini banyak dihuni kalong (kelelawar) mbak. Tapi kemudian para kalong pindah ke gunung kecil di Pantai Nglambor. Tapi karena gempa Jogja dulu, gunung itu hancur dan kalong-kalong tersebut mati semua,”

“Pulau ini juga disebut Pulau Gelatik, karena di sini banyak juga burung gelatiknya,” ceritanya.

Dari area pemancing, kami bisa bisa melihat Pantai Jungwok, Pantai Nglambor, serta Pantai Sinden yang menyembul di antara sela-sela bukit. Cuaca yang cerah mendukung perjalanan kami menyisir Pulau Kalong. Area pemancing, menjadi semacam area peristirahatan kami untuk menyiapkan mental dan mengumpulkan tenaga lantaran untuk kembali ke arah jembatan kami lagi-lagi harus melewati medan yang mirip seperti tadi. Batuan-batuan hitam, yang beberapa diantaranya berujung lancip, berongga. Sementara di bawah kami adalah lautan yang siap memangsa kalau sampai kami tak berhati-hati.



Saya benar-benar bersyukur saat akhirnya saya sampai lagi di dekat jembatan, lantas meskipun tremor saat kembali menyebrang, rasa syukur karena masih diberi keselamatan tak hentinya saya ucapkan dalam hati. Hari itu Tuhan masih melindungi kami. Masih memaafkan saya lantaran tak berpikir panjang masalah kostum.

Sebelum kami meninggalkan area jembatan penyebrangan, sekali lagi saya melihat Malikin. Bocah itu sudah sibuk bernegosiasi dengan beberapa pengunjung baru yang tampaknya tertarik untuk sekedar foto selfie. Ahh, bocah itu. Semoga Tuhan juga senantiasa melindunginya.  Seorang remaja yang di usia belianya sudah menjadi semacam juru kunci sebuah pulau di sebrang laut Jogja.

Berapa Tiket Masuk & Bagaimana Jalur menuju Lokasi Pulau Kalong?

jalan ke pulau kalong

Lokasi Pulau Kalong Gunung Kidul Jogja berada di lingkup pantai Wedi Ombo. Jadi ikuti saja jalan menuju Pantai Wedi Ombo. Setelah berada di komplek Wedi Ombo, maka masuklah ke arah jalan menuju Pantai Jungwok. Nah, nanti motor parkir saja di sekitar halaman parkir Pantai Jungwok. Setelah itu, ikuti jalan yang mengarahkan ke Pantai Greweng (Cerita tentang Pantai Greweng, saya tuliskan kapan-kapan saja.). Jalan menuju pantai ini juga tidaklah mudah, kita harus menerabas persawahan, dan perkebunan penduduk. Setelah sampai di Pantai Greweng, baru naik-naik bukit menuju pulau kalong.

Untuk menyebrang, maupun foto dengan latar jembatan dan laut Pulau Kalong biayanya Rp. 25.000. Sementara kalau berkemah Rp. 50.000 Sedangkan kalau untuk memancing Rp. 100.000. Jangan protes kemahalan ya, bikin jembatan ini nggak gampang dan butuh biaya banyak :-)


Tips saya kalau ke sini jangan lupa kenakan baju yang nyaman yang membuatmu mudah bergerak. Pastikan sandal atau sepatumu tidak licin. Dan tips yang terakhir, kalau kamu keliling Pulau Kalong atau sekedar behenti sebentar di sana, pastikan cek kembali barang-barangmu agar tak ketinggalan. Karena di perjalanan kami waktu itu saya tledor lagi. Saat hampir tiba di jembatan, setelah keliling pulau, kami foto-foto. Saat itulah, saya lupa kalau kamera saya karena kehabisan baterai, saya letakkan di atas bebatuan. Saya baru sadar hal ini ketika kami turun dan makan di dekat Pantai Greweng. Akibatnya, kami harus balik lagi naik turun bukit ke Pulau Kalong, lantas, Abdi dengan baik hatinya kembali menyebrang ke Pulau Kalong karena saat kami kembali Malikin tidak terlihat padahal kami sudah diburu waktu. Jangan ditiru ya, menyebrang tanpa ada suhunya, itu bisa berbahaya. Huhu.